Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 101 ~ Penguasa Gua


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 101 ~ Penguasa Gua


Karya R.D. Villam


 


---


 


Napas Teeza tertahan begitu mendengar suara Davagni.


Davagni belum mati, atau musnah? Jadi tadi Teeza belum mengirimnya ke dunia lain bersama Nergal? Apa yang dilakukan makhluk terkutuk itu sekarang?


Ketakutan Teeza tumbuh, begitu menyadari bahwa ucapan Nergal bisa jadi benar. Davagni mungkin punya siasat licik satu lagi, dan Teeza tadi telah membuat kesalahan dengan ‘membunuhnya’. Sepertinya Davagni sudah merencanakan hal ini.


Naia, Fares, Rifa dan Ramir memandangi Teeza dengan wajah pucat. Teeza balik menatap sambil berusaha menenangkan diri. Sebagai orang yang dianggap paling kuat dan terampil di tempat ini, tentu saja ia harus tampil lebih meyakinkan.


Teeza mengetuk dinding gua dengan ujung pedang. “Kau bicara pada kami, Davagni? Tunjukkan wajahmu! Atau … sekarang kau tidak lagi punya nyali?”


Tawa makhluk itu kembali terdengar, semakin membahana. “Kau sendiri tidak takut, Teeza, akhirnya mati di tempat ini? Menyusul Elanna dan Rahzad?”


“Tidak, aku tidak takut.”


“Kau tidak takut juga teman-temanmu mati di sini bersamamu?”


Kali ini Teeza terdiam.


Ia lalu berkata dengan suara lirih, “Ampuni mereka. Biarkan mereka pergi.”


“Mulia sekali dirimu.”


“Kau hanya menginginkan diriku, bukan? Benar?”


Davagni tertawa kecil. “Mungkin. Tampaknya kau adalah Sang Terpilih, bukan? Musuh utama setiap makhluk terkutuk? Jadi tentu saja mereka menginginkan dirimu mati.”


Teeza mengerutkan dahi. “Aku? Sang Terpilih?”


Naia dan seluruh rekannya menoleh, memandangi dirinya lagi, tak kalah terkejut.

__ADS_1


Sang Terpilih? Bukankah seharusnya itu sebutan untuk Naia?


Teeza semakin bingung. Mengapa Davagni berkata bahwa ialah Sang Terpilih?


Tidak, makhluk ini pasti hanya sekadar mengejek!


Kemudian Teeza berpikir cepat. Mungkin saja Davagni bermaksud lain, dengan berusaha mengambil sandera di gua ini, sebagai alat untuk tawar-menawar menghadapi kelompok Kubah Putih. Kalau benar begitu, sebaiknya Teeza cepat-cepat saja mengaku sebagai Sang Terpilih, daripada Naia yang nanti diambil dan disekap di gua ini oleh Davagni.


“Ya, akulah Sang Terpilih,” lanjutnya.


Mendengarnya, Davagni malah tertawa keras membahana. “Begitukah? Jadi kau benar-benar berpikir begitu? Ketahuilah, Sang Terpilih hanyalah istilah yang dibuat oleh manusia, oleh orang-orang Kubah Putih! Jangan bingung, dan tak perlu mengaku-ngaku sesuatu yang tidak kaupahami, Teeza. Ya, tentu saja mereka punya pendapat sendiri, lalu memilih Sang Terpilih mereka sendiri, dan ya ... terus terang hamba pun tak berani macam-macam pada mereka. Tetapi bagi hamba, yang telah melihat sesuatu yang bertempur bersamamu tadi, hamba tahu, tidak mungkin tidak, kaulah orangnya, yang paling pantas untuk ditakuti.”


“Apa yang kau lihat … bertempur bersamaku?”


“Sesuatu, yang hanya makhluk seperti kami yang bisa melihat. Pelindungmu. Pelindung ayahmu.”


Masih ragu, Teeza menghembuskan napas perlahan, lalu mengangguk. “Kalau begitu, lakukanlah. Kau menginginkan diriku di sini bersamamu? Maka ambillah, dan bebaskan semua temanku!”


“Tidak!” Naia menjerit kencang. “Davagni, kumohon, jika kau memang berkuasa atas gua ini, bebaskan kami semua, termasuk Teeza!”


“Sebentar. Bukannya Tuhan yang berkuasa atas segala hal?” gumam Ramir.


“Ya, betul,” tukas Fares seketika. “Kau hanya menggertak, Davagni!”


“Dan kau tahu kenapa hamba kini tidak peduli? Karena seperti kalian, seperti itulah hamba sekarang, bebas memilih apa yang akan hamba lakukan. Membebaskan atau menahan kalian, tanpa harus merasa takut, kepada Nergal, kepada bekas tuan hamba, atau makhluk-makhluk lainnya. Hanya satu yang hamba takuti, dan tentunya kau tahu siapa. Hanya Dia yang bisa membatasi pilihan-pilihan hamba.


“Lalu mungkin kau akan bertanya, bagaimana hamba bisa menjadi seperti ini? Mungkin kau akan menjawab sendiri, bahwa itu karena pedangmu, Pedang Rahzad, yang kokoh dan pernah diberi api Ishtar, yang ditakuti banyak orang dan bersinar putih menyilaukan. Tetapi bukan itu. Dirimulah yang membuat pedang itu menembus jantung Nergal, dan jantung hamba, dengan kekuatan yang datang bersamamu.


“Teeza, kau mengantar Nergal kembali ke dunianya. Tetapi hamba, tidak. Tubuh hamba hancur jadi debu. Namun hamba lalu diberi jalan. Hamba diberi kesempatan mengabdi, kepada Tuhan hamba, Tuhanmu, di gua ini. Dalam gua ini. Menjadi gua ini. Hamba tak akan bisa ke mana-mana, tetapi inilah jalan yang hamba pilih. Dan hamba senang. Kau tahu kenapa? Karena hadiah besar menanti hamba di akhir masa. Tetapi hadiah itu, tentu saja, tergantung pada apa yang akan hamba lakukan sekarang, pada kalian.”


Davagni menutup ceramah panjangnya dengan tawa kecil. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya; Teeza dan rekan-rekannya diceramahi tentang Tuhan oleh makhluk yang selama ini mereka anggap sebagai makhluk terkutuk.


Teeza mengatur napasnya. “Baiklah, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”


“Membebaskan kalian, tentu saja,” jawab Davagni riang.


Teeza dan yang lainnya saling menatap.


“Kau … kau serius?” Fares meyakinkan.


“Ya, Tuan Fares! Atau kau mau hamba mengubah pilihan?”

__ADS_1


Fares meringis. “Tidak, tidak.”


“Keluarlah kalian semua. Lorong ini aman, gua ini aman, selama kalian tidak meyakiti hamba, dengan memukul batu-batu itu, misalnya. Kalian dan pasukan Elam juga akan aman di luar. Orang-orang Akkadia tidak akan berani mengganggu sampai kalian pulang, hamba jamin. Perjalanan panjang kalian ke timur, maaf, hamba tak bisa mengantar, tetapi kalian semua orang-orang yang kuat, bukan?”


“Ya. Terima kasih, Davagni,” kata Rifa setelah lama terdiam. “Kau … kau makhluk yang baik.”


“Ya, ya, ya,” Davagni menukas. “Akhirnya, pujian pertama. Malaikat, catat itu.”


“Apakah kami bisa bertemu denganmu lagi?” tanya Ramir dengan ragu.


“Denganmu, Ramir? Mungkin bisa, dalam mimpimu. Itu cukup?”


Ramir tersenyum lebar. “Ya, itu cukup.”


“Tetapi mestinya kau tahu, itu bukan diri hamba yang sesungguhnya. Tidak akan tampak hebat seperti aslinya, apalagi kalau imajinasimu terbatas.” Suara tawa Davagni terdengar lagi. “Nah, siapa lagi yang ingin mengucapkan kata perpisahan pada hamba?”


“Aku,” kata Naia. “Tetapi sebenarnya, aku berharap ini bukan perpisahan.”


“Mungkin saja kita berdua akan bertemu lagi nanti, Tuan Putri. Atau … ya, hamba rasa itu pasti akan terjadi. Pastikan kau bisa menemui hamba nanti, di dunia selanjutnya, di tempat yang baik, tentu saja.”


Naia mengangguk. “Aku mengerti. Tempat yang baik. Tetapi … untuk itu ada sesuatu yang harus kulakukan.” Gadis itu tampak termenung, sebelum kemudian ia tersenyum lagi.


“Hei, Davagni,” seru Fares. “Apa pun yang terjadi, aku senang. Aku belum begitu paham apa yang kau bicarakan tadi, tapi aku senang, akhirnya kau bisa menyelesaikan sisa hidupmu dengan damai.”


“Terima kasih. Tuan Fares, jaga Tuan Putri baik-baik. Jangan pernah lepaskan dia. Hmm … kau paham maksud hamba jika kau memang pintar.”


“Aku paham.” Fares melirik Naia. Keduanya saling menatap.


Mereka berdua memang punya masalah yang belum selesai, Teeza tahu itu. Lalu ia termangu, ia pun punya sesuatu yang harus diselesaikan.


“Ya, lakukan apa yang kau bisa, Tuan Fares. Ikuti kata hatimu,” kata Davagni. “Nah, sudah semuanya? Ah, tinggal kau, Teeza. Apa yang ingin kaukatakan?”


“Tak banyak lagi, Davagni.” Teeza menepuk dengan lembut dinding gua di sampingnya. “Pada akhirnya aku hanya ingin berkata, terima kasih. Kau telah menolong kami semua.”


“Ah, kau membuat hamba terharu!” Suara  tawa kecil Davagni terdengar. “Kaulah yang telah menolong hamba, Teeza. Kalian semua. Terima kasih.”


“Selamat tinggal, Davagni.”


“Selamat tinggal, kalian semua! Hamba undur diri. Oh, salam untuk teman-teman kita dari Kubah Putih. Maaf mengecewakan mereka, karena sayang sekali hamba tak bisa tinggal lagi di rumah mereka.”


Tawa mengejek Davagni membahana untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


 


 


__ADS_2