Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 63 ~ Yang Tersisa


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 63 ~ Yang Tersisa


Karya R.D. Villam


 


---


 


Bersama dua puluh prajurit, Mehrdad dan Rifa adalah orang-orang Elam terakhir yang masih berlari di celah tebing. Gemuruh langkah dan teriakan musuh menggema dari arah belakang, semakin dekat. Fares, yang berdiri memandang dari samping tebing, ragu apakah harus tetap mengikuti Naia pergi, atau ikut bertempur bersama Mehrdad dan Rifa. Akhirnya ia memilih yang kedua. Begitu Mehrdad berbalik untuk menangkis tombak-tombak Akkadia, Fares pun melompat ke sisinya. Ia tak berpikir bahwa mungkin ini keputusan yang salah.


Pertempuran brutal terjadi, tetapi kali ini rasanya jauh lebih singkat. Saat matahari mulai turun dan menyorot ke arah wajah, jumlah prajurit Elam yang bertempur semakin berkurang. Satu per satu tumbang, menyisakan Fares, Mehrdad, Rifa dan lima prajurit lain.


Fares mengamuk, menutupi rasa takutnya yang semakin menyelimuti. Bayangan kejadian saat ia dikeroyok di kota Akshak muncul di benaknya, saat ia ‘ditolong’ oleh Niordri. Jelas ia tidak bisa berharap hal yang sama. Bahkan Mehrdad, pendekar tombak paling terampil itu pun tak kuasa menahan serangan Akkadia. Sebuah tombak menghantam perutnya.


“Mehrdad!” Rifa menjerit.


Mehrdad mencabut tombak di perutnya lalu mendorong Rifa mundur. Rupanya ia tertusuk saat sedang berusaha melindungi Rifa. Tetapi pertempuran belum berakhir. Belasan tombak lainnya kini terlontar, datang meluncur ke arah mereka. Fares mengayunkan gadanya, merontokkan beberapa tombak itu, sementara walaupun terluka Mehrdad masih mampu memutar tombaknya dengan cepat menghalau seluruh serangan. Dengan luka-lukanya, Mehrdad tak akan bisa bertahan lebih lama, pikir Fares. Maka detik berikutnya ia maju menyerang.


Gelegar dan kilat cahaya merah Gada Geledek menguasai celah tebing. Fares membantai musuh-musuhnya yang terus mendekat. Tumpukan mayat menggunung di sekelilingnya. Ia lalu memanjatnya naik sambil memutar-mutarkan terus gadanya, hingga akhirnya sampai di puncak. Di sana, napasnya yang tersengal-sengal tertahan. Fares tercenung melihat ribuan prajurit Akkadia yang berbaris panjang bagai ular raksasa. Begitu dekat, semakin dekat.


Fares menghancurkan dua batok kepala, lalu melirik cepat ke belakang. Di samping Rifa, Mehrdad terhuyung-huyung sambil menutup perutnya yang terkoyak. Darah membanjiri sekujur tubuhnya. Hanya tinggal mereka bertiga yang tersisa. Para prajurit Elam yang tadi mendampingi mereka sudah tewas semua. Mungkin, ini saat-saat terakhir mereka juga.


Tidak! Fares membangkitkan semangatnya. Ia tidak boleh tewas sekarang. Ia masih punya tugas untuk melindungi Naia! Tetapi … di mana gadis itu sekarang? Apakah ia selamat?

__ADS_1


Fares bergegas turun dari tumpukan mayat dan menghampiri Mehrdad yang sudah terduduk. Gadanya digantung di pinggang. Ia membungkuk, menaikkan tubuh jangkung Mehrdad ke kedua bahunya. Berat, tentu saja. Lelaki itu mengerang dan darahnya membanjiri baju Fares.


“Lari, Rifa.” Fares tersengal. “Lari.”


Tetapi gadis itu sungguh keras kepala. Ia tetap memilih berlari di samping Fares. Sambil membopong tubuh Mehrdad, Fares berusaha lari sekencang-kencangnya. Teriakan prajurit Akkadia terdengar lagi di belakang, semakin keras di balik gunungan mayat. Fares memandang lurus ke depan. Ratusan prajurit Elam yang selamat sudah tak lagi terlihat. Sepertinya mereka berhasil lolos dari lubang kematian. Jika itu benar, Fares berharap Naia pun sudah ada di sana. Karena di sini mungkin ia tak akan selamat. Pasukan Akkadia sudah semakin dekat.


“Mungkin …” Suara lirih Mehrdad terdengar dari balik punggung Fares. “… sebaiknya kalian meninggalkan aku di sini ... Supaya kalian bisa berlari lebih cepat …”


“Tidak!” Rifa membalas. “Fares, lebih cepat!”


Fares tidak menjawab. Ia terus menggendong tubuh Mehrdad. Seluruh tenaganya sudah disalurkan ke kaki dan bahunya, tak lagi ke mulut. Keletihan menjalar ke seluruh tubuh. Napasnya tersengal. Pandangannya mengabur. Ia yakin jalan yang dilewatinya berbelok ke kanan. Tebing itu semakin rendah, sedangkan barisan pepohonan semakin jarang di kiri. Sebentar lagi mereka akan sampai di desa kosong yang mereka duduki semalam.


Namun itu jika mereka berhasil lolos.


Detik berikutnya, seruan Rifa terdengar. Fares menoleh, gadis itu tak ada lagi di sisinya, dan kini malah bertempur di belakang melawan musuh yang sudah hampir mencapai mereka. Dingin, rasa takut, dan sakit yang amat sangat tiba-tiba menghampiri Fares, begitu menyadari kalau gadis itulah yang mungkin akan gugur pertama kali di antara mereka bertiga.


Mendadak, angin menderu kencang.


“Fares! Rifa!”


Fares menoleh ke timur. Itu suara Javad, yang datang berlari bersama beberapa orang prajurit.


“Ayo! Para pemanahku akan melindungi kalian. Tetapi untuk sementara saja. Kami tak mungkin menahan lebih lama. Pasukan Akkadia lainnya mengejar juga dari utara!”


“Apa Naia … maksudku, Tuan Putri, mana dia?”


“Dia baik-baik saja,” Javad menjawab. “Ayo, biar prajuritku yang membawa Mehrdad.”

__ADS_1


Fares merasa masih kuat, tetapi sepertinya usulan Javad lebih baik, karena ia nanti bisa bertempur lebih bebas jika memang dibutuhkan. Seorang prajurit Elam yang bertubuh kuat lalu menggendong Mehrdad. Di bawah hujan panah mereka berlari ke arah timur memasuki desa. Ratusan prajurit telah menunggu di sana, termasuk Naia.


Mehrdad diturunkan lalu dibaringkan di tanah. Fares dan Naia memperhatikan dengan cemas saat seorang penyihir mencoba menutup luka besar di perut laki-laki itu.


Rifa berjongkok dan menggeleng-geleng menahan emosinya. “Jika Ramir ada di sini, ia pasti bisa menyembuhkanmu saat ini juga!”


Mehrdad tersenyum lemah. “Kenyataannya … anak itu berada tiga hari dari tempat ini, bukan? Aku mungkin tak bisa bertahan selama itu.”


“Kau bisa!” seru Rifa setengah menangis. “Kau lelaki terkuat di Elam!”


“Bahkan yang terkuat pun …” Mehrdad menggeleng. “Rifa, jika nanti terjadi sesuatu padaku, aku tak ingin kau bertindak bodoh.”


“Tak akan terjadi sesuatu padamu! Aku akan menjagamu. Dan kau …” Rifa mengalihkan pandangannya, menatap tajam ke arah si penyihir. “Jangan buat kesalahan, sampai kita tiba di tepi Sungai Tigris! Sembuhkan dia!”


Penyihir itu panik, tetapi perhatian Rifa kemudian teralih oleh Javad yang baru saja menerima laporan dan berlari mendekat.


“Kita tak bisa tinggal lebih lama. Kedua pasukan Akkadia telah bergabung dan kembali mengejar. Kita harus jalan terus ke timur. Semoga kita bisa mencapai pasukan Naram dan Kudur secepatnya. Mehrdad, kau bisa bertahan?”


“Aku bisa, Yang Mulia. Jangan khawatir.”


Jawabannya terdengarmeyakinkan, tetapi Fares tahu Mehrdad lebih jujur saat dia berbicara dengan Rifa sebelumnya. Tubuh kapten Elam yang sudah melemah itu dinaikkan ke atas tandu dan dibawa oleh empat orang prajurit.


Javad memimpin dua ribu prajurit Elam yang tersisa ke timur. Mereka meninggalkan desa dan mulai menjalani padang tandus. Untungnya matahari sudah jatuh jauh di sebelah barat, di belakang punggung, sehingga teriknya tidak terlalu mengganggu. Berjalan dan terus berjalan cepat hingga petang, hingga matahari terbenam, bahkan hingga malam semakin dalam. Mereka tahu jika berhenti sejenak saja mereka pasti akan terkejar dan terbantai oleh pasukan musuh yang lebih besar dan lebih segar.


Namun bahkan bagi para prajurit pemberani dari Elam semangat hidup pun bisa memudar, terganti oleh kekecewaan yang kembali muncul seiring lelah yang datang menggigit sekujur tubuh. Mereka tidak tidur sejak dua malam sebelumnya, bertempur mati-matian sepanjang hari, kalah bertempur, dan kini harus berlari tanpa makan dan minum. Belum putus asa, tetapi mereka melemah.


Javad terus berteriak dari waktu ke waktu membangkitkan semangat setiap prajuritnya, tetapi Fares tahu raja Awan itulah yang paling kecewa di antara mereka, dan karenanya usahanya itu mungkin takkan berhasil.

__ADS_1


 


 


__ADS_2