
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 31 ~ Awal Cerita
Karya R.D. Villam
---
Elanna si rambut perak berdiri dengan senyum terkembang.
Tidak, itu lebih mirip seringai. Gadis itu mengangkat tangan kanannya, mengacungkan pedang dan berkata menantang, “Majulah.”
Kepada siapa dia berkata? Ramir bertanya-tanya. Apakah padanya? Apakah berarti mimpi yang dialaminya sekarang ini adalah mimpi Ramir sendiri, dan bukan mimpi orang lain seperti biasanya?
"Bersiaplah!"
Aneh, bukan Ramir yang menyahut tantangan itu. Ada orang lain di dalam mimpi ini. Mungkin ... sang pemilik mimpi yang sesungguhnya. Siapa? Ada orang lain yang mengenal Elanna di sini?
Seorang bertubuh langsing berkelebat di depan Ramir, menghalangi pandangannya dari Elanna. Orang itu mengayunkan pedangnya, yang langsung ditangkis Elanna. Dia seorang perempuan pula, berkulit cokelat dengan wajah tak kalah rupawan, berambut pendek dengan tinggi tubuh yang hampir menyamai Elanna. Dia adalah ... Rifa!
Ramir tersentak. Matanya berkedip, dan seketika itu pula ia terbangun.
Ia terduduk. Matanya melotot, napasnya memburu. Ia memandang gadis yang tertidur tak jauh di sampingnya, di samping dinding gua. Ramir tak mempedulikan suara angin malam yang berbisik tipis, ataupun derik jangkrik yang datang entah dari mana. Perhatiannya tertuju penuh pada Rifa. Gadis itu membelakanginya, meringkuk, menunjukkan sedikit lekuk pinggulnya yang tersiram sinar rembulan. Desah napasnya yang tak teratur terdengar jelas.
Gadis itu sedang bermimpi. Tadi itu mimpi Rifa. Mimpi adalah suatu yang biasa. Yang tidak biasa dan mengejutkan bagi Ramir adalah ternyata gadis ini juga mengenal Elanna. Siapa dia? Sebelum ini gadis itu hanya berkata bahwa dia berasal dari negeri Elam. Tetapi apakah dia kawan Elanna, atau malah musuhnya? Sepertinya musuhnya, itu lebih mungkin. Bukankah Rifa juga bertempur dengan para prajurit Akkadia seminggu yang lalu di desa Airi?
Ini membingungkan. Siapa yang harus dimusuhi Ramir sekarang: Elanna karena dia adalah prajurit Akkadia, atau Rifa karena dia musuh Elanna—gadis yang ternyata tak pernah bisa hilang dari dalam pikirannya? Atau mungkin, sebaiknya Ramir tidak memihak siapa pun, seperti sebelum ia mengenal semua orang ini, saat ketika ia masih bisa hidup damai di desa?
Tidak. Ramir menggeleng. Itu adalah saat ketika ia belum mengenal dirinya sendiri. Sekarang semuanya sudah berbeda. Sekarang ia harus membuat pilihan-pilihan.
Ramir tidak bisa tidur lagi. Sepanjang sisa malam pikirannya lari ke mana-mana. Ia terus bertanya dan berusaha menjawab semuanya sendiri. Ia menimbang-nimbang, apakah nanti setelah Rifa bangun sebaiknya Ramir menanyakan hal ini kepada gadis itu, supaya semuanya jelas. Tetapi bagaimana caranya Ramir bertanya? Apakah ia harus bertanya, “Rifa, aku melihatmu bermimpi dan berkelahi dengan Elanna di sana. Benarkah?”
Rifa akan menganggapnya sebagai orang paling aneh sedunia, dan akibatnya bisa tak terbayangkan. Ramir belum terlalu mengenal Rifa. Lebih baik Ramir berhati-hati.
Yang jelas ada yang aneh dengan gadis itu. Seminggu yang lalu, saat seekor elang mendatangi gadis itu di tempat persembunyiannya, sepertinya dia kemudian berbincang dengan burung itu. Ya, berbicara, seperti yang biasa dilakukan oleh Ramir dan Toulip.
Saat itu, begitu elang itu pergi lagi, Ramir bertanya, "Kau tadi berbicara dengannya?"
"Ya. Aneh buatmu?”
__ADS_1
"Mm … tidak. Tetapi apa yang kau katakan padanya?”
"Aku mengirim pesan untuk kakakku. Aku bilang ia tak usah khawatir.”
"Kakakmu tinggal di negeri Elam juga?"
Rifa menyeringai. “Aku hanya akan bercerita banyak tentang diriku, jika kau juga mau melakukan hal yang sama. Nah, Ramir, bagaimana?”
Ramir tak menjawab. Sejak itu mereka tidak saling bertanya mengenai latar belakang masing-masing. Selama seminggu Ramir tetap belum berani bercerita kepada Rifa mengenai tujuannya pergi ke kota Turkar. Ramir belum merasa perlu, dan Rifa kelihatannya juga tidak terlalu peduli. Tetapi mungkin, setelah mimpi mereka malam ini, sebaiknya Ramir mulai membuka diri dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya ada sesuatu yang penting terjadi di sekelilingnya, dan terkait dengan Ramir. Semua ini mungkin bukan kebetulan.
Lenguhan Rifa membuyarkan lamunan Ramir. Gadis itu berbalik, telentang sebentar, kemudian meringkuk lagi, kini menghadap ke arah Ramir. Wajahnya tetap tak terlihat dalam kegelapan malam. Sambil duduk memeluk lututnya, Ramir memandangi gadis itu.
Tiba-tiba gadis itu bersuara, "Ramir ..."
"Eh?" Ramir terkejut, tak mengira gadis itu sudah bangun.
"Kau memandangiku?"
"Aku? Tidak ..."
Rifa duduk. Dalam kegelapan tampak wajahnya yang mengarah lurus ke arah Ramir. "Kau memandangiku, Ramir, tak usah berbohong. Apa yang kaupikirkan?"
"Aku tidak melihatmu. Aku cuma ..."
"Hei, aku tidak keberatan. Kenapa aku harus tidak suka dilihat olehmu? Ha?" Seringai Rifa tampak dalam remang-remang. "Tetapi aku lebih senang kalau kau mau mengatakan apa yang ada dalam kepalamu itu."
"Ya, sudah. Terserah." Rifa mengalihkan pandangannya ke luar. "Sudah hampir fajar?"
"Belum." Ramir lega karena mendapat pertanyaan yang lebih mudah untuk dijawab.
"Para bedebah itu masih tidur?" Rifa beringsut dari ujung gua. Ia berjalan menunduk lalu duduk di samping Ramir. Begitu dekatnya hingga bau tubuhnya tercium. Pandangan gadis itu tertuju jauh ke lembah di bawahnya yang diterangi cahaya rembulan.
"Kurasa belum." Ramir ikut melongok, sambil berpegangan pada batu besar di bibir tebing, tepat di depan mulut gua. Seekor makhluk kecil kemudian menyelip di antara Ramir dan Rifa, menggelitik kaki-kaki mereka. Toulip. Kucing itu ikut melongok.
Jauh di bawah mereka, tampak cahaya yang berasal dari api unggun. Beberapa orang terbaring, menikmati tidur. Ada sepuluh, dan di antaranya adalah tiga orang prajurit yang telah melukai Rifa. Para prajurit Akkadia itu sudah terlihat sejak kemarin. Seperti halnya Ramir dan Rifa, mereka tampaknya juga menuju ke utara. Untunglah sejak awal keduanya mengambil jalan di atas perbukitan, sehingga memudahkan mereka berjalan tanpa terlihat.
Toulip mengeong. “Ada satu orang yang tidak tidur, Ramir.”
Suara kucing itu langsung diulangi Ramir untuk Rifa, “Ada satu yang tidak tidur. Seorang yang bertugas jaga.”
"Hah?" Rifa menoleh tak percaya. "Kau bisa melihatnya dari sini?"
"Sepertinya begitu," jawab Ramir sekenanya.
__ADS_1
Rifa memicing, berusaha menajamkan penglihatan, lalu mengangguk. “Satu orang yang terdekat dengan api unggun kelihatannya tidak tidur. Ia bergerak sejak tadi.”
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Rifa menyeringai lagi. “Itu terserah kau, Ramir.”
"Tergantung aku?"
Rifa balik menatap. “Aku cuma mengikutimu.”
"Sebenarnya, kau tak perlu terus mengikutiku," tukas Ramir.
"Tetapi kau ingin aku terus mengikutimu."
"Aku?" Ramir hampir tertawa.
Rifa mengangguk kecil. "Kau senang aku mengikuti perjalananmu, tetapi kau tak pernah mau mengakuinya."
Keduanya berpandangan. Rifa kelihatannya menunggu. Ramir bertanya-tanya dalam hati, apakah ia harus bercerita kalau ia harus pergi ke utara, untuk mencari tahu mengenai masa lalunya, dan juga tentang Penjaga Ilmu. Walaupun aneh, mungkin memang sudah waktunya, jika Ramir ingin tahu bagaimana Rifa bisa mengenal Elanna.
Ramir termangu. "Rasanya bodoh seperti ini terus."
"Ya. Bodoh."
"Kita sama-sama pergi ke utara, tetapi tidak mau mengatakan kenapa kita pergi ke sana."
"Ya. Bodoh."
"Aku memang bodoh, tetapi kurasa kau licik!"
"Apa?" Rifa melotot.
"Kau yang ingin pergi bersamaku," serang Ramir. "Seharusnya kau yang lebih dulu bercerita kenapa kau mau melakukan itu!”
"Pelankan suaramu, atau para bedebah itu akan mendengar." Rifa melirik ke arah lembah. "Tidak, Ramir. Seperti selalu kubilang, aku takkan bercerita tentang diriku sebelum kau bercerita tentang dirimu.”
"Kalau begitu, kau tak usah mengikutiku lagi!"
Rifa tertawa. “Jangan berbohong terus. Dalam hatimu kau ingin aku ikut bersamamu.”
Ramir terdiam, lalu menggeram. “Baik. Kau menang!”
"Ramir, aku tidak peduli soal menang-kalah. Aku hanya ingin pada akhirnya kau mau terbuka kepadaku, dan mau mempercayaiku. Itu saja.” Keduanya saling menatap. “Aku berjanji, Ramir, kau pasti akan merasa lega setelah bercerita kepadaku, dan selanjutnya kau akan senang begitu mendengar sesuatu yang akan kuceritakan kepadamu nanti.”
__ADS_1