
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 30 ~ Pembantaian
Karya R.D. Villam
---
Fares kini mengerti, Naia tidak membutuhkannya lagi. Naia benar, dia akan aman di Elam; Rahzad takkan mampu menjangkaunya di sana. Tetapi bisa jadi, ini juga salah satu bentuk hukuman, karena kecerobohan Fares yang telah mengakibatkan banyak rekan-rekannya tewas. Sebagai prajurit Fares tahu ia harus menerima perintah ini tanpa protes, walaupun sebenarnya ia terpukul karena telah mengecewakan Naia. Padahal ia selalu berharap bisa mengembalikan kehormatan ayahnya dengan menjadi pengawal terbaik. Tetapi mungkin, jika ia berhasil menyelesaikan tugas barunya, Fares bisa mendapatkan kehormatan itu kembali.
Ia pun mencoba tersenyum. “Aku siap melaksanakannya, Tuan Putri.”
Naia mengangguk, menerima penghormatannya.
"Tuan Putri!” Seruan Isfan terdengar dari utara.
Lelaki itu muncul dari balik batu-batu besar. Ia berlari kencang, diikuti oleh Zandi dan tiga orang prajurit Awan. Di hadapan Naia, Isfan mengatur napas, "pasukan Akkadia bergerak ke arah sini. Pasukan barion, tombak, pemanah. Jumlahnya mungkin lebih dari lima ratus orang.”
"Rahzad ada di sana?" tanya Naia tenang.
Sepertinya ia sama sekali tidak khawatir. Fares menebak, apakah gara-gara keberadaan makhluk-makhluk asing yang membawa mereka kemarin, yang membuat Naia tidak takut?
"Kami tidak tahu," jawab Isfan.
Naia mengangguk. “Ini saatnya kita pergi.”
Javad memimpin rombongan dan berlari paling depan. Mereka menyusuri tepian sungai berbatu ke arah selatan, hingga akhirnya tiba di tanah lapang berumput luas yang tersembunyi di balik tebing tinggi di sebelah barat. Sebentar lagi mereka akan tiba di Gerbang Sungai Tigris. Tinggal menunggu Naia, atau Javad, untuk membuka pintu gerbang. Tetapi sang putri ternyata tidak segera melakukannya, dan malah berjalan lebih jauh ke kaki tebing.
Di sana Naia menghentikan langkahnya dan berdiri tegak. Di sepanjang dinding tebing muncullah sosok-sosok gelap, yang seakan-akan muncul dari dalam batu. Di atas, di bawah, di kiri, di kanan tebing. Makhluk-makhluk asing berwujud manusia namun bukan manusia itu berdiri di sela-sela bebatuan sambil melipat tangan mereka di depan dada.
Fares menahan napas melihat kemunculan mereka yang bagai hantu, karena bisa jadi itulah mereka: hantu, atau makhluk dari dunia kegelapan, tak beda dengan Davagni. Davagni si makhluk kelabu, yang tinggi tubuhnya dua kali manusia biasa, juga muncul dari dalam dinding tebing. Di sebelahnya berdiri lelaki berjubah putih, pemimpin pasukan asing ini.
__ADS_1
Naia berkata pada makhluk itu, “Nergal, aku dan rekan-rekanku akan kembali ke Elam. Permasalahan dengan pasukan Akkadia kuserahkan padamu. Lakukan yang terbaik, aku akan mengawasimu dari Awan. Dan kau, Davagni, aku punya tugas lain untukmu. Antarkan Fares ke utara, ikuti Faruk sang altros, kau akan tahu ke mana nanti. Setelah itu lindungi Fares dan seluruh rombongannya sampai kembali ke sini dengan selamat. Mengerti?”
"Kami mengerti." Davagni dan Nergal membungkuk hormat.
Naia menoleh ke belakang, menatap Fares. Saat itulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fares bisa kembali melihat senyuman di wajah Naia, walau ini pun hanya senyuman tipis. "Fares, jaga dirimu. Aku akan menanti di sini, sepuluh hari dari sekarang."
Fares balas tersenyum dengan riang. “Tidak usah khawatir. Aku akan kembali.”
Naia mengangguk kecil, lalu memalingkan wajah. Ia berjalan ke tepi sungai bersama dengan Javad. “Kau yang akan membukanya, Javad?”
Javad menggeleng. “Kau saja, Naia.”
Naia menghela napas. Ia berjongkok di atas batu, menggulung lengan bajunya lalu mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air sungai.
Awalnya tak terjadi sesuatu yang luar biasa; sungai tetap mengalir seperti biasa. Namun perlahan air mulai beriak di sekitar tangan Naia. Mulanya hanya sebentuk gelombang kecil, namun lama-kelamaan air sungai mulai menggemuruh, dari tepi sungai hingga jauh ke tepian seberang, air berhenti mengalir dan terangkat tinggi ke udara.
Tenaga gaib yang muncul dari dasar sungai mengangkat gumpalan air raksasa ke udara, hingga membentuk lorong berdiameter tiga tombak, dari tepi barat hingga ke tepi timur sungai yang berjarak puluhan tombak. Di bagian dalam lorong air tersebut—di dasarnya—tersusun batu-batu kecil putih yang merata dari ujung ke ujung, membentuk sebuah jembatan kokoh. Setiap orang di tempat itu pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, dua atau tiga kali, tetapi tetap saja mereka tak mampu menghilangkan rasa takjub begitu melihatnya sekali lagi. Inilah Gerbang Sungai Tigris.
Naia berdiri. "Ayo. Kita pergi dari sini."
Sang raja Awan mencengkeram bahu Fares. “Seperti Naia, aku akan menunggumu di sini. Berhati-hatilah. Kalau bisa memilih, aku lebih suka ikut bersamamu.”
"Yang Mulia." Fares mengangguk hormat. "Kau tak usah khawatir. Aku pasti akan menemukan adikmu, dan kami akan segera kembali kemari."
"Terima kasih." Javad balas menghormat. Ia berbalik dan berlari memasuki Gerbang Sungai Tigris menyusul Naia dan para prajurit.
Fares berdiri tegak di ujung gerbang, menatap sosok Naia yang semakin menjauh. Segala sesuatu bisa berubah begitu cepat. Gembira dan sedih. Tangis dan amarah. Datang dan pergi. Dekat dan jauh. Fares tahu, tapi tetap saja ia tidak pernah mampu menduga apa yang akan terjadi. Isi hati Naia tak pernah bisa ditebaknya dengan benar. Gadis itu kini sudah sampai di seberang, cukup jauh hingga wajahnya tak tampak lagi dengan jelas, walaupun Fares masih bisa melihat lambaian tangannya.
Fares mengamati dinding air raksasa yang turun perlahan kembali ke sungai. Gelombang besar terjadi begitu air sampai ke dasar, membuat Fares mundur tiga langkah. Sesaat kemudian deru air kembali normal. Sungai mengalir seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Di kejauhan Naia dan rombongannya masih tampak, tetapi Fares tahu, ia tidak bisa berhubungan lagi dengan mereka, begitu Gerbang Sungai Tigris telah kembali tertutup.
"Tuan Fares." Suara berat Davagni terdengar di belakang Fares.
"Ya?" jawab Fares tanpa menengok.
"Pasukan Akkadia datang sebentar lagi. Nergal dan pasukannya akan menghadang mereka di balik bukit. Bakal terjadi pertemuran besar di sana. Hamba sarankan, lebih baik kita menghindar dan segera pergi ke utara. Altros itu sudah menunggu kita."
__ADS_1
Fares mendongak, memandangi Faruk yang tengah melayang di atasnya. Ia melihat ke arah tebing, di mana Nergal dan pasukannya sudah bersiap dengan pedang berkilat di tangan mereka. "Bawa aku ke atas bukit, Davagni. Aku ingin melihat apa yang terjadi."
"Tidak akan menyenangkan, Tuan. Tetapi terserah, jika itu maumu.”
Fares membiarkan tubuhnya diangkat oleh Davagni ke angkasa, dibawa ke puncak bukit berbatu. Mereka lalu bersembunyi di balik sebuah batu besar—yang bahkan lebih besar daripada tubuh Davagni. Pasukan Akkadia berjalan menyusuri lembah sepanjang kaki bukit. Lima ratus prajurit, sebagian bersenjatakan tombak dan sebagian lagi membawa busur dan panah, beberapa menunggang barion. Sebentar lagi mereka sampai di bawah tebing, tempat Fares dan rekan-rekannya tadi berkumpul.
"Berhenti!" Terdengar seruan dari arah depan barisan. Seorang pria bertubuh tegap yang menunggang barion mengangkat tangan kirinya. Ia menatap bergantian ke arah tebing, lalu ke arah sungai, seperti merasakan sesuatu yang aneh. "Siapkan tombak dan panah! Ada yang—"
Belum selesai ia berkata, kepalanya sudah melayang begitu tinggi. Sosok-sosok gelap bermunculan, terbang ke hadapan para prajurit Akkadia, membantai mereka bagaikan sambaran kilat. Angin menderu saat puluhan sosok bertubuh manusia namun bukan manusia itu berputar-putar, bergerak ke sana kemari sambil mengayunkan pedang mereka. Suara desingannya bersaing dengan jerit kematian para prajurit yang sahut menyahut tanpa henti.
Di atas bukit, Fares terpana menyaksikan proses pembantaian paling cepat yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Darah, kematian; ia sudah pernah menyaksikan semuanya, bahkan sering oleh tangannya sendiri. Tetapi pemandangan yang dilihatnya saat ini tak urung membuatnya ngeri. Lima ratus orang, semuanya mati hanya dalam beberapa detik.
Ia menggeleng-geleng. "Ini ... seperti ..."
"Neraka, Tuan?" Davagni membalas. "Sudah hamba bilang tadi, bukan, sebaiknya kau tidak melihat ini? Kau tidak akan suka."
"Tangan manusia takkan mampu berbuat sekeji ini."
Davagni tertawa. “Tangan manusia bisa lebih keji daripada ini. Jangan terpengaruh dengan cepatnya waktu nyawa-nyawa ini melayang, Tuan. Kau akan mengerti nanti.”
Fares mencoba tetap tenang. "Dengan bencana yang dibawa Nergal dan kawanannya ini, Rahzad tak mungkin punya kesempatan lagi, bukan?" Walaupun ia sangat mengharapkan kehancuran Rahzad, namun Fares tidak bisa merasa gembira sepenuhnya.
Davagni menggeleng. “Jangan mudah tertipu dengan apa yang kau lihat.”
"Maksudmu?" Fares melihat Nergal yang tengah berdiri di tepi sungai, sedang mengamati ratusan korban pasukannya.
"Ini hanya pancingan Rahzad. Kau tidak melihat ribuan prajuritnya di sini. Juga pasukan barionnya yang lengkap, dan juga pasukan Ishtaran. Rahzad menggunakan lima ratus orang malang ini hanya untuk mengetahui sejauh mana kekuatan Nergal dan pasukannya. Sampai kapan pun kita tetap tidak bisa meremehkan Rahzad, Tuan Fares.”
Gigi Fares bergemeretak menahan amarah. Betapa mudahnya Rahzad mengorbankan pasukannya sendiri. “Mungkin kau bisa bilang pada Nergal, Davagni, sebaiknya cukup Rahzad saja yang ia bunuh. Sedangkan pasukan sisanya biar menjadi urusan manusia biasa saja.”
"Kita lihat saja nanti. Tetapi sementara ini, ada hal lainnya yang lebih penting untuk kita lakukan, Tuan Fares."
"Aku tahu," tukas Fares. Ia melirik ke arah Faruk. Altros itu telah melayang lagi dengan damainya di angkasa. "Ayo."
__ADS_1