Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 56 ~ Bergerak Maju


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 56 ~ Bergerak Maju


Karya R.D. Villam


 


---


 


Semua berlangsung begitu cepat, tak lama setelah Teeza roboh terhantam tombak Javad. Sekali lagi Naia menjerit berusaha memanggil nama gadis berambut perak itu dan berlari mendekati tubuhnya yang tergeletak tak berdaya.


Sampai semua itu terjadi Fares tetap terpana, berdiri terpaku. Awalnya pemuda itu yakin bisa membujuk Teeza agar kembali sadar dan mau menyerah, atau paling tidak menangkapnya jika ternyata gadis itu nekat melawan. Namun kemarahan Javad dan Mehrdad, dan juga Rifa, tampaknya sudah begitu tebal. Melihat apa yang diperbuat Teeza hari ini Fares bisa memaklumi tindakan ketiganya. Apa pun itu, jika seandainya ia ingin mencegah, sepertinya sudah terlambat. Mungkin Teeza memang harus menemui ajalnya di sini. Mungkin itu lebih baik. Mungkin Naia, dan juga dirinya, harus bisa menerima kenyataan itu.


Fares bangkit, berlari mengejar Naia. Namun mendadak terdengar deru membahana dari lereng bukit di sebelah utara. Hewan paling mengerikan yang pernah dilihat oleh Fares—barion dalam sosoknya yang paling raksasa—melesat kencang ke arah mereka. Fares belum yakin mana yang paling berbahaya: barion tersebut, atau sang penunggangnya, Rahzad.


“Awas!” Fares menerkam Naia sebelum sang barion melakukannya lebih dulu.


Keduanya melayang. Gada Fares terayun, berjaga-jaga seandainya cakar si hewan buas menampar ke arahnya. Namun barion itu ternyata hanya melewatinya, melayang di atasnya. Sambil melindungi tubuh Naia, Fares menatap lesatan kilat musuhnya itu.


Empat cakar hewan itu berdebam di tanah. Penunggangnya menoleh, membalas tatapan Fares. Matanya biru tajam, yang kiri tertutup kibaran rambut pirangnya. Darah Fares membeku, antara marah dan juga takut, melihat sosok yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya, sekaligus menjebaknya.


“Senang bisa melihatmu lagi, Fares, tetapi maaf, aku belum bisa berurusan denganmu. Ada banyak iblis yang mendendam padaku.” Rahzad melirik ke belakang sambil mendengus, lalu membungkuk. Tangannya meraih pinggang Teeza. Dengan ringan ia mengangkat dan menaruh tubuh gadis itu tertelungkup di depannya, di punggung barionnya. “Sampai nanti. Kau juga, Putri Naia, kita bertemu lagi nanti. Akan kuurus kau nanti.”


Naia menggigil dalam pelukan Fares. Kali ini pasti karena amarah, bukan hanya takut. Sekejap kemudian Rahzad melesat bersama barionnya, ke arah selatan.

__ADS_1


Fares membantu Naia berdiri. Mereka saling bertatapan dengan Javad, Rifa dan Mehrdad. Untuk sesaat tak satu pun yang bicara. Semuanya seolah berusaha menebak apa yang ada dalam benak masing-masing. Namun dentuman keras dari utara membuat mereka menoleh bersamaan.


Di lereng bukit enam orang gadis berbaju merah melontarkan bola-bola api raksasa ke arah lelaki berjubah putih yang terjebak di balik sebuah batu besar. Batu itu hancur lebur, pecahannya melesat ke berbagai penjuru, dan lelaki itu hancur pula menjadi debu. Tetapi sesaat kemudian, muncul empat lelaki berjubah putih lainnya mengelilingi para gadis Akkadia perkasa itu. Empat pedang terayun, dua atau tiga kali begitu cepat, membantai keenam gadis itu.


Fares tercekat. Ia langsung teringat pemandangan yang dulu dilihatnya di tepi Sungai Tigris, saat Nergal dan kawanannya membantai pasukan Akkadia dengan begitu ringannya. Walaupun Fares sudah menyaksikan bagaimana ribuan prajurit di kaki bukit ini saling membunuh, tetap saja ia merinding saat melihat Nergal yang melakukan hal keji semacam itu. Di lereng bukit, selain tumpukan prajurit dan juga puluhan gadis berbaju merah yang terbaring tak bernyawa, ratusan barion juga sudah terkapar, sebagian dengan tubuh terbelah-belah.


Tetapi pasukan Akkadia juga telah bertempur hebat. Terbukti dari awalnya ada empat puluh prajurit Nergal, kini hanya tersisa lima. Yang lainnya sudah lenyap. Mati, atau mungkin kembali ke dunia terkutuk mereka—Fares tidak peduli. Ia memperhatikan Nergal dan kelima prajuritnya yang terbang mendekati mereka, lalu turun di hadapan Naia.


Naia memandangi lelaki tampan itu beberapa saat, lalu berkata, “Hanya kalian berenam?” Gadis itu tampak gugup. Fares memegang bahunya dengan lembut, mencoba menenangkannya.


Nergal menunduk hormat. “Ishtaran benar-benar musuh yang tangguh, hamba terpaksa mengakuinya. Ishtar telah memberi mereka kekuatan. Begitu pula barion; kami membunuh hewan-hewan itu, tetapi mahal harga yang harus kami bayar.”


Naia mengangguk pelan. “Dan Rahzad?”


“Ishtar memberkati pedangnya dengan darah dan api. Itu bukan api biasa, itu api Ishtar. Maafkan hamba, Tuan Putri, sepertinya hamba butuh waktu lebih lama untuk membunuhnya.”


“Tuan Putri ingin hamba mengejarnya?”


“Itu bagian dari tugasmu. Dan ingat, Nergal, aku dulu punya satu permintaan, syarat lainnya. Kau harus membawa Teeza padaku, dengan selamat.” Naia tercenung. “Kuharap … ia masih hidup.”


Nergal menatap gadis itu beberapa lama, kemudian mengangguk. “Baik. Jika dia masih hidup. Hamba pergi sekarang.” Bersama kelima prajuritnya, ia melesat terbang ke selatan.


Fares memandangi kepergiannya, sampai Naia kemudian memanggilnya.


“Fares, apakah kita menang hari ini?” tanya gadis itu, seolah tak yakin.


Fares termangu. Pertempuran memang telah berakhir. Tak ada lagi gempita senjata beradu. Di lembah luas sejauh mata memandang, di antara pekik kegembiraan dan kelegaan, yang terdengar hanyalah rintihan dari balik ribuan mayat yang bertumpuk-tumpuk. Para prajurit Elam mencari sumber suara tersebut. Jika yang ditemukan adalah sesama rekan mereka, mereka akan membantunya berdiri. Tetapi jika musuh, tentu saja langsung dibantai.

__ADS_1


“Sepertinya begitu,” jawab Fares. “Prajurit Akkadia yang tersisa mundur ke balik bukit. Tetapi aku belum tahu jumlah mereka.”


“Mereka masih punya empat ribu prajurit.” Javad mendekat, kini berdiri di samping Naia. “Dan kulihat masih ada sekitar seratus barion yang selamat, dan beberapa gadis berbaju merah itu. Sementara kita, mungkin sekitar sepuluh ribu prajurit yang tersisa. Akan kuperiksa jumlah pastinya nanti malam. Beberapa gajah selamat, tetapi kita kehilangan separuh pasukan.” Ia mendesah, kemudian menoleh, berusaha tersenyum. “Naia, kau baik-baik saja?”


“Ya.” Naia hanya menggumam. Fares memperhatikannya. Tampaknya gadis itu masih belum bisa menerima tindakan Javad yang menghunjamkan tombaknya ke tubuh Teeza.


“Syukurlah,” kata Javad. “Naia, mengenai Teeza, maaf ....”


“Aku mengerti,” Naia memotong, tampak tak ingin membahasnya.


Sang raja Awan mengangguk pelan, lalu memanggil, “Mehrdad.”


Lelaki gagah itu mendekat. “Ya, Yang Mulia?”


“Sampaikan pada seluruh kapten untuk menggerakkan pasukan. Kita kuasai puncak bukit malam ini. Saat fajar kita maju lagi ke barat, dan menghancurkan sisa pasukan Akkadia sebelum mereka bisa mencapai Akkad.”


Mehrdad meniup terompet gadingnya. Membahana. Suara-suara serupa mengalun dari segala penjuru lembah. Seluruh prajurit Elam mengatur barisan, lalu berseru. Ratusan kereta kuda yang tersisa, yang dinaiki oleh para raja, komandan dan penyihir, mengambil posisi di antara pasukan masing-masing. Mereka semua bergerak maju dalam tiga kelompok.


Saat petang mereka sudah tiba di puncak. Kubu-kubu dibangun di lereng-lereng. Dari puncak Fares bisa melihat pasukan Akkadia sudah mundur begitu jauh ke barat, mungkin menuju titik pertahanan yang berikutnya. Saat matahari terbenam pasukan musuh itu sudah menghilang sepenuhnya dari pandangan. Obor-obor yang mereka bawa tak lagi tampak.


Malam itu Fares berbaring menerawang langit yang tertutup awan. Naia sudah terlelap di dalam tenda kecil di sampingnya. Sejak petang gadis itu tak pernah lagi keluar. Tak satu pun api unggun dinyalakan, di sekitar mereka maupun di seluruh penjuru bukit. Para prajurit Elam harus berjaga-jaga supaya kubu mereka tidak menjadi sasaran empuk panah api atau serangan lain, jika ternyata pasukan Akkadia muncul dan menyerang. Hening, hanya sesekali terdengar ucapan atau gelak tawa dari beberapa tenda. Hampir seluruh prajurit memilih tidur secepatnya.


Barulah saat fajar ketika semua sudah terbangun, makan dan bersiap melanjutkan perjalanan, keriuhan kembali terasa. Para panglima berseru lantang, dan mondar-mandir memeriksa kesiapan pasukan masing-masing. Para prajurit membalas dengan salam pnuh semangat, seraya menghentak-hentakkan tombak mereka ke bumi.


Fares dan Naia menunggu tepat di pusat pasukan di puncak bukit, bersama Javad, Rifa dan Mehrdad. Naia, sang putri Ebla tak perlu menyiapkan pasukan, karena memang tak satu pun prajurit negerinya yang ikut dalam perjalanan. Saat berangkat Isfan sebenarnya memprotes minta diikutkan, tetapi Naia menolak permintaannya itu. Ia menyuruh Isfan dan lainnya menunggu saja di Gerbang Sungai Tigris bersama Ramir.


Teringat Ramir, tiba-tiba Fares teringat sesuatu yang mengganggunya beberapa hari terakhir. Ia yakin Ramirlah yang dulu dilihatnya saat bermimpi diserang gharoul, dan ia belum tahu kenapa bocah itu sampai bisa muncul di sana. Tentu saja kejadian-kejadian aneh sering terjadi dalam mimpi, jadi mungkin hal ini biasa saja. Tidak ada sesuatu yang penting, dan ia tak perlu menanyakan hal konyol ini pada Ramir. Yang aneh, atau bodoh, adalah kenapa mimpi ini terus diingat-ingatnya setelah sekian lama.

__ADS_1


__ADS_2