Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 59 ~ Penggali Dendam


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 59 ~ Penggali Dendam


Karya R.D. Villam


 


---


 


Aku ingat.


Hari ketika aku jatuh di medan tempur.


Oleh tombak orang itu.


Dia … Javad?! Si raja dari Elam. Atau bukan …?


Gadis berambut perak itu tersentak. Cahaya terang yang datang tepat ke arah matanya membuat kepalanya sakit bagai dihantam martil. Kegelapan sekali lagi datang menyelimutinya. Entah sampai berapa lama. Membuat kesadarannya hilang kembali.


Kemudian ia tersadar di kesempatan berikutnya. Kilatan peristiwa lain sampai di benaknya, berputar-putar. Ia ingat. Memang belum semuanya, tetapi ia bisa mengingat. Hari ketika ia berjalan bersama pasukan Akkadia, dan sebelumnya, ketika ia jatuh dari tebing di tepi Sungai Tigris. Hari ketika ia masih menjadi dirinya yang sebenarnya.


Gelisah, khawatir, takut, bingung, marah, semua rasa bercampur. Teeza merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia membuka matanya perlahan. Langit biru tak berawan adalah yang pertama kali dilihatnya. Indah. Segarnya udara pagi mampir di hidungnya. Sinar mentari menghangatkan wajah. Ia adalah seorang pencinta langit dan bumi. Awan, matahari, angin, bukit dan rerumputan. Tempat-tempat semacam ini biasanya selalu menjadi hal terbaik baginya. Namun saat ini kegelisahan datang menyelimuti melebihi kegembiraannya.


Sakit di dadanya membuat ia teringat lebih jauh. Yang dulu dirasakannya pula saat berada di gubuk kecil di dekat sungai. Rumah bocah itu, Ramir. Pemuda tanggung berkulit gelap. Teeza termenung beberapa saat. Ia belum paham kenapa sosok remaja laki-laki yang hanya dikenalnya selama beberapa hari itu masih tetap diingatnya sampai kini. Pastinya bukan hanya karena dia telah menyelamatkan nyawanya. Mungkin ada sesuatu yang lain.


Ia kemudian menoleh, dan tatapannya pun bertemu dengan sepasang mata biru yang memandang ke arahnya tanpa berkedip. Orang itu bertubuh jangkung, dan duduk di atas batu di samping pohon besar, tersenyum tipis. Teeza mengenali wajah tampannya. Sangat kenal. Dan seketika seluruh kebenciannya meluap dan tumpah dalam satu pekikan.


“NIORDRIII!”


Lelaki itu, Niordri alias Rahzad tetap duduk tak bergerak. Ekspresi wajahnya tak berubah saat mengamatinya. Malahan dia berkata dengan sangat tenang, “Kau baru saja sadar, dan langsung memanggil nama kecilku? Teeza … berarti itulah dirimu yang sekarang. Betapa menyenangkan, akhirnya ingatanmu bisa pulih. Benar, aku ikut senang. Nah, saranku, jangan banyak bergerak dulu. Tenanglah, atau usahaku menyembuhkan lukamu akan sia-sia.”


Teeza menggeram dan menatap lelaki itu dengan mata membara. Rasa sakit di dadanya kembali menyergap. Kali ini bukan sakit biasa, lebih dalam. Karena ini adalah dendam yang telah lama terkubur di dalam hatinya, tapi tak pernah terobati, dan kini muncul kembali tanpa terduga. Pikiran Teeza berputar-putar, berusaha mengingat-ingat kenapa ia bisa bersama dengan musuh besarnya saat ini, di tempat ini. Perlahan ia ingat, dan rasa takutnya timbul seketika, begitu ia sadar kesalahan-kesalahan fatal yang telah diperbuatnya selama ia tidak sadar.


Tidak. Tidak!

__ADS_1


Rahzad melanjutkan dengan suara santai dan mata berkilat, “Sebenarnya, Teeza, aku sudah hampir lupa kapan terakhir kali kau memanggilku dengan nama itu. Mungkin kau bisa membantuku mengingatnya? Kapan itu, tiga puluh tahun yang lalu? Atau lebih lama lagi, saat kita berdua masih berada di utara?”


Yang terakhir. Teeza menjawab dalam hati.


Ingatan terhadap masa lalu lebih cepat pulih dibanding ingatan tentang kejadian beberapa hari belakangan, yang masih samar-samar. Dulu sekali, saat merka berdua masih berada di utara. Itulah saat terakhir Teeza memanggil Rahzad dengan nama ‘Niordri’.


Saat ketika lelaki itu menghunjam dada ayahnya dengan belati.


“Pembunuh!” Emosi Teeza meluap. Ia bangkit dan melompat, menerkam musuhnya dengan kecepatan seekor kucing.


Namun dengan sigap Rahzad menangkap kedua tangannya. Teeza meringis, merasakan nyeri yang kembali menyerang sekujur tubuhnya. Tetapi itu belum selesai. Rahzad memutar tubuhnya lalu memeluknya dengan erat dari belakang.


“Lepaskan, kau keparat!” Teeza menghentakkan kedua kakinya berusaha menolak tubuh Rahzad ke belakang. Lelaki itu membiarkannya. Keduanya melayang, namun cepat Rahzad memutar tubuh hingga Teeza terjerembab mencium tanah. Rahzad memeluk lagi gadis itu dari belakang, menekannya dari kepala sampai ke ujung kaki, hingga Teeza tak mampu bergerak. Hembusan napas Rahzad menyingkap rambut perak di telinga kanan Teeza.


“Ck ck ck, kau masih tetap liar dan kuat seperti singa betina, setelah berpuluh-puluh tahun. Tetapi kau tahu, akulah sang barion. Sudahlah, Teeza. Untuk saat ini, kuminta kau tenang, simpan dulu dendammu. Mari kita bicara. Ya, Aku ingin bicara. Aku belum pernah mendapat kesempatan untuk menjelaskan padamu kenapa semua hal buruk itu bisa terjadi. Itu semakin penting sekarang, karena ada hal lain yang harus kita hadapi bersama setelah ini.”


Teeza meraung. “Aku tak sudi mendengar smua alasanmu!”


“Nah, itulah yang kubenci darimu, kau tak pernah mau coba mendengar. Ah, tidak, tentu saja aku tidak akan pernah bisa membencimu, walaupun kau sangat membenciku kini.” Rahzad mencium rambut perak Teeza. “Kadang hal itu terlintas di benakku, seandainya aku bisa memutar waktu mundur hingga sebelum peristiwa itu terjadi, saat kita semua masih menjadi satu keluarga besar. Aku, keluargaku, ayahmu, kakakmu, kau. Kita berdua masih begitu dekat. Kau tahu aku mencintaimu, bukan? Dan aku tahu kau mencintaiku.”


“Sepertinya begitu. Ya, aku tak bisa menghindari itu.” Rahzad mendesah lagi di belakang kepala Teeza. Pelukannya makin erat. “Tetapi kau tak bisa menyalahkanku untuk tetap berharap sebaliknya. Itulah kenapa dua minggu terakhir aku sempat menemui sedikit kegembiraan, ketika kau akhirnya bersikap seperti dirimu yang dulu, yang pernah mencintaiku.”


“Aku, dengan nama Zylia yang kauciptakan?!” Teeza meluapkan amarahnya. “Apa pun yang kulakukan selama beberapa minggu terakhir, itu bukanlah diriku yang sesungguhnya! Begitu bodohnyakah dirimu mengira itu adalah aku?!”


“Tidak, Teeza, aku tidak bodoh. Tetapi coba pikirkan sejenak, tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya itulah dirimu yang sesungguhnya? Dan apa yang sebelumnya kaupercaya sebagai dirimu, sebenarnya sama sekali bukan dirimu?”


“Tiga minggu kemarin itu sama sekali bukan aku! Aku yang sesungguhnya pasti sudah membunuhmu jika ada kesempatan, walaupun hanya kesempatan kecil!”


“Nah, Teeza, kubilang tadi tenangkan dirimu, simpan dendammu. Bisa, kan? Aku bahkan belum lagi bercerita tentang apa sebenarnya yang terjadi dulu.”


“Tidak! Untuk apa aku mendengarkanmu?!”


“Ayolah, aku percaya kau pun sebenarnya ingin tahu.” Rahzad menghela napasnya panjang. “Memang akan menyakitkan untuk diingat, tetapi mungkin hatimu akan terbuka nanti.”


Teeza terdiam kali ini, menggigit bibir berusaha menahan tangisnya. Ia mengakui masih banyak tabir gelap yang belum bisa ia singkap dari peristiwa kematian ayahnya. Sekarang Rahzad telah memberinya kesempatan untuk membuka itu. Perlukah ia tahu? Selama beberapa saat Teeza ragu, tetapi akhirnya ia sadar. Akan sangat menyakitkan, tetapi ia harus tahu.


Rahzad mengangguk-angguk. “Baik, kulihat kau sudah lbih tenang, walaupun aura dendammu masih terasa. Tentu saja, dendam itu tak mungkin bisa hilang dalam sekejap. Tapi … cobalah. Aku akan melepaskanmu, dan kau bisa duduk dengan nyaman, seperti seorang gadis yang terhormat. Tetapi jangan mengambil kesempatan dari kebaikanku sekarang. Dengan mencoba menyerangku, misalnya, yang bakal memaksaku melakukan sesuatu yang tidak terhormat padamu. Kau tahu itu tak ada gunanya, jadi cukup dengarkan aku.”

__ADS_1


Rahzad melepaskan pelukannya dan kembali duduk di batu besar. Perlahan Teeza bangun dan berusaha duduk sejauh mungkin dari lelaki itu, namun tetap dekat untuk bisa mendengar ucapannya. Gadis itu melihat pedang besar di balik tubuh Rahzad. Ucapan lelaki itu benar. Teeza takkan punya kesempatan untuk membalas dendamnya sekarang. Ia menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Mereka berada di tengah lembah berbatu yang sepi, pada suatu celah lebar di antara dua bukit kecil. Seekor hewan buas hitam duduk di balik batu, tak jauh dari tempat mereka berdua. Aragro. Teeza sadar, ia pun takkan bisa kabur dari tempat ini.


“Sudah memeriksa situasimu?” Rahzad tersenyum tipis. “Bagus. Jadi aku tak perlu mengatakan kita ada di mana. Aku bisa mulai. Pertama, hal utama yang harus kukatakan padamu. Hutangku, karena kau dulu tidak melihat kejadian ini dengan matamu sendiri. Pertempuranku dengan ayahmu dulu adalah pertempuran yang adil, kami berdua sudah tahu apa resikonya jika salah satu dari kami kalah. Ayahmu kalah, dan ia mati di tanganku.”


“Tetapi ayahku adalah gurumu!” Teeza bergetar menahan amarah yang kembali menggumpal. “Yang telah mengajarkan semua yang kau ketahui sekarang, kecuali sifat jahatmu. Betapa tidak berbudi! Sampai kapan pun, Niordri, tindakanmu ini takkan termaafkan oleh seluruh rakyat di negeri utara!”


“Jangan berlebihan, Teeza. Tak perlu mengatas namakan seluruh rakyat. Itu kesalahan sama yang dulu dibuat ayahmu, yang menghukum ayahku hanya karena sebuah kesalahan kecil, hingga mengakibatkan ayahku tewas. Dan ia mengatakan padaku bahwa kematian ayahku itu adalah keinginan Tuhan? Dan juga seluruh rakyat? Kau pikir hal itu bisa dimaafkan?”


“Tetapi ayahmu memang bersalah!” Teeza membantah. “Ia menghancurkan perdamaian dengan suku pengelana dari timur. Sesuatu yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu kita selama berpuluh-puluh tahun. Ayahku meminta ayahmu pergi untuk memperbaiki kesalahannya, namun alih-alih meminta maaf, ia justru kembali membuat kerusuhan di sana! Suku-suku timurlah yang telah menghukumnya. Jangan menyalahkan ayahku. Ayahku selalu berkata bijak dan jujur, dan seluruh rakyat percaya padanya!”


“Hah, seluruh rakyat?” Rahzad menggeleng-geleng. “Apa kau yakin? Kau masih percaya soal itu bahkan setelah berpuluh-puluh tahun? Jika benar seluruh rakyat percaya padanya, mengapa mereka bersedia mengikutiku melawan ayahmu? Kenapa, Teeza?”


Teeza terdiam, matanya mengerjap. Pikirannya kembali berputar-putar. Ia memandangi Rahzad dengan garang, lalu membuang muka. Tiba-tiba ia menjadi bingung.


“Kau harus tahu, aku pun tak ingin pertumpahan darah terjadi,” lanjut Rahzad. “Sebelum pertempuran itu, aku sebenarnya hanya bertanya pada ayahmu. Tetapi apa yang terjadi? Ia justru malah hendak menghukumku. Bagaimana aku bisa menerimanya? Apakah ia memang hendak menghancurkan seluruh keluargaku? Setelah ayahku, sekarang aku? Aku menyesal semua ini akhirnya terjadi, tetapi kau mestinya tahu aku tak punya pilihan.”


“Kau menyesal, katamu?” Teeza menggeram. “Tidak. Sama sekali tidak! Jika menyesal, kau akan menghentikan tindakan jahatmu sampai di situ. Nyatanya kau malah membunuh semua orang yang menentangmu. Kakakku, pengikut ayahku, bahkan abangmu sendiri yang telah membela kami pun kau bunuh! Kekejianmu takkan termaafkan sampai kapan pun!”


Rahzad menggeleng-geleng, tampak kesal. “Justru inilah yang aku ingin kau tahu, Teeza. Yang sebenarnya. Setelah kematian ayahmu, kakakmu menghasut semua orang agar menyerangku dan juga rakyat yang berdiri di belakangku. Dialah yang memicu pertumpahan darah, bukan aku. Kapan kau sadar, bahwa selama ini aku berdiri di pihak yang benar? Rakyat sudah lelah dan kecewa dengan ayahmu, dengan keputusannya untuk terus berdamai dengan suku-suku timur kurang ajar yang selalu melecehkan kita. Kita bangsa besar, seharusnya kita melakukan hal besar pula! Aku mewakili keinginan rakyat yang tidak ingin terus diinjak-injak. Siapa pun yang mengatakan hal yang sebaliknya padamu, dialah yang salah karena telah menghasutmu!”


Pikiran Teeza kembali berputar tak terkendali. Keraguannya muncul tanpa mampu ia tahan. Anggapannya selama ini bahwa Rahzad adalah penyebab kehancuran bangsa-bangsa di utara adalah salah?! Tidak masuk akal, seru Teeza dalam hati. Tak mungkin ia tertipu selama berpuluh-puluh tahun!


“Niordri, apa sebenarnya maksudmu mengatakan ini?” Teeza bertanya, dan cukup senang karena suaranya kini terdengar lebih stabil dan bahkan mengancam, tak lagi penuh emosi, walaupun dendam itu masih menggumpal. Ia tak ingin Rahzad menganggapnya sebagai orang yang mudah diintimidasi. “Kau memintaku untuk percaya padamu? Baik, anggap saja aku percaya, tapi untuk apa?”


“Tentunya kau ingat apa yang pernah kusampaikan padamu di Akkad. Tentang makhluk bernama Nergal, dan bagaimana cara kita melawannya?” Rahzad mencondongkan tubuhnya dan menatap Teeza tajam. “Kau masih ingat?”


Teeza membalas tatapannya tanpa takut. “Ya, katamu aku punya senjata untuk melawan makhluk itu. Tapi maaf, walaupun kini aku hampir mengingat seluruh masa hidupku, aku tetap belum paham maksud ucapanmu.”


“Pusaka warisan ayahmu, Teeza.”


“Ayahku tak mewariskan apa pun padaku selain ajaran dan kenangan!” seru Teeza. “Dan semuanya itu adalah hal-hal yang baik. Ya, mungkin saja ia akan mewariskan sesuatu lebih dari itu, jika saja kau tidak membunuhnya terlebih dahulu!”


Rahzad mundur, seperti berusaha menjauh dari aura dendam Teeza yang kembali membara. “Warisan itu ada, Teeza, tetapi kau belum menyadarinya,” ia berkata, tampak hati-hati. “Atau mungkin sudah, tetapi kau tak mau memberitahukannya padaku.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2