Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 45 ~ Teman Pemabuk


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 45 ~ Teman Pemabuk


Karya R.D. Villam


 


---


 


Teimush tertawa makin keras, dan Zylia terpaksa menamparnya agar ia diam dan tak menarik perhatian banyak orang. Untung laki-laki itu tidak marah, karena jika sampai marah Zylia takkan sungkan menghantamnya lebih jauh. Mereka menyeberangi jalan dan memasuki kedai. Tempat tersebut tak begitu luas, dengan hanya satu buah meja panjang di depan, enam buah meja kecil di belakang, sertaq tak ada pengunjung satu pun. Hanya ada satu orang di dalam, seorang pria gendut yang keningnya langsung berkerut begitu melihat mereka.


“Lagi, Teimush?” Pria gendut itu cemberut.


“Aku punya uang, Tekh,” balas Teimush.


“Ya, ya. Tentu saja, aku senang kau membuang-buang uangmu di sini. Aku hanya bosan melihat tampang jelekmu.” Orang bernama Tekh itu menggedik ke arah meja di sudut ruangan. “Silakan ke tempat favoritmu.”


Zylia membawa Teimush ke meja tersebut, dan menjatuhkan lelaki itu ke kursinya seperti melempar karung gandung. Tak lama Tekh membawakan sebotol arak dan dua buah cawan.


Zylia masih berdiri beberapa saat, memperhatikan Tekh yang mulai menyalakan lentera di sudut-sudut ruangan, ketika Teimush lalu berkata, “Duduklah.”


Zylia menggeleng enggan. “Sebaiknya aku pergi.”


“Duduklah. Temani aku … sebentar saja.” Teimush melirik, kemudian menuangkan arak ke cawannya. “Biasanya aku ditemani gadis-gadis Akkad bertubuh kecil, baru kali ini ada wanita bertubuh besar seperti dirimu, yang ...” Ia terkekeh. “… begitu molek.”


Zylia tertegun. Ia yakin, di masa lampau yang belum bisa ia ingat, ia tak akan sungkan untuk langsung menghajar hingga rontok gigi setiap lelaki yang berkata cabul seperti itu. Tetapi kali ini ada hal lain yang membuatnya penasaran. Ia merapatkan tudung dan jubahnya. “Kau tahu siapa aku?”


“Maksudmu apakah aku tahu kalau kau perempuan? Tentu saja. Perempuan punya bau khas.” Teimush tertawa.


“Ya. Pasti berbeda dengan bau tengikmu.”


Teimush tertawa semakin keras sambil menuangkan arak ke cawan yang satu lagi. “Pasti. Tetapi kau menyelamatkanku kemarin dari api Ishtaris keparat, dan juga dari para pedagang tolol itu. Terima kasih, jika tidak ada kau, aku pasti sudah mampus. Ayo, duduklah, … Zylia.”


Zylia menegang. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Hanya ada Tekh yang duduk di depan ruangan, dan Zylia meyakinkan diri bahwa orang itu tidak mendengar ucapan Teimush yang terakhir. Ia duduk dan menatap lelaki itu setajam mungkin. Teimush tertawa licik, sebelum menenggak lagi araknya.


“Kau boleh menyembunyikan wajah dan tubuh jangkungmu dari siapa pun, tetapi aku pasti ingat suara dan juga gerak-gerik perempuan … yang kemarin telah mempermalukan aku.”

__ADS_1


Zylia mendengus. “Masih membenciku?”


Cegukan Teimush kembali terdengar. “Terus terang … masih. Tetapi masa bodoh. Walau kau telah menghancurkan karirku, buat apa dipikirkan lagi? Minumlah, Zylia. Temani aku! Minum arak itu paling enak jika bisa sambil mengoceh. Dan buka tudungmu, tak akan ada yang peduli siapa dirimu. Tekh itu temanku … dan kau di sini, dari apa pun alasan yang membuatmu tidak ingin dikenali orang lain, jadi …”


Zylia tertawa sambil membuka tudungnya, perlahan mencicipi arak dari cawannya. “Aku tak hendak bersembunyi dari apa pun.”


“Hei, terserah.” Teimush mengangkat bahu. “Aku tidak peduli. Minum sajalah, dan … mari kita berbincang, kalau kau mau ...”


“Berbincang?” Zylia manggut-manggut. “Bagaimana jika bicara tentang karirmu, yang kau bilang hancur tadi. Apa yang terjadi?”


Teimush tertegun dengan cawan arak berhenti di depan bibirnya. Namun ia lalu melanjutkan tegukannya. “Karirku? Kau tahu, Zylia, bertahun-tahun aku membangun reputasiku, dari prajurit biasa hingga akhirnya menjadi pengawal raja sekaligus jawara di antara seluruh prajurit Akkadia. Kemarin kau menghancurkannya dalam sekejap.” Bukannya menggeram, Teimush malah tertawa. Sudah jelas ia membiarkan arak menguasai dirinya.


“Salahmu sendiri, kenapa kalah.”


“Ya, betul.” Tegukan terakhir Teimush membuat wajahnya memerah. “Itu salahku.”


“Lalu apa?” tanya Zylia datar, tak ingin terdengar memancing.


“Tadi malam Bargesi memanggilku.” Teimush menggeram. “Perdana menteri sialan itu.”


Zylia memandang berkeliling sekali lagi. Hanya ada dua tamu lain yang kini duduk di dalam ruangan, dan seharusnya mereka tak bisa mendengar makian Teimush yang berbahaya karena jarak yang cukup jauh. Zylia pun membiarkan lelaki itu terus bicara.


“Bargesi memanggilku sehabis pertarungan. Dia mencopotku dari jabatan kapten pasukan pengawal …” Teimush mendengus. “... dan memindahkan aku ke pos yang baru jauh di utara. Di kota … hmm, aku lupa nama pasti kotanya. Yang jelas ini memalukan!”


“Buruk! Aku dengar buruk! Aku akan pergi ke neraka!”


“Neraka? Apa maksudmu?”


Teimush tertawa sambil mengacung-acungkan cawannya yang kosong. “Kau pikir aku akan memberitahumu apa tugasku di utara. Kau harus mencari tahu sendiri! Seperti aku! Aku mencari tahu apa yang menjadi tugasku. Bargesi pikir bisa merahasiakannya dariku. Dia pikir aku ini idiot?!”


“Kau memang idiot.” Zylia mengangkat bahu. “Lagi pula, apa pentingnya buatku? Aku tidak perlu tahu apa tugasmu di utara. Silakan saja kau bersenang-senang di sana.”


“Apa pentingnya buatmu, kau bilang?” Teimush tertawa makin keras. Ia meraih botol dan coba menuangkan isinya. Begitu menyadari, setelah beberapa saat, bahwa botol itu kosong, ia berteriak, “Tekh! Habis!”


“Tunggulah, pemabuk!” Tekh berseru kesal. “Arakku habis semua olehmu, dan kini aku harus mengambil dulu di gudang!”


Teimush menoleh ke arah Zylia, dan mengulangi ucapannya, “Kau bertanya apa pentingnya bagimu? Kau akan tahu nanti betapa pentingnya buatmu! Seluruh nasibmu, nasib kalian semua, akan bergantung padaku!”


“Begitu ya?” Zylia meletakkan cawannya di meja sekeras mungkin, kemudian tiba-tiba bergerak cepat meraih kerah baju Teimush. Ia menarik tubuh Teimush, balik mengancam, “Apa maksudmu? Katakan, atau kupatahkan lehermu, atau kuiris-iris tubuhmu dengan pedang. Mana yang kau suka?”

__ADS_1


Teimush tertawa mengejek. “Ayolah, kau tidak sejahat dan sedingin itu, Zylia. Buktinya, kau kemarin menolongku, begitu pula tadi sore. Lagi pula … kau tak bakal mendapat informasi yang berguna dari seorang pemabuk pembohong.”


Zylia menatap lelaki itu beberapa saat, menimbang-nimbang apakah ia sebaiknya percaya pada omongannya. Mungkin Teimush benar, tetapi mungkin juga ia berbohong atau hanya omong besar. Mungkin lelaki itu hanya membesar-besarkan permasalahan pribadi yang sedang dialaminya.


Memandangi misai dan janggut kumal Teimush, juga menghirup bau tengik yang keluar dari hidungnya, Zylia akhirnya merasa muak dan tolol karena bisa berada di sini dengan laki-laki itu. Ia melepaskan cengkeramannya, dan mendorong Teimush kembali ke kursi. Keduanya berpandangan. Zylia dengan tatapan tajamnya, sementara Teimush dengan mata terkantuk-kantuk. Zylia bertanya lagi, “Apa maksudmu tadi, seluruh nasibku tergantung padamu?”


“Tidak hanya kau.” Teimush tertawa. “Nasib semua orang!” Selesai berkata ia ambruk, menghempaskan mukanya ke meja, sementara kedua tangannya terjuntai ke bawah.


“Maksudmu? … Keparat,” Zylia menggerutu kesal. Ia melirik ke arah Tekh yang baru saja datang membawakan satu botol arak. Begitu melihat Teimush telah kehilangan kesadarannya Tekh balik lagi ke meja depan bersama botolnya sambiol menggerutu.


Zylia memandangi Teimush beberapa saat, sebelum akhirnya memaki dirinya sendiri karena mau saja menemani seorang pemabuk tak berguna di tempat ini. Ia menarik tudung menutupi kembali kepalanya, lalu berdiri, berjalan meninggalkan meja.


Zylia meletakkan sekeping uang perak di meja Tekh. “Araknya aku yang bayar.”


Pria gendut itu tak langsung mengambilnya. “Terima kasih. Tetapi aku tak punya kembaliannya, mmm … Nona ...”


Zylia menatapnya. “Mungkin … kau bisa membayar kembaliannya dengan menjawab beberapa pertanyaanku.”


“Y—ya.” Tekh berubah gugup, wajahnya memucat.


“Kau mengerti apa yang diocehkan Teimush?”


“Tidak, Nona.” Tekh menggeleng-geleng. “Tadi siang ia juga sudah bilang, ia mendapat tugas baru di utara, di Pegunungan Zagros, cukup jauh dari sini. Tentunya dia kesal karena harus meninggalkan Akkad.”


“Dan kau kesal karena kehilangan pelanggan terborosmu?”


Tekh tertawa kecil, kini dia sudah kelihatan lebih santai. “Begitulah. Tetapi, aku jujur tadi. Aku tidak tahu tugas baru apa yang diberikan pada Teimush. Sayang sekali, padahal ia sebenarnya prajurit yang baik. Aku kenal baik dia sejak lama.”


“Ya,” jawab Zylia singkat. Ia bersiap pergi.


Tekh memandanginya, dan bertanya dengan hati-hati, “Nona, apa kau juga prajurit seperti Teimush? Kau tampak … berbeda.”


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa. Kau tampaknya orang baik.” Tekh tersenyum. “Dan … kudengar kalian semua akan segera bertempur dengan orang-orang Elam, ya? Mmm ... pertempuran biasa, aku yakin. Tapi berhati-hatilah. Kudengar pasukan Elam cukup kuat.”


“Ya. Terima kasih.” Zylia menghela napas, kemudian beranjak pergi.


Bukan pertempuran biasa, Tekh. Akan ada lebih dari itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2