
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 55 ~ Gelombang Terakhir
Karya R.D. Villam
---
Bumi bergetar. Sesuatu mendekat dari kejauhan. Awan putih tebal yang menutupi cakrawala perlahan terangkat. Di baliknya tampak ribuan prajurit bergerak maju, membanjiri lembah. Jantung Zylia berdetak kencang. Gelombang kedua pasukan Elam, di luar perkiraan Rahzad. Jumlahnya mungkin hampir sama banyaknya dengan pasukan Elam yang pertama. Dan bukan hanya itu. Yang menakutkan, ada lebih dari dua ratus hewan bertubuh raksasa di sana. Hewan-hewan itu tingginya mencapai dua tombak, dan keempat kakinya begitu besarnya hingga pasti mampu melumatkan tubuh seorang prajurit dengan sekali injak.
“Gajah,” Cherib mendesis di samping Zylia. “Raksasa mengerikan dari Lembah Indus di negeri timur jauh. Kudengar hewan sejenis ada juga di tanah orang Nubia di barat sana. Kau pernah melihatnya, Kapten?”
“Tidak,” jawab Zylia ragu. “Aku tidak ingat.”
“Formasi!” Seruan Rahzad menggelegar.
Para komandan menyahut. Enam ribu prajurit Akkadia mundur ke lereng bukit, bergegas membentuk lagi kedua sayap dan ujung tombak di depan. Semua orang sudah lelah bertempur, tetapi tak ada gunanya mempermasalahkan itu, dan sudah tidak ada waktu pula. Zylia merentangkan busurnya, sementara dengusan ratusan barion terdengar tak jauh di belakangnya.
Ribuan prajurit Elam datang menyerang. Awan gelap panah-panah Akkadia terlontar memayungi lembah dan turun menyambar mereka. Jerit kematian kembali mengalun. Namun serangan Elam kali ini jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya. Tumbangnya ratusan prajurit akibat hujan panah tak menyurutkan laju mereka. Dalam waktu singkat barisan tombak mereka menerjang pasukan Akkadia. Gajah-gajah maju memorak-porandakan barisan pertahanan orang-orang Akkad, melumat para prajurit dengan kaki-kaki raksasa mereka.
Rahzad tak tinggal diam. Ratusan barion dikerahkan. Hewan-hewan buas itu melesat, melompati kepala para prajurit Elam dan menerkam tubuh-tubuh hewan raksasa di depan mereka. Beberapa barion terlempar akibat kibasan belalai dan gading gajah, tetapi lebih banyak yang berhasil memanjat tubuh-tubuh hewan itu, menghabisi pawang di atas punggungnya, dan menancapkan taring panjangnya di leher para gajah tersebut. Kesakitan, gajah-gajah itu mengamuk, menginjak setiap prajurit Elam maupun Akkadia di sekitarnya dan akhirnya tumbang menimpa mereka.
Angin kencang berhembus dari lereng bukit di sebelah utara. Zylia menoleh, terperangah. Pasukan Elam melancarkan serangan lainnya di sayap kiri Akkadia, dan yang membuat bulu kuduknya merinding, di atas mereka tampak beberapa puluh orang berjubah putih melayang-layang di udara.
Nergal dan pasukannya?! Mereka sudah datang!
“Zylia!” Seruan Rahzad membuat gadis itu menoleh. “Tetap di sini.” Zylia tak mengangguk sebagai jawaban. Tampaknya Rahzad mengira gadis itu hendak membantah hingga melanjutkan, “Lebih aman di sini.”
Sang panglima melesat bersama Aragro, barion tunggangannya ke utara. Ratusan barion yang sudah berhasil membantai gajah-gajah melompat mengikutinya. Di belakang mereka berlari pula dengan lincahnya berpuluh-puluh gadis berjubah merah. Sedemikian ringannya mereka berlari hingga hampir melayang seolah tertiup angin. Yang paling menakjubkan, di masing-masing telapak tangan mereka terpancar sinar jingga menyilaukan.
Ishtaran! Akhirnya muncul juga mereka!
Zylia kini bisa melihat sosok-sosok misterius itu. Mereka manusia biasa, mirip dengan para pendeta wanita di Kuil Ishtar, namun memiliki kemampuan mistis menakutkan. Bola-bola api bersinar tajam terlontar dari tangan seluruh gadis itu, lurus ke arah manusia-manusia terbang berjubah putih. Mereka bakal bertarung satu lawan satu dengan makhluk-makhluk itu.
Zylia tersadar. Ia kembali melompat ke tengah pertempuran. Berusaha membantai dan membantai sekali lagi. Semakin berat dan seolah tak ada habis-habisnya.
Tak berapa lama, suara keras terdengar, “Teeza!”
Zylia tersentak. Ada yang memanggilnya dengan nama itu?
Penuh kewaspadaan ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Dari balik kerumunan prajurit yang tengah bertempur mati-matian muncul sosok tersebut, menatap tajam ke arahnya. Seorang pemuda bertubuh besar dengan gada di tangan kanan. Bola besi di ujungnya mengeluarkan cahaya merah. Bukan hanya dia. Ada satu lagi yang muncul, seorang gadis! Gadis itu jangkung, berkulit gelap, dan tangan kanannya menggenggam tombak.
Zylia memicingkan mata. Ia pernah melihat si pemuda saat hendak menangkap Putri Naia, tetapi belum bisa mengingat wajah sang gadis Elam. Zylia memegang pedangnya erat-erat. Ia sadar situasi pertempuran sudah berbalik sedemikian cepat. Selepas para barion pergi dari pusat pertarungan, para prajurit Elam berhasil menahan serangan prajurit Akkadia, bahkan mulai maju mendesak. Jumlah musuh memang terlalu banyak untuk dilawan.
__ADS_1
“Teeza,” si gadis berkulit gelap berkata dengan bibir bergetar. “Kau telah membunuh begitu banyak … para lelaki dari negeriku! Aku berharap ... bukan dirimu yang sebenarnyalah yang telah melakukan semua kekejian ini!”
“Aku tak paham maksudmu,” jawab Zylia keras.
“Kau benar-benar tidak ingat kami?” Kali ini si pemuda yang bertanya. “Kau tidak ingat siapa aku?”
Zylia menunjuk dengan pedangnya. “Kau bedebah yang dulu bertempur bersama putri dari Ebla. Aku ingat.”
Si pemuda tersenyum pahit. “Apa kau ingat bahwa kau dulu juga pernah bertempur bersama sang putri Ebla, bersamaku juga, melawan bangsat-bangsat Akkadia ini?”
“Tak usah bicara lagi,” tukas Zylia kesal. “Aku bisa membinasakan kalian dengan mudah. Setelah itu akan kucari putri Ebla itu. Dia ada di sini? Atau dia tidak cukup berani, dan hanya bersembunyi di negeri timur?”
“Kau tidak lihat? Pasukanmu sudah terdesak,” si pemuda balik mengancam. “Menjelang petang pasukan kami akan menghancurkan kalian. Para prajurit Elam yang dendam sudah pasti ingin membunuhmu, tetapi Putri Naia, dan juga aku, tak ingin kau terbunuh. Kami tahu sesuatu yang buruk terjadi padamu, Teeza. Kau telah kehilangan ingatanmu, kau lupa siapa dirimu yang sebenarnya. Ikutlah bersamaku, dan biar kami menyembuhkanmu!”
“Apa yang kaubicarakan?! Kami tidak akan kalah, tolol!” geram Zylia. “Angkat gadamu, juga tombakmu, Nona!” Dengan ganas ia melompat sambil mengayunkan pedangnya.
Si pemuda mengangkat gadanya, menangkis, lalu balas mengayun. Tenaganya begitu besar hingga membuat Zylia terdorong. Belum cukup, serangan tombak si gadis Elam ikut datang, tepat mengarah ke pinggulnya. Zylia menangkis sekuat tenaga, lalu balik menyerang. Pedangnya berputar-putar cepat, mendesak si gadis Elam. Namun kembali Zylia harus mundur gara-gara ayunan gada si pemuda. Zylia sadar ia mendapat dua lawan setimpal.
“Ggaaakkk!”
Suara lain memecah konsentrasinya. Belum sempat Zylia berpikir, desingan benda berat mendekat. Ia melompat mundur, menjauh dari gada dan tombak, sekaligus bermaksud menghindar dari serangan lain itu. Tetapi terlambat. Sebuah hentakan keras terasa di dadanya, sedemikian kerasnya hingga membuat tubuhnya terlontar.
Zylia terhempas. Saat terbaring ia seperti melihat seekor burung terbang di atasnya. Ia tidak yakin, karena sosok hewan itu tampak kabur. Zylia menahan sakit dan berusaha bangkit. Di sampingnya tergeletak tongkat besi panjang berujung tumpul; senjata yang menjatuhkannya tadi. Sambil berdiri ia melirik, memperhatikan betapa banyak mayat bertumpuk-tumpuk di sekitarnya. Prajurit Elam maupun Akkadia.
Selain si pemuda bersenjata gada dan gadis Elam tadi, ada beberapa orang lain di situ. Yang tadi melempar tongkat padanya sepertinya seorang lelaki jangkung berkulit gelap. Apakah itu Javad? Zylia berusaha mengingat-ingat. Benar, itu dia, sang raja Awan!
“Pengecut!” geram Zylia. “Kalian semua hanya berani mengeroyokku! Tetapi itu bukan masalah bagiku. Malah bagus. Karena kau ada di sini, Putri, jadi aku tak perlu lagi mencarimu ke mana-mana.”
“Cukup!” bentak Javad dengan suara menggeledek. “Kau temanku, Teeza, tetapi kekejianmu hari ini telah membuatmu jadi musuhku. Kalau bukan atas permintaan Naia, aku tidak akan melemparmu dengan tongkat tumpul, aku akan mengoyakmu dengan tombak tertajam! Dan saat ini kau pasti sudah meregang nyawa. Apa kau benar-benar tidak mampu mengingat dan berpikir jernih sekarang? Atau kau memang telah menipu kami selama ini?”
Zylia terdiam, kebingungan. Ia heran kenapa musuh-musuhnya ini masih terus menganggap dirinya sebagai teman. Apakah mereka belum sadar bahwa dia dulu hanya berpura-pura?
Atau jangan-jangan … sekarang mereka memang hendak menjebaknya, membuat dirinya menyerah tanpa bertarung?
Naia melangkah maju. Zylia langsung berseru sambil mengacungkan pedang. “Berhenti! Atau aku terpaksa membunuhmu!”
“Aku musuhmu, bukan?” Naia berdiri tanpa ta-kut. “Bukankah itu berarti kau memang harus membunuhku? Apa yang membuatmu ragu, … Teeza?”
“Aku …” Tiba-tiba keyakinan Zylia goyah, dan itu membuatnya gelisah.
Jangan-jangan dia sebenarnya bukan musuh ...
Tetapi bagaimana mungkin ia bisa memikirkan hal sepenting ini di tengah pertempuran? Di antara ribuan orang yang saling membunuh? Di sela gempita senjata beradu dan jerit kematian yang sahut-menya-hut? Tidak mungkin! Para prajurit Akkadia menggantungkan nasib mereka padanya. Bagaimana mungkin ia menjadi ragu di saat-saat seperti sekarang?
Zylia memaksa dirinya mengingat kembali tugasnya, dan mengeraskan hati. “Kaupikir aku tak bisa melakukan hal itu? Panglima memintaku untuk menangkapmu hidup-hidup, tetapi ini perang! Kalau memang aku harus membunuhmu, itulah yang akan kulakukan. Demikian juga kalian, kalau memang harus membunuhku, itulah yang harus kalian lakukan!”
“Maka jadilah seperti itu!” Javad meraih tombak yang disodorkan prajuritnya. “Ini perang, dan aku punya tujuan lebih besar di sini. Aku takkan mengorbankan nyawa para prajuritku hanya demi nyawamu. Semakin cepat kau binasa, semakin baik!”
__ADS_1
“Javad!” Naia berseru, berusaha mencegah.
“Kita tidak punya waktu, Naia!” balas Javad.
“Dan aku pun tak punya waktu melayani kalian lebih lama!” seru Zylia tak mau kalah.
Ia dan Javad maju saling menyerang. Sementara Naia, pemuda bersenjata gada, dan si gadis Elam belum bergerak, masih tampak ragu. Tombak Javad teracung, tetapi dengan mudah Zylia berkelit. Pedangnya terayun, tepat ke arah leher si raja Awan. Tiba-tiba dari belakang Javad muncul tombak lainnya, menangkis, dan ujungnya melaju ke arah Zylia. Cepat-cepat Zylia mundur. Setelah jauh ia memandang musuh barunya. Seorang lelaki gelap lain, yang sejangkung Javad namun dengan tubuh lebih tegap.
“Terima kasih, Mehrdad,” terdengar gumaman Javad.
Paling tidak Zylia kini tahu nama musuh barunya. Kedua tombak prajurit bertubuh gagah itu teracung ke arahnya.
Zylia menghitung peluang. Jika bertarung satu lawan satu, ia yakin bisa menang, melawan Javad ataupun Mehrdad. Masalahnya mereka bergabung sekarang, dan sama-sama menggunakan tombak. Belum lagi ada tiga orang lain di belakangnya. Zylia melirik sebuah tombak yang tertancap di samping kanannya, milik seorang prajurit yang sudah tewas. Tanpa pikir panjang ia melepaskan pedangnya dan meraih tombak tersebut.
Zylia mengambil inisiatif. Tombaknya teracung, ujungnya berputar cepat berusaha membongkar pertahanan Javad dan Mehrdad. Kedua tombak mereka berusaha mengimbangi, tetapi Zylia sudah sampai di puncak keganasannya. Tombaknya bergerak semakin liar, cepat dan penuh tenaga, sehingga Javad dan Mehrdad terpaksa mundur.
Saat kedua orang itu terdesak, satu tombak lagi datang membantu, milik si gadis Elam. Kedatangannya berhasil meredam serangan Zylia. Javad, Mehrdad dan gadis itu kini balik menyerang dari tiga penjuru. Zylia berusaha menangkis dan memutar-mutar tombaknya, tetapi semakin lama giliran ia yang semakin terdesak. Untuk pertama kali sejak ia menjadi dirinya kembali, Zylia benar-benar merasakan ketakutan datang kepadanya. Maut telah mendekat. Ia menggeram. Ia tidak mau mati sekarang! Tidak sebelum …
Ya ... tidak sebelum ia mengetahui siapa sebenarnya dirinya, yang dulu ...
Di saat-saat terakhir, Zylia memahami apa yang paling diinginkannya sekarang. Kenangan masa lalunya. Ia ingin semua itu kembali.
Tetapi mungkin sudah terlambat.
Ia menjerit, di antara rasa takut, marah, bingung, lelah dan sakitnya. Tombaknya berputar bagaikan badai, menghantam dahsyat ketiga tombak di sekelilingnya, yang membalas dengan sama ganasnya.
“Javad, jangaaan!” Seruan Naia terdengar.
Begitu cepat. Zylia tahu apa yang datang, dan ia tak mungkin menghindar lagi. Ujung logam tajam menyerempet bahu kanannya, telak menghantam dada kirinya. Sekali lagi ia terhempas, kali ini lebih menyakitkan. Sakit menyebar cepat ke seluruh tubuh. Kepalanya berdenyut keras seolah dihantam martil. Zylia tak mampu lagi berpikir, dan mungkin memang tidak perlu lagi. Kegelapan datang menyelimutinya.
Mati.
Tidak ...
Ada yang terjadi.
…
Getar.
Cahaya.
Sejenak Zylia sempat melihatnya.
Seseorang. Berambut emas.
__ADS_1