Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 37 ~ Makhluk Api


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 37 ~ Makhluk Api


Karya R.D. Villam


 


---


 


“Senang melihatmu lagi, Teimush,” Raja Sargon berkata dengan suara beratnya sambil menatap laki-laki bertubuh besar yang berdiri di samping Zylia, di depan panggung.


Lelaki bernama Teimush itu melirik sebentar ke arah Bargesi yang berdiri di samping Sargon, lalu mengangguk hormat pada sang raja. “Hamba siap melayani Yang Mulia.”


Sargon menoleh pada Rahzad. “Mulailah.”


“Busur dan panah untuk Zylia!” seru Rahzad.


Letnan Cherib keluar dari barisan sambil membawa sebuah busur yang tak kalah panjangnya dengan milik Teimush, serta sekantung anak panah. Ia berhenti di samping Zylia.


“Busur dan panahmu, Kapten,” bisik Cherib.


Dahi Zylia berkerut. Pertama, ia heran, seingatnya tadi Cherib tak membawa busur dan panah saat naik bersamanya ke atas kuil. Kedua, ia teringat, sudah sejak dulu ia meminta kedua benda itu kepada Cherib, dan ternyata itu baru didapatkannya sekarang. Justru di saat-saat genting seperti ini!


Busur dan panah ini tak mampu membuatnya teringat seperti apa dirinya dulu sebelum ia kehilangan ingatan, sama halnya dengan busur milik Rahzad yang dipegangnya di ruangan sang panglima. Jadi benda ini tak mampu membuat Zylia gembira seperti yang diharapkannya. Walau demikian, memang ada sensasi tersendiri saat memegangnya.


Busur dan panah. Rahzad tadi bilang, aku lebih hebat dibandingkan dengan dia dalam soal ini?


Zylia memandangi Rahzad, panglimanya itu, dengan tatapan ‘mengapa kau tidak bilang padaku soal pertandingan ini sejak awal?’.


Rahzad berjalan mendekat dan berbisik tenang padanya, “Lakukan, Zylia.”


“Aku belum pernah memanah sejak aku kehilangan ingatan,” Zylia berusaha memprotes. “Aku belum tahu apa aku bisa memanah.”


“Kau bisa. Dan sebuah keterampilan yang telah begitu dalam tidak akan hilang hanya karena kau kehilangan ingatan, Rasakan saja benda itu di tanganmu, dan ikuti nalurimu. Kau yang terhebat di dunia dalam soal memanah, lihat saja nanti.”


“Seharusnya kau mengatakan rencanamu ini sejak tadi!” Zylia memasang kantung anak panah di punggungnya. “Supaya aku bisa bersiap.”


Rahzad menyeringai. “Dan membiarkan kau kehilangan ketegangan yang mengasyikkan ini?”


Ingin rasanya Zylia memaki panglimanya itu langsung di depan wajahnya, tak hanya dalam hati. Tetapi ia sadar, lebih baik ia berkonsentrasi pada urusannya sendiri. Ia belum tahu seperti apa pertandingannya nanti, jadi lebih baik kini ia mengawasi setiap gerak-gerik musuhnya dan memperhatikan semua hal di sekelilingnya dngan baik.

__ADS_1


Si pendeta yang berdiri di tengah halaman menatap ke arah Zylia dan Teimush sambil membuka kedua telapak tangannya ke atas, lalu menunjuk obor raksasa di kiri dan kanannya. Zylia mengerti, rupanya pendeta itu meminta Zylia dan musuhnya mengambil tempat di samping obor tersebut. Keduanya berjalan saling menjauh, menuju ke tengah halaman.


Keduanya berdiri berhadapan, terpisah dalam jarak seratus langkah. Zylia menggenggam erat busur di tangan kirinya. Tangan kanan santai tapi siaga, siap mencabut anak panah di punggungnya kapan pun dibutuhkan. Si pendeta berjalan mundur, jauh, hingga akhirnya bergabung dengan para pendeta lain di tepi lapangan. Bersama-sama para pendeta itu mengangkat tangan ke atas dan meluncurkan kalimat-kalimat pujian kepada Ishtar.


Pelan-pelan Zylia merasakan ketegangannya makin memuncak. Pandangannya lurus ke arah Teimush, tanpa takut, menantang tatapan kejam lelaki berwajah bengis itu.


Ayo, aku siap. Terjadilah … apa pun itu.


Suara melengking tinggi memecah alunan doa para pendeta. Semua orang terdiam, menahan napas. Zylia melirik ke kiri dan ke kanan, mencari asal suara tersebut, lalu mendongak.


Apa … apa itu?!


Api abadi yang berada tinggi di atas obor di samping Teimush menari-nari semakin kencang. Lidah api menjulur ke kiri, ke kanan, ke atas. Seraut wajah aneh terbentuk di antara kobaran api, menyeringai kejam.


Sebuah bola api tiba-tiba meluncur deras dari salah satu lidah api itu, ke arah Zylia. Begitu cepatnya. Perhatian Zylia masih terbagi antara api dan Teimush, hingga walaupun ia sudah coba melenting ke kiri untuk menghindar, tak urung bola api itu masih sempat menyerempet lengan kanannya.


Bola api menghantam lantai tempat Zylia tadi berdiri. Jerit tertahan ribuan penonton terdengar. Sambil berjongkok Zylia melirik cepat ke lengan kanannya yang tadi terserempet. Untunglah, hanya luka bakar kecil, rasa sakit biasa yang tak perlu dikeluhkan. Ia menatap musuhnya di depan. Teimush telah merentangkan busur, siap melontarkan anak panahnya.


Zylia terkesiap. Secepat kilat—seperti kata Rahzad, nalurilah yang akhirnya bekerja, bukan pikirannya—tangan kanannya meraih anak panah dari punggung, dan meletakkannya di tengah busur, terarah ke musuhnya pula. Tetapi Teimush rupanya bukan hendak memanah Zylia. Lelaki itu mengarahkan panahnya tinggi ke atas Zylia. Zylia mendongak kaget. Rupanya obor abadi di belakangnya juga telah memunculkan sosok serupa seperti musuhnya.


Makhluk api milik Zylia melemparkan bola api ke arah Teimush. Dengan sigap Teimush melepaskan anak panah yang langsung meluncur deras menyambut bola api tersebut. Ledakan dahsyat terjadi di udara akibat tumbukan keduanya. Bola api pecah di udara. Anak panah yang tadi dilepaskan Teimush ikut lenyap, bercampur dengan percikan api yang memencar ke segala penjuru. Seluruh percikan api tertarik ke arah puncak obor milik Teimush. Di sana, api itu bersatu dengan sosok api yang telah ada sebelumnya. Sosok itu kini semakin membesar, dengan lidah api yang semakin panjang.


Dia menjadi makhluk menyebalkan yang semakin berbahaya!


Zylia kini mengerti. Ia dan Teimush harus bertarung dengan menggunakan makhluk api di belakang mereka. Kedua makhluk tersebut menyerang dengan bola api, dan Zylia, juga Teimush, harus melawan dengan panah. Jika panah Zylia berhasil mengenai sasaran, maka bola api musuhnya akan tertarik, bergabung dengan sosok api di belakangnya, sehingga menjadi lebih besar dan kuat, sedangkan sosok api musuhnya akan semakin mengecil.


Zylia semakin percaya diri. Ia bisa merasakan dan melihat bahwa ternyata ia mampu memanah dengan sangat baik, cepat dan akurat. Bola-bola berikutnya datang beruntun bagai hujan meteor, namun tangan Zylia bergerak cepat berulang-ulang, meraih anak panah dan melontarkannya, menembak tepat seluruh sasaran tanpa kesalahan sedikit pun.


Ledakan keras terdengar berdentum-dentum, getarannya terasa hingga ke tulang seolah tanpa henti. Asap putih mulai menyelimuti seluruh permukaan halaman kuil. Sambil terus memanah Zylia coba melihat apa yang terjadi pada musuhnya. Awalnya Teimush tampak meyakinkan, namun semakin lama akurasi tembakannya mulai menurun. Satu anak panah lelaki itu akhirnya gagal mengenai sasaran, dan melayang hingga lenyap menjadi debu di udara. Bola api berdiameter satu tombak langsung datang menyambarnya.


“Hoaaahhh!” Teimush menjerit. Ia tak sempat menghindar sempurna. Api membakar tangan kirinya, menjalar hingga ke bahu. Rasa sakit membuat laki-laki itu terpaksa melepaskan busurnya.


Zylia tertegun. Ia mendongak, melihat makhluk api di belakangnya yang semakin meraksasa, jauh lebih besar dibanding makhluk api Teimush yang berukuran mini sekarang. Keduanya siap melontarkan bola api yang terakhir. Bahaya besar buat Teimush.


Lelaki yang tadi tampak garang itu kini begitu memilukan. Ia berguling-guling di lantai berusaha mematikan api yang menjalari tubuhnya, tak sadar, atau mungkin sadar namun sudah pasrah, bahwa sebentar lagi akan ada sebuah bola api raksasa yang bakal melumatkan tubuhnya menjadi abu.


Jantung Zylia berdegup kencang. Tak ada lagi permusuhan, sepenuhnya kini ia justru khawatir pada keselamatan Teimush. Begitu bola api raksasa datang ke arah Teimush, Zylia mengambil keputusan. Ia melontarkan anak panahnya, yang segera meluncur deras di udara, dan akhirnya beradu, menghancurkan bola api. Semua orang berseru terkejut. Lengkingan terdengar dari arah sosok api raksasa di belakang Zylia. Zylia mendongak, menatapnya. Makhluk api tersebut menjulur-julurkan lidah apinya ke berbagai arah. Wajah manusia yang terbentuk menyorotkan amarahnya pada Zylia.


Zylia menggeram. Ia tidak takut. Ia sudah siap dengan resiko itu. Melihat amarah sang makhluk api justru membuat Zylia semakin yakin bahwa ia telah mengambil keputusan yang benar tadi dengan melindungi Teimush. Ia mungkin memang tidak cocok menjadi teman makhluk kejam itu!


Dan Rahzad juga sudah membuat kesalahan dengan memintaku mewakilinya.


Zylia melirik ke arah sang panglima di atas panggung. Zylia tahu ia juga harus siap menghadapi amarah Rahzad. Tetapi kemudian ia heran, melihat lelaki gagah itu ternyata malah tersenyum tipis, seolah sudah bisa memperkirakan. Zylia tak sempat berpikir lebih jauh. Ia harus bersiap menghadapi serangan dua bola api dari kedua makhluk di kiri dan kanannya. Ia meraih anak panah, menyadari bahwa itu ternyata adalah miliknya yang terakhir.

__ADS_1


Menggeram, Zylia mengarahkan busurnya ke atas. Sasarannya bukan lagi bola api, melainkan langsung ke pusat makhluk api raksasa yang tadi menjadi temannya. Ke wajah kejamnya.


“Hentikan!” Seruan Ahaddeana membahana.


Zylia tertegun. Anak panahnya masih terarah ke atas, tetapi jemarinya menahan. Otaknya bergerak cepat, menebak-nebak apakah perintah itu ditujukan buat dirinya atau buat si makhluk api.


“Ishtaris!” Kembali seruan Ahaddeana terdengar dari atas panggung. Kedua tangannya teracung lurus ke depan, sepertinya ia berkata pada kedua makhluk api. “Kembalilah ke tempat kalian!”


Kedua makhluk api itu patuh. Baik yang besar maupun yang kecil, keduanya menarik juluran lidah-lidah apinya, menarik diri. Keduanya menciut cepat. Sepasang obor jangkung di tengah halaman kini hanya diterangi dua buah api abadi biasa seperti semula.


Zylia menarik napas lega, walaupun tidak sepenuhnya. Ia memandangi Teimush yang meringis dan mencoba berdiri tegak menghadap ke arah sang raja. Wajah lelaki itu menyiratkan rasa sakit, malu akibat terkalahkan, dan tampaknya juga takut.


Zylia berdiri di sampingnya, menghadap Sargon pula. Sang raja menatapnya tajam, membuat jantung Zylia berdetak kencang. Rasa takut ternyata menghampirinya juga.


“Orang Kaspia!” Ahaddeana menatap Zylia penuh amarah. Jari telunjuknya tertuju lurus. “Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau menyerang Ishtarismu sendiri! Kau membuat Ishtar murka dengan tindakanmu yang tak sepantasnya!”


Zylia terpaku menatap Ahaddeana, yang mewakili kemurkaan Ishtar, lalu beralih ke arah Sargon yang masih menatap tajam, kemudian ke arah Bargesi yang menatap dingin, dan akhirnya ke arah Rahzad yang … justru tampak tenang. Melihat ketenangan Rahzad, Zylia ikut tenang. Ia berharap panglimanya itu akan membelanya, walaupun ia tetap tidak yakin.


“Yang Mulia,” Ahaddeana berkata pada Sargon. “Perempuan ini harus dihukum karena berani melawan aturan Ishtar!”


Hening. Semua orang terdiam. Zylia menanti dengan gugup.


Namun di luar perkiraan, tiba-tiba Sargon tertawa keras. “Dam, Ahaddeana, kurasa Ishtar tak akan semurka yang kau kira.”


“Yang Mulia, hamba pendeta kepala kuil ini. Hamba mengerti kalau—“


“Sudahlah.” Kedua alis tebal Sargon terhubung kala ia menatap tajam sang kepala pendeta. Wajah Ahaddeana langsung berubah kecut. Sargon berpaling, kini menatap Zylia. “Orang Kaspia, aku mengampuni kesalahanmu. Malah, terus terang aku mengagumi keputusanmu, dan tentu saja, keterampilanmu. Kurasa Ishtar akan sependapat.”


Zylia lega bukan main. Ia menunduk hormat. “Yang Mulia, terima kasih.”


Sargon berkata pada Bargesi, “Tentang Teimush, jagoanmu itu, uruslah dia. Ia sudah tak mendapat perlindungan lagi dari Ishtar. Jadi … lebih baik ia tak menjadi pengawalku lagi.”


Bargesi mengangguk. “Aku mengerti.”


Zylia melirik ke arah lelaki yang tadi menjadi lawannya. Seraut dendam tampak di wajah bengis Teimush, mengalahkan raut kesakitannya. Zylia tahu ia telah menambah satu orang musuh hari ini, tak peduli ia telah menyelamatkan nyawa lelaki itu tadi.


Sargon beranjak dari kursinya dan berkata pelan kepada Rahzad, dengan suara yang di kejauhan hanya bisa terdengar oleh telinga tajam Zylia, “Aku ingin tahu banyak tentang wanita ini, Rahzad.”


“Ya, Yang Mulia.” Rahzad mengangguk, kemudian mengikuti Sargon masuk ke dalam kuil. Nyanyian para pendeta mengiringi kepergian sang raja.


Zylia memandangi kedua lelaki yang pergi itu sampai mereka menghilang di balik gelap, baru kemudian beralih ke Ahaddeana dan Bargesi. Kedua orang itu menatap tajam ke arahnya, sebelum lalu berjalan masuk pula ke dalam kuil mengikuti Sargon.


Zylia menghela napas. Bukan hanya satu musuh, ia mendapat tiga hari ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2