
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 100 ~ Melepaskan
Karya R.D. Villam
---
“Aku duluan!” seru Fares. “Rifa! Talinya!”
Teeza memperhatikan saat pemuda itu mengambil segulungan tali tebal dari sampingnya lalu melemparkannya ke bawah tebing. Fares tampak menjulurkan kakinya dan tangan kirinya berpegangan pada tali yang menjuntai, kemudian mulai merayap turun di dinding gua.
Di dasar gua Teeza kembali memandangi Elanna. Dibelainya rambut emas wanita itu.
“Ramir datang sebentar lagi. Ia akan menyembuhkanmu!” serunya gugup.
Elanna mengangguk lemah. “Ramir ... ya, dia anak yang baik. Penyembuh yang baik. Tetapi … dia tak akan mampu .... Jangan paksa dia, Teeza. Jangan paksa ...”
Teeza tak mampu menahan air matanya yang mulai bergulir. “Seharusnya tidak seperti ini! Kalau saja aku datang lebih cepat …”
Suara lain kemudian terdengar, “Itu bukan salahmu, Teeza. Itu salahku.”
Rahzad terbaring tanpa daya, tetapi senyuman penuh sesalnya tersungging. Ada sesuatu yang berbeda. Teeza yakin, itu adalah senyuman tertulus yang pernah dilihatnya dari lelaki itu.
“Elanna, kakakku,” Rahzad berkata. “Aku yang harus minta maaf, karena tidak bisa menolongmu ...”
“Kau yang membunuh gharoul itu, Niordri?” tanya Teeza.
“Ya, aku ... tetapi aku terlambat.” Rahzad tersenyum pahit. “Maafkan aku, Teeza, seharusnya tadi aku turun bersamamu, dan tidak berusaha melawan Nergal.”
Teeza menatapnya beberapa saat, berusaha mengingat-ingat, lalu mengangguk. “Ya.”
Walau demikian dalam hati ia tidak yakin. Jika Rahzad tidak bertarung melawan Nergal sebelum ini, apakah itu akan membuat keadaan sekarang jadi lebih baik?
“Bahkan mungkin sebaiknya aku meminta maaf,” lanjut Rahzad sambil meringis menahan sakit. “… atas semua yang telah terjadi di masa lampau. Kepada kalian, dan juga kepada kalian,” ia berkata pada Fares dan Naia yang baru saja datang ke samping Teeza. “Kematian ... kehancuran ... semua keburukan yang datang ... aku percaya, bukan semua salahku, tetapi … kurasa aku tetap harus meminta maaf. Aku tahu kalian semua pasti akan sulit memaafkan, tetapi aku … tak punya kata-kata lain. Aku menyesal.”
Hening. Semua terdiam. Mungkin ... hanya suara getar di dinding gua yang terdengar di telinga setiap orang. Suara getar yang sepertinya semakin keras.
Sepertinya tak satu pun yang mengira Rahzad bakal mengucapkan kata-kata seperti itu. Namun Teeza mengenal laki-laki itu, lebih dari siapa pun di samping Elanna, dan ia tahu kapan Rahzad benar-benar menyesal. Itu saat ini.
Ia pun menjawab, “Aku memaafkanmu.”
Elanna memandangi Teeza, lalu menoleh dan mengangguk pula pada adiknya. “Teeza memaafkanmu. Maka aku memaafkanmu juga, Niordri.”
Sementara Naia masih menatap Rahzad dalam-dalam, sebelum kemudian menjawab pula, “Jika kau benar-benar menyesal, aku memaafkanmu.”
“Terima kasih.” Hembusan napas lega terdengar dan bahkan sinar cerah seolah terpancar di wajah Rahzad. Lelaki itu membiarkan dirinya terbaring menatap langit-langit, tersenyum. “Pengampunan dari seluruh musuh di saat ajal menjelang; tak banyak orang yang bisa mendapatkan ini. Aku mendapatkannya, karenanya aku bisa menganggap diriku sebagai seorang yang beruntung. Terima kasih ...”
__ADS_1
“Dan, Teeza ...” Ia menoleh lemah. “Kau bilang aku akan menyesal mati sekarang, jika tujuanku belum tercapai? Tidak ... aku tidak menyesal. Pertama ... karena akhirnya aku bisa melihat ... apa sebenarnya yang diwariskan oleh ayahmu. Aku tak bisa melihat sosok pelindungmu, tapi aku tahu dia ada. Selama ini dia ada di dalam dirimu ... tanpa kau sadari, dan sungguh itu adalah senjata yang sangat kuat. Semoga Tuhan mengampuniku.”
“Ya ...” Teeza menjawab dengan bibir bergetar.
“Lalu kedua ... aku tidak menyesal, karena aku ... mati untuk menolong seseorang yang aku cintai.” Rahzad tersenyum lemah. “Bahkan dua orang, bukan hanya satu.”
“Aku … dan Elanna?”
“Ya.”
“Tetapi, saat melawan Nergal, kau bilang kau tak peduli pada keselamatan Elanna!”
Rahzad tertawa pahit. “Dan kau percaya begitu saja, Teeza?”
Teeza terpana. “Maksudmu, itu hanya siasat?”
“Aku ingin Nergal yang percaya, bukan kau.”
“Niordri …”
“Kau memang selalu terlambat untuk mengerti, Teeza.”
Perasaan Teeza campur aduk. “Maafkan aku …”
“Tidak. Itu salahku. Tetapi tidak apa. Sudah berlalu …” Laki-laki tampan berambut emas itu, yang ternyata benar-benar mencintainya sepenuh hati, tersenyum dan memejamkan mata.
Kali ini untuk yang terakhir.
“Apa yang sudah terjadi, terjadilah, Teeza ...” Elanna yang masih terbaring berkata lirih. “Kau tak bisa mengubah itu.”
“Ya … aku tahu …”
“Niordri mati dengan tersenyum. Dan semoga aku juga bisa begitu …”
Teeza menggeleng tak mengerti. “Kau? Tidak! Kau tidak akan—”
“Ramir …” Elanna memandangi seseorang yang berdiri di antara Naia dan Fares. “Dia mengerti maksudku.”
Teeza menoleh, memandangi Ramir, bertanya-tanya.
Gugup, pemuda tanggung itu berkata, “Kau bahagia, Elanna … karena akhirnya bisa bertemu lagi … dengan Haladir?”
“Ya.” Elanna tersenyum. “Selamanya kini, kuharap …”
Ramir mengangguk. “Dia sudah menunggumu.”
“Terima kasih, Ramir. Aku berdoa pada Tuhan, semoga akhirnya kau bisa menemukan jalan yang kau cari. Aku belum sempat mengajarimu lebih banyak, tentang … ilmu itu. Maaf.”
“Aku akan mencari semuanya sendiri, Elanna,” jawab Ramir. “Jangan khawatir.”
Elanna mengangguk. “Aku percaya. Lakukanlah ...” Ia menoleh perlahan. “Dan padamu, Teeza, maaf, aku tak bisa menemanimu pulang ke negeri kita di utara. Tapi ... jika ternyata kau bisa sampai di sana, aku punya satu permintaan .... Rawatlah makam ayah dan ibuku dengan baik, sebagaimana kau merawat makam ayah dan ibumu nanti. Bisakah kau?”
__ADS_1
Teeza mengangguk, tak mampu lagi bersuara. Ia mencoba tersenyum, dan Elanna membalas senyumannya.
Selepas itu, nyawa gadis berambut emas itu meninggalkan tubuhnya.
Sekali lagi Teeza menangis.
Untuk beberapa lama Teeza menunduk sambil terus memeluk tubuh Elanna, sampai seseorang kemudian menyentuh bahunya.
“Teeza.”
Teeza menoleh. Matanya bertemu dengan mata bundar Naia yang tampak basah.
“Kita harus cepat pergi.”
Dada Teeza bergemuruh. Naia berkata dengan lembut. Apakah berarti Naia telah memaafkan semua tindakan buruk yang telah dilakukannya saat ia hilang ingatan? Jika itu benar, Teeza ingin memeluk gadis itu, sambil berharap Naia pun akan membalasnya dengan hangat. Jika itu benar.
Teeza memandang berkeliling. Batu-batu gua yang berguguran semakin banyak, dan semakin besar pula ukurannya. Sepertinya gua ini akan segera hancur. Sudah waktunya mereka pergi, sudah waktunya pula Teeza meninggalkan jasad Elanna dan Rahzad.
“Naiklah kalian,” katanya. “Biar aku yang terakhir.”
Fares memanjat tebing pertama kali, dibantu oleh Rifa yang memegang tali di atas. Kemudian Naia. Ketika tinggal Ramir dan Teeza di bawah, keduanya berpandangan beberapa saat.
Ada banyak hal yang ingin disampaikan, dan juga ditanyakan oleh Teeza pada pemuda itu, tetapi ... mungkin sekarang bukan yang tepat.
Ramir tersenyum. Teeza membalas.
“Naiklah, Ramir. Semoga kita selamat. Aku ingin berbincang denganmu nanti.”
Pemuda itu memanjat dan merayap di dinding gua. Ia berhasil, dan Teeza menyusul. Dengan lincah ia naik, tetapi hanya tinggal satu tombak dari celah sempit, getaran tiba-tiba berhenti. Teeza tertegun. Di atas tebing Naia dan yang lainnya saling menatap bingung.
“Ah! Ada yang aneh dengan gua sialan ini!” seru Fares. “Ayo! Kita harus secepatnya keluar dari tempat terkutuk ini!” Pemuda itu menarik tali dengan tenaganya yang besar.
Dalam sesaat Teeza sudah bisa melompat dan sampai di sampingnya.
“Ayo!” Rifa berlari di depan, disusul Naia, lalu seorang penjaga gua yang belum dikenal Teeza, Fares, Ramir, dan terakhir Teeza.
Mereka berlari menyusuri lorong sempit. Licin dan menanjak. Cukup melelahkan dan membuat mereka tergelincir beberapa kali.
Tiba-tiba, gema tawa datang menyelimuti. Disusul suara seseorang.
“Kalian pikir kalian bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini?”
Semua orang terhenti, menggigil ketakutan.
Suara itu berkata lagi, “Hambalah, sekarang, penguasa gua ini. Yang berkuasa melepaskan, atau menahan kalian.”
“Davagni!” Naia memandang berkeliling ke seluruh dinding gua. “Makhluk terkutuk, kau belum mati? Di mana kau? Keluar!”
__ADS_1