Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 76 ~ Pemberontak


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 76 ~ Pemberontak


Karya R.D. Villam


 


---


 


”Kau yakin, Niordri, hendak pergi ke sana?”


Teeza memperhatikan tenda-tenda Akkadia di kejauhan yang berdiri melingkar-lingkar mengelilingi sebuah desa. Para prajurit menyebar di sana-sini, tengah bersantai menikmati makan siang. Asap putih mengepul dari setiap api unggun yang dinyalakan di berbagai sudut membawa harum daging bakar sampai ke lereng bukit tempat Teeza dan Rahzad bersembunyi. Jika hanya menuruti keinginan perut, tentu saja Teeza sangat ingin turun ke sana, dan mungkin merampas beberapa potong daging untuk dimakan.


Namun Rahzad menjawab pertanyaannya dengan datar sambil berjalan menuruni lereng berbatu, “Kenapa, Teeza? Kau masih tetap takut?”


“Tidak,” tukas Teeza sambil berjalan di belakang laki-laki itu. “Aku hanya berpikir, jika para pembunuh bisa menyergap kita di hutan, kenapa mereka tidak melakukan yang sama di sini? Jika pintar, mereka akan memantau perjalanan kita, bukan? Tetapi mengapa tidak terjadi apa-apa sejauh ini? Apa menurutmu ini tidak aneh?”


“Seandainya pun mereka tahu, mereka tak akan berani menyerang. Mereka tahu tak akan bisa mengalahkan kita.” Rahzad melirik. “Kenapa? Menurutmu aku terlalu percaya diri?”


Teeza hanya mengangkat bahu.


“Kau tahu, kepercayaan diri semacam itulah yang membuatku berbeda, dan ditakuti.” Rahzad menyeringai, kemudian tersenyum. “Tetapi, Teeza, terima kasih.”


“Untuk apa?”


“Untuk tidak menikamku dengan tombak saat aku tidur.”


Teeza mendengus. “Jangan terlalu senang. Aku bisa melakukannya di lain kesempatan.”


Rahzad tertawa. “Tidak, Teeza, kurasa kau tidak akan melakukannya sampai kapan pun.”


Teeza diam saja. Dalam hati ia berpikir, mungkin ucapan Rahzad itu benar. Dendam itu, jika diingat-ingat, rasanya masih ada, tapi di sisi lain ia tahu ada soal lain yang lebih penting.


Di bawah pepohonan rindang di balik tebing, masih cukup jauh dan tersembunyi dari tenda-tenda Akkadia, keduanya lalu kembali menunggu. Seseorang muncul menemui mereka tak lama kemudian. Ibbsin. Peluh dan raut ketegangan bercampur di wajah kapten itu.


“Kami siap kapan pun Anda minta kami bergerak, Tuan.”


“Berapa orang yang ikut?” tanya Rahzad.


“Lima ratus. Semua adalah prajurit yang loyal pada Anda.”

__ADS_1


“Ketika mereka bilang siap, mereka seharusnya tahu ini bukan cuma soal loyal atau tidak loyal. Mereka harus tahu apa yang mereka pertaruhkan pada diri mereka sendiri.”


Ibbsin mengangguk. “Mereka tahu, Tuan. Jangan khawatir.”


“Sampaikan perintahku,” kata Rahzad. “Kita bergerak malam ini.”


Rahzad tidak bercerita apa sebenarnya yang hendak ia lakukan. Tetapi dari beberapa perbincangan Teeza bisa menangkap, Rahzad hendak merebut sesuatu yang menjadi miliknya sebelum ini. Teeza malas bertanya lebih jauh, bahkan sebenarnya ia bahkan tak ingin lagi terlibat dalam peperangan Rahzad. Namun ia bisa menebak tujuan lelaki itu: pemberontakan. Belum jelas, apakah ini hanya sekadar untuk mengambil alih pasukan Akkadia di wilayah ini, atau sesuatu yang lebih besar dari itu: hendak memberontak pada Raja Sargon di Akkad.


Bagi Teeza, kedua-keduanya tetap sesuatu yang sangat berbahaya. Ini benar-benar nekat dan tak terduga. Namun Rahzad tampaknya sangat percaya diri, dan jika mengamati keputusan laki-laki itu, Teeza menduga bahwa bisa jadi Rahzad sudah pernah memikirkan dan mempersiapkan hal ini sejak lama, dan sekarang hanyalah sebuah pemicu yang justru dia tunggu-tunggu. Seperti dulu pernah dibilang oleh Rahzad, memang sudah seharusnya orang semacam dia dia berada di puncak kekuasaan, tidak terus-terusan menjadi seorang panglima.


Sejarah menunjukkan bahwa Sargon pun dulu memulai kerajaannya lewat sebuah pemberontakan, jadi tidak ada yang salah jika kemudian kerajaannya akan diakhiri pula oleh pemberontakan. Tinggal sekarang, apakah hal semacam itu mungkin dilakukan lagi?


Teeza dan Rahzad terus menunggu, kali ini sampai malam semakin gelap. Prajurit telah selesai makan dan masuk ke tenda-tenda. Satu tanda akhirnya muncul dari ujung selatan. Anak panah berapi yang terlontar ke langit, kemudian langsung hilang. Sepertinya tak tampak kejadian apa pun di kubu pasukan Akkadia, suasana tetap hening. Namun Rahzad berkata lain.


“Sebagian prajuritku sedang melumpuhkan para komandan, dan juga penjaga di setiap sudut.” Lelaki itu tersenyum. “Menyedihkan, bukan? Sebagai panglima aku harus melakukan tindakan seperti ini pada pasukanku sendiri. Aku akan masuk sekarang.”


“Kau tak ingin menunggu sampai keadaan benar-benar aman?”


“Tak akan pernah ada keadaan yang benar-benar aman, Teeza. Kita tak bisa menunggu. Kita harus membuatnya. Lagi pula aku lebih suka masuk sekarang dan berkata langsung kepada Arphal apa yang akan kuambil darinya, sebelum ia tahu dari orang lain.”


“Suatu hari nanti rasa tinggi hatimu akan membunuhmu.”


Rahzad termenung mendengarnya, lalu membalas, “Mungkin ... Tetapi kuharap tidak sekarang.”


Rahzad dan Teeza mengikuti petunjuk itu, terus berlari tanpa henti. Di satu sudut tampak prajurit berobor lainnya, yang juga memberi petunjuk. Kemudian satu lagi di sudut berikutnya, hingga akhirnya keduanya sampai di depan rumah Arphal. Sepi, tak satu pun penjaga yang tampak. Mestinya mereka sudah berhasil dipancing dan dilumpuhkan tak jauh dari sini.


Rahzad termangu sejenak, lalu mengangguk yakin. “Kita masuk sekarang. Sepertinya Arphal belum curiga. Ibbsin akan berjaga di luar dan menemui kita nanti.”


Teeza menggenggam erat tombaknya. Ia belum bisa seyakin Rahzad, tetapi ia setuju, sejauh ini seluruh rencana laki-laki itu berjalan lancar. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan? Tanpa menunggu lebih lama ia pun menyusul masuk ke dalam rumah. Ruangan yang pertama mereka masuki gelap hingga Rahzad harus mengacungkan obornya. Tak ada siapa pun. Tetapi ada satu kamar di seberang, yang tampaknya menjadi ruang tidur Arphal.


Perlahan Rahzad menyibak tirai yang membatasi kamar tersebut. Komandan pasukan yang mereka cari ternyata tidak sedang tidur. Lelaki itu duduk di samping meja. Ia menatap Rahzad dan kemudian Teeza yang muncul belakangan. Wajahnya menegang.


“Jenderal,” kata Arphal berkata lirih. “Anda … mengejutkanku.”


Rahzad tak langsung membalas. Ia tetap berdiri tegak. Api obor yang dipegangnya menari-nari di dekat wajahnya dan tatapannya lurus tak berkedip. “Benarkah? Sepertinya kau tidak begitu terkejut, Arphal.”


“Oh, aku … cukup terkejut.” Arphal berdiri perlahan. Ia melirik sebentar ke arah Teeza, lalu kembali menatap Rahzad. “Tetapi … bukan karena kedatangan Anda yang tiba-tiba, Jenderal, melainkan … karena keberanian Anda.”


“Maksudmu?”


“Anda berani mengkhianati Yang Mulia.”


“Seseorang mengkhianatiku lebih dulu,” balas Rahzad. “Beberapa orang. Kau, salah satunya. Dan mungkin sang Raja sendiri, orang lainnya.”

__ADS_1


“Aku tidak mengkhianati Raja, maka aku tidak mengkhianati siapa pun,” jawab Arphal tenang. “Sepertinya Anda terlalu menganggap tinggi diri Anda, Jendral, bahwa Anda seorang yang pantas untuk dikhianati. Sayangnya Anda bukan Raja.”


“Kau orang yang berani, Arphal, tetapi berhati-hatilah. Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku takkan ragu mengutip kepalamu.”


“Maaf aku jika menyinggungmu, Jenderal. Tetapi kusarankan, Anda pun lebih hati-hati. Jangan melakukan kesalahan lebih banyak.”


Di titik itulah Teeza yakin, bahwa telah terjadi sesuatu yang mungkin lebih berbahaya daripada sergapan para pembunuh di hutan. Ia dan Rahzad saling menatap.


“Biar kulihat apa yang terjadi di luar.” Teeza berbalik.


Rahzad cepat-cepat menahannya. “Jangan dulu, Teeza. Kita tak mendengar apa pun, tetapi aku berani bertaruh jika kau keluar sekarang, tubuhmu akan tercacah habis oleh anak panah.” Ia menoleh lagi ke depan. “Bukan begitu, Arphal?”


Arphal tersenyum masam. “Ya, semacam itu. Sebenarnya aku enggan memberitahu, tetapi berhubung Anda sudah bisa menebak, sekalian saja kujelaskan. Seluruh prajurit telah mengepung rumah ini. Jika mereka melihat kalian keluar, tanpa aku, mereka akan membantai habis kalian tanpa ragu.”


Napas Teeza tertahan. “Tetapi ... para penunjuk tadi–?”


“Sejauh mana kau tahu rencanaku, Arphal?” Rahzad memotong.


Arphal memandangi keduanya bergantian, sepertinya menimbang-nimbang, lalu berkata, “Hampir semua. Aku sudah berbicara dengan Ibbsin.”


“Ibbsin ...” Napas Teeza tertahan. Ia merasakan darahnya berdesir kencang. “Di mana dia?”


“Tak jauh di luar. Di dalam lubang, mati. Bersama beberapa ratus prajurit yang mengaku loyal pada Anda, Jendral.” Arphal menyeringai. “Tetapi sebenarnya mereka hanyalah para pengkhianat. Kami menangkap dan membunuh semuanya petang tadi, tentu saja diam-diam, hingga bahkan orang sehebat kalian tak bisa mendengar jerit kematian mereka. Tadinya aku hendak membawa kepala Ibbsin kemari dan menunjukkannya pada kalian, supaya kalian percaya, tetapi kupikir itu terlalu berlebihan.”


Teeza menggeram, “Kau hanya menggertak dan mengarang cerita supaya bisa lolos dari kami! Jika memang semua ini adalah perangkap, kau tak akan nekat meninggalkan dirimu sendirian bersama kami, dan para prajurit akan langsung menyerang begitu kami masuk ke rumah ini.”


“Kalian tidak paham. Aku melakukan ini karena aku hormat pada kalian,” jawab Arphal. “Kalian terlalu hebat dan selalu waspada. Kalian akan langsung tahu bahwa ini adalah perangkap begitu melihat rumah ini kosong, dan kemudian keluar menghabisi para prajurit sebelum mereka siap. Aku harus mengambil waktu kalian terlebih dulu. Seperti sekarang. Itu tugasku.”


Rahzad tertawa. “Caramu bicara seolah-olah kau yang mengatur semua perangkap ini. Kau berani, Arphal, tetapi bodoh bukan kepalang. Orang yang menyuruhmu itu hendak menjadikan dirimu tumbal, dan kau menganggapnya sebagai tugas? Tolol. Aku tak keberatan membunuhmu di sini, kemudian membunuh semua orang di luar, tetapi baiklah, supaya sesuai dengan rencanamu, kita keluar bersama-sama. Kau sebagai sandera, tentu saja. Aku tak akan membunuhmu cepat-cepat, supaya kita bisa sama-sama melihat bagaimana akhir dari rencana bodohmu.”


“Jenderal, jangan terlalu yakin pada apa pun.”


“Oh ya? Aku tak sabar melihat apa pun yang akan muncul!” Rahzad mematikan obor lalu mengeluarkan pedang besarnya, terarah ke leher Arphal.


Reaksi Rahzad di luar dugaan Teeza. Lelaki itu benar-benar tidak kenal takut. Dia sengaja hendak menantang perangkap ini?


Namun keberanian Arphal pun mengundang tanda tanya. Kenapa dia seberani itu menyediakan dirinya sebagai sandera? Rencana apa yang dia punya?


Ini benar-benar buruk, pikir Teeza. Ia tidak takut jika memang harus bertarung, jika saja ia tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Untuk saat ini, ia tidak tahu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2