
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 99 ~ Pintu Kegelapan
Karya R.D. Villam
---
Teeza hanya bisa melihat saat makhluk itu berlari, kemudian menjejak sebuah batu besar dan melompat sedemikian tingginya sampai ke celah tebing. Jerit dan desah napas tertahan seketika terdengar dari atas tebing. Cahaya merah Gada Geledek terpancar, menunjukkan bahwa Fares sudah siap menghadapi Nergal. Tetapi makhluk itu datang begitu cepat. Dalam posisi masih melayang Nergal langsung mengadu pedangnya dengan gada Fares.
Dentingan keras memekakkan telinga terdengar. Cahaya merah meredup seketika. Gada Geledek terlepas dari tangan Fares dan terlempar menghantam dinding gua di sampingnya.
Teeza panik. Fares jelas tidak akan mampu melawan Nergal. Demikian pula Naia, yang sejak awal telah melemparkan pedangnya ke dasar gua, dan juga Rifa yang kini mengacungkan tombaknya. Teeza tahu ia harus cepat menolong teman-temannya itu, walaupun ia belum yakin apakah ia mampu. Ia belum yakin kekuatan apa sebenarnya yang ada pada dirinya, atau apa yang melindunginya, tetapi ia harus cepat. Ia harus bisa menghentikan Nergal!
Dengan panik Teeza mencari-cari lekukan di dinding tebing yang bisa ia gunakan untuk memanjat. Namun ternyata ada yang bergerak lebih cepat. Sesosok tubuh raksasa bergerak di samping Teeza. Davagni. Makhluk kelabu itu telah kehilangan sebagian kaki dan sayapnya pun terkoyak-koyak, sehingga kini hanya bisa merayap di dinding gua. Namun tangan kanannya terulur tinggi, lalu menangkap kaki Nergal dan menariknya secara mendadak.
Nergal terperosok kencang. Batu-batu di dinding gua berguguran bersama tubuhnya. Ia berusaha menggapai-gapai mencari pegangan, hingga pedang pun terlepas dari tangannya. Makhluk itu meraung marah ketika Davagni lalu menangkap tubuhnya dari belakang. Nergal menyikut beberapa kali, berusaha menghajar tulang rusuk si makhluk kelabu. Davagni berlutut, meringis kesakitan, namun ia justru malah memeluk tubuh kakaknya semakin erat.
Davagni menatap Teeza yang berdiri terpana di depannya, sementara Nergal meronta-ronta dalam dekapan Davagni berusaha membebaskan diri.
“Bunuh dia!” seru makhluk kelabu itu. “Bunuh dia sekarang, Teeza!”
Awalnya Teeza belum mengerti, tetapi kemudian paham. Cepat ia mendekat dengan pedang teracung ke wajah Nergal. Nergal balas menatap. Makhluk itu tak lagi mendongak untuk melihat sesuatu yang mungkin tadi dilihatnya di atas kepala Teeza, tetapi raut ketakutan kembali tampak di wajahnya, seolah tahu bahwa maut sampai padanya.
“Bunuh dia, Teeza!” kata Davagni semakin lantang. “Tembus jantung manusia terkutuk ini dengan pedangmu. Cepat, sebelum terlambat!”
“Terlambat apa ...?”
“Sebelum Pintu Kegelapan itu kembali tertutup!”
__ADS_1
Teeza menoleh, memperhatikan kabut putih yang berputar-putar di langit-langit gua.
Itu ... jadi itu bernama Pintu Kegelapan?
Lewat pintu itu Nergal yang mati nanti akan kembali ke dunianya?
Tentunya itu harus dilakukan, jika memang benar begitu. Namun sesuatu yang lain membuat Teeza belum bisa yakin. “Jika aku membunuh dia, aku hanya membunuh Bargesi, sementara Nergal akan keluar dari tubuhnya! Seperti yang kulihat saat Arphal mati!”
“Tidak. Pintu Kegelapan akan menarik Nergal dan mengembalikannya ke dunia kami!” Davagni mempertegas pemikiran Teeza, sambil terus berusaha mempererat pelukannya saat Nergal kembali meronta.
“Hanya mengembalikan? Tidak membunuhnya?”
“Ya, hanya itu yang bisa kaulakukan, Teeza. Tetapi jangan khawatir, biarlah selanjutnya menjadi urusan hamba. Gunakan pedangmu juga pada hamba. Hamba akan pergi bersamanya melewati Pintu Kegelapan, dan membereskannya.” Davagni menatap dengan sorot mata tajam, begitu melihat Teeza masih ragu. “Kenapa, orang Kaspia? Kau tidak percaya?”
Nergal, yang tidak mampu bergerak akibat dekapan Davagni, tiba-tiba tertawa keras, lalu menyeringai. “Mengapa manusia ini harus percaya padamu, Adik? Kau sama terkutuknya denganku. Sama-sama tidak bisa dipercaya. Hei, orang Kaspia, berhati-hatilah, makhluk batu ini sedang menipumu. Ia tidak akan bisa melakukan apa-apa padaku. Jangan membuat kesalahan fatal. Tahan pedangmu, dan akan kukatakan sesuatu yang sangat penting.”
“Jangan dengarkan kata-katanya, Teeza!” seru Davagni. “Hancurkan kami, cepat! Nergal hanya sedang mengulur-ulur waktu!”
Teeza termangu, berusaha menyatukan seluruh pikirannya.
Tidak hanya itu, apakah ia sampai hati ikut membunuh Davagni?
Davagni melotot melihat Teeza yang masih ragu, tetapi setelah beberapa saat sorot matanya meredup. “Baiklah, jika kau tak bisa percaya pada hamba, maka …”
“Aku akan percaya pada diriku sendiri,” Teeza melanjutkannya seraya mengangguk. Ia mengarahkan ujung pedangnya di depan jantung Nergal. “Dan percaya, bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepadaku, apa pun itu. Jika tidak sekarang, pasti nanti.”
Senyuman Davagni tersungging. “Kalau begitu, lakukan. Hamba sudah siap.”
“Aku … Maafkan aku, Davagni.”
“Tidak. Hamba yang berterima kasih.”
“Kau akan menyesal, manusia!” seru Nergal semakin panik.
__ADS_1
Teeza menatap mata Nergal saat pedangnya menghunjam jantung makhluk itu.
Raungan kencang tersembur menggelegar, tetapi Teeza tidak berhenti. Ia melanjutkan tusukannya sekuat tenaga, bersama dengan kekuatan lain yang sepertinya masih ada bersamanya, hingga merasakan ujung pedangnya menghentak dan menerobos tubuh keras Davagni, kemudian menghantam dinding gua di belakang makhluk batu berwarna kelabu itu.
Cahaya putih menyilaukan berpendar bersama pedangnya ke segala arah.
Sorot kesakitan tampak di mata Davagni, dan Teeza pun membuang muka, tak mau melihatnya. Raungan Nergal berubah menjadi lengkingan panjang. Asap putih menyusup keluar dari seluruh permukaan tubuh manusia yang didiaminya. Bargesi sang perdana menteri langsung terkulai tanpa nyawa, sementara asap di atas kepalanya naik dan berputar-putar.
Sesaat asap itu berubah menjadi sosok makhluk bertangan dua dan berkaki dua, dengan wajah mengerikan yang menyorotkan amarah, tetapi kemudian dengan cepat terhisap ke dalam putaran kabut di langit-langit, menghilang seketika. Sementara Davagni ... tubuh batunya tercerai-berai menjadi gumpalan debu-debu halus di udara, dan akhirnya lenyap.
Pintu Kegelapan kini tertutup rapat. Suasana kembali hening.
Napas Teeza tersengal. Pikirannya masih berputar, apakah semua ini sudah selesai?
Yang jelas Nergal dan Davagni sudah tidak ada lagi sekarang. Hanya tinggal tubuh Bargesi yang tertancap di dinding gua. Teeza mencabut pedangnya, membiarkan Bargesi jatuh, kemudian menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju ke mayat ratu gharoul.
Sejenak ia bertanya-tanya, kenapa makhluk terkutuk itu tidak ikut masuk ke dalam Pintu Kegelapan bersama dengan Nergal dan Davagni? Apakah ada cara lain?
Batu-batu yang berguguran di beberapa sudut gua mengalihkan perhatian Teeza. Seruan-seruan yang menggema kemudian sampai pula di telinganya. Teeza mendongak, memperhatikan Naia, Fares, Rifa, dan Ramir yang melambai-lambai padanya. Ia tersenyum.
“Teeza,” Panggilan lirih membuatnya menoleh.
Elanna, yang masih terbaring di samping Rahzad, tersenyum lemah padanya.
“Elanna!” Teeza menghambur dan langsung memeluk hati-hati tubuh wanita berambut emas itu. Ia menangis, begitu memperhatikan luka besar di dada Elanna dan merasakan darah mengalir di tangannya, yang keluar dari balik punggung wanita itu.
“Elanna, kau … kau akan baik-baik saja!” Teeza mendongak. “Ramir! Ramir!”
“Y—ya, Teeza!” teriakan Ramir terdengar dari jauh.
“Cepat turun! Bawa peralatan penyembuhanmu! Cepaaat!”
__ADS_1