
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 92 ~ Musuh Favorit
Karya R.D. Villam
---
Davagni memilih bertengger di bibir tebing pada pendaratannya yang terakhir. Fares yang duduk di punggungnya, di belakang Ramir, menggerutu, “Kau tak ada bedanya dengan burung bangkai. Mereka selalu bertengger seperti ini, saat sedang menunggu calon mangsanya mati. Satu jam, dua jam. Benar-benar makhluk-makhluk yang sabar!”
Tentu saja, sekaligus buat menyindir Davagni. Makhluk itu selalu asyik buat disindir. Walau demikian Fares setuju, ini adalah tempat ideal untuk melihat keseluruhan lembah di utara dan barat, hamparan pepohonan dan bukit-bukitnya, dan yang lebih penting, sasaran mereka di kejauhan, gua gharoul, seandainya saja sekarang bukan tengah malam.
Fares tak menyangka pada akhirnya ia sampai di sarang makhluk-makhluk ‘favorit’nya itu. Semula mereka hanya bermaksud mencari Elanna. Dari tepi Sungai Tigris mereka melacak jejak para penculik perempuan itu. Tetapi bahkan dengan mengendarai Davagni pun mereka gagal mengejar. Sepertinya para penculik mampu terbang secepat angin.
Lalu petang tadi, saat mereka masih kebingungan, tiba-tiba Davagni berkata, “Sepertinya mereka membawa perempuan itu ke sarang gharoul.” Tak mempedulikan mereka yang kaget, ia melanjutkan, “Jika kau ingat, Tuan Fares, tak jauh di utara dulu kita sempat bertemu makhluk-makhluk ini. Sarang mereka ada di sekitar sini. Hamba bisa merasakan mereka. Bau busuk mereka, dari jauh. Dan menurut hamba tak ada tempat lain di sini yang bisa dituju para penculik, selain sarang itu.”
“Tapi ... buat apa Elanna dibawa ke sana?” tanya Rifa dengan suara tercekat.
Davagni meringis. “Gharoul butuh makanan, dan mungkin para penculik menganggap perempuan itu makanan yang cantik, dan enak.”
“Keparat!”
“Kau memaki hamba, Tuan Fares?”
“Tidak, aku memaki para penculik itu!”
“Bisa saja para penculik itu hanya sekadar lewat,” tukas Naia. “Bukan mau ke sana!”
__ADS_1
“Hamba anggap itu sebagai harapan, Tuan Putri. Semoga dia tidak benar-benar dibawa ke sana. Tentunya, terserah kalian mau percaya atau tidak. Tetapi hamba bisa mengantar, hamba tahu arahnya, kalau kalian mau. Malam ini juga. Bagaimana, Tuan Ramir?”
Sebagai Sang Terpilih, Ramir adalah sang pengambil keputusan di kelompok ini. Dia setuju, begitu pula yang lain; sama sekali tak ada yang berminat untuk tidur, bahkan Rifa si pendengkur. Maka mereka berangkat malam itu juga, dan sebelum tengah malam mereka sampai di tujuan.
Mulut gua gharoul yang gelap tampak di kejauhan. Tebing yang mengelilinginya tersiram cahaya rembulan. Namun puluhan api unggun dan tenda prajurit Akkadia yang bertaburan di sekitarnyalah yang membuat Fares dan rekan-rekannya terkejut. Sekaligus paham. Sekarang masuk akal jika para penculik membawa Elanna ke sana; dengan catatan orang-orang itu memang bekerja untuk Akkadia.
Dari bibir tebing Davagni membawa mereka mendekat. Ramir dan Fares di punggungnya, sementara Rifa dan Naia di tangan kiri dan kanan makhluk itu. Mereka menuju hutan lebat tak jauh di sebelah timur kubu pasukan Akkadia. Fares dan ketiganya turun dan bersembunyi di balik semak dan pepohonan, mengamati. Keheranan melanda, begitu mereka melihat ratusan prajurit berlarian sambil berteriak-teriak di antara tenda-tenda.
“Kenapa mereka? Sedang apa orang-orang itu?” gumam Fares.
“Mereka masuk ke gua tergesa-gesa,” sahut Naia. “Sepertinya terjadi sesuatu. Mungkin ada yang membuat kekacauan.”
“Elanna?” seru Rifa tertahan.
“Mungkin,” kata Naia. “Kalau benar, kita harus membantunya.”
“Bagaimana?” tanya Fares ragu. “Menerobos barisan mereka?”
“Ini sama sekali bukan rencana awal kita.” Rifa menggeleng-geleng. “Tak mungkin kita menerobos ratusan prajurit begitu saja!”
“Aku juga tidak mau melihatmu tewas!” tukas Fares sedikit tersinggung.
“Tak seorang pun dari kalian yang boleh mati,” sahut Ramir, cukup tegas hingga mampu membuat Fares, Naia dan Rifa memandangi bocah itu.
Naia tersenyum. “Seringkali kita tak punya pilihan, Ramir, dan cukup menerima saja apa yang terjadi. Jika saat ini aku harus menyelamatkan Elanna, maka pilihan itulah yang harus kuterima. Begitu pula jika nanti aku harus mati, itulah yang harus kuterima.”
“Kau tidak akan mati!” kata Fares kesal. “Kau di sini saja. Aku yang masuk.”
“Dan kau pikir aku akan membiarkanmu masuk sendirian?” Naia membalas. “Aku sudah pernah bilang padamu tentang ini, kan? Aku tak akan membiarkanmu.”
Fares tercenung menatap gadis itu.
__ADS_1
“Hei, kita masih punya Davagni.” Ramir melirik makhluk raksasa di belakangnya. “Mestinya dia bisa membantu. Tentunya … dengan cara yang baik.”
“Ya, dengan cara yang baik.” Semangat memancar kembali dari wajah Naia.
Fares mengerutkan dahinya. Cara yang baik maksudnya adalah tidak boleh membunuh sembarangan. Apa bisa mereka mengharapkan Davagni tidak melakukan hal seperti itu?
“Kau bisa, Davagni?” tanya Naia.
“Jika memang itu keinginan kalian,” jawab Davagni. “Jika memang kalian belum siap mati, dan belum siap juga bertemu dengan hamba nanti di dunia lain. Dengan cara yang baik? Baiklah.”
Fares curiga, apakah Davagni paham apa yang dimaksud dengan ‘cara yang baik’. Usahakan sesedikit mungkin nyawa melayang! Itu maksudnya! Ya, mungkin saja makhluk itu paham, tetapi kemudian tidak benar-benar menurut dan tetap menggunakan ‘cara yang jahat’, setelah itu mencari-cari alasan kenapa dia berbuat seperti itu. Seperti itulah reputasi Davagni yang terkenal.
Davagni bisa saja langsung turun ke tengah-tengah kerumunan prajurit, dan meremukkan setiap kepala dengan sepasang tangan batu raksasanya, membantai habis mereka. Tetapi untunglah, Davagni ternyata jujur dengan ucapannya. Dia terbang berputar-putar di atas prajurit bagaikan makhluk malam pencabut nyawa, menciptakan kengerian, lalu mendarat dengan keras menggetarkan bumi. Raungan kerasnya membahana, menciutkan nyali.
Para prajurit yang panik melemparkan tombak ke tubuhnya, tetapi tidak ada yang mempan. Sebagian tombak patah, sebagian lagi rontok begitu saja ke tanah. Davagni mengayunkan kedua tangannya berkali-kali seperti mengusir lalat, memorak-porandakan barisan prajurit di sekitarnya, sambil terus meraung-raung dan mempertontonkan wajah jahatnya. Efektif. Efisien. Benar-benar makhluk terkutuk yang bermanfaat.
Fares pun bisa menyeringai puas. “Dia bagus. Sepertinya dia menikmati perannya. Ayo, dia sudah membuka jalan sampai ke mulut gua, kita maju!”
Rifa dan Naia berlari menuju Davagni, diikuti Ramir dan Fares yang berjaga di belakang. Para prajurit yang semakin terkejut karena melihat kedatangan mereka berusaha menghadang. Namun terlambat. Fares dan rekan-rekannya sudah berlari begitu cepat. Di mulut gua Fares memutar-mutarkan gadanya mengusir para prajurit yang mendekat. Tapi memang Davagnilah, dengan tubuh dan tangan batunya, yang paling bagus dalam menjaga mereka.
“Kalian masuklah lebih dulu!” seru makhluk itu. “Biar hamba yang paling belakang.”
Fares dan ketiga rekannya setuju. Fares menyambar sebatang obor dari dinding lalu memimpin berlari masuk menyusuri lorong. Derap lari membahana, diikuti pula oleh suara langkah berat Davagni, yang mestinya mampu melindungi mereka dari serangan tombak atau panah dengan punggung batunya. Fares berharap makhluk itu benar-benar tidak merasakan sakit.
Suara batu berguguran lalu terdengar.
“Hei, Davagni, hati-hati!” seru Fares panik begitu sadar. “Apa yang kau lakukan? Jangan hancurkan satu-satunya jalan keluar kita!”
“Tenang, Tuan Fares, lubang ini masih lebih besar daripada tubuh hamba, sedikit. Hamba tidak ingin mengubur kalian di sini.”
Semoga saja benar begitu, pikir Fares. Ia kembali fokus ke depan, berusaha melihat dalam gelap dan mematikan rasa takutnya. Ia tak tahu apa yang bakal dihadapinya di dalam lorong. Para penculik? Ia siap, toh mereka hanya manusia. Gharoul? Ia juga siap, asal jumlah mereka tidak terlalu banyak. Ya, mestinya mereka banyak berkurang karena dulu sudah dibantai oleh pasukan Elam. Jadi, tak ada yang perlu ditakutkan, bukan?
__ADS_1