Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 40 ~ Penjaga Kuburan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 40 ~ Penjaga Kuburan


Karya R.D. Villam


 


---


 


Hazeem kembali ke rumahnya menjelang petang, meninggalkan Ramir beserta Rifa yang kini duduk di samping kuburan di dalam hutan, di tengah kegelapan malam. Terdengar suara serangga dari berbagai sudut semak belukar, dan rintihan angin dari sela-sela pepohonan. Di saat-saat seperti itu Ramir sempat bertanya mengapa Rifa tidak membuat api unggun, dan Rifa malah menjawab: hal itu bakalan mengurangi keasyikan malam ini!


Ramir hanya tahan menunggu sampai tengah malam. Setelah itu rasa kantuknya menyerang begitu kuat, hingga pada akhirnya ia tak kuasa untuk tak merebah ke rerumputan sambil terus menguap.


Toulip berkata, “Tahan, Ramir. Bagaimana kalau orang itu datang?”


Namun Rifa berkata, “Sudah, kau tidur sajalah. Biar aku yang berjaga.”


"Kau sendiri sudah menguap lebar beberapa kali," balas Ramir.


"Aku sudah biasa," tukas Rifa.


"Kita gantian saja. Bangunkan aku kalau kau sudah mengantuk." Ramir meluruskan punggungnya dan memejamkan mata. Ia langsung tertidur, bahkan sebelum sempat mendengar jawaban Rifa.


Ramir baru terbangun saat fajar. Yang dilakukannya pertama kali adalah mengutuk dalam hati, “Kenapa Rifa tidak membangunkan aku?”


Matanya terbuka lebar. Langit sudah kemerahan. Jantungnya berdetak kencang. Ia menoleh. Rifa terbaring, tidur begitu nyenyak. Toulip juga masih melingkar di kakinya. Ramir menggeser tubuhnya, lalu memandangi dua buah kuburan di depan. Apakah orang yang mereka tunggu sudah datang semalam? Kelihatannya belum. Belum ada taburan bunga di atas makam.


Namun saat itulah, seolah memang sudah menanti Ramir bangun, sesosok tubuh gelap justru muncul di depannya. Tubuhnya menjulang tinggi, bagai menutupi cahaya matahari yang baru berusaha terbit. Ramir terkesiap kaget. Ia berusaha bangkit, tetapi sodokan benda tumpul di dadanya menahannya untuk tetap terbaring.


"Tetap di sana, anak muda." Suara jernih orang itu terdengar.


Ramir kini tahu benda apa yang menekan dadanya. Ujung pedang, yang tertutup oleh sarungnya. Itu sudah cukup membuatnya gemetar. “Ja—jangan, Tuan. Ka—kami tidak bermaksud buruk.”


"Kalian yakin?" terdengar lagi suara orang itu. Tetap jernih. Tetapi, sepertinya ada yang aneh dengan suaranya. Sesuatu yang asing, tetapi seperti tidak asing. Sayang Ramir belum bisa berpikir terlalu jauh.


"Mrraaawr!" jeritan Toulip terdengar begitu ia terbangun. Sepertinya ia hendak langsung menerkam ke arah si orang asing. Dan itu malah bisa berbahaya buat kucing itu sendiri.


Ramir cepat-cepat mencegahnya. "Jangan, Toulip! Diam saja!"


Sayangnya Ramir tak mampu mencegah Rifa. Begitu gadis itu terbangun, reaksi pertamanya adalah meraih belati panjang dari pinggangnya. Rifa bergerak cepat, tetapi rupanya si orang asing memiliki gerakan lebih cepat. Dengan sedikit ayunan pedang, orang asing itu mampu melemparkan belati dari tangan Rifa hingga melayang jauh. Rifa terpana.


"Gadis ini kelihatannya berbeda denganmu. Galak sekali," orang asing itu berkata lagi. Namun tak ada nada marah di suaranya. Ia terdengar ... stabil. Kelihatan berbahaya, tetapi mungkin tidak sama sekali.


Ramir berusaha menghilangkan rasa takutnya dan bertanya, "Tuan, kami datang ke sini memang hendak bertemu denganmu. Kau yang selalu menaburkan bunga setiap bulan, bukan?"


Orang bertubuh jangkung itu menatap Ramir beberapa lama, kemudian menoleh. "Ya. Aku."


Ia menggeser tubuhnya, menatap dua buah kuburan di dekatnya. Secercah cahaya matahari kini meneranginya, membuat lekuk wajahnya terlihat jelas dari samping. Ramir ternganga. Ternyata dia seorang perempuan, dan bahkan cukup cantik. Hidungnya mancung, dengan bulu mata lentik. Rambut panjang di belakang kepalanya juga kini terlihat jelas.


Dan ... oh ... betapa miripnya ia dengan ...


"Elanna ..." Tak kuasa menahan, Ramir menggumam.


Seketika wanita itu menoleh, dan menatap Ramir seolah melihat hantu. Suaranya tercekat, “Kau ... kau memanggil siapa?"


"Tidak." Ramir yang gugup menggetok kepalanya sendiri. "Aku cuma teringat seseorang di selatan. Ia sangat mirip denganmu, kurasa. Dan aku memanggilnya Elanna."


"Namanya Elanna?" Tampak kerut di dahi wanita cantik itu.


"Bukan nama aslinya." Ramir melirik ke arah Toulip dan Rifa, yang masih bingung dan tampaknya menyerahkan semua penjelasan ini kepadanya. "Gadis ini kehilangan ingatan, dan kakekku memanggilnya dengan nama `Elanna', untuk mengingat seorang gadis lain yang dikenalnya lima puluh tahun yang lalu.”


"Siapa nama kakekmu?" tanya wanita itu tajam.


"Abdar Rahtari."


Sebuah senyum tersungging di wajah wanita itu.


Ia mengangguk-angguk, lalu menggeleng kecil. "Ah, ternyata ia masih mengingatku."


Darah Ramir terasa membeku. Ia memperhatikan rambut panjang di belakang kepala wanita itu yang mulai berkilau terkena cahaya matahari, dan langsung menyadari semuanya.

__ADS_1


"Kau … kaulah gadis dari lima puluh tahun yang lalu itu!” jerit Ramir. “Kaulah Elanna si Rambut Emas!”


Hening. Semua terdiam selama beberapa lama.


Si wanita berambut emas terus menatap Ramir, lalu mengangguk. "Ya. Aku Elanna. Memang, aku dulu sempat berteman baik dengan kakekmu. Ah ... aku senang ia masih sehat sampai sekarang."


"Tetapi," Ramir memandang takjub. "Lima puluh tahun sudah lewat. Kakekku sudah sedemikian tua, tetapi kau ... masih seperti seorang gadis?!”


Elanna tertawa kecil. “Aku sudah tua juga sebenarnya. Tetapi, terima kasih. Maksudmu aku masih cantik, bukan? Senangnya aku mendengar pujian dari seorang pemuda sepertimu."


"Itu karena dia seorang Kaspia," sahut Rifa. Gadis Elam ini tampaknya sudah bisa menghilangkan rasa takutnya. "Usianya lebih panjang empat kali dibanding manusia biasa. Sama seperti Teeza ...."


Elanna langsung menatapnya tajam. "Kau kenal Teeza?”


Wajah Rifa memucat lagi, dan ia menjawab gugup, "Eh ... maksudku gadis yang tadi diceritakan Ramir. Yang kehilangan ingatan."


"Kau mengenal Teeza?" tanya Ramir lirih pada si rambut emas.


Elanna menerawang jauh sesaat, lalu menoleh dan menatap gelisah. "Teeza kehilangan ingatan? Apa yang terjadi? Cepat, ceritakan semuanya padaku!"


Ramir dan Rifa saling memandang. Rasa takut kembali menyergap Ramir. Apakah mereka harus menceritakan semuanya pada Elanna?


Bisa jadi berbahaya, karena mereka belum mengenal wanita bernama Elanna ini.


Namun kemudian wanita berambut emas itu berkata, “Kumohon.”


Permintaan terakhir itulah yang melembutkan hati Ramir.


Ia pun menceritakan semua hal yang diketahuinya kepada Elanna tanpa ragu, mulai dari saat ia bertemu dengan Teeza, hingga saat ketika gadis itu pergi.


Reaksi Elanna begitu mendengar cerita Ramir sama seperti reaksi Rifa sebelum ini, tetapi lebih lugas. Ia menggenggam erat gagang pedangnya. "Kalau begitu kita harus segera ke selatan. Di negeri kami dulu di utara, Teeza sudah seperti adik kandungku sendiri. Aku harus menyelamatkannya.”


"Tunggu," sela Ramir. "Toulip kucingku berkata bahwa Teeza adalah Sang Penjaga Ilmu. Kemudian kakekku juga pernah mendengar hal ini selintas darimu, lima puluh tahun lalu. Benar? Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sang Penjaga Ilmu?”


"Sang Penjaga Ilmu?" Elanna balik bertanya, tapi dengan suara datar. "Sebenarnya, pembicaraanku dengan kakekmu dulu biasa saja. Dan tidak ada yang aneh dengan istilah itu. Itu istilah biasa juga.”


"Istilah biasa? Apa maksudnya?"


"Banjir besar?" tanya Ramir dan Rifa bersamaan.


Elanna tersenyum. “Banjir besar yang memusnahkan sebagian besar umat manusia di masa silam. Bangsa kami adalah keturunan langsung orang-orang yang selamat dari banjir itu. Yang paling murni—itu kepercayaan kami. Tetapi, aku tak mungkin menceritakan ini semua kepada kalian. Bisa menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, hanya untuk bercerita. Kita harus segera bergerak.”


"Tetapi kami harus tahu apa ilmu yang dimaksud." Ramir teringat bahwa Toulip, kalyx, dan burung hantu dulu menyebut dirinya sebagai Sang Pencari Ilmu. "Itu ... penting bagiku, Elanna. Ilmu apa itu?"


"Kalau kau memang ingin tahu, itu adalah ... Keesaan Tuhan."


"Keesaan Tuhan?"


Elanna menjawab lambat-lambat. “Tuhan, hanya Dia sendiri, adalah Sang Pencipta Langit dan Bumi, dan segala isinya, termasuk di dalamnya adalah manusia, dan seluruh makhluk hidup lainnya. Kita semua ciptaan-Nya, dan hanya kepada Dia kita seharusnya menyembah.”


Ramir dan Rifa melongo. Ini adalah pengetahuan baru yang tak mungkin bisa dimengerti begitu saja. Ramir teringat, Teeza dulu memang sempat menyebut-nyebut nama ‘Tuhan’. Juga, dalam mimpinya dulu gadis itu memang sempat berdoa dengan ritual aneh di tepi danau. Itukah cara mereka menyembah Tuhan? Tetapi kemudian Ramir berpikir, apa kaitan ini semua dengannya? Lalu dengan cara apa ilmu ini bisa menolong Teeza?


"Sudah kubilang, aku tak bisa menceritakan semuanya langsung padamu. Kau bakal pusing memikirkannya, kecuali kau mempercayainya. Aku akan bercerita lain waktu, jika kau tertarik. Untuk sekarang, kita harus bersiap pergi." Elanna berdiri lalu menarik sebuah keranjang dari tepi semak belukar. Bunga-bunga berwarna merah, putih, dan ungu memenuhinya. Ia berlutut di depan kuburan di sebelah kanan. Setelah menaburkan bunga ke atas gundukan tanah, ia mengangkat kedua telapak tangannya menghadap ke atas, dan mengucapkan beberapa kata asing dengan suara lirih. Doanya.


Ramir dan Rifa duduk di belakang membiarkannya. Barulah setelah Elanna menurunkan tangan dan berpindah ke kuburan kedua di sebelah kiri, Rifa berkata, “Elanna, kami sudah menceritakan siapa kami pada dirimu, tetapi kau belum bercerita tentang dirimu. Kenapa kau tinggal di hutan ini, dan kenapa kau merawat kedua kuburan ini. Siapa mereka?”


Elanna menoleh. “Tentang kuburan di sebelah kiri ini, tentunya kalian sudah mengetahuinya dari Hazeem. Ya, Hazeem. kalian tak usah kaget, aku tahu namanya, tetapi dia tak tahu namaku. Karena akulah … sang hantu." Ia menyeringai dengan gaya menakut-nakuti. "Ia senang menyebutku seperti itu, bukan?


"Itu kuburan orang bernama Maravi," jawab Rifa sambil menunjuk. “Dan dia adalah pelayan dari orang yang dikuburkan di sebelah kanan ini. Maravilah yang menyerahkan bayi Ramir kepada Abdar Rahtari, tiga belas tahun yang lampau.”


Ramir dan Rifa saling menatap. Awalnya Ramir keberatan Rifa yang bercerita tentang ini, namun pada akhirnya ia setuju.


Namun efek dari informasi terakhir ini mendatangkan ketegangan berikutnya. Elanna menatap Ramir tanpa berkedip. "Jadi ... kau adalah anak itu?"


"Kau mengenalku?" Dada Ramir berdebar keras.


“Jika kau benar anak itu …” Elanna menatapnya semakin dalam. “Ya. Aku pernah melihatmu dulu, dan juga kakekmu.”


"Kakekku? Maksudmu, kau pernah bertemu kakekku lagi, setelah lima puluh tahun silam? Tidak mungkin .... Kakekku pasti cerita."


"Yang kumaksud adalah kakekmu yang sesungguhnya." Elanna melirik kuburan di sebelah kanan. Ia tersenyum. "Dia. Haladir. Kakekmu. Kekasihku."


Sebuah kisah masa lampau—satu rahasia lainnya—terbuka lagi. Mungkin, itu sesuatu yang memang sudah waktunya dibuka. Di umurnya yang kelima belas, di saat Ramir beranjak dewasa, mungkin memang sudah waktunya ia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Tetapi Elanna tak mau membuang waktu bercerita tanpa bergerak. Setelah memberi penghormatan terakhir di depan pusara Haladir dan Maravi, ia mengajak Ramir dan Rifa secepatnya meninggalkan hutan, bahkan tanpa memberitahu Hazeem.

__ADS_1


Ramir yang sudah berhasil mengetahui apa yang dimaksud dengan Sang Penjaga Ilmu mengikutinya dengan antusias. Kini ia bersama Elanna yang akan membantunya menolong Teeza, dan mungkin gadis berambut emas itu juga bisa memberitahu Ramir kenapa ia disebut sebagai Sang Pencari Ilmu. Rifa tampaknya juga ikut senang, karena akan segera menuntaskan misinya menemukan sang pemegang kunci Gerbang Sungai Tigris.


Sambil berjalan menembus hutan, menyeberangi sungai, serta melintasi lembah dan perbukitan, Elanna berkata, “Aku akan bercerita mulai dari tiga puluh silam, kala aku bertemu dengan Haladir untuk pertama kalinya."


Ramir langsung menyela, “Tidak. Mulailah dari lima puluh tahun yang lampau, kala kau bertemu dengan Abdar Rahtari, kakekku yang lain.”


"Haha. Kau pintar juga, ingin tahu selengkapnya." Elanna tersenyum. "Tetapi tak banyak yang bisa diceritakan saat lima puluh tahun yang lampau. Aku berumur delapan puluh tahun saat itu, atau dalam ukuran kalian, aku baru melewati masa remajaku, saat aku datang ke negeri Anatolia bersama abangku."


"Delapan puluh tahun adalah remaja." Rifa langsung terkekeh. “Luar biasa, bukan, Ramir? Menyenangkan sekali."


Ramir memikirkan gurauan Rifa. Apa yang menyenangkan jika ia punya masa remaja yang panjang? Sekarang saja Ramir sudah bosan dengan apa yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari di desa.


"Untuk apa kau ke Anatolia?" tanya Ramir.


"Berjalan-jalan." Elanna tersenyum lebar. "Kau tahu, dengan umur kami yang panjang, kami punya kesempatan pergi ke seluruh penjuru dunia, dari timur ke barat, dari utara hingga ke selatan. Berkenalan dengan banyak bangsa lain, melihat keajaiban di berbagai negeri. Menyenangkan, apalagi saat kami masih penuh semangat di usia muda kami."


"Ah, iya. Itu menyenangkan." Ramir coba membayangkan; kehidupan yang pasti sangat berbeda dengan kehidupannya di desa.


"Kau kehilangan semangat itu sekarang?" Balasan Rifa berbeda.


Elanna menoleh. “Semacam itu.”


Namun ia tak menjelaskan lebih jauh.


"Lalu?" Ramir memintanya melanjutkan.


"Itu perjalanan pertamaku ke Anatolia, “ jawab Elanna. “Negeri yang indah. Pedagang dari berbagai negeri datang ke sana. Abdar Rahtari, seorang pemuda dari Sumeria, juga ada di sana. Abdar seorang lelaki yang baik, penyembuh yang berbakat. Abangku bilang dia nanti akan menjadi terkenal, sehingga para penyembuh dari Elam pun akan mengakui kehebatannya. Sekarang hal itu terbukti."


"Iya." Ramir tersenyum bangga.


"Sebenarnya kami bertiga hanya tinggal bersama beberapa hari,” lanjut Elanna. “Namun tampaknya, Abdar ..."


"Mencintaimu?" sahut Rifa tanpa takut. Elanna hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu. "Tetapi kau tidak mencintainya," Rifa melanjutkan.


Elanna mengangguk. “Ia lelaki yang baik, tetapi ... begitulah."


"Berdasarkan cerita Ramir ..." Rifa menoleh ke arah Ramir. "Tampaknya cinta Abdar Rahtari masih tersisa sampai sekarang. Buktinya ia masih mengingatmu, Elanna. Bukan begitu, Ramir?"


"Eh ..." Ramir nyengir. "Aku ... aku tidak mengerti soal begini."


"Ah, jangan pura-pura kau." Rifa mencibir sambil melirik Toulip yang terkekeh dengan suara kucingnya. "Ya, sudah. Lalu?"


"Aku tak pernah bertemu lagi dengan Abdar setelah itu." Elanna berdiri di bibir tebing, menatap hamparan lembah yang menghijau luas hingga ke barat, membiarkan rambut emasnya berkibar tertiup angin. "Aku dan abangku berkelana lagi lebih jauh ke barat, hingga ke negeri di lembah Sungai Nil, setelah itu kembali ke Kaspia. Tujuh belas tahun setelah pertemuanku dengan Abdar, aku pergi lagi, kali ini bersama Teeza—ia baru berusia enam puluh tujuh tahun saat itu, masih remaja sepertimu, Ramir."


Masih remaja? Ramir terbayang-bayang sosok Teeza saat remaja. Ah, pasti seperti gadis berambut perak yang ada dalam mimpinya dulu itu, yang bermain seluncur di danau es.


Cantik sekali.


"Kalian berjalan-jalan lagi?" tanya Rifa. "Kau dan Teeza, maksudku."


"Sebenarnya ..." Wajah Elanna berubah muram. "Kami kabur."


"Kabur?" tanya Ramir dan Rifa bersamaan.


"Ada kejadian mengerikan di negeri kami." Bibir Elanna bergetar. Pandangannya menerawang jauh. Ramir dan Rifa tak berani bertanya. Dari diamnya Elanna selama beberapa saat, tampak bahwa ia sebenarnya tak ingin mengungkit lagi kejadian tersebut. Terbukti dengan kalimat selanjutnya. "Yang jelas, kami harus kabur dari kejaran seseorang yang ... sangat berbahaya. Kami berhasil lolos, dan menyeberangi hulu Sungai Tigris, hingga akhirnya sampai di kota Thalos, di sebelah utara Pegunungan Zagros ini. Lalu, tiga tahun setelah kami pergi, atau tiga puluh tahun yang lampau, kami bertemu dengan kakekmu yang sesungguhnya. Haladir.”


"Dia ..." Ramir bertanya ragu, "Seperti apa dia?"


Elanna tersenyum. “Tampan. Kulitnya gelap. Wajahnya ... ah, benar ... aku seperti melihatnya di wajahmu. Kau mengingatkanku padanya."


"Ya." Rifa menyeringai saat melirik Ramir. "Dia tampan, ya?"


"Hei ..." Ramir tersipu.


"Umurnya saat itu tiga puluh tahun. Konon dia adalah penyihir muda terhebat di Elam, yang entah atas alasan apa, memilih pergi dari negerinya dan menetap di Thalos. Aku rasa alasan pribadi. Istrinya meninggal tiga tahun sebelumnya, saat melahirkan bayi perempuan.”


"Bayi?" Darah Ramir berdesir kencang. "Apakah bayi ini ...?"


Elanna mengangguk. “Ibumu. Namanya Teara.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2