Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 60 ~ Sang Pembunuh


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 60 ~ Sang Pembunuh


Karya R.D. Villam


 


---


 


Ada sesuatu yang aneh pada nada suara Rahzad di kalimatnya yang terakhir. Dia seperti mngetahui sesuatu, dan yakin bahwa Teeza juga mengetahuinya.


Teeza mengernyitkan dahi, karena sebenarnya ia belum paham. Namun di saat terakhir tiba-tiba sebuah ide datang. Mungkin ini bisa membuat posisinya lebih kuat dibanding Rahzad.


“Kalau aku tak mau memberitahumu, lalu apa?” ia bertanya.


Rahzad tersenyum masam, memalingkan wajah. “Kau ingin tahu apa yang terjadi sejak dua hari lalu hingga pagi ini, Teeza?”


“Dua hari?”


“Ya, dua hari. Kenapa, kau kaget? Memang seperti itu efeknya jika aku melakukan penyembuhan. Kau akan tertidur lama. Tapi itu ada bagusnya, kau akan pulih lebih cepat. Tetapi tentu saja kau lapar sekarang. Jangan khawatir, aku akan mencarikan makanan nanti.”


Begitu Rahzad selesai berbicara, perut Teeza berbunyi. Ya, ia memang lapar. Namun gadis itu berusaha menahannya. Ucapan Rahzad sebelumnya membuat ia tertarik. “Apa yang terjadi?”


“Yang pertama, pasukan Elam mengalahkan pasukan kita.”


“Pasukanmu, bukan pasukanku!” tukas Teeza. “Jangan lupa itu. Dan hal ini yang kau pikir bakal mengejutkan aku? Kaulah yang kaget, bukan? Karena akhirnya kalah untuk pertama kalinya dalam hidupmu. Aku sendiri tidak kaget. Aku bahkan yakin memang sudah waktunya! Kau beruntung kematian tidak menyertaimu saat itu. Tetapi itu takkan lama.”


“Mungkin. Ya.” Rahzad termangu. “Tetapi soal pasukan tadi, jangan salah, kau bertempur bersamaku. Kau bertempur bersama para prajurit Akkadia, dan membunuh ratusan prajurit Elam, dengan darah dingin. Kaupikir orang-orang timur itu sekarang akan melupakan perbuatan kejimu? Kaupikir kau sendiri akan bisa melupakannya, Teeza? Seumur hidup benakmu takkan bisa lepas dari itu. Sejak kini, selamanya kau akan dikenal sebagai seorang kapten Akkadia, pembunuh orang-orang Elam, pengkhianat junjunganmu dari Ebla.”


“Keparaaat!” Bayangan dirinya mengkhianati Naia menimbulkan rasa sakit yang tak terkira. Lebih cepat daripada sebelumnya Teeza kembali melompat, kali ini dengan kaki kanan terarah ke wajah Rahzad.


Rahzad mengangkat tangannya, menangkis. Begitu menjejak tanah, Teeza yang dipenuhi amarah mengayunkan tangan kanannya untuk menghantam rahang lelaki itu. Namun kemudian ia sadar gerakannya tak secepat biasanya, yang bisa ia ingat. Bekas luka di perutnya masih menyisakan rasa sakit. Dengan mudah Rahzad menangkis lagi, menangkap kedua tangan Teeza, lalu tanpa sungkan mendorong hingga tubuh gadis itu terhempas ke tanah.


Lelaki itu berkata dengan dingin di belakang Teeza, “Sudah kubilang, jangan paksa aku melakukan sesuatu yang tidak terhormat padamu. Itu membuatku kesal, dan juga sakit hati. Padahal aku sudah senang saat kau bisa berbicara tenang tadi.”


“Keparat kau, Niordri! Keparat!” Teeza tak mampu menahan tangisnya. “Sebaiknya kau bunuh aku sekarang, kalau tidak kau akan menyesal! Sekecil apa pun kesempatan yang kupunya nanti, aku pasti akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!”


Rahzad mendengus seraya membuang muka. Berdiri tegak, ia menerawang jauh ke kaki langit, melewati sosok barion jantannya yang sedang tertidur pulas di tengah lembah. “Kita berdua sama-sama tahu, Teeza, jika memang saat kematian datang, kita akan mati. Aku takkan menghindar, bahkan darimu. Tetapi aku yakin, waktuku, dan juga waktumu, belum datang. Masih ada urusan yang harus kita selesaikan. Takdir kita belum selesai.”


“Kau sudah menghancurkan hidupku! Apa lagi yang kau inginkan?! Warisanku? Silakan! Jika memang aku punya, ambillah! Aku tidak peduli!”


“Kau menyerah?” Rahzad malah tertawa keras. “Semudah ini?”


“Tidak, aku belum menyerah!” Teeza bangkit pelan-pelan. “Kau boleh ambil sesuatu dariku, tetapi aku juga akan mengambil sesuatu darimu. Nyawamu!”

__ADS_1


Rahzad tercenung. “Nah, kalau memang nanti harus seperti itu, apa boleh buat. Daripada mati di tangan orang lain, aku lebih suka mati di tanganmu. Di tangan satu-satunya wanita yang pernah kucintai seumur hidup.”


Teeza membuang muka. “Aku membencimu!”


“Itu hal yang tak terhindarkan pula. Kadang … aku pun membenci diriku sendiri. Tetapi yang sudah terjadi tak bisa diubah. Aku lebih suka melihat apa yang bisa kuraih nanti, pada hal-hal apa yang bisa kuperbaiki. Dan kusarankan, sebaiknya kau juga seperti itu, Teeza. Terimalah dirimu yang sekarang, dan mari selesaikan urusan kita bersama-sama.”


Teeza belum menjawab. Benarkah ia harus seperti itu? Melupakan semua yang lalu, dan menerima dirinya yang sekarang? Menjadi seorang pembunuh dan pengkhianat? Dan hidup bersama lelaki yang telah membunuh ayahnya?! Benar-benar gila!


“Kau punya banyak waktu untuk memikirkan itu,” lanjut Rahzad seolah tahu apa yang tengah berkecamuk di benak Teeza. “Tetapi saat ini ada hal penting lain yang harus kita lakukan. Bukan hanya aku, tetapi juga kau. Akan kutunjukkan sesuatu.”


Lelaki itu berdiri dan meraih pedang besarnya, lalu berjalan pergi.


Teeza tertegun. Rahzad sepertinya tak lagi khawatir Teeza akan menyerangnya dari belakang. Apakah karena dia merasakan aura dendam Teeza memupus?


Teeza berdiri. Mengikuti Rahzad, ia berjalan melewati Aragro. Barion itu mengangkat kepalanya sejenak dan menatap Teeza tajam, namun sepertinya hewan buas itu pun tak merasakan hawa membunuh dalam diri Teeza. Dengan malasnya dia menurunkan kepala dan melanjutkan tidurnya. Di atas bukit Rahzad berhenti dan menatap ke arah lembah di sebelah utara. Teeza tertegun. Beberapa titik hitam tersebar. Barion, semua tanpa nyawa.


“Lihat, Teeza, seluruh hewan kesayanganku, semuanya habis hanya dalam waktu dua hari.” Rahzad tersenyum pahit. “Kecuali Aragro. Tinggal dia yang tersisa.”


“Semua tewas ... dalam pertempuran?” tanya Teeza, kaget bercampur ngeri.


“Lokasi pertempurannya jauh di utara. Di saat terakhir aku membawamu pergi, bersama para barion ini. Aku sengaja memisahkan diri dari pasukan kita yang mundur ke barat bukan tanpa alasan. Aku ingin memancing Nergal. Rencananya, pasukan Ishtaran yang lain akan menunggu di sini, dan bersama-sama kita akan mengejutkan dan membunuh makhluk terkutuk itu. Ternyata gadis-gadis itu tidak muncul. Ahaddeana sepertinya mengkhianatiku. Aku terus menunggu sambil merawatmu di sini, selama satu malam. Aku sempat lega karena Nergal tampaknya tidak mengejar. Namun fajar kemarin, ketika aku lengah, dia menyerang. Aku berhasil membunuh seluruh anak buahnya, tetapi harga yang harus kubayar mahal.”


“Kau berhasil membunuh mereka?” tanya Teeza tidak yakin. “Tetapi mana mayatnya?”


“Kau lupa? Saat mati mereka semua menghilang bagai debu.”


“Mungkin mereka tidak benar-benar mati.”


Teeza menatap laki-laki itu tajam. “Lalu? Hanya ini yang ingin kautunjukkan? Mayat hewan-hewan piaraanmu? Mereka sudah mati sejak kemarin dan kau tak mau menguburkannya, hanya demi menunjukkannya padaku?”


Rahzad tertawa kecil. “Aku tidak menguburkan mereka untuk memberi makan para burung bangkai, yang membutuhkan daging mereka untuk hidup. Aku menunjukkan ini supaya kau tahu, aku punya satu keuntungan yang membuatku bisa lebih mudah membunuh anak buah Nergal.”


“Maksudmu?”


“Kau, Teeza. Keberadaanmulah yang membuat mereka bingung, dan akhirnya lengah.”


“Bingung?” Kening Teeza berkerut. “Mungkin karena mereka memang tidak ingin membunuhku! Kaulah sasaran mereka, bukan aku.”


“Semula aku juga berpikir begitu,” tukas Rahzad. “Sepertinya Putri Naia memerintahkan Nergal untuk membunuhku, dan membawamu kepadanya dengan selamat. Tetapi kemudian aku sadar, mereka lebih dari sekadar bingung. Mereka takut.”


“Takut?” Tiba-tiba Teeza merinding.


“Ya.” Rahzad menyeringai senang melihat reaksi Teeza. “Mungkin mereka mencium sesuatu dari bau napasmu, atau bau darahmu. Mungkin mereka mengenalimu sebagai penerus ayahmu. Ada sesuatu yang mereka takuti, lebih daripada kematian mereka sendiri.”


Teeza terdiam, smakin bingung. Sekali lagi Rahzad menyebut-nyebut soal warisan ayahnya yang tidak ia ketahui. Apakah itu memang ada? Di dalam dirinya? Sesuatu yang lain kemudian melintas di benaknya. Ia terdiam beberapa lama, sebelum berkata, “Jadi, Niordri, kau ingin menggunakan aku sebagai tameng untuk melawan Nergal dan pasukannya?”


Rahzad menggeleng. “Aku ingin kau menjadi lebih dari sekadar tameng. Aku ingin kau menjadi tombak, dan bergabung denganku untuk membunuh dia.”

__ADS_1


Teeza mendengus. “Makhluk bernama Nergal ini punya tujuan yang sama denganku. Membunuhmu! Beri aku satu alasan kenapa aku justru tidak bergabung dengannya.”


Rahzad tertegun, lalu menggeleng-geleng kecewa. “Aku tak percaya, kau benar-benar mengira bahwa tujuan akhir Nergal adalah membunuhku?! Dia adalah makhluk terkutuk, dan karenanya dia juga mempunyai rencana terkutuk! Hanya orang-orang berpikiran sempit yang mengira dia mempunyai tujuan mulia. Dan begitu banyak orang-orang bodoh semacam itu, termasuk bekas junjunganmu itu, Naia. Dasar bodoh. Pahamkah kau? Nergal mengincarku karena akulah orang yang paling berbahaya, yang bisa menggagalkan rencananya!”


Teeza memandangi lelaki itu beberapa lama, lalu menjawab, “Mungkin kau benar, mungkin juga tidak. Mungkin ini hanyalah satu lagi bualan darimu. Menurutku, aku tetap tidak ada urusan dengan itu semua. Keinginanku yang paling utama tetap tidak berubah: melihatmu mati. Jadi beginilah mungkin yang akan kulakukan nanti, akan kubiarkan Nergal membunuhmu, jika aku tak bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri.”


“Kau akan menyesal!” sahut Rahzad yang kini mulai geram. “Kau, sang penerus ayahmu, akhirnya bergabung dengan semua makhluk terkutuk! Di dunia kita berikutnya, ayahmu akan memaafkan aku, tetapi dia tidak akan memaafkan dirimu!”


Teeza tersentak. Ayahnya tidak akan memaafkan dirinya?


Bayangan ayahnya yang kecewa membuat ia takut.


Ia terdiam memandangi Rahzad yang menatapnya tanpa berkedip. Wajah ayahnya seolah-olah tampak di wajah lelaki itu.


“Kau akan membuat keputusan, Teeza. Jika kau setuju ikut denganku, kita akan pergi ke barat dan bergabung dengan pasukanku di Akkad. Kemudian kembali menyerang Nergal dan semua musuh kita.  Jika tidak, kita berpisah di sini. Aku tidak akan memaksamu. Ambil waktu yang kaubutuhkan untuk berpikir. Istirahatlah. Aku akan mencari makanan.”


“Kau ... tidak takut aku akan pergi, dan bergabung dengan Naia?” tanya Teeza ragu.


Rahzad tersenyum seraya mengangkat bahu. “Jika memang akhirnya harus begitu, aku tak bisa mencegah. Aku tak akan mencgahmu. Namun berarti kita akan bertemu lagi suatu hari nanti sebagai musuh. Kau akan mendapat kesempatan lagi untuk membunuhku, atau mungkin tidak, karena aku mati lebih dulu di tangan Nergal. Aku punya banyak keinginan besar, tetapi jika akhirnya itu gagal tercapai, berarti memang hanya sebatas itulah takdirku.”


Lelaki itu berbalik lalu berjalan pergi, meninggalkan Teeza yang berdiri termangu.


Selama beberapa lama, bahkan hingga tengah hari, gadis itu berpikir hanya di tempatnya. Duduk, dan sesekali berbaring, untuk kemudian duduk kembali. Tawaran yang diberikan Rahzad membuatnya gelisah. Ia harus membuat pilihan, sebelum lelaki itu datang lagi.


Dendamnya terhadap Rahzad tetap ada. Walau sekarang mulai goyah, tetapi sampai kapan pun tak akan pernah hilang. Namun ia tahu dengan kondisinya sekarang ia takkan mampu melawan laki-laki itu. Jika mengikuti kata hati, akan lebih baik jika ia pergi dulu sekarang, menemui Naia, baru kembali lagi nanti menantang Rahzad saat ia lebih kuat. Tetapi apakah mungkin Naia mau menerima dirinya, setelah kekejian yang ia lakukan dalam pertempuran kemarin? Apakah Naia bisa paham bahwa itu semua hanyalah kesalahan?


Tidak, sepertinya tidak mungkin. Ia sudah banyak meninggalkan dendam baru di hati sahabat-sahabat lamanya. Teeza sadar, bisa jadi ia memang harus melupakan seluruh masa lalunya, dan mulai menghadapi masa depannya yang baru, dengan cara bergabung dengan laki-laki yang telah membunuh ayahnya. Untuk menghadapi musuhnya yang lain, musuh yang sesungguhnya, yang telah ditakdirkan untuknya. Dan mengharap pengampunan ayahnya.


Letih dengan pikirannya, Teeza bangkit. Berdiam diri memang bisa memulihkan tubuh, tetapi buruknya, akan membuatnya menjadi gila. Ia berjalan ke puncak bukit dan memandang berkeliling. Matahari sudah tergelincir dari puncak langit. Teriknya tidak terasa karena benda raksasa itu tersembunyi di balik awan. Sosok hitam Aragro tampak di kejauhan. Rahzad tidak terlihat, namun sepertinya tidak jauh dari hewan piaraannya, di balik bukit. Mungkin sedang menguliti kerbau liar atau hewan lainnya.


Teeza berpaling ke arah berlawanan. Jauh di utara, di tanah dingin di seberang lautan es, terdapat negeri tempat ia dilahirkan. Sesaat rasa rindu datang bersama kenangan masa kecilnya.


Ia ingin pulang.


Ia membiarkan kakinya melangkah. Berjalan menuruni bukit, semakin jauh. Ia belum yakin dengan tujuannya. Namun keyakinan itu mungkin akan tampak nanti, di depan entah di mana. Ia menoleh ke belakang sesaat, walaupun enggan, dan tak melihat sosok Rahzad maupun Aragro. Jadi ia terus melangkah, terus ke utara.


Saat petang ia tiba di dataran luas yang tandus, dan berhenti. Ia termenung kembali, dan berpikir. Buat apa pulang ke utara jika tak ada seorang pun yang menunggu? Ia merindukan rumahnya, tetapi bukan di utara rumah itu sekarang. Rumahnya di sini. Utara memang tempatnya dilahirkan. Tetapi di selatanlah tempat ia mempertaruhkan hidupnya, menemui takdirnya, dan mati.


Sesuatu membuatnya tegang.


Teeza memandang berkeliling. Ada orang lain di tempat ini.


Niordri? Ia tidak ingin melepaskanku?


Teeza mendongak, ke puncak tebing batu yang tinggi mencapai lebih dari tiga tombak. Seseorang berdiri di sana memunggungi matahari, membuat Teeza tak mampu mengenalinya karena silau. Belum sempat ia bereaksi, orang itu sudah melompat turun sedemikian cepat dan berdiri di hadapannya. Teeza terpana. Dia seorang wanita, sedikit lebih tua dibanding Teeza, tetapi masih tetap cantik. Hidungnya mancung, matanya biru dan rambutnya berwarna emas. Tubuhnya tertutup oleh jubah berwarna kelabu.


Bibir Teeza bergetar. “Elanna ...”

__ADS_1


 


 


__ADS_2