
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 85 ~ Dari Mimpi
Karya R.D. Villam
---
“Kau tahu?!” Ramir hampir terlompat dari jendela karena terkejut mendengar Naia mengucapkan kata-kata asing itu. “Kau bilang tadi kau lupa dengan kata-kata itu!”
“Aku memang lupa,” kata Naia. “Tapi lalu langsung ingat begitu kata pertama terucap. Itu tadi adalah doa, kata-kata yang diajarkan padaku saat aku masih kecil, jika aku sedang ketakutan, jika aku hendak meminta pertolongan atau perlindungan kepada Tuhan.”
Ramir termangu. “Apakah itu … berhasil? Doa itu?”
Naia termenung. “Aku dulu pernah meminta pada Tuhan dengan kata-kata itu. Tetapi … aku tidak tahu apakah itu berhasil atau tidak. Kelihatannya hasilnya tidak ada, tetapi dia bilang Tuhan mungkin, atau pasti, akan membantu dengan cara lain. Yang lebih baik buatku. Aku tak tahu. Aku setengah percaya, setengah tidak. Mungkin …” Ia tersenyum pahit. “… keraguan dan ketidakpercayaan semacam itu yang telah membuatku menjadi makhluk terkutuk.”
“Kau bukan makhluk terkutuk!” tukas Ramir.
Nai tersenyum sedih. “Kuharap begitu …”
“Tetapi, tunggu,” tahan Ramir. “Siapa orang yang kaumaksud sebagai ‘dia’, yang bilang kalau Tuhan akan membantu dengan cara lain? Tuan Parvez? Atau ayahmu?”
“Tidak.” Naia kembali tersenyum getir. “Teeza. Teeza yang dulu, bukan yang sekarang.”
“Teeza …” Ramir memandangi Naia seperti melihat hantu, membuat gadis itu pun tiba-tiba merinding ketakutan. Tetapi setelah beberapa lama bocah itu tersenyum. “Aku ingat. Aku pun mendengar kata-kata itu pertama kali dari Teeza!”
“Dari dia?” Naia kembali heran. “Kapan?”
“Tuan Putri …” Ramir tak memperhatikan pertanyaannya. Panik, bocah itu menoleh ke belakang. “Sebentar lagi aku akan pergi.”
“Apa … apa yang kau lihat?” Naia ikut melongok ke luar jendela di belakang Ramir. Lembah yang dalam dan gelap. Itu yang dilihat Ramir?
Ramir menggeleng cepat. “Aku tak tahu. Di sekelilingku … ada lantai berbatu luas … dan ada pohon tak berdaun di tengahnya. Itu—“
Kata-katanya terpotong. Bocah itu mendadak lenyap. Naia terhenyak.
Halaman berlantai batu di luar kubah. Itukah yang dilihat oleh Ramir!
Naia segera berbalik, cepat-cepat mendekati Rifa dan mengguncang tubuhnya. Gadis Elam itu bergerak, kini menghadap ke arahnya.
Tetapi tiba-tiba Naia tertegun.
__ADS_1
Bodoh! Ini bukan kenyataan! Aku masih bermimpi! Ini hanya Rifa dalam mimpi!
Bagaimana … bagaimana caranya aku keluar dari mimpi ini?!
Bisa! Aku pasti bisa!
Naia mencengkeram lengannya, mencubitnya sekeras mungkin.
Sakit. Keluar! Keluar! Keluar!
Napasnya tertahan, saat matanya terbuka. Lalu memburu. Naia memandang ke langit-langit. Tubuhnya masih terbaring di dipan, dan Rifa masih terlelap memunggungi di sampingnya. Lega karena benar-benar sudah bangun, Naia cepat-cepat melompat bangkit. Ia yakin, yang sekarang ini pasti nyata! Ia mengguncang tubuh Rifa.
“Rifa! Rifa! Bangun!”
Hampir sama seperti dalam mimpi, tubuh Rifa bergerak, kini telentang menghadap Naia.
Perlahan mata gadis Elam itu membuka. “Apa …?”
“Bangun!”
“Apa!” jawab Rifa ketus.
“Ramir! Aku tahu Ramir ada di mana!”
Di koridor Naia bergegas menuju ke ruangan sebelah, tak mempedulikan seorang pengawal, atau dua, tiga, berapa pun itu, yang menatapnya tak jauh di sudut koridor panjang. Tanpa ragu ia membuka pintu dengan suara keras. Tiga lelaki yang berada di dalam langsung terlonjak dari tempat tidur mereka. Naluri bertarung membuat Fares, Isfan dan Zandi cepat meraih senjata masing-masing bgitu mereka terbangun.
“Tuan Putri! Ada apa?” Fares bertanya.
Belum sempat Naia menjawab, terdengar teguran keras dari belakang. “Tuan Putri, ada yang bisa kami bantu?”
Naia menoleh, dan mendapati Nahim yang menatapnya curiga. Di belakang pemimpin pasukan Kubah Putih itu ada Rifa yang berdiri canggung, masih tampak kebingungan, bahkan mungkin masih setengah tidur, dan dua orang pengawal.
“Nahim.” Naia menenangkan dirinya. “Rasanya aku tahu Ramir ada di mana sekarang. Tetapi kita harus cepat!”
“Sebentar .... Dari mana kau tahu?” tanya Nahim bingung.
“Dari mimpi! Ramir mendatangiku dalam mimpi!”
Kening Nahim berkerut.
“Kau tidak percaya?” Naia mengangguk-angguk. “Ya, awalnya aku juga tidak. Tetapi dia meyakinkan aku! Dia bilang saat ini dia berada di tempat berlantai batu yang luas, dengan sebuah pohon tak berdaun di dekatnya!”
Mata Nahim menyipit. “Halaman samping?”
“Ya!”
__ADS_1
Nahim termangu. “Itu hanya mimpi, Tuan Putri, sulit dipercaya. Tetapi … kita bisa saja mencoba, dan mencari ke sana sekarang.”
Ia menyuruh seorang pengawal untuk pergi memberitahu Parvez dan Jarraf, kemudian berjalan cepat diikuti oleh Naia dan keempat rekannya. Mereka menyusuri koridor dan berbelok ke lorong yang menuju ke arah selatan. Melewati beberapa ruangan, mereka akhirnya sampai di luar bangunan.
Halaman luas berlantai batu terbentang luas di hadapan mereka, sebagian gelap tertutup oleh bayangan dinding-dinding bangunan dan menara yang tinggi. Namun di ujung sebelah kiri, tersiram sinar rembulan, tampak sebuah pohon tua yang batang dan ranting-rantingnya sudah tak lagi memiliki daun, seperti pohon mati.
“Seperti itu pohonnya?” tanya Nahim.
“Mungkin …” sahut Naia bingung. “Ramir yang bilang, kan?”
Mereka bergegas berlari mendekati pohon itu. Tetapi tak ada satu pun hal yang aneh. Naia mulai ragu, jangan-jangan bukan pohon ini yang dimaksud oleh Ramir. Atau bahkan, tadi itu hanya mimpi biasa, dan itu bukan Ramir yang datang. Membayangkan dirinya tertipu oleh mimpi membuat Naia kesal.
Namun seruan Rifa terdengar, “Hei! Ada sesuatu di sana!”
Gadis itu menunjuk ke selatan. Sekitar sepuluh tombak dari pohon, di bawah tebing batu yang menjulang tinggi, ada sebuah benda gelap.
Dada Naia berdebar kencang. Ramirkah itu?
Mereka semua berlari kencang seolah berlomba mendekati benda tersebut. Lalu berhenti.
Itu memang Ramir! Bocah itu meringkuk seperti kucing di lantai batu, tak bergerak.
Fares cepat-cepat berjongkok dan meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Ramir.
Ia menunggu, lalu menoleh. “Dia masih hidup.” Pemuda itu tersenyum lebar. “Dia hanya tertidur, kelihatannya.”
“Ah, bagus!” Rifa berseru senang.
Isfan dan Zandi tertawa gembira.
“Kalau dia masih tertidur, mungkin dia masih bermimpi dan masuk …” Naia hampir kelepasan bicara, memberitahu semua orang bahwa Ramir tidak hanya bisa masuk ke dalam mimpinya saja, tetapi juga ke mimpi orang lain. Untungnya ia cepat tersadar, dan untungnya perhatian semua orang kemudian teralih pada Parvez dan Jarraf yang datang mendekati mereka. Ada satu orang lagi bersama keduanya. Lelaki lain yang jauh lebih tua, yang jalannya harus dibantu oleh sebatang tongkat.
“Ah, jadi dia sudah berhasil keluar ya ....” Lelaki paling tua itu tersenyum.
“Tetapi, Tuanku Iradrin, bagaimana dia bisa keluar dari dalam gua sampai ke sini?” Nahim bertanya sambil memperhatikan Fares yang membopong tubuh Ramir. “Sama sekali tidak ada jalan ...”
“Tidakkah kau tahu, Nahim?” lelaki bernama Iradrin itu berkata. “Ruang suci berada jauh di bawah kaki kita. Dan entah dengan cara seperti apa, Ramir bisa keluar dari tempat itu. Naik sampai ke atas.”
“Kita bisa bertanya nanti padanya,” kata Fares. “Jika ia sudah sadar. Perlu kubangunkan dia sekarang?”
“Jangan, anak muda. Tidak usak terburu-buru,” balas Iradrin. “Dia akan bangun jika memang sudah waktunya bangun. Untuk saat ini kita cukup menunggu saja, dan bersyukur, bahwa pada akhirnya kita berhasil mendapatkan Sang Terpilih.”
__ADS_1