5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Saling Percaya


__ADS_3

Bagas terbangun dari tidurnya dia langsung membersihkan diri, lalu salat lail. Berdoa meminta kelancaran sampai hari pernikahannya dengan Bilah. Penuh keberkahan di dalam rumah tangganya kelak. Perasaan yang kemarin kacau, untuk hari ini rasanya tidak ada kegelisahan lagi karena Bilah telah memaafkannya dan juga dia boleh menghubungi Bilah jika ingin berkomunikasi.


Tak ada kata yang Indah, selain doa yang tulus ketika diutarakan dalam sepertiga malam. Bersimpuh, bersujud untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Meraih kasih sayang Allah, jika Allah sudah sayang kepada hambanya. Maka Dia akan memberikan apa saja kepada hambanya, jangankan diminta. Sesuatu yang gak di mintapun Dia akan memberikan kepada hambanya yang Dia sayang.


Selepas berdoa Bagas mengambil handphonenya, dia membuka galeri foto. Hatinya sedang rindu kepada Bilah, dia melihat foto Bilah yang sedang memakai hijab warna merah. Begitu cantik terlihat.


Alis hitam tebal, hidung mancung, bermanta cantik.



"Cantik wajahmu, juga cantik hatimu. Aku tidak sabar untuk menikahimu. Bodohnya mantan suamimu yang telah menyia-nyiakanmu. Aku akan menjaga kamu, aku akan mencintaimu," gumam Bagas.


Bagas tersenyum melihat foto Bilah, ia mendapatkan foto baru Bilah karena kemarin Bilah mengirimkan fotonya ke WA Bagas.


Hari ini Bagas berniat untuk bertemu temannya, yang ayahnya dahulu adalah seorang wartawan. Siapa tahu Bagas akan mendapat bukti-bukti.


"Assalamu'alaikum," Bagas ucap salam.


"Waalaikumsalam, wah ada Gus ganteng ke tempat ane," ucap Budi.


"Ente bisa aja," ucap Bagas.


"Ada urusan apa nih Gus, ente gak akan ke rumah ane kalau gak lebaran," ucap Budi.


"Haha ente nyentil ane, ane perlu bantuan nih. Bapak ente 'kan dulu wartawan, ane perlu data-data koren 12 tahun lalu," ucap Bagas.


"Sekarang jaman digital Gus, ente bisa cari koran dari puluhan tahun lalu dengan cara online," ucap Budi.


"Memang ada? caranya?" tanya Bagas.


"Buka google, cari nama koran yang Gus mau buka. Nanti di website koran tersebut buat akun pada website surat kabar bersangkutan


Pertama, tentukan sumber berita mana yang akan kita gunakan. Setelah mengakses website selanjutnya buat akun. Tanpa pembuatan akun, pengelola website tidak akan bersedia memberikan akses cuma-cuma.


Jadi harus bayar, gak gratis," ucap Budi.


"Gak masalah, yang penting ane bisa dapatin yang ane butuhkan," ucap Bagas.


" Lalu transfer sesuai rekening bank, cari berita yang kita mau tahu. Tahun, bulan dan tanggal koran yang mau dibuka. Setelah sudah didapatkan, unduh file dan simpan," sambung Budi.


"Syukron Budi, ente udah kasih info," ucap Bagas.


"Memang berita tentang apa?" tanya Budi.


"Kecelakaan mobil 12 tahun lalu, ini ane lagi bantu calon istri ane," ucap Bagas..

__ADS_1


"Maksud ente Ning Haya?" tanya Budi.


"Bukan, ane gak ada hati sama Ning Haya. Kalau ente mau, lamar aja dia," ucap Bagas.


"Wah siapa Gus calon istrinya?" tanya Budi.


"Nanti ane undang ente pas mau nikah, Terima kasih atas bantuannya, ane pulang. Assalamu'alaikum," ucap Bagas.


***


Billi dan Dina sedang menuju ke Bandung. Dina akan menjalani aktifitas kembali untuk praktik di rumah sakit Bandung dan juga melanjutkan pendidikannya. Perdebatan kecil anatara Billi dan Dina sebelumnya terjadi. Dimana Billi menginginkan agar pindah ke Jakarta setelah menikah yang otomatis kuliah dan pekerja Dina juga harus pindah.


Dina tidak mau pindah, karena untuk mendapatkan pekerjaan di salah satu rumah sakit itu sulit, apalagi dia sedang meneruskan S2 nya di Bandung, di universitas yang ia impikan.


"Sayang jangan marah lagi, 'kan kamu bisa bolak balik Jakarta, Bandung, memang kamu mau aku sedih. Aku meneruskan S2 di universitas impian aku dari dulu," ucap Dina memelas.


"Tapi aku maunya, ketika aku pulang kerja. Kamu sambut aku," ucap Billi.


"Sayang, aku gak selamanya di Bandung. Setelah pendidikan aku selesai. Aku akan tinggal di Jakarta. Jakarta, Bandung gak jauh sayang. Ayo dong izinkan aku, kamu kok tega sih sama aku?" ucap Dina.


Dina tidak berbicara lagi, dia kesal kepada Billi. 'Belum nikah saja sudah larang ini, itu apalagi sudah menikah,' batin Dina.


Billi melirik Dina, karena tunangannya itu tidak berdebat lagi kepada dia. Dina memandang ke depan melihat jalanan. Wajahnya sudah berubah penuh kekesalan. Billi menggenggam tangan Dina, tapi langsung di tepis oleh Dina langsung.


"Kamu marah sama aku?" tanya Billi.


"Sayang, jangan marah yah," ucap Billi.


Dina masih tidak mau berbicara.


"Baiklah aku izinkan kamu, setelah menikah kamu boleh tetap bekerja dan kuliah di Bandung," ucap Billi.


"Benarkah sayang? terima kasih," ucap Dina, yang langsung tersenyum kepada Billi.


"Aku gak kuat kamu diamin aku, aku sayang kamu. Apapun yang kamu lakukan, aku akan dukung kamu. I love you." Billi memegang tangan Dina lalu mengecupnya.


Sesampainya di Bandung, dia langsung ke rumah sakit untuk praktik. Billi menemani Dina sampai ia masuk ke dalam ruang praktiknya.


"Jika sudah selesai, kamu telepon aku yah," pinta Dina.


Ia menganggukan kepala yang berarti setuju.


Ketika Dina dan Billi berjalan di lorong rumah sakit, Dina bertemu dengan Zidan.


"Kak Zidan," panggil Dina.

__ADS_1


"Eh kamu Din, baru sampai?" tanya Zidan.


Zidan melihat Dina dan Billi bergandengan tangan, hatinya seperti ada kejutan sengatan listrik. Masih ada rasa cemburu di hatinya, tapi dia berusaha tersenyum ketika berhadapan dengan Dina, perempuan yang ia cintai.


"Iya Kak, aku baru sampai. Oh iya perkenalkan ini Billi tunangan aku," ucap Dina, memperkenalkan Billi.


Billi mengulurkan tangannya mengarah ke Zidan. Zidan mengambil tangan Billi lalu mereka berjabatan tangan.


"Zidan, senang berkenalan," ucap Zidan.


"Aku permisi dulu Kak, sebentar lagi waktunya aku mulai praktik. Selamat bekerja Kak," ucap Dina sambil melambaikan tangannya kepada Zidan.


"Itu Zidan yang mantan kamu yah? akrab sekali kamu dengan dia. Setiap hari ketemu, enak yah ketemuan sama mantan setiap hari," ucap Billi.


"Jangan cemburu dong, aku hanya bersikap sopan olehnya. Dia itu senior aku ketika aku kuliah dulu, yang sering bantu aku dulunya. Aku tidak pernah punya rasa ke Kak Zidan. Hati aku sudah kamu miliki," ucap Dina.


"Tapi tetap aja, dia 'kan masih ada rasa sama kamu," ucap Billi.


"Sudah ah, aku bekerja dulu yah. Walaupun 1 rumah sakit, aku jarang bertemu dengan dia," ucap Dina.


"Selamat bekerja yah," ucap Billi.


"Iya sayang," Dina membelai pipi Billi.


Suatu hubungan harus dibangun dengan saling percaya satu sama lain, agar hubungannya bisa saling jaga. Saling terbuka dan tidak ada rahasia. Billi mencoba untuk mengerti Dina. Bagaimanapun juga, nanti Dina akan menjadi istrinya. Jika sebelum pernikahan tidak ada rasa saling pengertian bagaimana kehidupan setelah menikah. Billi yakin hati Dina hanya untuknya, perempuan selalu ingin dimengerti oleh pasangannya. Pengertian yang kecil dari seorang laki-laki, membuat hati seorang perempuan seolah-olah sebuah perhatian yang besar untuk dirinya.


Bersambung


***


Para pembaca novelku yang baik hati, sumbangan jempolnya yah, love, vote, komen.


Follow aku juga.


fb @Farida (R)


ig @kak_farida


Mampir juga di novelku yang lain



Salah Lamar


Retak Cinta Akad (50% kisah nyata,50% fiksi)

__ADS_1



Love you semua


__ADS_2