
Sudah 5 bulan sejak Bilah melahirkan, kini keluarga Bilah terasa lengkap. Heelwa nama anak Bilah dan Bagas di ambil dari bahasa Arab yang mempunyai arti manis. Karena kisah cinta Bilah dari suatu kepahitan yang Bilah rasakan sebelumnya, bertemu dengan Bagas menjadi terasa manis kehidupannya kini.
Pertumbuhan Heelwa sangatlah cepat, dan wajah cantiknya sudah terlihat. Heelwa mempunyai kulit dari Bilah. Kulit asia-eropa, Bilah berkulit eropa, berwajah arab karena darah sang ayah dari turki, darah sang ibu dari arab-indonesia. Di keluarga Bilah, Heelwa seperti seorang putri karena Heelwa memang cucu satu-satunya. Karena Heelwa sudah berumur 5 bulan, keluarga Bagas dan keluarga Bilah dari Turki meminta Bilah dan Bagas datang berkunjung. Karena Turki harus naik pesawat, maka Bilah memutuskan untuk ke Semarang terlebih dahulu. Sekitar umur 7 bulan Heelwa akan berkunjung ke Turki.
"Mas, ada yang lupa gak yah? aku takut perlengkapan Heelwa dan Gendis ketinggalan," tanya Bilah.
"Coba kamu cek lagi sayang, ada yang ketinggalan gak?" ucap Bagas.
"Sepertinya nggak Mas, jika ada yang ketinggalan kita beli di Semarang aja," ucap Bilah.
Bilah juga mengajak mbak Ima, babysitter yang membantu merawat Gendis dari bayi. Gendis sudah diajarkan Bilah menggunakan hijab. Karena Bilah kemana-mana memakai hijab maka tidak susah untuk mengajarkan Gendis menggukan hijab.
Bilah duduk di samping Bagas dengan memangku Heelwa, sedangkan Gendis di belakang bersama Ima. Mereka berangkat di pagi hari menggunakan mobil, perjalanan akan memakan waktu 1 harian karena mereka akan selalu berhenti ketika anak-anak terlihat kelelahan.
Bagas mulai menyalahkan mobilnya dan berjalan dengan kecepatan rata-rata. Sesekali Bilah melihat ke spion dalam mobil, ia khawatir Gendis menangis. Gendis sangat dekat dengan Bilah, walaupun Gendis memanggil Bilah tante, tapi bagi Gendis, Bilah seperti ibunya. Ada kecemburuan ketika Bilah selalu menggendong Heelwa.
Sudah 5 jam perjalanan menuju semarang, anak-anak sudah terasa gelisah, terlebih lagi Heelwa juga menangis. Akhirnya Bagas memutuskan untuk memberhentikan mobilnya ke sebuah masjid. Masjidnya sangat besar, di lataran masjid juga ada kolom koi. Heelwa tertawa melihat ikan koi berenang. Gendis menangis, ia ingin di gendong oleh Bilah tapi Bilah sedang menggendong Heelwa.
"Mas, tolong gendong Heelwa, aku akan gendong Gendis," ucap Bilah.
Bagas menggendong Heelwa, Gendis sangat senang ketika Bilah menggendongnya.
"Jangan nangis sayang, Gendis 'kan sudah besar, sudah jadi kakaknya Heelwa. Seorang kakak harus mengalah kepada adiknya," Bilah menasehati Gendis.
"Tante...dak yayang ma Gendis," ucap Gendis dengan gaya bicara anak-anak.
"Kok, bilang seperti itu? Tante Bilah sayang banget kok sama Gendis, Kak Gendis jangan ngambek yah. Malu loh sama Heelwa, memang Kak Gendis nggak sayang Heelwa?" Tanya Bilah, sambil menciumi pipi Gendis.
"ndis yayang Heelwa," jawab Gendis.
Bilah tidak membenci Gendis walaupun Gendis adalah anak Ranu. Bilah memberikan kasih sayang kepada Gendis seperti anaknya sendiri. Tidak pernah membanding-bandingkan dengan Heelwa. Jika Heelwa dibelikan baju baru maka Bilah akan membelikan baju untuk Gendis. Setelah di gendong beberapa menit oleh Bilah, Gendispun tertidur. Bilah mendesign jok mobil bagian belakang digunakan sebagai kasur. Jadi anak-anak akan nyaman jika tertidur.
"Mas, kita berangkat lagi. Gendis sudah tertidur nih," pinta Bilah.
Merekapun melanjutkan perjalanan, perjalanan yang sangat lama yang Bilah rasakan tapi ia sangat bahagia karena pergi ke Semarang pertama kali dengan keluarga kecilnya. Bagas dan Bilah sampai di Semarang tengah malam. Ummi dan abi sudah menunggu mereka, karena dalam perjalanan Bilah selalu berkomunikasi dengan ummi.
"Assalamu'alaikum Ummi, Abi," ucap Bilah.
"Waalaikumsalam."
"Kalian istirahalah, pasti kalian lelah," ucap ummi.
"Iya Ummi," ucap Bagas.
Bagas dan Bilah mencium punggung tangan ummi dan abi, mereka langsung dipersilahkan langsung masuk ke rumah karena hari sudah sangat larut. Bilah dan Bagas langsung masuk ke kamar mereka dengan menggendong Heelwa, Gendis 1 kamar dengan mbak Ima.
"Capek sayang?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Capek banget Mas," jawab Bilah.
"Aku mau pijitin dulu?" tanya Bagas.
"Nggak usah Mas, kamu juga 'kan pasti lelah. Aku mau langsung tidur aja," ucap Bilah.
Bilah dan Bagas langsung membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dan mereka pun tertidur lelap.
***
Di pagi hari Bilah sudah terbangun, ia menitipkan Heelwa kepada Bagas dan Gendis sama mbak Ima. Ia pergi ke rumah Ummi yang tidak jauh dari rumah Bagas yang ada di pesantren.
"Assalamu'alaikum Ummi," sapa Bilah dengan senyumnya.
"Wa'alaikumsalam, Ning Bilah. Sudah bangun?" tanya ummi.
"Sudah Ummi, aku bantu yah untuk masak," pinta Bilah.
"Nggak usah, biar Ummi aja. Kamu tunggu aja. Nanti jika sudah matang Ummi panggil kamu," ucap ummi.
"Kok gitu sih Ummi, aku seperti anak yang nggak berbakti masa Ummi yang masak buat keluarga aku." Bilah memaksa, dan pada akhirnya mereka memasak bersama-sama. Ummi hari ini merasa senang karena baru pertama kali ini Bilah memasak bersamanya selama ia menikah dengan Bagas.
Terlihat Bilah memang pandai memasak, ummi pun tak segan untuk memuji Bilah dan pada akhirnya di dalam hati ummi sangat bersyukur mempunyai menantu Bilah. Walaupun pada awalnya ia tidak yakin akan keputusan Bagas untuk melamar Bilah. Setelah selesai Bilah menata menu-menu di meja makan.
"Ummi panggil Bagas, Abi, agar makan bersama di sini," ucap ummi.
"Iya Ummi, biar Bilah yang rapihkan semuanya," ucap Bilah
"Ummi ada apa? aku mau panggil Mas Bagas," ucap Bilah.
"Bagas nanti kemari, kamu tunggu aja yah Nak," ucap ummi.
Tapi Bilah mendengar suara yang ia sangat benci.
"Ummi, itu suara Ning Haya 'kan, darimana dia tahu kami datang ke Semarang. Bukankah dia sudah dipecat. Maaf Ummi, permisi. Aku nggak mau suamiku berbuat kesalahan seperti dulu," ucap Bilah.
"Kamu sabar sayang, jangan emosi. Bagas akan tegas, percaya dengan suamimu," ucap ummi.
"Justru itu Ummi, Mas Bagas gak tegas. Biarkan aku yang akan mempertegas," ucap Bilah.
Bilah melangkahkan kakinya untuk keluar tapi langkahnya berhenti tiba-tiba.
"Dari mana kamu tahu keluargaku ke sini?" tanya Bagas.
"Itu, kamu gak perlu tahu. Aku ke sini untuk bersilaturahmi saja," ucap Ning Haya.
"Aku akan menerima silaturahmi kamu, jika kamu datang ke sini dengan suamimu. Jika bersilaturahmi datang sendirian itu akan membawa fitnah," ucap Bagas.
__ADS_1
"Loh kok fitna, di sini banyak kok para santri. Kita gak berduaan," ucap Ning Haya.
"Tapi aku nggak mau berbicara dengan kamu, karena istri saya sedang di rumah Ummi," ucap Bagas.
"Bagus dong kita nggak ada yang ganggu, ini anak kamu yah? cantik," ucap Ning Haya.
Bagas bertemu dengan Ning Haya sambil menggendong Heelwa.
"Iyalah cantik, istriku cantik pasti anaknya cantik. Alhamdulilah aku bisa menikahi dan mendapatkan cintanya, karena dia wanita tercantik di mataku, sana pulang nggak ada keperluan 'kan. Aku mau sarapan dengan keluargaku," ucap Bagas.
"Aku boleh ikut sarapan? aku juga belum sarapan," ucap Ning Haya.
"Memang kamu keluargaku, sarapan dikeluargamulah. Lagi pula menu yang disiapkan masakan istriku tercinta," ucap Bagas.
Bilah yang mendengar jawaban dari Bagas atas ucapan Ning Haya, ia pun tersenyum puas, ia langsung menghampiri Bagas dan langsung mengecup pipi Bagas, lalu pipi Heelwa.
"Sayang, aku sudah selesai masak. Ayo kita sarapan, aku sudah lapar," ucap Bilah.
"Dan kamu Ning Haya. Urat malumu sudah putus yah, masih mengejar suami orang. Masih banyak Gus yang lain diluar sana, untuk menjadi suamimu. Ingat sama umur, nikah ketuaan gak enak loh," sambung Bilah menyindir Ning Haya.
Bersambung
βββRamaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahππππ
Baca juga yuk cerita serunya
5 tahun menikah tanpa cinta
Salah lamar
Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)
__ADS_1
Love dari author sekebon karet β€π