
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 27 ~ Sang Panglima
Karya R.D. Villam
---
Zylia duduk bersandar di dinding. Ruangan itu gelap tetapi terang di tempat ia duduk. Cahaya matahari sore menyelinap masuk melalui celah jendela tak jauh di depannya. Ia melirik setiap kali ada yang lewat di depannya—mondar-mandir keluar masuk ke ruangan lain di sebelah kirinya. Mereka para prajurit, yang mengangguk hormat setiap kali melewati Zylia. Namun ia malas tersenyum, dan memilih untuk menenangkan pikiran daripada berbasa-basi. Matanya terpejam, membayangkan kejadian yang baru dialaminya tadi siang, mencoba menyatukannya dengan keping-keping ingatannya yang masih terpecah di berbagai tempat.
Wajah sedih Putri Naia terbayang di benaknya. Gadis bertubuh kecil itu begitu memelas. Zylia tak mengerti mengapa putri itu seperti begitu kehilangan dirinya. Bukankah Zylia hanya sekadar menyamar menjadi pimpinan pasukannya? Atau ada hal lain?
Satu hal lain juga mengganggu Zylia: kenapa ia merasa kasihan pada Putri Naia, musuhnya itu? Zylia tahu pedangnya tadi begitu dekat di leher gadis itu, tetapi anehnya ia sama sekali tak punya keinginan melukainya. Apa yang sebenarnya ia rasakan?
Bagaimanapun, tadi ia telah menendang dada sang raja Awan. Begitu telak. Juga mengancam akan membunuh mereka semua. Zylia telah menyatakan maksudnya dengan jelas. Pasti Putri Naia mengerti sekarang bahwa mereka berdua adalah musuh.
Langkah kaki ringan terdengar. Seseorang mendekat. Zylia membuka matanya. Di sebelah kirinya berdiri seorang lelaki bertubuh jangkung dan te-gap. Rambut emasnya berkilat tersiram cahaya matahari, dan senyumannya tampak begitu ... bahagia?
Rahzad? Inikah Jenderal Rahzad yang terkenal?
"Zylia." Lelaki itu menyentuh bahu kiri Zylia. "Kenapa menunggu di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja ke dalam?"
Zylia heran melihat perlakuan lembut lelaki itu. Ia bingung, lalu cepat-cepat berdiri dan mengangguk. "Jendral, terimalah hormatku."
"Apa?" Lelaki itu terperangah.
Zylia tertegun. “Bukankah ... kau benar Jenderal Rahzad?"
"Ya, benar, tetapi … kau benar-benar tidak ingat wajahku?”
"Maafkan aku."
"Kau tak perlu minta maaf." Rahzad menatapnya penuh perhatian. "Zylia, aku tidak menyangka hilang ingatanmu begitu parah. Saat aku mendengar kejadian yang menimpamu, aku berharap, paling tidak kau masih ingat padaku. Kau ... benar-benar lupa?"
Zylia memejam. Ya, sepertinya ada sesuatu dari nama Rahzad, dan juga wajahnya, yang bisa diingat olehnya. Tetapi semuanya masih kabur. Namun tampaknya Rahzad memang seorang yang cukup penting dalam kehidupannya dulu. Zylia membuka matanya.
__ADS_1
"Kau teringat sesuatu?" Rahzad bertanya.
"Maaf." Zylia menggeleng kecil. "Belum begitu jelas."
"Tampaknya ... Aku berharap sebenarnya kau bisa mengingatku, tetapi mungkin, aku harus mengatakannya sendiri padamu."
"Apa?" Zylia menahan rasa ingin tahunya.
Rahzad merangkulnya. "Kita bicara di dalam saja."
Zylia membiarkan dirinya diajak lelaki itu, melewati pintu kayu berukir, ke dalam ruangan yang sudah separuh gelap karena matahari mulai terbenam. Sebuah obor yang apinya bergoyang di sudut ruangan membuat bayangan patung ular di salah satu dinding menari-nari. Ada dua buah kursi panjang berukir di tepi jendela yang terbuka lebar.
Rahzad duduk, dan mempersilakan Zylia duduk di sebelahnya. “Santailah. Aku tak tahan melihat melihat beban berat di wajahmu. Tak ada yang perlu kau risaukan.”
Zylia duduk. Tangannya meraba permukaan kursi yang halus dan lembut. Rahzad benar, ia harus menenangkan diri, coba melupakan segala hal yang mengganggu pikirannya. Dan ya, ia merasa nyaman saat ini. Ada sesuatu dalam diri Rahzad yang membuatnya nyaman. Mungkin perlakuan dan kata-kata lembutnya. Mungkin pula senyumannya. Zylia merasa sedikit malu. Jangan-jangan, memang ada sesuatu yang khusus antara dirinya dan Rahzad.
Rahzad menyodorkan secawan minuman. "Minumlah. Akan membuatmu lebih nyaman."
Saat Zylia mendekatkan gelas kayu ke bibirnya, dan mencicipi rasanya yang hangat dan manis, matanya bertatapan dengan mata biru Rahzad. Gadis itu pun menjadi gugup. "Jenderal, maaf. Aku gagal menjalankan tugas menangkap Putri Naia."
Rahzad tertawa kecil. “Pertama, jangan panggil aku Jenderal. Panggil saja Rahzad, seperti kau biasa memanggilku. Atau kau juga boleh memanggil nama kecilku, Niordri. Kedua, tak ada yang perlu disalahkan. Rencana kita bagus, dan aku bahkan menikmati penyamaranku. Tetapi memang ada sesuatu yang terjadi di luar perkiraan kita.”
"Aku tak tahu siapa yang datang itu,” katanya. “Kau tahu?”
"Aku belum yakin, pada saat itu." Rahzad bersandar sambil mengetuk-ngetuk cawannya. "Tetapi aku telah bicara dengan Ishtar."
"Ishtar?"
"Jangan bilang kau melupakan juga nama dewi pelindung kita!"
"Aku ..." Zylia menggeleng lemah. "Maaf."
Rahzad mengangkat bahu. “Ishtar memberi tahu, sosok berjubah putih yang menolong Putri Naia tadi siang adalah Nergal. Makhluk terkutuk seperti Davagni, tapi jauh lebih kuat.”
"Makhluk terkutuk? Tampaknya ia sangat ..."
“Tampan?” Rahzad tertawa kecil. “Aku senang kau tak kehilangan sisi kewanitaanmu.”
Zylia merasakan dadanya bergejolak. Malu, bercampur marah.
__ADS_1
Rahzad mengangkat tangannya. “Maaf, cuma bercanda. Aku hanya sedikit ... cemburu."
Zylia yakin wajahnya pasti memerah sekarang. “Nergal ini, bisakah kita melawannya?”
"Tentu saja." Rahzad tertawa. "Aku malah senang akhirnya menemui lawan tangguh. Tantangan membuat hidup jadi menarik. Tetapi memang, pasti akan lebih sulit daripada biasanya, dan mungkin, terpaksa, akan banyak korban dalam pertempuran berikutnya."
Zylia merinding. Suara lelaki itu terasa begitu dingin.
Rahzad menatapnya lekat-lekat. "Kau memikirkan sesuatu?”
Zylia menggeleng. “Kau punya rencana?”
Rahzad merebahkan tubuhnya di kursi panjang. Tangannya terlipat, dan matanya menatap langit malam melalui jendela. “Zylia, apa kau masih ingat, siapa diri kita sebenarnya?”
Hening. Zylia mendengar suara jantungnya sendiri berdetak cepat. Siapa aku?
Zylia teringat pembicaraannya dengan Ramir. Ia berasal dari Kaukasia? Negeri yang dingin dan jauh? Apakah ia harus mengatakan hal itu? Tidak. Lebih baik tidak. Rahzad akan bertanya dari mana Zylia tahu, padahal Zylia sama sekali tak ingin menyebut nama Ramir ataupun kakeknya. Bisa berbahaya buat mereka. Dan ... Ramir, Ramir ... kenapa aku terus teringat wajahnya?
Ia menelan ludah. "Aku tidak ingat."
Rahzad menatapnya tajam. “Kita orang-orang Kaspia, Zylia. Negeri kita ada di balik pegunungan Kaukasia, di tepi barat Laut Utara. Kita adalah bangsa terkemuka di antara seluruh bangsa-bangsa di utara, dan tentu saja, berarti kita adalah bangsa terkemuka di seluruh dunia. Kita memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain.”
"Keistimewaan?"
"Tidak hanya memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat, umur kita juga empat kali lebih panjang dibanding umur manusia bangsa-bangsa lainnya."
Napas Zylia tertahan. Empat kali lebih panjang? Jadi berapa umurnya sekarang, yang sebenarnya? Ia teringat Ramir. Pemuda itu dulu menebak umurnya adalah sekitar dua puluh lima tahun. Apakah berarti umurnya yang sebenarnya adalah seratus tahun?
Seratus tahun! Bukan karena tuanya yang membuat Zylia kesal, tetapi karena ia tak ingat sama sekali kehidupannya di seratus tahun itu!
"Dengan umur panjang ini ..." Rahzad melanjutkan. "Kita punya waktu jauh lebih banyak untuk mempelajari segala sesuatu. Itu membuat kita menjadi menjadi bangsa yang unggul.”
"Benarkah?” balas Zylia datar. “Apakah itu ... penting?"
Rahzad tertawa. “Dalam hatimu kau pasti merasakannya, Zylia, bahwa kau istimewa dibanding orang lain di sekelilingmu. Benar?”
__ADS_1