Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 42 ~ Raja-Raja Elam


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 42 ~ Raja-Raja Elam


Karya R.D. Villam


 


---


 


Naia membelai kain sutra lembut yang menyelimuti tubuhnya, dan meluruskan punggungnya di kasur empuk. Matanya mengerjap, melirik cahaya mentari yang masuk melalui sela-sela tirai. Bayangan ranting pepohonan tercetak di dinding kamar. Sudah berhari-hari ia tidur di ranjang beratap kayu berukir ini, di dalam kamar indah di istana yang memang khusus diperuntukkan baginya. Tetapi setiap kali ia bangun ia selalu berpikir, apakah ia sedang bermimpi? Dan jika ini benar mimpi, apakah indah, atau malah buruk?


Naia menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang. Ia menghela napasnya perlahan, lalu menyibak kelambu. Perlahan ia mendekati jendela, memandang taman istana yang terhampar luas beberapa tingkat di bawahnya. Empat air mancur menari meliuk-liuk di tengah kolam berbentuk lingkaran, dikelilingi jalanan lurus berlantai marmer yang mengarah ke utara, timur, selatan dan barat. Beberapa tukang kebun sedang merawat bunga dan merapikan semak, dan di ujung setiap jalan berjaga masing-masing dua orang pengawal bertombak.


Pemandangan indah seperti biasa. Tetapi ada yang kurang. Biasanya di pagi seperti ini Javad selalu berada di taman, menikmati pagi dengan berjalan-jalan atau berbicara dengan pelayan atau menterinya. Sang raja seringkali lebih suka membahas urusan kerajaan di tempat terbuka dibanding ruangan khususnya di dalam istana. Pagi ini, Javad tidak ada di sana.


"Tuan Putri,” panggilan lembut terdengar di belakang Naia.


Naia menoleh, memperhatikan gadis pelayan berambut panjang berpilin yang berdiri di samping pintu. “Ya? Ada apa, Tanna?”


"Apakah Tuan Putri mau makan di ruang makan seperti biasa?”


Di hari-hari pertama kedatangannya di Awan, Naia selalu memilih makan di ruang makan, dan ia gembira karena Javad selalu menemaninya. Tetapi beberapa hari belakangan Javad selalu pergi entah ke mana sejak pagi-pagi sekali. Tak ada yang salah, tentu saja sebagai raja Javad memiliki banyak urusan penting. Namun tetap saja, pada akhirnya Naia merasa sendirian. Ia masih merasa tengah berada di negeri asing. Ini bukan rumahnya.


"Antarkan saja sarapanku ke kamar," kata Naia.


"Baik, Tuan Putri. Tadi Yang Mulia juga berpesan, jika Tuan Putri sudah selesai makan, Tuan Putri bisa menemui beliau di Ruang Tengah.”

__ADS_1


"Apa ada urusan penting?” Naia bertanya, sebelum kemudian sadar bahwa mana mungkin seorang pelayan bisa tahu jawabannya. “Ya, aku ke sana nanti.”


Sementara Naia mandi, berganti pakaian dan sarapan ia menebak-nebak kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Javad. Rencana perang lagikah? Atau mungkin dia akan bertanya apa yang dibicarakan Naia bersama orang-orang Kubah Putih?


Atau mungkin urusan pribadi, tentang rencana pernikahan mereka?


Naia mendesah. Seharusnya ia senang jika Javad membicarakan lagi rencana perangnya melawan Akkadia, karena bukankah itu keinginan Naia selama ini: menghancurkan Akkadia dan bisa membalaskan dendamnya. Namun belakangan Naia tidak bisa fokus memikirkan itu. Lagi pula, kelihatannya Javad telah mengurus itu semua dengan sangat baik, dan tak membutuhkan lagi pendapat Naia. Jadi, apa lagi yang harus dibahas sekarang?


Sementara jika Javad hendak bertanya apa yang terjadi dengan orang-orang Kubah Putih, Naia lebih enggan lagi untuk bercerita. Itu urusan Naia, dan tampaknya Javad pun mengerti. Jadi pasti, Javad tak akan ikut campur dan bertanya lebih jauh.


Lalu jika benar Javad hendak membahas soal itu, mengenai pernikahan ... Naia menghela napasnya panjang lagi. Wajah Javad terbayang. Ia tahu sang raja tulus mencintai dirinya. Bagaimana mungkin Naia menolaknya?


Javad masih ada di sana, dalam bayangannya, selama beberapa saat. Kemudian perlahan wajah itu meredup, dan tergantikan wajah lain yang tersenyum lebar ke arahnya.


Fares ...


Naia menggeram. Bagaimana bisa ia masih memikirkan pemuda itu saat ia sudah hampir menjadi istri lelaki lain? Tetapi ia tahu ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia lebih mencintai Fares dibanding Javad. Satu yang membuat Naia gundah, pemuda itu kini tengah berada entah di mana di utara, di daerah musuh. Dan Naialah yang telah menyuruhnya pergi ke sana! Tuhan, jangan biarkan terjadi sesuatu yang buruk dengannya!


Semangat barunya pun tumbuh. Naia membuka pintu kamar dengan senyum terkembang.


Mehrdad, pengawalnya yang selalu berjaga sepanjang hari dan sepanjang malam di depan kamarnya, langsung membungkuk hormat. “Selamat pagi, Tuan Putri. Yang Mulia sudah menunggu di Ruang Tengah.”


"Selamat pagi, Kapten," balas Naia. Ia berjalan menyusuri koridor panjang di lantai atas istana Awan. Mehrdad mengiringinya. "Aku akan menemuinya. Tetapi sebelum tengah hari aku sudah harus berangkat ke Gerbang Sungai Tigris, untuk menjemput Fares dan Rifa. Kau mau ikut?"


"Tentu saja, aku akan pergi ke mana pun Anda pergi. Tetapi ... kalau tidak salah, setelah pertemuan dengan orang-orang Kubah Putih, Anda berkata akan menemui rakyat Anda di utara pagi ini?"


Naia tercenung. Ya, bagaimana ia bisa lupa? "Betul, aku ingin mengunjungi mereka. Sudah terlalu lama aku pergi. Empat bulan yang lalu.” Ia merenung sambil berjalan menuruni tangga. "Ah ... aku rindu pada mereka. Pemimpin macam apa aku, yang melupakan rakyatnya?"


Mehrdad tertawa. “Kepemimpinan Anda justru sudah hampir menjadi legenda, Tuan Putri. Pemimpin mana lagi selain Anda yang berani membawa rakyatnya dari barat sampai ke timur, membahayakan dirinya sendiri demi kelangsungan hidup mereka? Kenapa Anda bertanya seperti itu?"

__ADS_1


"Aku ..." Naia menggeleng. "Aku tidak tahu."


"Aku bangga bisa menjadi pengawal Anda, Tuan Putri. Dan semoga aku bisa menjadi pengawal Anda seterusnya."


"Tentu saja itu tergantung Raja Javad, bukan?"


Naia dan Mehrdad sampai di Ruang Tengah di lantai dasar Istana Awan. Ruangan itu berlantai marmer putih dengan corak kelabu, berdinding penuh ukiran batu dan tatahan batu permata, dengan tiang-tiang besar jangkung setinggi sepuluh tombak. Atap kubahnya berangka perunggu dan berselimut kaca berwarna emas. Ruangan itu cukup luas untuk menampung tamu hingga seratus orang, namun saat ini hanya ada sekitar dua puluh orang yang tengah berkumpul di depan ruangan. Sang raja Awan, Javad duduk di kursi utama. Para tamu duduk melingkar setengah lingkaran menghadap ke arahnya. Dari pakaian indah penuh warna yang dikenakan, tampaknya mereka memang orang-orang penting di tanah Elam.


Javad berdiri begitu melihat Naia berjalan memasuki ruangan, diikuti seluruh tamunya. Sambil tersenyum Javad berjalan mendekati Naia, lalu menggamit lengannya, membawanya ke hadapan para tamu.Ia berkata, “Tuan-tuan, saudaraku, ini Putri Naia, putri mendiang Raja Talbrim dari Ebla. Naia, kedua puluh tamuku ini adalah para raja dan pemimpin negeri-negeri di tanah Elam. Mereka akan menjadi tamuku dalam beberapa hari ini.”


Seluruh raja itu mengangguk memberi hormat, yang segera dibalas oleh Naia. Javad memperkenalkan seluruh tamunya satu per satu, setelah itu mempersilakan Naia duduk di sebelahnya.


Naram raja Susa, negeri terbesar kedua di Elam, berkata, “Tuan Putri, aku mengenal baik mendiang ayahmu. Ia lelaki yang hebat, dan aku menyesal pada apa yang telah terjadi pada beliau dan keluarganya di Ebla. Akkadia memang telah membawa petaka ke seluruh dunia. Kuharap kita, bersama-sama, bisa melenyapkan mereka.”


"Naia, seluruh raja telah bersedia berperang melawan Akkadia," Javad menjelaskan. "Pasukan mereka kini berada di lereng pegunungan, siap untuk turun dan menyeberang Sungai Tigris kapan pun diperlukan."


"Kalian ..." Naia menahan keterkejutannya, "bermaksud keluar dari gerbang, dan menyerang langsung Akkadia? Bukan hanya bertahan di sini?”


Javad mengangguk. “Ya, kita akan menyerang musuh di negeri mereka sendiri, sebelum mereka menyerang kita terlebih dulu. Serangan kejutan kita akan menghancurkan mereka."


"Tapi … itu berbahaya," gumam Naia. "Kita tak boleh meremehkan pasukan Akkadia, Sargon, dan juga Rahzad!"


Ia menatap Javad tajam. Seingatnya baru beberapa hari yang lalu raja Awan itu berkata bahwa ia menyiapkan angkatan perangnya semata-mata untuk bertahan di Elam. Sekarang, kenapa Javad tiba-tiba berubah pikiran, dan justru hendak menyeberang dan menyerang Akkadia? Apa yang membuatnya berubah? Apakah para raja lainnya dari Elam ini telah mempengaruhinya begitu rupa?


"Lihatlah barisan pasukan kami nanti, dan kau akan yakin," balas Naram. “Dua puluh ribu prajurit, termasuk di dalamnya pasukan gajah yang mampu menggilas tujuh ribu prajurit Akkadia dalam sekali tempur. Kita akan memberi pelajaran pada Sargon dan seluruh orang Akkadia untuk tak lagi menyombong dengan niat mereka untuk menguasai dunia!"


Naia tertegun mendengarnya. Apa mereka tahu apa yang mereka bicarakan ini?


 

__ADS_1


 


__ADS_2