
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 68 ~ Pembunuh Bayaran
Karya R.D. Villam
---
Orang-orang berpakaian serba hitam itu membagi diri menjadi dua kelompok. Semuanya lalu menyerang Rahzad dan Teeza secara bersamaan. Teeza berputar, menangkis dan menusuk dengan kedua tombak patah di tangannya. Ia menghitung, ada lima orang berpakaian hitam yang mengeroyoknya, dan mereka semua menggunakan sepasang pedang.
Teeza mempercepat gerakannya. Tombaknya menusuk dada seorang penyerang, tetapi ketika ia hendak menghabisi dengan tombak satunya, dua penyerang lain menghadang. Beberapa kali seperti itu, hingga ia gagal menghabisi seorang pun. Musuhnya kompak dalam bertempur. Mungkin harus diatasi dengan cara lain. Di tempat lain, yang lebih sempit.
Teeza melirik, di satu kesempatan berhasil menemukan satu kelengahan musuhnya. Cepat ia menghunjamkan tombaknya hingga menancap ke perut orang itu. Sekuat tenaga Teeza lalu mendorong dia dengan tombaknya sampai terhenti di batang sebuah pohon. Ia melepaskan tombak itu dan melompat, menyusup melalui sela pepohonan. Dua orang lainnya datang menyerang dari kiri dan kanan. Teeza menghindar dari serangan orang pertama, lalu menangkis dan balas menusuk orang kedua dengan tombaknya yang tersisa. Tak sempat mencabut tombaknya, ia lalu melompat menghindari sabetan pedang yang mengarah ke leher.
Teeza kemudian berlari lebih jauh tanpa senjata, takut, tetapi cukup lega karena paling tidak ia sudah berhasil membunuh dua orang musuhnya. Bingung, ia berlari menembus belukar. Ia harus menemukan senjata. Tak mungkin ia menghadapi para pengejarnya tanpa senjata! Tetapi di mana ia bisa menemukannya? Satu-satunya cara yang terpikirkan adalah kembali ke tempat awal tadi ia jatuh. Di sana ada banyak tombak, dan juga belati. Tanpa berpikir panjang ia pun berbelok ke kanan, lalu berbelok lagi, menerobos hutan ke arah utara.
Raungan keras dan panjang terdengar, mengalihkan perhatiannya. Aragro. Suaranya memilukan. Teeza mempercepat larinya, melompati semak dan beberapa dahan rendah, mendaki tanah yang sedikit menanjak. Derap para pengejar masih terdengar di belakang, tapi Teeza lebih tertarik mengetahui apa yang terjadi pada Aragro. Anehnya, ia khawatir.
Di sebuah tanah lapang kecil tampaklah hewan buas tersebut, terduduk. Tidak ada tombak yang berhasil menembus punggungnya, namun belasan tombak, yang telah patah maupun masih utuh, tertancap di wajah dan lehernya, lebih banyak daripada sebelumnya. Wajahnya yang awalnya sudah menyeramkan menjadi semakin mengerikan karena penuh darah, dan ia masih bisa duduk dengan tegak walaupun maut telah mendekat.
Di sekeliling hewan tersebut belasan orang berbaju hitam tergeletak tak bernyawa. Ada satu yang masih hidup, merintih di tanah tak jauh di depan sang barion. Bersamaan dengan kemunculan Teeza, kaki kanan hewan buas itu terangkat lalu turun menghantam tubuh orang itu, tanpa ampun. Di bibir maut Aragro masih bisa menyebar maut. Melihat apa yang dialami hewan itu, Teeza maklum dengan keganasannya, dan anehnya, tiba-tiba rasa kasihannya ikut timbul. Seluruh dendamnya pada hewan bernama barion seakan sirna seketika.
“Ouwggh!” Aragro menggeram ke arahnya.
Teeza tertegun, gentar. Sesaat kemudian barulah ia sadar kalau barion itu bukan melepaskan auman ancaman terhadap dirinya, melainkan pada tiga orang berbaju hitam yang muncul di belakang Teeza. Teeza menunduk, dan hewan itu melesat di atasnya.
Aragro mendarat dengan suara berdebam keras. Karena sudah melemah ia kehilangan keseimbangan dan tersungkur. Ketiga penyerang melenting ke tiga arah lalu berlari mengelilingi sang barion untuk mencari celah. Mereka tahu hewan itu sudah sekarat, dan satu atau dua tusukan lagi di bagian bawah leher atau dahi akan menamatkan riwayatnya.
Teeza cepat-cepat meraih sebuah tombak, untuk melindungi Aragro, tetapi siulan panjang mengalun tinggi entah dari mana. Ketiga penyerang berhenti berlari, terdiam saling memandang. Suara gemerisik terdengar dari arah belukar, dan tampaknya itu membuat mereka takut. Ketiganya berbalik lalu melompat tinggi, menghilang di balik kegelapan.
__ADS_1
Teeza menanti dengan jantung berdebar siapa yang akan muncul. Ia lega, karena ternyata Rahzad. Lelaki itu langsung lari menghampiri Aragro, dan selama beberapa saat duduk terdiam.
“Aragro ... Sahabatku .... Yang terhebat di antara kaummu.” Rahzad membelai kepala hewan kesayangannya yang terkulai lemah. “Rupanya dewa menentukan, kau yang harus pergi lebih dulu.”
“Ia tak bisa disembuhkan?” Teeza menatap hewan itu dengan khawatir.
Rahzad memperhatikan tombak dan pedang di kepala dan leher Aragro, lalu menggeleng. “Ini sudah terlalu parah. Ia tak akan bertahan lama.”
“Ia melindungiku tadi,” Teeza memperhatikan sorot mata Aragro yang melemah. “Ia barion perkasa .... Dengan luka seperti itu ia masih bisa menaklukkan semua orang ini.” Ia mengalihkan pandangan dan menatap berkeliling, tak ingin terhanyut pada perasaannya. “Menurutmu, siapa mereka? Sayangnya tiga orang tadi bisa kabur begitu cepat, sehingga kita tidak bisa bertanya.”
Rahzad mengangguk. “Ada satu yang berhasil kutangkap, tetapi ia memilih bunuh diri dengan menelan sesuatu yang disimpan di dalam mulutnya. Mereka para pembunuh bayaran. Aku kenal ilmu pedang dan cara bertempur mereka, dan juga pilihan mereka untuk mati. Berpuluh-puluh tahun lalu aku pernah bertempur dengan orang semacam ini di negeri timur jauh. Mereka cepat dan mematikan.”
“Tetapi siapa yang membayar mereka?”
Rahzad tersenyum. “Tentu saja musuhku.”
“Yang mana? Kau punya banyak musuh di empat penjuru mata angin. Lebih banyak daripada siapa pun di muka bumi.”
“Yang tahu kalau kita akan lewat jalan ini.”
“Arphal hanya pesuruh,” tukas Rahzad. “Pemuda tolol yang tidak mengerti apa-apa.”
“Jika ia hanya pesuruh, berarti … musuhmu itu … sang raja?!”
Rahzad menatap Aragro. “Tampaknya itu yang paling mungkin, bukan? Mungkin raja kini sedemikian tidak sukanya padaku. Menganggap aku sebagai ancaman, sehingga tanpa ragu hendak membunuhku, tak peduli betapa banyak jasaku di masa lampau.”
Teeza menggeleng, belum percaya. “Jika raja ingin kau mati, mengapa ia harus menggunakan pembunuh bayaran? Kenapa ia tidak menunggumu sampai datang ke Akkad, baru kemudian menangkap dan memenggal kepalamu? Itu lebih mudah baginya.”
“Pintar, Teeza. Itu lebih mudah baginya, dan lebih pasti. Tetapi sang raja mengenalku. Ia tahu aku tak bisa dibunuh hanya oleh segelintir pembunuh bayaran berkemampuan seperti ini. Ia harus membawa pasukan jika ingin membunuhku. Maka ia pasti tahu, jika rencananya gagal maka aku akan mencurigainya, dan menjadi musuhnya. Tidak, ia tak akan sebodoh itu.”
“Barangkali rajamu itu percaya bahwa para pembunuh ini bisa membunuhmu,” tukas Teeza.
“Tidak. Aku terpikir hal lain. Menurutku, seseorang telah menghasut raja untuk mencopotku dari jabatan panglima. Raja setuju, kemudian memanggilku pulang untuk mendengar laporanku. Tetapi sang penghasut punya rencana lain. Ia menyiapkan pembunuh di daerah ini. Begitu Arphal memberi kabar bahwa aku pulang lewat jalan pintas tanpa ditemani pengawal, para pembunuh ini pun bersiap, dan kemudian mereka menyerang.”
__ADS_1
“Sepertinya kau masih percaya pada rajamu itu!” Teeza mendengus. “Menurutku, dia tetap terlihat yang paling mencurigakan, karena dia yang paling berkuasa dan mampu mengatur semuanya.”
“Aku hanya membuat kemungkinan-kemungkinan.” Rahzad membelai wajah Aragro. Sang barion menutup matanya perlahan. “Supaya aku siap nanti.”
“Lalu siapa penghasut yang kaumaksud?”
“Aku punya dua musuh di Akkad.”
Teeza termangu. “Ahaddeana dan Perdana Menteri Bargesi?”
Rahzad mengangguk. “Tetapi hanya satu yang menjadi penghasut. Selama ini aku mengira Bargesilah yang paling membenciku, namun kejadian beberapa hari lalu memberi bukti lain. Ahaddeana tidak mengirim pasukan Ishtaran yang kedua untuk membantuku saat terdesak. Dialah yang telah mengkhianatiku, dan mengirim para pembunuh ini.”
“Tetapi … kenapa dia mau membunuhmu? Apa alasannya?”
“Karena kedekatanku dengan Ishtar. Ia tidak pernah suka, dan sekarang puncaknya. Ia takut hal itu akan mengancam posisinya sebagai Pendeta Tinggi Kuil Ishtar.”
Teeza mendengus. “Kau sudah punya Tuhan, yang telah kau percaya sejak kecil, tetapi kini malah beralih pada makhluk semacam Ishtar, yang kau pikir benar-benar bisa membantu mencapai tujuanmu?”
“Kau menganggap dirimu seorang yang taat, Teeza?” Rahzad membalas datar. “Selain hanya percaya kepada Tuhan, coba katakan, apa yang sudah kau lakukan untuk menunjukkan rasa percayamu itu?”
Ia tertawa, tampaknya senang karena melihat Teeza hanya bisa terdiam tak mampu menjawab selama beberapa saat.
“Sekarang apa rencanamu?” Teeza menukas.
“Jika benar Ahaddeana yang mengkhianatiku, tentu saja aku harus mendatanginya di Kuil Ishtar, dan membunuhnya.”
Teeza menggeleng mendengar rencana gila itu. “Tiga orang penyerang berhasil lolos tadi, dan tentunya akan langsung memberi kabar pada majikannya. Akkad bukan lagi tempat yang aman untukmu!”
“Semua itu hanya kemungkinan-kemungkinan, Teeza.”
“Ya, tetapi bisa jadi kenyataannya lebih buruk."
“Mungkin. Tapi aku tak pernah lari dari kenyataan, seperti kau atau Elanna,” Rahzad menyindir, membuat emosi Teeza kembali tersulut. “Namun kau benar juga, situasi di Akkad berbahaya saat ini. Lebih baik aku kembali dulu ke timur. Bertemu teman lama kita: Ibbsin, dan Arphal. Tetapi sebelumnya … biar kukuburkan dahulu sahabatku ini.”
__ADS_1