
Setelah mendapat kabar dari Bagas bahwa Bilah sedang dirawat. Kiai Irfan dan Nyai Zainab langsung terbang ke Jakarta untuk menjenguk Bilah. Mereka sangat khawatir dengan menantunya. Karena sebelumnya Bilah mengalami keguguran dan setelah 5 bulan keguguran akhirnya Bilah hamil kembali.
Kiai Irfan menelepon Bagas bahwa dirinya bersama ummi Zainab sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta.
Abi \=["Assalamualaikum Bagas, Abi dan Ummi sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta. Abi akan langsung ke rumah sakit. Rumah sakit mana?"]
Bagas \=["Waalaikumsalam Abi Bagas jemput ya."]
["Tidak usah Bagas, jaga saja istrimu biar Abi aja yang langsung ke sana. Berikan alamat rumah sakitnya."]
["Baik Abi, aku akan mengirim pesan di mana rumah sakit yang merawat Bilah."]
Bagas tidak pernah beranjak dari sisi Bilah.
"Sayang, Abi dan Ummi sedang menuju ke sini," ucap Bagas.
"Abah dan Ummi langsung dari pondok Mas?" tanya Bilah.
"Iya, langsung dari pondok. Mereka khawatir akan keadaanmu," ucap Bagas.
Bilah merasa terharu karena langsung dijenguk oleh kedua mertuanya, ketika menikah dengan Ranu ayah Ranu tidak pernah menemui Bilah. Mereka bertemu hanya saat hari raya Idul Fitri. Itu pun Bilah yang harus ke rumah ayah Ranu.
"Beli sesuatu Mas untuk abi dan ummi mereka 'kan dari bandara langsung ke sini," pinta Bilah
"Tidak usah sayang, abi dan ummi akan mengerti," ucap Bagas.
"Tetap nggak enak Mas akunya. Beli sesuatu ya mumpung mereka belum sampai. Mas bisa order online dan telepon mamah nanti biar abi dan ummi bisa beristirahat di rumah," ucap Bilah.
"Sudah kamu Jangan pikirkan itu, biar nanti aku yang urus," ucap Bagas.
"Kamu mau makan apa?" tanya Bagas.
"Nanti aja Mas, aku masih mual," jawab Bilah.
"Kamu harus tetap makan. Obat mualnya sudah lewat infusan, jadi kamu gak akan mual jika makan. Makan yah agar anak kita bisa ikut makan," ucap Bagas.
"Ya sudah, aku akan makan. Samakan saja Mas sama pesanan abi dan ummi. Aku juga mau jus apel Mas," ucap Bilah.
Dalam waktu satu setengah jam abi Irfan dan ummi Zainab pun tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju kamar rawat inap Bilah.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk.
Pintu terbuka dan Bilah melihat abi Irfan dan ummi Zainab. Bilah pun tersenyum
kepada mereka.
"Assalamu'alaikum Nak." Sapa ummi Zainab sambil membelai kepala Bilah.
"Wa'alaikumsalam ummi, terima kasih sudah menjenguk aku," ucap Bilah.
"Mas tolong bangkunya untuk abi dan ummi," ucap Bilah.
Ummi dan Abi duduk di sebelah ranjang Bilah, Umi memegang tangan Bilah.
__ADS_1
"Kamu yang kuat ya sayang, Allah itu memberikan ujian dengan kemampuan setiap umatnya. Ummi yakin kamu bisa melewati ujian ini," ucap ummi Zainab.
Bagas sudah menceritakan tentang kista Bilah.
"Insya Allah Ummi, aku minta doanya dari Abi dan Ummi," ucap Bilah.
"Insya Allah, kami pasti akan mendoakan kamu. Kamu harus semangat," ucap ummi Zainab.
"Insya Allah Ummi," ucap Bilah.
"Ummi, Abi ini makan sekalian, Bilah juga mau makan," ucap Bagas.
"Loh banyak sekali makanannya," ucap abi Irfan.
"Bilah yang menyuruh aku membeli ini semua, katanya untuk Abi dan Ummi," ucap Bagas.
"Sayang, Ummi dan Abi itu menjenguk kamu. Ini kamu malah melayani kami seperti ini, terima kasih Nak,"ucap ummi Zainab.
"Maaf Ummi, Abi, aku tidak bisa melayani kalian dengan baik," ucap Bilah.
"Ummi tidak pernah menjenguk seseorang yang dilayani seperti ini," ucap ummi Zainab.
"Temani aku juga Ummi, aku juga belum makan," ucap Bilah.
"Ummi suapi kamu boleh?" tanya Ummi Zainab.
"Biar aku saja Ummi. Ummi makan saja," ucap Bilah.
"Tidak bolehkah Ummi menyuapi anak Ummi sendiri? biar Ummi yang suapi kamu," paksa ummi Zainab.
"Baik Ummi." Bilah tidak bisa menolak ummi Zainab, Bilah terasa terharu diperlakukan mertuanya dengan sangat lembut.
"Karena aku senang Ummi, aku bahagia, Ummi memperlakukan aku seperti anak kandung Ummi sendiri," Bilah memeluk Ummi Zainab.
"Ya Allah, Nak. Ummi sudah anggap kamu seperti putri kandung Ummi sendiri," ucap ummi Zainab sambil mengelus pundak Bilah.
Bagas yang melihat Bilah disuapi ummi makan dengan sangat lahap. Ia merasa lega karena Bilah dari pagi tidak mau makan.
Selama 3 hari Bila dirawat di rumah sakit. Kini Bilah sudah diperbolehkan untuk pulang, dengan catatan dirinya tidak boleh terlalu stres dan juga jangan terlalu kelelahan.
Setelah Bilah pulang ummi Zainab dan Abi Irfan pun pulang ke Semarang karena pesantren tidak ada yang mengurus. Oleh sebab itu mereka tidak bisa berlama-lama tinggal di Jakarta.
Bagas tidak memperbolehkan Bilah bekerja untuk minggu ini. Dia mengajak Bilah untuk ke sebuah villa milik ayah Bilah di Bogor. Bagas ingin Bilah lebih rileks dengan suasana yang sejuk.
Kini mereka sedang di balkon villa, Bilah meletakkan kepalanya di paha Bagas. Bagas membelai rambut Bilah. Ia membuka jilbabnya karena di villa itu hanya mereka berdua.
"Sayang, jangan pernah berpikir lagi jika aku tidak mencintaimu, itu tidak akan mungkin. Kamu adalah cinta pertamaku, wanita satu-satunya yang bisa membuat aku jatuh cinta," ucap Bagas.
"Maafkan aku Mas, aku benar-benar cemburu. Karena aku tahu Ning Haya ada rasa denganmu." Bilah menatap wajah Bagas yang tepat di atas kepalanya. Bagas menunduk ke bawah. "Yang bisa menggetarkan hati aku itu hanyalah kamu," ucap Bagas.
"Dan di sini ada calon anak kita, anak kita pasti kuat." Bagas mengelus perut Bilah yang masih rata.
"Mas, check up kehamilan selanjutnya pindah rumah sakit yah, entah kenapa aku dengan dokternya gak sreg," ucap Bilah.
"Mau ke rumah sakit tempat Dina bekerja?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Jangan Mas, aku gak mau dia tahu aku punya kista. lagi pula dia juga sedang hamil 5 bulan. Gak akan maksimal juga jika check up sama Dina," ucap Bilah.
"Tapi aku takut kehilangan janin ini Mas," sambung Bilah.
"Insha Allah kamu kuat sayang, ini anak pertama kita," Bagas mengusap perut Bilah kembali.
Bilah mengambil tangan Bagas kemudian tangan Bagas ia kecup.
"Aku ke Semarang waktu itu karena aku kangen belaian kamu Mas, aku sangat merindukanmu." Bilah memiringkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di perut Bagas, tangannya melingkari pinggang Bagas.
"Aku juga sangat rindu denganmu sayang, makanya aku mengajak kamu ke villa ini agar bisa berduaan dengan kamu," ucap Bagas.
"Bisakah Mas membantu aku mengurus sekolah yang aku punya, aku butuh bantuan kamu. Jadi aku akan fokus di perusahaan saja," pinta Bilah.
"Baiklah, lagi pula aku gak mau istriku ini terlalu lelah. Kita masuk kamar yuk, dingin di luar." Bagas menggendong Bilah masuk ke dalam kamar.
"Mas, gak kepengen kan?" tanya Bilah.
"Aku selalu ingin menyentuh kamu, tapi pesan dokter tidak boleh berhubungan dulu takut kista kamu pecah di dalam. Aku paham itu sayang. Izinkan aku untuk memeluk tubuhmu," ucap Bagas.
"Kamu bisa memeluk tubuhku sepuas yang kamu mau Mas, karena aku juga rindu dengan pelukanmu,"ucap Bilah.
Bagas makin mempererat pelukannya, berkali-kali dia juga mengecup wajah Bilah dan juga mencium bibir Bilah yang sudah menjadi candu untuk Bagas.
Bersambung
Pantun dari author buat para pembaca kesayangan author.
Belanja gaun biru di Salatiga
Jangan lupa mampir ke kota
Selamat Tahun Baru 2023
Semoga cuan menghampiri kita ππ
ββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€ππ