Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 74 ~ Nyanyian Malaikat


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 74 ~ Nyanyian Malaikat


Karya R.D. Villam


 


---


 


 


Iradrin tidak langsung menjawab pertanyaan Ramir mengenai umurnya, dan malah berkata mengenai hal lain. “Ya. Teeza. Aku pernah melihat wanita itu.” Laki-laki tua itu termangu. “Dia yang dulu menemani Putri Naia saat bertemu kami di utara. Seorang yang serius, pendiam dan jarang tersenyum. Aku tak sempat berbincang dengannya, walaupun ingin. Tetapi aku tak heran melihat seorang dari Kaspia menjadi prajurit bayaran di negeri-negeri yang jauh. Itu sudah banyak terjadi di tempat lain, dan kelihatannya wanita itu memang seorang yang tangguh.”


Ramir belum yakin apakah ia perlu bercerita lebih banyak soal Teeza, yang kini menjadi prajurit Akkadia, dan juga hal-hal lainnya soal masa lalu gadis itu. Mungkin sebaiknya tidak. Ia belum percaya sepenuhnya pada orang-orang Kubah Putih ini. “Jadi, benar Anda seorang Kaspia, yang berumur empat kali manusia biasa?”


Iradrin tertawa. “Kau pandai berhitung, Ramir. Tetapi aku hanya separuh Kaspia, ibuku wanita biasa dari negeri timur, dan karenanya umurku pun hanya dua kali manusia biasa, atau hanya seratus tahun untuk ukuran kalian. Dan jika saja putraku, yang hanya punya seperempat darah Kaspia dalam tubuhnya, tidak tewas ketika melawan makhluk-makhluk terkutuk, mungkin ia pun tetap akan wafat lebih cepat daripada aku.”


Ramir belum bisa sepenuhnya memahami penjelasan sang kakek. Perhatiannya malah tertuju pada hal lain. “Sejak dulu kalian memang selalu bertempur melawan makhluk terkutuk?”


“Mari, kita jalan dulu.” Iradrin menggamit lengan Ramir, mengajaknya kembali berjalan.


Mereka menyusuri koridor panjang. Ramir tetap hanya melihat kegelapan di ujung jalan, tetapi ada sesuatu yang lain terasa menghampiri wajahnya. Angin dingin. Bulu kuduk Ramir berdiri.


Kakek itu berkata, “Ayah kakekku, kakekku, dan sekelompok orang Kaspia lainnya, telah bersumpah memerangi semua makhluk terkutuk di mana pun, sampai kapan pun. Sesuatu yang buruk dulu pernah terjadi di utara, dan itulah yang membuat leluhurku melawan. Mereka meninggalkan Kaspia, pergi ke berbagai penjuru dunia untuk mencari dan melawan, selama beratus-ratus tahun. Kadang menang, kadang kalah, dan ketika kalah, nyawalah yang terkorbankan. Begitulah, generasi berganti, hingga akhirnya hanya tersisa ayahku, dan beberapa pengikut baru dari berbagai negeri. Dua ratus tahun lalu, mereka memutuskan untuk membangun Kubah Putih. Di sinilah tempat kami tinggal, berdoa, dan menyekap musuh-musuh kami.”


“Menyekap musuh …” Ramir teringat lagi. “Termasuk Davagni?”

__ADS_1


“Ya, dia salah satunya.” Parvez yang menjawab. “Kebetulan sekali. Tadi kau bilang mau melihat lubang selnya, Ramir? Nah, itu dia.”


Mereka tiba di ujung koridor, pada teras kecil yang mencuat keluar dari lubang yang terdapat di salah satu dinding gua raksasa. Ramir terhenyak, melihat betapa luasnya gua tersebut. Ia seperti berada di dalam perut gunung! Ratusan obor terpasang di beratus-ratus sudut membuat tempat itu terlihat benderang. Batu-batu runcing yang panjang saling bertemu dari atap maupun dasarnya, dan lubang sel yang ditunjuk oleh Parvez ada di salah satu sudut. Hanya sebuah lubang gelap di dinding, hening seolah tak berpenghuni.


“Dia,” napas Ramir tertahan, “Davagni … ada di sana?”


“Ya, sepertinya dia sudah malas bersuara, dan memilih menjadi batu,” tukas Parvez. “Atau mungkin dia sedang termangu merenungi nasibnya, untuk minimal seratus tahun ke depan.”


“Tuan Parvez, aku pernah bertemu Davagni, dan menurutku dia bukan makhluk jahat,” Ramir berusaha membantah. “Dia menolongku dan teman-temanku dari serangan orang Akkadia di Pegunungan Zagros. Dia makhluk yang baik!”


“Davagni adalah makhluk licik yang telah membuat banyak kerusakan di muka bumi sejak beratus-ratus tahun yang lampau,” jawab Parvez. “Dia salah satu makhluk terkutuk yang paling diincar oleh para leluhur. Dulu dia sudah pernah disekap di sini, tetapi kemudian berhasil kabur, dengan cara menghasut seorang pengikut kami untuk berkhianat. Kami takkan lagi membuat kesalahan. Jangan mudah tertipu, Ramir.”


“Sebenarnya,” Iradrin berkata. “Seperti yang dulu diajarkan ayahku, makhluk terkutuk pun bisa bertobat. Tetapi, selama beratus-ratus tahun kenyataannya hal itu tak pernah terjadi. Jadi memang lebih baik kita mengambil langkah aman saja, dengan menyekap mereka, daripada membiarkan mereka membuat kerusakan lagi.”


“Kalau mereka memang tidak pernah bisa menjadi baik, kenapa harus disekap, tidak dibinasakan sekalian?” tanya Ramir, sedikit kesal.


“Sebagian makhluk bisa dihancurkan, sebagian lagi tidak, dan bahkan akan tetap hidup sampai akhir jaman,” jawab Iradrin. “Pada akhirnya kita tetaplah manusia biasa dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas tentang hal ini.”


“Ah, memang bukan ini.” Iradrin tertawa kecil. “Ayo, kita jalan lagi.”


Mereka kini berjalan menuruni anak tangga di dinding gua, yang licin dan sempit dengan lebar hanya satu tombak. Ramir harus ekstra hati-hati jika tidak ingin tergelincir jatuh ke dasar gua yang gelap tak berobor di sebelah kanannya. Entah ada apa di dalam kegelapan itu. Apakah hanya batu-batu tajam atau sungai bawah tanah, semuanya tetap pilihan yang buruk.


Setelah melewati berpuluh anak tangga mereka spertinya tiba di dasar gua. Dua penjaga menyerahkan dua batang obor kepada Parvez. Ramir dan Iradrin mengikuti sang pemimpin Kubah Putih memasuki lorong lain. Bulu kuduk Ramir merinding, kali ini bukan karena angin dingin, melainkan karena suara aneh yang sampai ke telinganya. Sepertinya dari dalam ruangan yang sedang mereka tuju. Suara nyanyian, mengalun begitu indahnya, tetapi halus dan lirih, belum jelas disuarakan oleh berapa orang. Jika itu adalah suara manusia.


“Suara … apa itu?” tanya Ramir gugup saat mereka hampir sampai di ujung lorong.


Begitu mendengar ucapan Ramir, Parvez berbalik, menatapnya tak berkedip. Iradrin di sampingnya pun menoleh.


“Kau bisa mendengarnya?” Parvez bertanya, setengah berbisik.

__ADS_1


“Ya.” Ramir mulai khawatir. “Nyanyian itu ...”


Iradrin mengangguk. “Seperti apa nyanyiannya? Indahkah?”


“Ya, bagus sekali.” Ramir berusaha menajamkan pendengarannya. “Lagunya, juga suaranya. Seperti yang biasa kudengar saat aku bersantai di tepi sungai.”


“Di tepi sungai?” Alis tebal Parvez bertaut, tidak mengerti.


“Maksudku, indahnya dan damainya seperti itu.”


“Apa kata-kata yang diucapkan dalam nyanyian itu, Ramir?” tanya Iradrin lirih.


“Aku ... tak tahu.” Ramir menggeleng. “Tidak begitu jelas. Kata-katanya asing. Siapa yang menyanyikannya?”


“Berarti kami tidak salah.” Parvez tersenyum dan saling memandang dengan Iradrin. “Semoga.”


“Suara apa itu?” tanya Ramir lagi.


“Malaikat, kata ayahku,” Iradrin menyahut. “Tetapi dia pun sebenarnya tak bisa mendengar suara itu. Begitu juga kami. Di sini, sepertinya, hanya kau yang bisa, Ramir.”


Ramir terperanjat. “Cuma aku yang mendengarnya? Kalian tidak?”


“Ya, dan itu adalah satu tanda yang hanya mungkin dimiliki Sang Terpilih. Kaulah orangnya, mungkin.” Iradrin menepuk lengan Ramir yang kebingungan. “Orang yang akan memimpin kami melawan makhluk terkutuk yang paling terkutuk. Pencarian terhadap sosok Sang Terpilih sudah dilakukan sejak masa kakekku, saat pertempuran besar terjadi di tempat ini melawan kaum terkutuk. Begitu banyak dari kami yang mati, tetapi akhirnya musuh berhasil ditaklukkan. Namun di saat-saat terakhir pemimpin mereka mengejek. Dia berkata, apakah kami berpikir sudah benar-benar mampu menyingkirkannya? Salah, dia bilang, karena dia hanya akan takluk pada orang yang mampu mendengar Nyanyian Malaikat di gua ini. Bahkan kakekku pun tak mampu mendengarnya, maka makhluk itu pun pergi begitu saja, lenyap dari muka bumi. Namun kami tahu, dia akan kembali lagi nanti, entah kapan.”


Ramir berhenti, tak mau melangkah lebih jauh. Ia menggeleng-geleng. “Mungkin … mungkin kalian salah. Aku bukan orang yang kalian cari!”


Sejujurnya, ia memang berharap mereka salah! Sudah cukup ia mendapatkan beban sebagai sang ahli waris Gerbang Sungai Tigris, yang bertanggung jawab atas nasib seluruh rakyat di negeri timur. Ia tidak mau menambah lagi tanggung jawabnya dengan melawan makhluk-makhluk terkutuk. Itu pertarungan yang tidak mungkin dimenangkan, oleh dirinya. Ia cuma seorang anak dari desa, bukan prajurit!


Ya, mereka pasti salah orang! Bagaimana mungkin dia adalah Sang Terpilih?!

__ADS_1


 


 


__ADS_2