5 Tahun Menikah Tanpa Cinta

5 Tahun Menikah Tanpa Cinta
Opname kembali


__ADS_3

Kandungan Bilah memasuki bulan kedua untuk kehamilannya. Semakin hari kondisi Bilah semakin melemah, akhirnya dia menyerah. Ia meminta ayahnya untuk mengurus perusahaannya terlebih dahulu.


Bilah dirawat di rumah sakit karena ia mengalami dehidrasi. Makanan yang masuk ke dalam perutnya ataupun minuman akan dimuntahkannya kembali, tidak ada satupun makanan dan minuman yang bisa bertahan di dalam perutnya.


Akhirnya Bilah dirawat di rumah sakit kembali. Tangannya diinfus, dokter memasukkan cairan agar tubuhnya tidak dehidrasi dan juga vitamin agar kondisinya lebih fresh kembali. Kali ini Bilah berada di rumah sakit yang berbeda dengan pemeriksa kehamilan pertamanya. Dan otomatis dokternya pun berbeda.


Bilah mempertanyakan kondisi kandungannya dan memberi informasi dari rumah sakit sebelumnya bahwa ia mengidap kista 98,5 cm. Dokternya kali ini tidak mengatakan apapun kecuali kalimat yang sama dengan dokter sebelumnya. Bilah akan lahir melalui proses cecar karena ia mengidap kista yang lumayan besar.


Impian Bilah ingin sekali melahirkan secara normal tapi dua dokter mengatakan bahwa dia tidak bisa melahirkan secara normal, harus melalui prosedur cecar saat ia melahirkan anaknya. Dokter mengatakan, kista Bilah akan diangkat ketika proses cecar. Kista Bilah berada di sebelah kiri menutupi bagian tuba falopinya. Itu sebabnya selama ini Bilah susah mempunyai anak, benih dari suaminya tidak bertemu dengan benih Bilah yang menunggu didalam rahim karena tuba falopi tertutup. Suatu anugrah bahwa benih Bagas melewati tuba falopi bagian kanan yang tidak tertutup.


"Sayang makan ya," ucap Bagas.


"Aku lemas Mas, aku takut kalau makan nanti muntah lagi," ucap Bilah.


"Jangan takut sayang, kamu 'kan sedang diinfus. Insya Allah nggak akan muntah lagi," ucap Bagas.


Bagas mendekatkan sendok yang berisi makanan ke mulut Bilah, "buka mulutmu sayang," ucap Bagas.


Akhirnya Bilah membuka mulutnya dan perlahan dia memakan makanan yang Bagas suapi.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa makan," ucap Bagas bersyukur.


"Iya Mas, Alhamdulillah. Sebelum aku masuk rumah sakit ini, tubuhku sudah lemas sekali. Untuk duduk pun aku tidak kuat," ucap Bilah.


"Iya sayang, aku juga merasakan itu saat melihat kamu. Jika bisa, aku ingin menggantikanmu, jangan kamu yang merasakan mual-mual seperti itu. Biarlah aku saja yang merasakan itu," ucap Bagas menggenggam tangan Bilah.


"Ini sudah kodrat seorang wanita Mas, ketika hamil setiap orang pasti kendalanya berbeda-beda. Kalau aku kendalanya seperti ini. Aku akan tetap bersyukur kepada Allah karena sudah menitipkan buah cinta kita berdua," ucap Bilah.


Bagas memeluk tubuh Bilah, ia mengecup kening Bilah begitu dalam.


"Terima kasih, kamu mau berjuang mengandung anakku," ucap Bagas dengan air mata.


"Terima kasih juga Mas, telah memilihku untuk menjadi istrimu," ucap Bilah.


Tok tok


Suara pintu di ketuk. Dina dan Billi masuk.


"Assalamu'alaikum," ucap Dina.

__ADS_1


Dina mendekati ranjang Bilah.


"Bagaimana keadaan loe Bil?" tanya Dina.


"Alhamdulilah, udah mendingan Din," jawab Bilah.


"Bilah, loe kok jahat. Gak bilang kalau loe hamil dan sampai dehidrasi seperti ini. Apa gunanya gue dokter kandungan kalau gue gak jadi dokter loe Bil, apa loe balas dendam karena ketika hamil yang pertama gue gak bisa bersama loe?" tanya Dina.


Bilah meraih tangan Dina dan tersenyum menyambut sahabatnya itu.


"Din, gue gak menyimpan dendam sama loe. Lihat perut loe sudah masuk bulan ke tujuh. Gue gak mau buat loe kepikiran gue. Loe sahabat gue yang paling gue sayang. Gue minta doa aja dari loe. Agar kehamilan gue ini lancar dan bisa gue lalui sampai tahap puncak yaitu melahirkan anak pertama gue," ucap Bilah.


Dina memeluk Bilah, "Loe sakit aja masih mikirin gue, kapan gue bisa bermanfaat buat loe Bil. Percuma gue jadi dokter jika gue gak bisa menangani sahabat gue sendiri," ucap Dina dengan air mata.


Bilah melepas pelukan Dina dan menyentuh telapak tangan Dina.


"Din, loe lihat tangan loe ini. Inilah tangan yang akan membantu para ibu ketika mereka melahirkan. Tangan ini juga akan menyelamatkan para ibu yang mengalami kesulitan ketika melahirkan. Janji sama gue, bahwa tangan loe ini harus banyak membantu para ibu untuk melahirkan secara normal." Ucap Bilah dengan menghapus air mata Dina dengan telapak tangannya.


"Insha Allah Bil, gue akan melakukan itu," ucap Bilah.


"Mas, ada cemilan nggak? biasanya bumil suka ngemil. Buat Dina," tanya Bilah.


"Eh gak usah Bil," ucap Dina.


"Jangan menolak, kita makan bersama. Ini kemauan anak gue mau makan cemilan bareng sama loe. Kayanya nanti anak gue akan akrab sama anak," ucap Bilah dengan memegang perut Dina yang sudah besar. Dina pun mengusap perut bila yang masih rata


Mereka memang sahabat semenjak kecil yang tidak bisa dipisahkan. Dina yang terinspirasi dengan Bilah yang selalu membantu orang-orang yang dalam kesulitan. Oleh sebab itu Dina ingin menjadi dokter untuk membantu para pasiennya yang dalam kesulitan pula.


Dengan bertukar pikiran Bilah menjadi lebih semangat lagi untuk menjalani hari-hari kehamilannya. Dina mengatakan sesuatu kepada Bilah tentang kendala-kendala ketika hamil.


"Terima kasih Din, sudah jenguk gue, semoga kelahiran anak loe mudah dan sehat ibu serta bayinya kelak," ucap Bilah.


"Terima kasih Bil, sudah mendoakan gue. Semoga loe juga diberi kelancaran di kehamilan loe yang ini. Dijaga ya jangan terlalu capek, stress, ataupun yang menyebabkan loe drop lagi," ucap Dina.


Mereka saling berpelukan kembali sebelum Dina dan Billy berpamitan untuk pulang.


Bagas menemani Bilah di rumah sakit. Ia tidak mau pergi dari sisi Bilah kecuali ketika dia salat. Bilahpun salat di atas ranjang kasur rumah sakit dengan cara tayamum untuk wudhunya. Walaupun Bilah dalam kondisi lemah tapi dia tetap mengingat Allah dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Hari Berganti hari. Siang berganti malam. Tidak terasa Bilah sudah dirawat di rumah sakit dalam waktu 1 minggu. Bilah diizinkan untuk pulang oleh dokter. Dokter berpesan agar Bilah beristirahat total terlebih dahulu jangan bekerja dan tidak boleh stres pastinya.

__ADS_1


Bagas mendorong kursi roda Bilah karena hari ini merupakan hari kepulangan Bilah dari rumah sakit, ia memapah Bilah ke dalam mobil.


"Alhamdulillah, lega rasanya aku bisa pulang kembali ke rumah," ucap Bilah.


"Yang penting kamu jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat," ucap Bagas.


"Iya Mas, terima kasih ya sudah menemani aku satu minggu ini di rumah sakit, dan melayani aku penuh cinta dan kasih sayang. Aku merasakan cinta kamu yang begitu besar kepadaku," ucap Bilah.


"Iya sayang sama-sama aku ini suamimu. Jadi itu merupakan tanggung jawabku untuk menjagamu," ucap Bagas.


Bersambung.


✍✍Ramaikan komen karena komen kalian membuat saya sangat bersemangat untuk menulis dan ide mendadak untuk saya.


Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yahπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Baca juga yuk cerita serunya




5 tahun menikah tanpa cinta




Salah lamar




Retak Akad Cinta (bab 1 s.d 18 nyata, fiksi dari bab 19 dst)



__ADS_1


Love dari author sekebon karet β€πŸ’žπŸ’


__ADS_2