
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 47 ~ Peluit Karquri
Karya R.D. Villam
---
Fares terkejut melihat Davagni dan orang pingsan yang dibawanya. “Siapa dia? Kenapa dia? Turunkan dia, Davagni! Kenapa memperlakukannya seperti ini?!”
Davagni meletakkan tubuh orang itu hati-hati di rerumputan, dan berkata dengan santai, “Semalam setelah kau pergi ke desa, hamba melihat orang ini berlari ke arah barat. Rupanya ia memperhatikan pertempuranmu dari balik pepohonan. Setelah gharoul-gharoul itu mati, ia kabur. Terpaksa hamba mengejarnya, dan … ehm … hamba memukul sedikit kepalanya.” Davagni meringis. “Hamba tak mengira ia langsung pingsan.”
“Kau memukul kepa—…?!” Fares naik pitam. “Tentu saja dia pingsan, tolol! Kau pikir tangan terkutukmu itu cuma tangan manusia biasa?!” Ia bertukar tatapan sengit dengan Davagni, dan akhirnya menggerutu, “Ah, sudahlah! Pokoknya kalau dia sampai tak bisa sadar lagi, dan tak bisa memberitahu kita tentang semua rahasia gharoul ini, itu salahmu! Lagipula, apa kau yakin dia ada hubungannya dengan gharoul? Siapa tahu dia cuma orang desa biasa.”
Davagni membisu. Fares berjongkok di samping lelaki yang terbaring pingsan, memperhatikannya. Orang itu berambut acak-acakan dengan kumis dan janggut pendek yang tumbuh tak terawat. Tubuhnya pendek dan kurus. Ia mirip betul dengan orang desa biasa, jika saja tak ada satu hal yang mencurigakan di lengan kanannya. Di sana tergambar simbol segitiga yang dililit ular di sepanjang sisinya. Simbol aneh; Fares belum pernah melihatnya. Bisa jadi naluri Davagni memang benar, orang ini mungkin memang ada hubungannya dengan para gharoul. Namun bisa juga tanda itu sesuatu yang tidak benar-benar penting.
Fares menelengkan kepala orang itu untuk melihat belakang kepalanya, apakah ada kerusakan fatal yang diakibatkan ‘sedikit pukulan’ Davagni. Untunglah, tidak ada bekas luka. Dan dari udara yang masih berhembus teratur melalui kedua lubang hidungnya, tampaknya orang itu memang hanya pingsan biasa. Fares melirik Davagni yang menatapnya dengan angkuh, seolah makhluk itu hendak berkata, ‘tidak ada masalah dengan pukulan hamba’.
Perlahan Fares menepuk-nepuk pipi orang itu. Tak ada reaksi, Fares lalu menepuk lebih keras, dan lebih keras lagi. Orang itu tetap belum sadar juga. Davagni menyeringai.
“Tuan ingin hamba yang menamparnya?”
“Diam!” tukas Fares. Tangan kanannya kini terangkat tinggi. Plakkk! “Bangun! BANGUN!”
PLAKKK!
Davagni terkekeh. “Nah, itu baru bagus.”
Metode barbarik terbukti manjur. Kulit wajah si lelaki pendek kurus itu bergerak-gerak sedikit, yang lalu merambat ke seluruh bagian tubuh lainnya. Jarinya mulai bergerak. Erangan keluar dari mulutnya. Kelopak matanya bergetar-getar, dan akhirnya terbuka lambat.
Reaksi pertama orang itu setelah tersadar adalah jerit ketakutan yang melengking ke seluruh penjuru lembah, mengalahkan kicauan burung maupun gemericik air sungai, gara-gara melihat seringai menyeramkan Davagni di atasnya. Dalam kalap ia berontak dan menendang-nendang. Segera Fares menamparnya sekali lagi. Plakkk! Sudah tiga kali sekarang.
Orang itu tertegun, kini duduk tersandar di batu memegangi pipinya yang memerah. Ia memandang tak berkedip ke arah wajah masam Fares. Antara marah, takut dan kaget.
“Sudah sadar?” tanya Fares tanpa senyum.
Orang itu tetap belum mampu bersuara. Begitu melihat sosok tak manusiawi Davagni, ia malah semakin gemetar. Yang sebenarnya—Fares berpikir—aneh juga, karena jika betul orang ini sudah pernah melihat gharoul yang berwajah lebih jelek, tentunya ia tak perlu setakut ini saat melihat Davagni. Mungkin, karena tubuh raksasa Davagni yang membuat orang-orang menjadi lebih takut.
“Tak perlu memasang tampang pengecut!” tukas Fares. “Siapa kau? Jawab, dengan jujur! Nasibmu sepenuhnya di tangan kami!”
Orang itu belum menjawab. Ia masih gemetar dan matanya melirik bergantian ke arah Fares dan Davagni. Kelihatannya ia hendak menjawab, tetapi kemudian menutup mulutnya lagi rapat-rapat.
Davagni mengeluarkan suara beratnya. “Tuan Fares, sudah hamba katakan, orang ini ada hubungannya dengan gharoul-gharoul yang kau bunuh semalam. Dia pawangnya, dan sengaja membawa makhluk-makhluk itu ke desa untuk memakan para penduduk. Manusia jahat dan keji tak berguna. Saran hamba, bunuh saja dia sekarang, dan kita bisa pergi dengan tenang.”
Dalam hati Fares memuji taktik makhluk kelabu itu. Ancamannya benar-benar dingin dan menyeramkan. Terbukti orang itu akhirnya mau membuka mulut. Ucapannya lancar bagai air bah yang berhasil menjebol dinding. “Namaku Torek! Aku bukan orang jahat!”
“Kawan,” jawab Fares santai. “Aku percaya penuh pada makhluk raksasa di sampingku ini. Dia telah hidup sejak awal masa dan tahu banyak hal, termasuk soal gharoul, yang orang biasa tak mungkin tahu. Jadi jika kau hendak menyangkal, buktikan jika kau tak bersalah, dan semoga aku bisa percaya. Jika tidak, kubiarkan saja makhluk batu ini merobek-robek tubuhmu di sini. Benar, kau pawang para gharoul?”
“Ampun, Tuan.” Orang itu bersujud, lalu mengangkat wajahnya. Ia menangis. “Aku bukan orang jahat, aku orang desa biasa!”
“Di mana desamu?”
“Di selatan.”
__ADS_1
“Buat apa malam-malam di hutan?”
“Aku … aku …”
“Oke.” Fares menoleh ke arah Davagni. “Bunuh dia.”
“Dengan senang hati.” Davagni menyeringai bengis.
“Ampun! Ampun!” Torek menjerit-jerit. “Iya, Tuan! Aku memang pawang mereka, tetapi aku bukan orang jahat! Aku justru hendak membawa mereka kembali ke sarang mereka di gua, supaya tidak mencelakai orang-orang desa ini.”
“Sarang?!” Fares melotot. “Jai kau sengaja mengumpulkan mereka? Di sarang?”
“Bukan, bukan! Tugasku cuma memberi makan mereka!” Torek kembali bersujud. “Aku tidak mengerti apa-apa!”
“Memberi makan ... dengan darah …? Kau mengorbankan manusia?!”
“Tidak, tidak, Tuan! Itu tidak benar. Aku hanya memberi mereka makan darah ayam dan kerbau.”
“Darah ayam dan kerbau?” Davagni tertawa mengejek. “Gharoul tidak akan suka. Mereka butuh darah manusia! Karenanya …” Ia menatap Torek tajam. “Kau sengaja melepas mereka di sini, untuk mendapatkan darah manusia!”
“Tuan, itu tidak benar!” Torek menangis lagi dan menarik-narik tangan Fares, meminta pengertian sekaligus perlindungan dari ancaman Davagni. “Ketiga gharoul itu lari keluar sarang pagi hari. Aku mengejar sampai sore, sampai ke hutan ini. Aku tak tahu mereka lalu mengejar penduduk desa itu, sampai kau membunuh mereka, Tuan.”
“Aku belum bisa percaya kata-katamu, Torek,” tukas Fares. “Sampai aku melihat sendiri sarang gharoul yang kau ceritakan tadi.”
“Kau mau aku mengantarkanmu ke sana?” Wajah Torek berubah cerah. “Setengah hari perjalanan ke barat, ke kaki pegunungan.”
Fares melirik Davagni. Dari raut muka masamnya kelihatannya makhluk kelabu itu tidak setuju dengan pikiran yang muncul di kepala Fares, yang mungkin ingin ke sana. Fares mengerti, karena itu berarti menghabiskan waktu lebih lama lagi dari rencana awal mereka.
“Ada berapa banyak gharoul di sana?” tanya Fares.
“Sekitar … seratus,” jawab Torek perlahan.
Torek tampak ragu, sebelum menjawab, “Dengan ini.” Ia membuka ikatan baju kulit di dadanya, mengeluarkan sebuah benda putih yang tergantung di sana. Benda itu berbentuk kerucut dengan panjang setelunjuk jari orang dewasa, berlubang di kedua ujungnya. “Dengan peluit ini.”
Peluit? Fares memicing, berusaha melihat lebih jelas, ketika tiba-tiba tangan Davagni terulur, menggenggam benda itu dan langsung mencabutnya. Tali di leher Torek putus seketika, membuat lelaki itu meringis. Si makhluk kelabu memandangi benda itu beberapa saat, lalu melotot ke arah Torek.
“Siapa yang memberimu benda ini?”
Melihat ancaman nyata Davagni, Torek langsung gemetar lagi. “Atasanku, Tuan. Dan atasanku itu mendapatkannya dari tuan kami.”
“Siapa tuanmu?” Fares tiba-tiba merinding.
Torek menggeleng. “Atasanku bertemu tuanku entah kapan dan di mana, aku tidak tahu. Aku baru datang ke sarang beberapa bulan lalu, belum pernah bertemu dengan pemiliknya. Tugasku cuma menjaga sarang dan memberi makhluk-makhluk ini makan.”
Fares menghela napas sambil menatap si lelaki kurus. Ia merasa, sejauh ini, ia dapat mempercayai kata-kata orang itu. Kelihatannya Torek jujur, bahwa ia tak tahu siapa yang menjadi dalang di balik kemunculan para gharoul. Fares melirik ke arah Davagni. Makhluk itu memandanginya dengan pandangan yang sulit diterka. Jangan-jangan ... Davagni tahu siapa dalang ini, begitu ia melihat benda putih yang kini ada di tangannya.
Fares mengangguk. “Baik, aku percaya padamu, Torek. Tetapi karena gharoul adalah musuh kami, berarti kau adalah musuh kami juga, jadi—“
“Tuan! Ampuni aku! Jangan bunuh aku!” Torek bersujud dan menjerit lagi. “Aku bersumpah, demi para dewa, aku takkan kembali ke sarang itu lagi! Walaupun bayarannya lumayan, tetapi aku benci. Aku pensiun!”
“Pensiun?” Davagni meremehkan. “Bilang saja kau takut kembali karena telah kehilangan tiga gharoul yang menjadi tanggung jawabmu. Dan juga karena …” Davagni melirik benda putih di tangannya. “… kehilangan peluitmu. Entah kesalahan yang mana yang bakal membuat atasanmu melemparkanmu ke tengah-tengah gerombolan gharoul yang kelaparan.”
“Tidak! Tidak!” Hanya itu jawaban Torek atas sindiran Davagni. Ia terus bersujud di depan Fares, menunggu keputusan Fares atas nasibnya.
“Bangunlah.” Dengan sebal Fares meminta Torek duduk. Setelah wajah lelaki itu terlihat, Fares melanjutkan, “Aku mengampunimu. Kau boleh pergi.”
“Terima kasih, Tuan!” Torek berseri-seri.
__ADS_1
“Hamba tak setuju,” sambut Davagni. “Tuan Fares, seharusnya kita bunuh dia sekarang supaya tidak membuat masalah di lain waktu,” yang tentu saja langsung membuat wajah Torek pucat seketika.
Untungnya buat Torek, Fares memilih mengulangi perkataannya, “Kau boleh pergi. Dan kuharap kau betul-betul menuruti sumpahmu. Karena jika kami nanti datang ke sarang itu dan masih melihatmu di sana, aku tak ragu lagi untuk membunuhmu.”
“Terima kasih, Tuan!” Torek bersujud tiga kali. “Aku bersumpah tak akan kembali lagi ke sana. Aku akan pulang ke selatan, mencari keluargaku, dan hidup damai bersama.”
“Bagus. Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran.”
Torek segera berdiri, wajahnya bercampur senang dan tegang, dan tanpa banyak kata lelaki pendek kurus itu berbalik mengambil langkah seribu. Fares dan Davagni mengamati kepergian Torek yang berlari menyusuri tepian sungai ke arah barat dan akhirnya menghilang di balik pepohonan lebat.
“Kau percaya dia akan pergi dari sarang itu?” tanya Davagni.
Fares mengangkat bahu. “Terserah dia. Yang jelas aku senang karena aku tak perlu membunuhnya.”
Davagni menatapnya. “Tadi kau bilang akan membunuhnya jika bertemu dia di sarang. Kau benar-benar berniat pergi ke sana?”
“Mungkin. Setelah semua urusan beres. Juga jika Putri Naia memintaku.” Fares ikut menoleh, memperhatikan peluit putih di tangan Davagni. “Kau kelihatannya tahu betul itu benda apa. Mungkin waktunya juga sekarang kau bercerita lebih banyak padaku.”
Davagni menyodorkan telapak tangannya, menyerahkan benda tersebut pada Fares. “Itu peluit karquri, hanya bisa dibuat khusus di dunia hamba, dan memang dibuat untuk mengendalikan gharoul. Terbuat dari tulang lengan leluhur gharoul yang pertama: seorang manusia yang memotong lengannya sebelum ia dikutuk menjadi gharoul. Setidaknya ada lima buah peluit seperti ini yang hamba tahu. Hamba tak mengerti bagaimana salah satunya bisa ada di duniamu. Dan kalau ada satu, bisa jadi yang lainnya juga ada.”
Fares membolak-balik peluit di tangannya, berusaha mengenali setiap sudutnya. “Tetapi artinya bagus, bukan? Jika ada peluit ini, berarti kita bisa mengendalikan gharoul supaya tidak menyerang manusia.”
“Ya, bagus, jika ada di tangan orang baik sepertimu, Tuan Fares.” Davagni tersenyum. “Tetapi bagaimana jika dipegang seorang berhati busuk?”
Fares menghela napasnya panjang. Ia menatap makhluk tinggi besar di sebelahnya yang sedang terduduk. “Menurutmu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Davagni termangu. “Begini. Gharoul sudah ada sejak jaman dulu di duniamu, dan sebenarnya bisa dibilang sudah punah. Karena setahu hamba mereka hanya bisa dilahirkan dan berkembang biak di dunia hamba. Sekarang, jika ternyata benar ada sekitar seratus gharoul di sarang itu, berarti ada seseorang yang telah memindahkan mereka dari dunia hamba, yang membawa serta pula peluit-peluit karquri untuk mengendalikan mereka.”
“Sang Tuan. Kau tahu orangnya?”
“Putri Naia juga sudah pernah bertanya ini pada hamba. Dan jawaban hamba tetap, hamba tidak tahu. Tetapi …” Davagni berkata lambat-lambat, seolah ingin menakut-nakuti Fares. “Dia pasti seorang yang berniat jahat.”
“Jahat melebihi dirimu?” Fares menyeringai.
Davagni tersenyum lebar. “Ya.”
Fares memandanginya, untuk sesaat tidak yakin ada seseorang yang benar-benar jahat melebih Davagni. Namun kemudian ia mengangkat bahu. “Ya sudah. Kita selesaikan itu nanti. Lagipula—“
“Ghaaakkk! Ghaaakkk!” Suara nyaring terdengar di angkasa memotong ucapan Fares. Faruk muncul dari balik awan putih. Kedua sayapnya terbentang lebar kala ia melayang dari atas pucuk pepohonan tertinggi, lalu menguncup ke belakang saat menukik mendekati Fares dan Davagni. Namun aneh, tak seperti biasanya, burung elang peliharaan raja Awan itu tak berhenti untuk bertengger di lengan Fares, melainkan melayang lagi ke atas, lalu berputar-putar.
“Ada sesuatu yang terjadi,” gumam Fares. “Dia seperti meminta kita untuk cepat-cepat pergi bersamanya.”
Davagni mengangguk. “Naiklah.” Ia menunduk, menyerahkan punggungnya untuk ditumpangi Fares. “Memang sudah waktunya kita pergi.”
“Lebih dari itu, Davagni.” Dengan lincah Fares melompat ke atas punggungnya, lalu memegangi lehernya. “Kelihatannya terjadi sesuatu di utara.”
“Ya, ya. Tetapi sebelum lupa, hamba harus bilang ini: hamba rasa kita berdua sudah menjadi pasangan pengorek informasi yang serasi. Kita cocok, Tuan Fares. Menyenangkan, bukan?”
“Hah! Tak usah banyak omong. Cepatlah!”
“Baik. Bersiaplah.”
Fares berpegangan erat, menempelkan tubuhnya di punggung Davagni. Angin berhembus menyapu seluruh wajah dan punggungnya, kala kaki-kaki kokoh Davagni menjejak tanah dan melentingkan tubuhnya ke atas. Hentakan bertenaga kedua sayap makh-luk itu terdengar bagai geledek di kiri dan kanannya.
Tak lama tubuh Davagni mulai terbang mendatar, sehingga Fares dapat duduk di atasnya dengan lebih nyaman. Ia membuka mata, memperhatikan Faruk yang telah terbang jauh di depannya menembus awan tipis yang berarak di langit jernih.
__ADS_1