
Bagas selalu melirik ke arah Bilah yang wajahnya tampak tak suka.
"Ayo dong sayang, jangan cemberut seperti itu. Masa suaminya diperlihatkan wajah cemberut sih," ucap Bagas.
"Aku sebal dengan Mas, mau tinggalin aku mendadak seperti ini. Jika 2 hari sebelumnya kamu bilang mau berangkat ke semarang, aku bisa mundurkan rapatnya," ucap Bilah.
"Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba abi menyuruhku pulang ke Semarang," ucap Bagas.
"Jaga diri kamu di sana, awas aja jika kamu dekat-dekat dengan Ning Haya. Aku tidak akan mau lagi dicium olehmu Mas," ucap Bilah tegas.
"Ngapain aku dekat dengan Ning Haya, aku maunya dekat terus sama kamu," ucap Bagas.
Bilah tak sadar bahwa Bagas mengarahkan mobilnya bukan menuju pulang ke rumah, akan tetapi menuju ke hotel. Ketika mobil berhenti barulah Bilah sadar.
"Hotel?" ucap Bilah terkejut.
"Hari ini aku mau berduaan sama kamu, kalau di rumah di kamar terus berduaan gak enak sama ayah dan mamah. Kamu teleponlah mamah, malam ini kita gak tidur di sana," ucap Bagas.
Bilah menelepon mamahnya dan memberi kabar bahwa hari ini ia tidak pulang ke rumah.
"Ayo sayang kita masuk," ucap Bagas.
Bagas menggandeng tangan Bilah untuk check in ke hotel.
"Sudah lama aku tidak menginap di hotel, ke hotel jika ada acara kantor aja," ucap Bilah.
"Sekarang sama aku, suami kamu. Hari ini kami hanya milikku," ucap Bagas.
Mereka memasuki kamar, di kamar Bagas ternyata sudah menyiapkan semua. Kamar hotel dipenuhi oleh bunga mawar kesukaan Bilah. Ketika Bilah membuka kamar, matanya terlihat sangat berbinar.
"Kamu siapkan ini semua Mas? kok seperti pengantin baru yah rasanya," ucap Bilah.
Bagas memeluk pinggang Bilah yang ramping dengan dagu diletakkan di bahu Bilah.
"Memang kita masih pengantin baru, aku dekat kamu seperti pengantin baru terus," ucap Bagas.
"Terima kasih Mas atas semua ini," ucap Bilah.
"Kamu suka sayang?" tanya Bagas.
"Suka banget Mas. Banget banget suka sama kejutan kamu ini," ucap Bilah.
"Kamu kenapa suka bunga mawar?" tanya Bagas.
"Aku ingin seperti bunga mawar, sejak umurku 10 tahun aku sudah berpikir ingin menjadi bunga mawar yang cantik dengan bunganya tapi gak bisa sembarangan di pegang karena tangkai mawar ada durinya. Aku punya prinsip seperti itu Mas sejak umur 10 tahun. Tapi aku malah tertipu dengan cinta palsu Ranu," ucap Bilah.
Bagas langsung membalikkan tubuh Bilah dan mengecup bibir Bilah dengan sedikit kasar. Bilah mendorong dada Bagas.
"Mas..." teriak Bilah.
"Jika denganku jangan menyebut nama Ranu di depanku. Aku tidak suka itu," ucap Bagas dengan nada kesal.
__ADS_1
"Maaf Mas." Bilah memeluk Bagas dengan erat.
"Kamu tahu, aku tidak tenang meninggalkanmu besok karena di kantor ada Ranu, dari sorotan matanya ia masih menginginkan istriku," ucap Bagas.
"Aku juga ingin sekali ikut kamu pulang Mas, tapi besok ada rapat yang sangat penting," ucap Bilah.
"Kamu mandi dulu sana, sudah jangan di bahas. Hari ini aku hanya ingin denganmu dan berbicara hanya ada kamu dan aku saja," titah Bagas.
"Aku mandi dulu yah, tapi aku tidak membawa baju," ucap Bilah.
"Itu ada di situ," Bagas menunjuk sebuah paper bag yang berisi baju yang Bagas baru beli, "Tapi habis mandi pakai kimono aja," pinta Bagas.
Bilah tersenyum mendengar kemauan Bagas.
"Baik Mas," ucap Bilah.
Bagas sedang ikhtiar dengan Bilah agar mendapat keturunan yang soleh dan solehah. Sebelum ia berangkat ke Semarang, Bagas ingin membuat hati Bilah senang terlebih dahulu agar ketika meninggalkannya di Jakarta maka hatinya tidak merasa gelisah.
Bagas hari ini benar-benar memanfaatkan quality time hanya bersama Bilah. Bagas hanya memberikan jeda ketika azan dan makan. Setelah azan mereka akan mandi wajib lalu solat berjamaah habis salat yah mereka ikhtiar lagi. Tapi beribadah yang anget-anget itu setelah salat dan mendapat titipan anak dari Allah, buah hati yang lahir akan sangat berbeda dengan tanpa salat ketika pembuatan ikhtiarnya.
"Mas, udah yah tadi yang terakhir. Aku lelah Mas," ucap Bilah memelas.
"Hehe maaf yah sayang, karena kamu tuh seperti magnet. Aku jadi selalu ketarik oleh kamu," ucap Bagas.
"Besok berangkat pukul berapa?" tanya Bilah.
"Aku dapat jam penerbangan siang, sekitar pukul 1 sayang," jawab Bagas.
"Gak apa-apa sayang, aku minta pengawal sama mas Adnan untuk mengawal kamu. Aku gak tenang tinggalin kamu sendirian dan Ranu pasti ngambil-ngambil kesempatan," ucap Bagas.
"Wah suamiku sangat protect banget, kamu juga jangan dekat-dekat dengan Ning Haya," ucap Bilah.
"Gak akan aku maunya dekat dengan Ning Bilah aja," ucap Bagas dengan mengecup kening Bilah.
***
Pagi mulai menyingsing, Bilah dan Bagas bergegas untuk check out dari hotel. Mereka akan pulang terlebih dahulu. Sesampainya di rumah Bilah langsung mempersiapkan baju Bagas yang akan ia bawa.
"Mas, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku," ucap Bilah.
"Iya sayang, aku langsung hubungin kamu," ucap Bagas.
"Salam untuk Ummi dan Abi yah Mas, sampaikan permintaan maaf aku untuk mereka karena gak bisa ikut pulang bersama dengan kamu," ucap Bilah.
Sehabis Bilah selesai menyiapkan keperluan Bagas, ia bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Aku antar kamu dan pengawal kamu sudah siap," ucap Bagas.
Pengawal perempuan dari kepolisian, yang di ambil dari salah satu ajudan Adnan sudah siap mengawal Bilah kemana pun Bilah akan pergi.
"Mas, aku kerja dulu yah. Jangan lupa kabari aku jika sudah sampai," ucap Bilah sambil mencium punggung tangan Bagas.
__ADS_1
"Kamu jaga diri yah, kalau ada apa-apa telepon aku. Aku akan rindu sama kamu sayang," ucap Bagas sambil memeluk Bilah dengan sangat erat.
"Ah Mas, aku jadi sedih ini. Aku juga akan merindukan kamu Mas," ucap Bilah.
Bagas mengecup kening Bilah, lalu Bilah keluar dari mobil dengan pengawalan yang akan selalu mengikuti Bilah.
Masuk ke gedung menuju ruang CEO, Bilah bertemu dengan Ranu. Ranu melihat Bilah datang sendiri.
"Mana suami kamu?" tanya Ranu.
"Sapa Bos itu harus sopan yah, kamu itu bawahan aku sekarang," ucap Bilah tegas.
"Pagi Bu Bilah, datang sendiri? mana suami yang selalu ngintilin?" tanya Ranu.
"Bukan urusanmu, suamiku bukan ngintilin tapi jagain sayadari ular keket sepertimu," ucap Bilah ketus.
"Duh jutek banget pagi-pagi." Ranu ingin menyentuh pipi Bilah tapi tangan Ranu langsung di plintir oleh pengawal yang menjaga Bilah. Ranu meringis kesakitan.
"Jangan macam-macam kamu dengan aku, urus istrimu yang sedang hamil. Dia masuk penjara gara-gara kamu," ucap Bilah.
"Aku tidak perduli dengan dia lagi, aku maunya sama kamu. Kita rujuk, ceraikan suamimu dan nikah denganku lagi. Aku yakin kamu masih mencintaiku," ucap Ranu penuh percaya diri.
Bilah langsung menampar pipi Ranu kanan dan kiri.
"Kedua tamparan itu pantas kamu dapatkan, tamparan pertama untuk Nida, tamparan kedua untuk kelancangan kamu dengan atasanmu. Jangan mimpi kamu aku akan bersamamu lagi. Suamiku yang sekarang 1.000 kali lebih baik darimu. Kamu di mataku hanya seperti kecebong tapi suamiku seperti burung emas." Bilah langsung meninggalkan Ranu yang masih memegang pipinya karena tamparan keras dari Bilah.
Bersambung
✍Rajinkan komentar di hari jumat mulai tanggal 23 desember, sabtu dan minggu ini untuk ketiga dari novel saya. ada GA dari saya. Harus komentar yang positif hadiah GA pulsa/boneka rajut (amigurumi)
Jadilah dermawan dengan cara like, subscribe dan follow aku. Vote nya juga yah🙏🙏🙏
Baca juga yuk cerita serunya
Salah lamar
Retak Akad Cinta (kisah nyata bab 1 s.d bab 18 dan dari bab 19 adalah fiksi)
Love dari author sekebon karet ❤
__ADS_1