
Bilah dan Bagas baru selesai liburan dari Turki. Kini Heelwa sudah berumur 2 tahun, sangat cantik sekali seperti wajah Bilah.
"Mas, Gendi betah ngak yah tinggal dengan mamahnya?" tanya Bilah.
"Insya Allah, dia betah karena kan mamahnya. Nida sangat sayang sama Gendis, kamu tidak perlu khawatir akan keadaan Gendis. Kamu juga sudah memberi fasilitas ke Nida, insya Allah tidak sudah menjadi manusia yang lebih baik," ucap Bagas.
"Insya Allah Mas, aku harapkan itu juga. Nida bisa merawat Gendis dengan baik," ucap Bilah.
"Mas, aku punya hadiah untuk kamu,"sambung Bilah dengan senyuman merekah.
"Hadiah apa? aku kan tidak ulang tahun hari ini," ucap Bagas.
"Mas buka aja dulu, aku nggak prank kok," ucap Bilah.
Bagas membuka kertas kado pemberian Bilah tapi di dalamnya ada kardus lagi. Bagas membuka kembali di dalam kardus itu ternyata ada kardus lagi. Bagas membuka kembali lalu ia melihat benda pipih bergaris dua. Bagas melihat dengan seksama dan menatap Bilah penuh tanya.
"Kamu hamil lagi sayang? ini beneran?" tanya Bagas dengan wajah bahagia dan syok.
"Iya Mas, aku sedang hamil anak kita yang kedua." Bilah tersenyum kepada Bagas.
Bagas langsung memeluk Bilah. Ia tidak menyangka Bilah akan hamil lagi setelah Heelwa umur 2 tahun. Bagas sangat senang sekali ini merupakan suatu anugerah bagi keluarganya, sebelumnya Bilah sulit untuk mendapatkan anak dan ketika hamil langsung divonis kista, kini Bilah hamil kembali, tanpa mereka rencanakan. Tapi Allah memberikan kepercayaan kembali.
"Alhamdulilah, aku senang banget sayang," ucap Bagas.
"Aku juga Mas, aku sangat senang sekali kita akan mempunyai anak dua," ucap Bilah.
Bagas mengusap perut Bilah yang masih rata, lalu ia menciumi wajah Bilah setiap incinya.
Tok Tok Tok
Suara pintu kamar Bilah dan Bagas diketuk.
"Ibu, Bapak, maaf ada tamu," ucap mbak Ima.
Bilah bergegas untuk keluar, untuk menemui tamu tersebut.
"Siapa Mbak Ima tamunya?" tanya Bilah.
"Hmmm anu Bu...tamu nya...." Ima ragu memberitahu Bilah.
"Iya siapa tamunya? kok kamu gugup gitu?" tanya Bilah.
"Tamunya Bu Nida." Ima akhirnya berani berkata.
__ADS_1
"Apa kamu bilang dengan Nida? dia kan tidak bahwa saya yang merawat Gendis," ucap Bilah penuh selidik.
"Tidak Bu, sumpah aku tidak bilang bahwa ibu yang merawat Non Gendis," ucap Ima dengan wajah pucat. Bilah tersenyum lalu menepuk pundak Ima agar ia tidak takut.
"Ya sudah kamu ambilkan air dan cemilan untuk Bu Nida," ucap Bilah.
"Baik Bu," ucap Ima.
Bilah memanggil Bagas, ia ingin ditemani oleh Bagas ketika bertemu dengan Nida. Bilah memberitahu bahwa Nida datang untuk menemuinya Bagas dan Bilah langsung menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Nida. Ketika Nida melihat Bilah Nida langsung berdiri dan menghampiri Bilah, ia berlutut di kaki Bilah.
"Bilah aku sangat berterima kasih, ternyata orang yang dermawan itu adalah kamu, orang yang pernah aku sakiti, karena aku rumah tanggamu hancur. Tolong beri Maaf kepadaku." Nida langsung mencium kaki Bilah karena dia sudah bernazar ketika dia bebas akan mencium kaki sang dermawan.
"Astagfirullah, tidak jangan seperti ini. Aku tidak pantas untuk mendapatkan ini." Bilah memundurkan kakinya ke belakang, ia tidak mau kakinya di cium oleh Nida.
"Tidak apa-apa Bilah ini adalah nazar ku ketika aku bebas dari penjara. Aku akan mencium kaki dan juga mencuci kaki sang dermawan yang telah membantuku," ucap Nida dengan meyakinkan Bilah.
"Gus Bagas saya juga meminta maaf dengan Gus Bagas,mohon maafkan saya atas kekhilafan saya terdahulu. Saya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, menjadi ibu yang baik untuk Gendis," ucap Nida.
"Nida, Ranu ke mana? aku tidak pernah bertemu dia lagi sejak dua tahun yang lalu. Ketika aku masih buta, dia berkata ingin kembali kepadamu," tanya Bilah.
"Mas Ranu 2 tahun lalu dia sudah meninggal Bilah," ucap Nida.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kok aku bisa nggak tahu sih. Kata orang-orang kantor Ranu itu resign, aku pikir dia akan membuka bisnis baru untuk mempersiapkan kehidupannya denganmu, karena dia tahu bahwa hukumanmu itu tinggal 2 tahun lagi," ucap Bilah terkejut.
Mbak Imah membawakan air dan cemilan untuk Nida. Nida memanggil Mbak Imah, ia meminta ember yang berisi air.
Bilah Tmterimalah aku ingin mencuci kakimu. Aku ingin membayar nazarku ketika aku dipenjara," ucap Nida.
Bilah melihat ke arah Bagas, Bagas menganggukan kepalanya agar Bilah menerima Nida untuk membayar nazarnya itu.
Nida memcium kaki Bilah terlebih dahulu lalu mencuci kaki Bilah, dia juga mengucapkan beribu-ribu terima kasih telah merawat Gendes sejak kandungan sampai lahir. Nida berterima kasih kepada Bilah karena telah mengajarkan nilai-nilai agama kepada Gendis, dan juga soal rumah dan motor. Nida sampai menangis karena kebaikan Bilah yang sangat luar biasa, tidak ada dendam. Nida sangat lega karena telah membayar nazarnya. Ia pun berjanji kepada Bilah akan merawat Gendis dengan baik dan membuka usaha rajutan karena ia bekerjasama oleh kepala lapas, sewaktu ia di penjara. Ia juga sudah menghubungi tiga sahabatnya untuk membantu usaha rajutannya. Nida pun berpamitan dengan Bilah dan Bagas.
"Nida, jika kamu perlu bantuan datanglah kepadaku," ucap Bilah.
"Bilah kamu sudah membantuku sangat banyak sekali, aku malu selalu dibantu olehmu. Biarlah aku usaha sendiri agar aku bisa mandiri. Terima kasih Bilah aku ucapkan sekali lagi. Assalamualaikum," ucap Bilah.
Bilah yang melihat perubahan Nida sangat senang sekali, apalagi sekarang Nida sudah memakai hijab yang menutupi kepalanya, dan juga Nida sudah memakai gamis. Perubahan yang sangat drastis sekali, Nida yang dulu tidak sama dengan Nida yang sekarang, dia sangat berubah dari segala segi penampilan dan tutur kata.
"Alhamdulillah Mas, Nida sudah sangat berubah sekali. Aku melihat mata yang tulus sejak tadi, dia terus menatap mataku dan juga berkaca-kaca ketika ia menatapku," ucap Bilah.
Nida melihat mata Bilah seperti sedang melihat Ranu. Itu sebabnya mata Nida berkaca-kaca.
"Mungkin dia sangat berterima kasih kepadamu sayang, karena telah membantu dia," ucap Bagas.
__ADS_1
"Sebenarnya Allah lah yang membantunya Mas, aku yakin ada setitik amal yang Allah lihat, sehingga Allah membantu dia dari dia jauh oleh Allah menjadi dekat. Kebetulan akulah perantara untuk membantu Nida. Nida berubah bukan karena aku tetapi ada titik amal kebaikan yang Allah lihat," ucap Bilah.
"Masya Allah istriku kalimatnya sangat bagus sekali," ucap Bagas memuji.
Bilah ingin tahu kenapa Ranu meninggal mendadak, Nida hanya bercerita bahwa Ranu tertembak. Apa sebabnya Ranu tertembak. Apakah ada suatu hal kejahatannya yang Ranu lakukan atau sebaliknya. Kenapa Ranu bisa meninggal diam-diam? Bilah menyewa detektif untuk menyelidiki kasus Ranu ini, Bilah merasa janggal dengan kematian Ranu secara tiba-tiba sejak ia resign dari kantornya.
***
aku sudah meminta maaf kepada Bilah, aku sangat bersyukur sekali sudah mendapatkan maaf dari Bilah, kini aku akan membangun kehidupanku bersama dengan putriku Gendis. Aku sudah merancang sebuah rencana untuk bisnis ke depan sepertinya, aku akan sibuk untuk bisnis ini karena Bu kepala lapas telah menghubungiku banyak pesanan dari luar negeri yang meminati karyaku terutama tas rajut. Aku sangat tidak menyangka Allah memberikan rezeki kepadaku melalui lapas menjadi seperti ini.
Aku membuat rumah ini menjadi rumah produksi untuk merajut. 3 teman dari lapas sudah satu bulan mereka bekerja denganku, malah mereka kewalahan dengan pesanan yang sudah masuk. Akhirnya aku meminta kepada ibu kepala lapas alamat-alamat yang sudah bebas dari lapas untuk aku rekrut menjadi karyawan. Jadi bekas narapidana seperti aku bisa menghasilkan uang dengan keringat sendiri dengan cara halal untuk keluarga mereka. Mereka tidak akan dipandang sebelah mata jika mereka menghasilkan uang.
Bersambung
✍✍✍ Mari beri komen kalian yang positif di novel ini. 1 komentar kebaikan Insha Allah membawa kebaikan saya khususnya dan di diri yang membaca. Aamiin 💞
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
Love dari author sekebon karet ❤💞
__ADS_1