Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 98 ~ Doa


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 98 ~ Doa


Karya R.D. Villam


 


---


 


Lelaki itu melenting, datang mendekat dengan gerakan cepat, yang hampir saja lolos dari penglihatan Teeza. Untungnya gadis itu bisa melihat ayunan pedang musuhnya. Ia melompat ke samping, menghindar, kemudian tanpa membuang waktu langsung balas menebas.


Kedua pedang beradu dahsyat dengan suara menggelegar. Getaran akibat hantaman itu merambat cepat dari jemari, lengan, bahu bahkan sampai ke ujung kaki Teeza. Bersama pedangnya tubuh Teeza terlempar, lalu terhempas ke lantai gua. Ia berusaha cepat-cepat bangkit, tetapi malah tersedak dan memuntahkan darah. Jantungnya serasa dihantam palu.


“Kau lihat? Lemah.” Nergal menyeringai. Ia menunggu sampai Teeza berhasil berdiri sepenuhnya, baru kemudian mendekat lagi. Pedangnya kembali terayun.


Teeza terlalu lemah untuk menghindar. Ia hanya bisa menangkis dengan tenaganya yang tersisa. Hantaman dahsyat Nergal datang bagai pukulan godam raksasa. Sekali lagi tubuh Teeza jatuh terhempas. Terkapar di tanah berbatu, kesadarannya hilang sesaat.


“Ingat … ingat dirimu …”


Suara itu, entah suara siapa, datang menghampiri telinganya.


Hanya sebentar, karena kemudian tawa Nergal kembali terdengar.


“Lemah!” seru makhluk itu. “Kupikir kau berbeda dengan Rahzad, tetapi ternyata tidak. Kau sama saja dengan dia!”


Berbeda? Dalam sakitnya Teeza mencoba mencerna ucapan terakhir Nergal. Tentu saja Teeza berbeda dengan Rahzad! Rahzad kuat melebihi manusia mana pun, bagaimana bisa Teeza menyamainya?


Atau bukan kekuatan yang dimaksud olehnya?


Ingat …


Apakah kata-kata tadi punya arti?


Teeza bergegas bangkit. Waktunya tidak banyak. Belum sempurna ia berdiri, pedang Nergal menghantamnya sekali lagi.


“TEEZAAA!” Jeritan itu sampai di telinganya.


Suara itu … Naia?


Bukan …. Itu suara Ramir …


Rasa sakit menghantam punggung Teeza. Darah mencuat lagi dari dalam mulutnya. Di depan dinding gua Teeza berdiri dengan tubuh gemetar, membungkuk kepayahan. Tetapi kedua tangannya masih erat menggenggam pedang. Jangan sampai terlepas. Selama pedangnya itu belum terlepas, ia belum akan mati. Tetapi mungkin ... ini saat-saat terakhir.


Teeza mengangkat wajah, menatap Nergal yang menyeringai lebar.


Terkutuk!


Ramir, kau mendatangiku bukan supaya aku menghadapi makhluk terkutuk ini, bukan?

__ADS_1


Ataukah … justru memang untuk ini?


Tetapi kenapa kau datang sekarang?


Kenapa kau datang dulu?


Kenapa aku memanggilmu?


Apakah memang untuk ini? Sejak awal sebelum semuanya terjadi?


Tolong, aku dulu meminta ...


Tolong …


“Arante …” Teeza mengucap lirih.


Makhluk terkutuk di depannya tertegun.


Tampak jelas perubahan di wajah makhluk itu. Melihat reaksi itu Teeza tiba-tiba tersadar. Mungkin ia memang harus meminta. Tetapi bukan pada Ramir, atau siapa pun manusia lainnya.


“Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira,” Teeza berkata sambil menegakkan tubuhnya, berusaha tak mempedulikan rasa sakit. Pedangnya terangkat tinggi.


Di depannya Nergal hanya memandang dengan wajah pucat.


“Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira,” lanjut Teeza lebih lantang. “Uis kisa ren entara, kuiva. Uis tera din eidara, eista. Arante, rei.”


Teeza ingat semuanya. Kata-kata doa dalam bahasa ibunya yang sudah lama ia lupakan. Memohon perlindungan dan pertolongan pada Sang Pencipta.


Menunggu.


Di depannya Nergal juga menunggu.


Lama. Dan tak terjadi apa pun.


Tak ada pertolongan yang datang, apa pun itu.


Nergal tersenyum, semakin lebar, dan akhirnya terbahak-bahak. “Doa! Doa!” serunya. “Kalau hanya doa, aku pun bisa! Aku pun punya doa! Dan doaku lebih kuat daripada doamu! Apa kau tidak tahu, bahwa sebelum ada manusia, kaum kami adalah yang paling terhormat? Tempat kami jauh di atas kalian! Doa kami lebih tinggi nilainya dibanding doa kalian!”


Teeza terhenyak tak percaya. Air matanya bergulir.


Jadi benar keraguannya selama ini, bahwa semua doa itu sia-sia belaka? Atau seperti kata Nergal, doanya kalah dengan doa milik makhluk terkutuk itu?


Tuhan, benar seperti itu? Kau tak mau menolong? Atau memang tak bisa menolong?


Apa aku salah telah percaya padaMu?


Matanya terpejam.


Lemah. Sama seperti Rahzad …


Dia yang … tak percaya lagi pada-Mu.

__ADS_1


Teeza tertegun, tersadar.


Ya, ia memang salah. Tetapi bukan salah karena ia percaya, melainkan salah karena ia tak lagi percaya.


Doa bukan hanya sekadar kata-kata. Itu datang dari hati.


Teeza menangis begitu ia sadar, lalu berkata lirih, sepenuh hati, “Tuhan, kepada-Mu aku berlindung, kepada-Mu aku kembali. Bawalah aku ke sisi-Mu, matikan aku dalam cahaya-Mu. Aku percaya.”


Ia menatap garang ke arah Nergal. Lelaki itu terpaku, kemudian meraung marah dan mengayunkan pedangnya. Namun Teeza tak lagi takut. Ia sudah siap, jiwa dan raga, untuk apa pun. Pedangnya balas terayun. Cahaya putih menyilaukan datang bersamanya, menyambar pedang si makhluk terkutuk. Nergal terdorong mundur. Dia melotot, lalu kembali menyerang. Sekali lagi Teeza menangkis, dengan energi besar yang membuat pedang musuhnya bergetar.


Sorot mata Nergal berubah. Ia mendongak, menggigil beberapa saat seolah melihat sesuatu yang mengerikan di atas kepala Teeza, kemudian menggeleng-geleng. “Kau pikir … kau bisa mengalahkan aku sekarang?!”


Serentetan kata-kata asing meluncur dari mulutnya; sebuah nama, atau mungkin sekadar makian. Kata-kata yang tak akan mampu terucap lidah manusia. Yang mungkin bukan ditujukan pada Teeza.


Mata makhluk terkutuk itu membara. Seringai menyeramkan tersungging di bibirnya. Ia mengayunkan lagi pedangnya, bersamaan dengan balasan Teeza berikutnya.


Kedua senjata beradu. Dentuman keras terdengar. Teeza terkejut karena kali ini hantaman Nergal lebih kuat daripada sebelumnya. Gadis itu terdorong mundur. Pedang Nergal kembali berkelebat, dan kali ini Teeza gagal bereaksi. Pedang Nergal bergerak sangat cepat ke arah jantungnya. Pada titik waktu yang hanya sekejap mata itulah Teeza merasakan maut kembali menghampiri, dan kali ini tak ada lagi yang bisa ia lakukan.


Ia menjerit dalam hati. Ia pasti mati sekarang!


Namun terjadi hal berikutnya yang di luar dugaan. Begitu ujung pedang Nergal hampir menyentuh tubuh Teeza, mendadak pedang itu terpental.


Teeza terpana, Nergal terkesiap.


Sambil menggeram keras Nergal mengayunkan pedangnya sekali lagi, melingkar dari samping, mengarah ke bahu Teeza. Tetapi seperti halnya tadi pedang tersebut terpental seakan ada kekuatan lain yang mendorongnya.


Keduanya saling menatap, sama-sama belum mengerti.


Teeza meringis dan mengangkat pedangnya, kini siap balik menyerang. Nergal cepat-cepat melangkah mundur. Makhluk itu melotot penuh amarah.


“Dia tidak bisa membunuhmu, Teeza!”


Seruan terdengar dari celah di atas dinding gua.


Naia!? Teeza mendongak. Benar, gadis Ebla itu ada di sana, diapit oleh beberapa orang lainnya: Fares, Rifa dan ... pasti juga ada Ramir di belakang mereka.


Tetapi Teeza tetap belum mengerti. Ia segera kembali memandangi musuh di depannya.


“Aku dulu punya dua syarat untuknya!” seru Naia lagi, “supaya ia bisa membawa pasukannya ke bumi. Pertama, membunuh Rahzad, dan kedua, menyelamatkan dirimu! Aku belum paham, tapi mungkin inilah alasannya. Makhluk terkutuk ini tak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syarat itu! Ia tak bisa membunuhmu, Teeza!”


Nergal menggeleng, dan justru kembali menyeringai. “Tuan Putri Naia, dari mana pemikiran aneh ini tiba-tiba muncul di kepalamu? Jangan terlalu yakin. Kalian pikir kalian bisa percaya pada sebuah janji yang kubuat untuk makhluk rendah semacam kalian?”


“Ucapanmu dulu bukan janji biasa!” balas Naia. “Kau tidak hanya berjanji padaku, tapi juga pada sesuatu yang jauh lebih kuat dan berkuasa daripada dirimu! Aku memang memintamu datang, tetapi tidak mungkin kau bisa mendatangkan seluruh prajuritmu ke dunia manusia begitu saja. Kau bisa lihat sendiri buktinya tadi, bukan? Kau tak bisa melukai Teeza!”


Nergal menggeram. Sorot matanya merah membara, membuatnya tampak semakin menakutkan di balik wajahnya yang tampan. Namun Naia belum selesai dengan ejekannya. “Dan kau lihat juga nanti, pada akhirnya bukan kau yang tertawa paling akhir!”


Nergal mendongak dan matanya menyorot semakin tajam. Tiba-tiba ia kembali tampak berbahaya. “Tuan Putri, kau berbicara terlalu banyak. Aku bisa lepas dari syarat itu, dan aku bisa membunuh gadis Kaspia ini … asalkan aku membunuhmu terlebih dulu!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2