
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 73 ~ Kubah Putih
Karya R.D. Villam
---
Dikirim ke Akkadia jelas lebih buruk daripada pergi ke Anshan!
Seperti itulah yang nanti akan terjadi pada Ramir jika Naia tak bersedia berunding dan memenuhi keinginan kelompok Kubah Putih. Entah keinginan yang seperti apa.
Ramir takut dan bingung, serta mulai menyesali nasibnya. Mungkin semua ini tak akan terjadi jika dulu ia tidak nekat pergi ke utara untuk mencari tahu soal Penjaga Ilmu, dan juga masa lalunya. Mungkin akan lebih menyenangkan, dan pastinya lebih aman, jika ia tetap tinggal di desanya dan hidup sebagai seorang anak desa biasa yang tak tahu apa-apa.
Namun orang-orang Kubah Putih lalu memberinya sepotong roti dan sebotol minuman. Sepertinya tidak hanya untuk menutup lapar dan hausnya, tetapi juga untuk menenangkan hatinya. Perlakuan mereka memang baik, tetapi tetap saja Ramir merasa dirinya sebagai seorang tawanan, atau lebih tepatnya, mirip seekor domba yang awalnya diberi makan sampai gemuk lalu nantinya akan diumpankan kepada sekelompok barion.
Orang-orang itu kembali membuatnya tertidur, dan saat Ramir terbangun, ia menatap bayangan dirinya bergoyang-goyang pada dinding di depannya. Ia pun duduk. Rupanya ia tertidur di lantai beralas kain tebal dalam kamar berukuran sedang. Kursi dan meja kecil ada di satu sisi, di samping jendela bertirai. Dari celahnya Ramir melihat langit terselimuti malam. Ia coba mengingat-ingat, dan tiba-tiba teringat pada Toulip.
Di mana kucing itu? Apakah dia tertinggal di tenda Kudur? Ramir berharap dia baik-baik saja. Ya, Toulip kucing yang pintar, pasti bisa kabur dari tenda Kudur. Ramir berharap Toulip nanti kembali saja ke desanya dan bertemu dengan kakeknya, dan mungkin dengan entah cara apa bisa memberitahu sang kakek bahwa Ramir masih hidup dan baik-baik saja. Ramir tak ingin sampai membuat kakeknya itu khawatir lalu mencarinya.
Berusaha menghilangkan resahnya Ramir lalu berdiri. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tubuhnya baik-baik saja, lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu di seberangnya. Pintu itu tidak tertutup rapat, sehingga Ramir bisa mengintip dan mendengar suara beberapa orang di luar sana, walaupun ia tetapi tak bisa melihat mereka. Mereka orang Kubah Putih? Dan ini markas mereka? Tentunya ia belum dikirim ke Akkadia, bukan?
Rasa ingin tahu mengalahkan kekhawatirannya. Perlahan ia mendorong daun pintu. Suara berderit dari engselnya terdengar. Seketika suara perbincangan terhenti.
Ramir terpaku. Ada sebuah meja bundar di tengah-tengah ruangan, dan empat orang lelaki yang duduk di sekelilingnya kini menatap lurus ke arah Ramir. Seorang yang rambutnya telah memutih dan berjanggut panjang lalu berdiri dan berjalan mendekat.
Lelaki itu tersenyum. “Selamat malam, Ramir. Duduklah bersama kami.”
Ucapan lelaki itu sopan. Dia kelihatannya seorang yang menyenangkan, terbukti mampu membuat rasa takut Ramir sedikit berkurang. Tetapi bisa jadi itu hanya kedok. Ramir tak membalas salamnya. Ia mengikuti lelaki itu duduk, tanpa membalas ketiga orang lainnya yang tersenyum. Ramir masih ngeri membayangkan orang-orang ini bakal menyerahkannya kepada penguasa Akkadia, jadi bagaimana bisa ia beramah-tamah dengan mereka?
“Kau lapar, Ramir? Silakan ambil makanan atau minuman ini. Ini memang untukmu.”
Ramir memperhatikan beberapa potong daging dan sebutir kentang yang tergolek di atas piring, dan juga semangkok air minum di sebelahnya. Ia menukas, “Kali ini makanannya tidak akan membuatku pingsan?”
__ADS_1
“Tidak.” Laki-laki tua itu tertawa. Tawa lain terdengar di sekitarnya.
Ramir melirik, kini berkesempatan memperhatikan mereka. Di samping orang pertama tadi ada orang kedua, yang rambutnya juga sudah memutih, tetapi tampak sedikit lebih muda. Di seberangnya ada orang ketiga, jauh lebih muda dengan wajah yang bersih. Dan di seberang meja, dalam gelap, ada orang keempat. Ramir belum bisa mengenali wajahnya.
Orang pertama tadi berkata, “Ini tak akan membuatmu pingsan. Jadi silakan makan dan minum sepuasmu. Namun sebelumnya, kenalkan, namaku Parvez, aku pemimpin Kubah Putih. Lalu ini wakilku, Tuan Jarraf.” Ia menunjuk si orang kedua di sampingnya. “Dan kami minta maaf jika kepala prajuritku, Nahim …,” si orang ketiga. “… berlaku atau berkata sedikit kurang menyenangkan padamu.”
Ramir menatap Nahim. Berarti pemuda itu yang berbicara padanya tadi siang.
Ramir menjawab, “Tidak apa, Tuan Parvez. Sebenarnya dia tidak berbuat sesuatu yang jahat. Dia cuma membuatku pingsan, memberi makan dan minum seadanya, dan mengancam untuk membuangku ke Akkadia.”
Nahim tersentak. “Hei, aku hanya membuatmu tertidur. Aku memberimu roti jatahku, dan aku tidak berkata seburuk itu.”
Parvez tertawa. “Ramir, sekali lagi kami minta maaf. Kami berjanji tak akan lagi membuatmu tertidur jika kau tak menginginkannya. Kami akan memberimu makan dan minum lebih banyak, dan berkata lebih baik.”
Ramir memandangi lelaki itu. Kekhawatirannya masih ada, tetapi ketakutannya mulai memudar. “Tuan, aku tak ada masalah dengan hal itu. Aku anak desa yang biasa makan dan minum seadanya. Tetapi Nahim tadi bilang aku akan diserahkan pada Akkadia jika Putri Naia tak mau bekerjasama dengan kalian. Benarkah?”
“Ah, tentu saja kami berharap tidak sampai seperti itu. Harus kuakui, ya, itu salah satu rencana awal kami, tetapi itu hanya rencana. Kubah Putih berada di tanah Elam, dan sangat tidak bijak jika kami sampai berseberangan dengan Raja Javad dari Awan. Lagipula Tuanku Iradrin …” Parvez menoleh pada orang keempat, yang duduk di balik sudut meja, “berkata sebaiknya kami justru melindungimu, apa pun yang terjadi.”
“Melindungiku?”
“Tuanku Iradrin akan bicara langsung padamu.”
“Ramir, benar itu namamu?” Ternyata suara orang itu masih terdengar cukup jelas.
“Ya.” Ramir mengangguk gugup.
“Dan kau adalah cucu Haladir?”
Napas Ramir tertahan. Dari mana orang ini bisa tahu?
“Ah, jangan kaget, sudah terlalu banyak orang yang tahu rahasia itu.” Iradrin tersenyum. “Saudara-saudaraku dari Kubah Putih juga sudah pasti bukan orang yang terakhir tahu.”
“Anda kenal kakekku?”
“Aku mengenalnya. Ia dulu pernah datang kemari. Aku yang memintanya datang, karena aku ingin ia mendengar sesuatu di sini. Kupikir …” Iradrin menatap Ramir dalam-dalam. “… kau mungkin juga harus melakukan hal yang sama.”
“Sesuatu apa? Dan kenapa aku?”
__ADS_1
“Ikutlah bersamaku. Akan kutunjukkan. Akan kuceritakan, karena aku ingin kau tahu sebelum kau membuat keputusan. Pegang tanganku.”
Iradrin berdiri, lalu berjalan perlahan sambil dipegangi oleh Ramir. Parvez mengikuti, sementara Jarraf dan Nahim tetap tinggal di ruangan.
Ramir dan kedua orang tua itu berjalan menyusuri koridor. Belasan obor yang dipasang sepanjang dinding menerangi perjalanan. Mereka keluar ruangan dan menyeberangi jembatan batu. Ramir bisa melihat lembah yang dalam dan gelap di bawahnya. Namun mereka kemudian masuk lagi ke dalam lorong lain yang beranak tangga, dan menurun. Walau terdapat obor juga di kiri kanan jalan, Ramir tak bisa melihat ujung lorong tersebut.
“Sebenarnya ini tempat apa?” gumam Ramir, sedikit gelisah.
“Kau bisa menyebut ini markas Kubah Putih,” kata Iradrin.
“Ini Kubah Putih,” Parvez yang berjalan di belakang menegaskan. “Dari luar, kau bisa melihat kubah batu berwarna putih yang menutupi bangunan ini, tepat di tengah empat menara. Tetapi kubah itu hanya bisa dilihat dari sudut yang tepat, karena bangunan ini tersembunyi di balik gunung berbatu.”
“Ini tempat kelompok kalian sejak dulu?”
“Bangunan ini didirikan dua ratus tahun yang lampau,” jawab Parvez. “Tetapi kelompok kami sendiri sudah ada sejak lebih dari lima ratus tahun silam. Seluruh ilmu dari leluhur kami disampaikan dari mulut ke mulut. Dan bagi generasi kami, Tuanku Iradrin adalah satu-satunya tempat untuk bertanya.”
“Takkan lama lagi, Parvez,” tukas Iradrin. “Sebentar lagi giliranmu dan rekan-rekanmu yang harus menjaga semuanya.”
“Masih lama, Tuanku. Masih lama.” Parvez menepuk bahu sang kakek.
“Anda pasti sudah sangat tua, Kakek,” kata Ramir. “Berapa umur Anda?”
“Haha. Sudah lama aku berhenti menghitung umur. Membosankan.” Iradrin terkekeh. “Tetapi aku percaya … aku sudah melewati dua ratus musim dingin.”
“Musim dingin?”
“Dua ratus tahun, Ramir,” sahut Parvez. “Itu maksudnya.”
“Dua ratus tahun?! Oh, apakah Kakek … seorang Kaspia?”
Untuk pertama kalinya Iradrin menoleh dan menatap Ramir.
Langkah kaki mereka terhenti. Untung mereka sudah sampai di lantai dasar sebuah ruangan kecil. Jika masih di anak tangga mereka bakal terjungkal.
Kakek itu bertanya dengan suara pelan, “Kau tahu soal Kaspia, Ramir?”
“Mmm … ya. Aku pernah dengar. Bekas pemimpin pasukan Putri Naia yang bernama Teeza berasal dari Kaspia. Usianya sudah seratus tahun, tetapi katanya untuk ukuran manusia biasa, dia berusia dua puluh lima tahun.” Ramir memandangi lelaki tua di hadapannya. “Berarti jika Anda, Kakek, adalah seorang Kaspia dan berusia dua ratus tahun, berarti sama saja Anda berumur … maksudku, bisa dibilang baru berumur lima puluh tahun?”
__ADS_1