
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 78 ~ Persekutuan Maut
Karya R.D. Villam
---
“Kita bertemu lagi, makhluk terkutuk,” Rahzad menatap bergantian ke arah Nergal dan lalu Bargesi, yang masih duduk di atas tandu di kejauhan. “Jadi rupanya ini rencana Arphal, atau lebih tepatnya rencana kalian berdua. Kalian bersekutu. Untuk apa? Untuk menghadapi aku? Ya, tentu saja, karena kalau secara sendiri-sendiri kalian tak akan bisa mengalahkan aku, bahkan walaupun kau, Bargesi, menggunakan Ishtaran dan ribuan prajurit. Aku terkejut, terus terang. Dan salut untuk Arphal yang bodoh, yang mau berkorban demi kalian.”
Nergal tertawa kecil. “Arphal tidak berkorban. Aku masuk ke dalam tubuhnya dan mengendalikan jiwanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia hanya … mati,” jawabnya enteng.
“Jadi … sebenarnya denganmu tadi kita berbicara di dalam?” seru Rahzad dengan nada tinggi.
“Ya, semacam itu. Aku tadi harus mengubah sedikit … gaya.”
“Bocah malang,” balas Rahzad dingin sambil melirik ke tubuh Arphal. Ia lalu berkata lantang pada seluruh prajurit, “Kalian lihat? Perdana Menteri kalian bersekutu dengan makhluk terkutuk, dan bahkan mengorbankan kapten kalian sendiri? Apa kalian mau bergabung dengan mereka dan menjadi makhluk-makhluk terkutuk? Kalian baru saja dibodohi!”
Sebagian prajurit berpandang-pandangan. Keraguan mulai merayap.
“Kaulah yang bodoh, Rahzad! Sudahlah.” Bargesi membalas dengan tawa terbahak. “Kau masih belum mengerti juga? Nergal adalah saudara Ishtar! Dia adalah dewa! Keduanya dewa. Kita takut pada mereka, ya betul, tetapi kita lebih mencintai mereka, bukan?”
__ADS_1
Dewa? Untuk pertama kalinya Teeza melihat Rahzad tertegun. Jika ucapan Bargesi ini benar, apakah berarti Ishtar pun sebenarnya bersekutu dengan Nergal? Tak heran Rahzad kini terkejut mendengar hal itu, karena bahkan Ishtar pun mengkhianatinya!
Rahzad termenung sambil memandangi pedang besarnya seolah tak percaya. “Aku mengerti sekarang ... kenapa aku tak lagi merasakan kekuatan Ishtar di sini.” Tetapi ia lalu tertawa. “Tetap saja, gertakan kalian tak ada gunanya bagiku. Aku tetap tidak takut. Aku masih lebih besar daripada kalian, aku lebih besar daripada Ishtar!”
“Hah! Yang besar itu kepalamu!” Bargesi mengangkat tongkatnya, dan mengangguk ke arah Nergal yang menatapnya.
Nergal menoleh. “Rahzad, seluruh anak buahku yang telah kau bunuh kini bergabung dalam tubuhku. Terakhir bertempur kita imbang, tetapi sekarang kita berbeda jauh. Kau telah kehilangan Ishtar, sementara aku justru semakin kuat. Bersiaplah, untuk mati.”
Ia mengangkat pedangnya. Seluruh prajurit yang masih mengepung Rahzad cepat-cepat bergerak menjauh dari tengah arena. Tak ada yang mau mati gara-gara terkena tebasan pedang dua monster itu. Mereka tahu, bagi Nergal ataupun Rahzad, nyawa mereka semua tidak ada harganya.
“Niordri,” Teeza berbisik. “Sebaiknya kita kabur sebelum terlambat.”
“Aku takkan pergi sebelum bertarung,” balas Rahzad. “Tetaplah di sini, Teeza, aku akan membutuhkanmu. Ingat ucapanku dulu.”
Ucapan Rahzad? Maksudnya?
Nergal dan Rahzad saling menghantam dengan kekuatan, kecepatan dan keganasan yang pasti membuat siapa pun yang melihatnya merinding ketakutan. Kedua lelaki itu, yang satu adalah dewa, menurut Bargesi, dan yang satu lagi adalah manusia penantang dewa.
Teeza menggenggam erat-erat tombaknya. Ia teringat lagi ucapan Rahzad, dan mengerti. Jika cerita Rahzad dulu benar, bahwa Nergal takut pada Teeza entah karena alasan apa, berarti sekarang pun seharusnya masih begitu. Nergal takkan berani mendekatinya, dan itu mungkin kunci untuk membuat Teeza dan Rahzad bisa pergi dari tempat ini. Masalahnya, sepertinya Rahzad tidak ingin kabur. Ia ingin menaklukkan Nergal dan membunuh Bargesi.
Namun seperti yang dikatakan oleh Teeza pada Rahzad sebelum ini, rasa tinggi hatilah yang mungkin akan membunuh Rahzad. Bisa jadi sekaranglah saatnya. Setelah beberapa lama terbukti sang dewa lebih kuat daripada penantangnya, yang walau luar biasa namun tetap saja manusia biasa. Sebuah hantaman Nergal membuat Rahzad mundur, dan satu hantaman lagi membuatnya terjatuh. Rahzad menyilangkan pedang di atas tubuh, bersiap menangkis serangan berikutnya, tetapi Teeza tahu laki-laki itu mungkin takkan bisa bertahan lebih jauh.
Cepat-cepat Teeza mendekat. Disertai teriakan keras ia melompat lalu menghunjamkan tombaknya ke arah perut Nergal. Si makhluk terkutuk terkejut melihat kedatangannya dan buru-buru menangkis. Teeza merasakan getar tombak merayap ke lengan hingga sekujur tubuhnya. Ia menguatkan hati, terus menatap Nergal tanpa takut, dan tampaknya tatapan itu membuat Nergal mundur. Dalam gelap, mata merah makhluk itu menyala menunjukkan amarah, tetapi Teeza tak peduli. Ia menyerang lagi dan kembali Nergal hanya menangkis.
Namun Teeza takut makhluk itu mungkin hanya sedang mengukur kekuatan. Ia tak boleh gegabah. Ia menoleh ke arah Rahzad yang juga sudah bangkit, “Aku sudah menyelamatkanmu, tetapi itu yang terakhir. Aku pergi sekarang, tak peduli kau berkata lain.”
__ADS_1
Teeza berlari lalu melenting, melompat jauh ke arah timur. Barisan prajurit Akkadia sudah berada cukup jauh di sebelah kanan dan kirinya. Mereka takkan bisa menahannya sekarang. Sesosok lain melesat ke samping Teeza. Rahzad. Ternyata akhirnya dia bersedia kabur. Lelaki jangkung itu menangkap lengan Teeza, dan membawanya berlari dan melompat lebih kencang. Dalam waktu singkat barisan ribuan prajurit Akkadia terlewati. Teeza bersyukur mereka tidak mengejar, tetapi Nergal, makhluk terkutuk itu mungkin masih.
Setelah mereka pergi cukup jauh dan sampai di perbukitan sepi, Rahzad membawa Teeza berhenti. “Nergal tidak mengejar,” kata laki-laki itu. “Kurasa kita selamat.”
Teeza belum yakin. Matanya menatap ke sekeliling. Hanya ada bentangan tanah tandus di utara, deretan bebatuan dan tebing di barat, serta hamparan rerumputan hijau tebal di timur dan selatan. Ia menoleh, memandangi Rahzad yang duduk kepayahan di atas sebuah batu. Lelaki itu tak bisa lagi menyembunyikan keletihan, dan juga kegeraman di wajahnya.
“Aku yakin kalau Nergal mau sebenarnya ia bisa mengejar,” kata Teeza.
“Sudah kubilang, ia takut padamu,” tukas Rahzad, terdengar lebih yakin.
Teeza menggeleng. “Tidak, ia hanya waspada dan sedang menimbang-nimbang. Ada sesuatu menahannya bertindak. Padahal jika ia memaksa menyerangku, aku tak yakin mampu melawan. Bagaimana caranya aku melawan dia? Bahkan kau pun tak sanggup.”
“Berarti kalian berdua sama-sama peragu.”
“Kau tampak kesal, Niordri.”
“Dan kau senang karenanya?”
Teeza meringis. “Melihatmu kehilangan semua kekuasaan yang telah berpuluh-puluh tahun kau perjuangkan, hanya dalam satu malam, ya, terus terang, itu membuatku tertawa. Rasakanlah sakitnya. Ini giliranmu.”
Rahzad menggeleng tak percaya. “Kau yakin bisa tertawa sekarang? Bargesi bersekutu dengan Nergal dan Ishtar, dan aku tak tahu apakah Sargon juga ada di belakang mereka. Kau bisa membayangkan bencana apa yang bisa mereka timbulkan nanti?”
“Lucu.” Teeza mendengus. “Saat aku masih bersama Naia, kami ketakutan saat kau berada di sana menjadi panglima Sargon. Kami membayangkan bencana apa yang bisa kalian timbulkan jika kalian datang. Menurutku, Niordri, orang-orang Elam masih aman di timur selama Gerbang Sungai Tigris masih terjaga oleh mereka. Hanya kaulah satu-satunya orang yang tidak aman sekarang. Musuh besar Sargon yang harus segera dilenyapkan.”
“Lalu dengan alasan itu kau hendak pergi dariku supaya dapat tetap hidup?” Rahzad tertawa pendek, dan Teeza balik memandanginya lekat-lekat. Sang bekas panglima Akkadia melanjutkan, “Kau tidak sebodoh itu, Teeza. Ya, buat Bargesi dan Sargon, akulah musuh terbesar mereka. Tetapi buat Nergal, bukan lagi. Kaulah sekarang musuhnya yang paling berbahaya, dan karena dia tak berani mendekatimu, maka dia akan meminta Bargesi untuk memburumu. Kau salah, Teeza. Kepalamu sama berharganya dengan kepalaku.”
__ADS_1