Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 62 ~ Pengepungan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 62 ~ Pengepungan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Aliansi Elam yang di awal keberangkatannya tampak begitu kokoh, ternyata kemudian terbukti rapuh dan buyar hanya dalam sekejap di saat ancaman mendekat.


Fares tetap belum bisa mengerti kenapa tepatnya. Mungkin di antara raja-raja itu ada masalah besar yang belum terselesaikan sebelum ini. Sepertinya beberapa raja, terutama yang jauh lebih tua, belum bisa sepenuhnya percaya kepada Javad, sebagaimana mereka percaya kepada raja Awan sebelumnya, Kirvash. Namun, apakah itu karena Javad masih dianggap terlalu muda untuk menjadi pemimpin bangsa Elam? Ataukah karena mereka itu memang pengecut?


Di tengah barisan panjang tiga ribu prajuritnya Javad berjalan dalam diam. Ia tidak lagi menaiki kereta kudanya. Jalanan yang menyempit di antara pepohonan, berkelok-kelok dan penuh bebatuan, pastinya mampu mematahkan roda-roda kereta jika coba dipaksakan. Rifa berjalan di samping kakaknya, sementara Fares dan Naia mengikuti di belakang. Karena diamnya raja, semua orang pun akhirnya ikut terpengaruh. Tak seorang pun berani bercanda.


Sampai matahari naik hingga menyinari tengkuk belum ada kejadian berarti. Fares mengawasi tebing di sebelah kiri yang dindingnya dipenuhi juntaian akar dan puncaknya ditumbuhi pepohonan. Tidak ada pasukan Akkadia. Javad sudah mengirim pengintainya tinggi ke atas dan sejauh ini kondisinya masih aman. Masalah mereka memang bukan di atas sana, tetapi di depan nanti, tak jauh lagi.


Suara gemuruh terdengar dari arah barat. Semakin jelas. Teriakan dan jeritan ribuan orang. Dentingan tombak dan perisai beradu. Dari balik bukit. Seluruh prajurit Elam di sekitar Javad berseru saling memompa semangat, bersiap untuk berlari.


Namun seorang prajurit datang terburu-buru memberikan laporan, “Yang Mulia, Kapten Mehrdad meminta Anda menunggu di sini. Dia akan mundur sebentar lagi.”


“Berapa sisa pasukannya? Berapa lawannya?” Javad melirik ke angkasa, sepertinya kesal karena Faruk belum juga kembali dari perjalanannya yang terakhir untuk memberikan laporan.


“Kapten Mehrdad masih bertahan dengan seribu prajurit. Dua ribu yang lainnya tewas, dan Akkadia kini mengepung dengan lima ribu prajurit. Kami mendengar ada lagi unit pasukan musuh yang mendekat dari selatan. Kami belum tahu jumlahnya, mungkin tiga ribu.”


“Baik.” Javad menggeram. “Aku akan bertahan di celah tebing dan menunggu Mehrdad. Akan kupastikan juga jalan mundur buat pasukannya aman. Perintahkan ia mundur secepatnya.”


Seorang prajurit mengangkat terompet dan mengarahkan corongnya ke angkasa. Suara nyaringnya melengking tinggi. Tiga kali pendek-pendek. Suara serupa menyahut di kejauhan. Pasukan Javad menyebar mengambil posisi di tempat-tempat strategis: di atas tebing, di sudut jalan, di balik pepohonan. Secepatnya mereka harus menguasai tempat itu lebih dulu.


Javad dan rekan-rekannya naik ke atas tebing. Di lembah sebelah barat tampak Mehrdad dan pasukannya. Mereka terdesak oleh gempuran pasukan bertombak Akkadia. Hujan panah muncul sesekali, tetapi sedikit demi sedikit prajurit Elam yang terkepung berhasil lolos dan mundur ke kaki tebing, menyusuri jalanan sempit yang tepiannya dijaga pasukan Javad.


Mehrdad bertempur dengan gagah di barisan terakhir. Ia memutar-mutarkan tombaknya membabat setiap prajurit musuh yang berani mendekat. Begitu seluruh prajuritnya berhasil lari ke timur, ia akhirnya berbalik, berlari paling akhir. Ribuan prajurit Akkadia mengejarnya.


“Lari, Mehrdad! LARI!”


Teriakan lantang membuat Fares, Naia dan Javad menoleh. Itu suara Rifa. Kekhawatiran tampak di wajah gadis itu. Ia berdiri canggung sambil menggenggam tombaknya erat-erat, sepertinya sudah gatal ingin bertempur.


“Dia terlalu jauh, Rifa,” gumam Naia. “Dia tidak akan bisa mendengar suaramu.”


“Berarti aku harus turun!” seru Rifa geram.

__ADS_1


“Tahan, Rifa. Jangan gegabah. Pemanah bersiap!” Javad berseru.


Seluruh pemanah menarik tali busur dan mengarahkan anak panahnya.


“Serang!”


Awan gelap menutupi seisi lembah, dengan cepat menyambar turun membawa ribuan logam tajam menghantam para prajurit Akkadia. Ratusan orang terjengkang, cukup untuk menghentikan sesaat gerak maju pasukan musuh itu. Namun masih lebih banyak yang terus berlari mengejar. Sebentar lagi mereka akan sampai di celah tebing dan berhadapan dengan pasukan Elam yang telah menunggu dengan tidak sabar sekaligus gelisah.


“Yang Mulia!” seorang komandan berseru dari jauh. “Pasukan Akkadia yang lain dari selatan semakin dekat ke puncak tebing ini. Lebih dari tiga ribu prajurit!”


“Berarti benar … mereka memang menyerang dari dua arah,” sahut Fares.


Javad mengangguk. “Kita bisa menahan mereka di atas, tetapi resikonya musuh yang mengejar Mehrdad itu bisa merebut celah penting di bawah. Jika itu terjadi kita akan terkepung di sini dan tidak akan bisa kembali ke timur.”


“Jadi apa yang kita lakukan?” Naia bertanya.


“Tentu saja turun dan bertempur!” seru Rifa. “Apa lagi?”


Javad menggeleng dan menatap tajam adiknya. “Aku dan seribu prajurit akan menahan tiga ribu prajurit musuh itu di sini, sementara kalian bertiga turun ke bawah dan bergabung dengan Mehrdad. Lewat tengah hari, begitu aku memberi tanda, kalian mundurlah ke timur.”


“Lalu bagaimana dengan kau?!” seru Naia.


“Aku akan menyusul, jangan khawatir.” Javad mengeraskan rahang. “Cepat, pergilah. Aku tidak ingin mendengar kata-kataku ditentang lagi!”


“Fares,” bisik tertahan Naia tiba-tiba terdengar.


Fares menoleh, dan terkejut ketika melihat wajah gadis itu yang tadinya penuh semangat bercampur amarah kini memucat khawatir.


“Ya, ada apa?” Fares berusaha tersenyum. Ia memegangi lengan Naia, membantunya menuruni jalan setapak di lereng bukit yang licin berpasir. Di bawah Rifa sudah turun dengan cepatnya, sementara keriuhan suara para prajurit terdengar di kejauhan.


“Kau merasakannya, Fares ...?”


“Apa?”


“Sesuatu yang buruk … akan terjadi hari ini.”


“Seperti yang selalu terjadi selama berbulan-bulan terakhir?” Fares balik bertanya, sambil menyeringai dan tiba-tiba ia menyesal. Sepertinya ia memilih kalimat yang tidak tepat. Ia berhenti di atas sebuah batu tinggi, dan membantu Naia turun.


Gadis itu mengangguk kecil. “Ya, mungkin.”


“Hei.” Fares menepuk bahu Naia. “Yang Mulia Javad akan baik-baik saja. Dia petarung hebat dan dia bisa turun dengan cepat.”


Naia masih tampak gelisah. Tetapi perhatiannya sudah kembali. Suara jeritan dan denting tombak terdengar semakin jelas. “Ayo, Fares.” Ia berjalan melompati beberapa buah batu.

__ADS_1


“Jangan jauh-jauh dariku, Tuan Putri!”


Keduanya sudah bersiap untuk bertempur dengan gada dan pedang di tangan, begitu pula Rifa dengan tombaknya, tetapi yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu. Berlapis-lapis pasukan masih bertempur di depan mereka, di celah sempit di kaki tebing. Pasukan Elam bertahan dari gempuran pasukan Akkadia. Tombak-tombak panjang saling beradu, menghunjam dan mengoyak tubuh lawan. Ratusan, bahkan ribuan orang tewas bertumpuk-tumpuk di sepanjang celah. Rifa ikut melompat ke atas batu lalu naik lebih tinggi lagi. Wajah gadis itu masih khawatir. Tampaknya karena ia belum berhasil menemukan Mehrdad.


Namun saat matahari memancar pada puncaknya, seruannya terdengar, “Mehrdad!”


Dengan lincah Rifa melompati bebatuan, bergabung ke tengah pertempuran, tepat di sisi sang kapten Elam yang sedang bertempur ganas.


Fares menoleh ke arah Naia. Gadis itu tengah memandangi dirinya, entah sudah berapa lama. Fares nyengir. “Rifa benar-benar tidak sabar rupanya. Padahal kalau mau bersabar sedikit mestinya juga bisa.”


“Waktu kita juga sebentar lagi datang.” Naia termangu. “Kau sudah siap?”


Fares mengayunkan gadanya, membentuk cahaya merah yang memancar hingga ke ujung tebing tempat pasukan Akkadia menyerbu. “Sangat siap. Tetapi sekali lagi, jangan jauh-jauh dariku, Tuan Putri.”


“Aku ingat pertempuran terakhir kita di Akshak,” sahut Naia cepat. “Saat itu kau memintaku pergi.”


Meminta Naia pergi? Fares mengingat-ingat. Ya, itu benar ...


“Seperti saat itu juga, aku merasa …”


“Apa, Tuan Putri?”


“Buruk, tetapi ... ah, sudahlah. Ayo.”


Gadis itu melompat lalu berlari di atas tumpukan mayat menuju barisan depan prajurit Elam yang mulai renggang. Sekali lagi Fares hendak meneriaki Naia agar tidak jauh-jauh darinya, tetapi sepertinya itu sudah tidak berguna. Dalam sekejap Naia sudah berada di samping Rifa dan Mehrdad.


Fares menyusul. Ia memutar-mutarkan gadanya, mematahkan tombak-tombak Akkadia dan menghancurkan kepala atau tubuh pemiliknya. Sesaat ia berpikir apakah seluruh barion sudah musnah sehingga tak ada lagi satu pun hewan itu di sini. Lalu ia bersyukur. Kalau barion-barion itu ada, bisa jadi ia tak akan mampu menahan gelombang serangan pasukan Akkadia.


Lengkingan terompet lantang terdengar, dari atas tebing. Fares dan seluruh prajurit Elam di sekitarnya terperangah. Itu adalah pertanda dari Javad. Mehrdad memberi komando pada seluruh prajuritnya untuk cpat-cepat mundur, lalu merapat bersama barisan terakhir. Mereka membuat perlindungan dengan tombak teracung di atas tumpukan mayat yang berderet-deret panjang, menahan gelombang maju pasukan Akkadia.


“Tuan Putri! Kau cepat pergi!” seru Mehrdad tanpa menoleh.


Mulanya Naia tampak ragu. Ia memandangi barisan prajurit Akkadia yang berteriak-teriak tak jauh di depan, tetapi akhirnya ia berbalik, berlari mengikuti prajurit lainnya. Fares lega. Gadis itu sudah membunuh cukup banyak, baju putihnya merah bersimbah darah, dan mestinya apa yang dilakukannya sudah cukup. Fares berlari di belakangnya, namun sebentar kemudian menoleh. Rifa tidak ikut berlari dan tetap memilih bertahan di samping Mehrdad.


Teriakan marah Mehrdad terdengar, “Kenapa kau selalu keras kepala, Rifa! Pergi!”


“Kau tak bisa melarangku! Aku tetap di sini jika kau di sini!”


Kesal, Mehrdad pun berputar dan menarik tangan Rifa. “Baik! Kalau begitu lari sekarang bersamaku! Lari!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2