
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 20 ~ Rencana Sederhana
Karya R.D. Villam
---
Zylia termenung di tendanya. Ia harus menjalankan rencana rahasia itu malam ini. Tetapi semakin ia berpikir, bukan soal itu yang ternyata menari-nari di kepalanya, melainkan tentang hal lain: dirinya sendiri. Ia adalah seorang prajurit Akkadia berpangkat kapten, pemimpin dalam pasukannya. Ia bertanya-tanya apa yang telah dilakukannya di masa lampau selama ia menjadi prajurit. Apakah ia pernah membunuh orang? Berapa banyak, dan berapa banyak pula yang dibunuh oleh anak buahnya atas perintahnya? Siapa saja yang mereka bunuh? Apakah prajurit musuh, dan juga kaum terkutuk pimpinan putri Ebla itu? Adakah rakyat pula?
Napas Zylia tertahan. Ia teringat seorang pemuda, yang wajahnya belum bisa ia lupakan, yang telah menyelamatkan nyawanya, dan jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan pada prajurit Akkadia. Apa yang pernah dilihat pemuda itu sehingga begitu membenci Akkadia?
Letnan Cherib telah banyak bercerita tentang bagaimana pasukan Akkadia menaklukkan seluruh kerajaan Sumer di antara Sungai Eufrat dan Tigris, termasuk Akshak dan sekitarnya. Tetapi Zylia tetap belum bisa membayangkan penaklukan yang seperti apa.
Zylia membuka kedua telapak tangannya, memandanginya lekat-lekat. Pernahkah ada darah di tangan ini? Darah siapa saja? Dengan apa ia biasa membunuh? Dengan pedang yang tergantung di pinggangnya? Dengan tombak yang berdiri di samping pintu tenda?
Atau dengan ... busur dan panah?
Dan kenapa Cherib belum juga memberinya busur dan panah seperti janjinya?
Zylia menggeram dan bangkit. Ia tidak harus memanggil Cherib sekarang. Ada tugas penting yang harus dilakukannya. Ia melepaskan temali jubah hitam di lehernya, kemudian mengenakan pakaian hitam yang telah disiapkan Ibbsin untuknya. Rambut peraknya yang panjang digulung ke atas, disembunyikan di balik kain panjang warna hitam yang menutup seluruh kepalanya. Hanya sepasang matanya yang kini tampak dari wajahnya.
Dalam gelap Zylia keluar dari tenda, mengendap-endap, lolos dari penglihatan siapa pun yang masih terjaga malam ini. Tujuannya adalah rumah tahanan yang terletak di selatan kota, tempat penyekapan tiga orang prajurit Ebla. Ia melompat tinggi ke atap sebuah rumah yang kayu, mendarat tanpa suara sama sekali, lebih halus daripada seekor kucing. Dari sana ia melihat tanah lapang di balik beberapa bangunan—tempat para prajurit melewatkan malam. Di tengah tanah lapang terdapat sebuah sangkar kayu dengan tinggi tak lebih dari setengah tombak, serta panjang dan lebar sekitar satu tombak. Kecil, tetapi masih cukup menampung tiga orang pria yang duduk meringkuk di dalamnya, yang keseluruh pergelangan tangannya diikat ke atas.
Hanya ada dua prajurit yang berjaga di sekitar tempat itu. Keduanya berdiri dekat dinding bangunan, sedang berbincang. Tak ada yang lain. Tampaknya semua sudah dipersiapkan oleh Ibbsin. Zylia melompat turun dari atas atap bagai hantu. Kedua tangannya melumpuhkan kedua prajurit dengan cepat tanpa bersuara. Ia mendengar desah napas tertahan dari sangkar kala ia menyelesaikan aksinya. Zylia menoleh. Ketiga tawanan itu menatapnya tak berkedip.
Zylia lari mendekat. Ia membuka pintu sangkar, lalu mengeluarkan belati dan memotong tali yang mengikat orang-orang itu. Ia berusaha mengenali ketiganya. Apakah ada yang diingatnya? Tidak. Ia tidak ingat. Ketiga orang itu berjongkok keluar dari dalam sangkar. Ringis kesakitan tampak setiap kali mereka bergerak, dan terutama saat mereka berdiri.
Seorang dari mereka, yang berkumis tipis, bertanya pada Zylia, ”Siapa kau?”
Zylia membuka kain penutup wajahnya tanpa berkata-kata.
Wajah ketiga orang itu langsung berubah cerah. ”Kapten! Bagaimana—”
”Jangan berisik.” Zylia memalingkan wajah. Ketiga orang ini mengenalnya, sementara ia tidak bisa mengenali mereka. Ingin rasanya Zylia bertanya soal nama mereka, tetapi nanti mereka akan curiga. ”Kita harus pergi dulu dari tempat ini. Kalian bisa jalan?”
Si kumis tipis mencoba tersenyum di antara ringis kesakitannya, ”Orang-orang Akkadia memukuli dan mencambuki kami selama dua hari. Tetapi kurasa kami masih bisa jalan.”
”Kalian dipukuli?” Mata Zylia menyipit. Ya, benar, muka orang-orang ini tampak memar. Mengapa ia tadi tak memperhatikannya?
__ADS_1
”Ya, Kapten. Tetapi kurasa... kami bertiga masih cukup beruntung. Tiga rekan kita yang lain, yang tertangkap juga, sudah menjadi santapan barion. Keparat!”
Darah Zylia membeku. Menjadi santapan barion? Ia merinding. Kemudian bingung. Orang-orang ini musuhnya. Haruskah ia menunjukkan rasa kasihan? Tetapi, tentu saja harus. Bukankah ia sedang menyamar?
”Aku ... menyesal,” kata Zylia. ”Tetapi ceritanya nanti saja. Kita harus pergi dulu.” Ia memimpin ketiga orang itu melewati celah-celah sempit di antara rumah-rumah, cukup jauh, sampai akhirnya tiba di dekat pemukiman penduduk, sesuai petunjuk Ibbsin.
Di sebuah jalan sempit, mereka berhenti. Zylia memandang berkeliling ke setiap sudut jalan dan bangunan. Benar-benar sepi. Aman.
”Sekarang, coba ceritakan keadaan Putri Naia.”
”Kami meninggalkannya di sebuah rumah di utara. Ia ditemani Fares. Seharusnya ia baik-baik saja. Kami akan ke sana nanti.”
Fares? Siapa lagi dia?
Zylia menggeleng, berusaha melepaskan nama itu dari pikirannya. ”Aku dengar Putri Naia datang ke kota ini kemarin sore dan bertempur melawan pasukan Akkadia,” ia berkata. ”Tetapi ia berhasil lolos. Kelihatannya ia dibantu sekelompok orang.”
”Sekelompok orang?” Prajurit yang berambut tebal berkata sambil melihat ke si kumis tipis. ”Mungkinkah mereka, Letnan?”
Si kumis tipis yang dipanggil ’letnan’ itu mengangguk. ”Pasti orang-orang Awan. Kami dengar beberapa dari mereka memang ada di kota ini. Kabar burung.”
”Orang Awan?” Zylia termangu. ”Kalian tahu ke mana mereka?”
”Kami bisa mencari tahu.”
”Siap, Kapten. Tetapi kau sendiri, ke mana?”
”Ada yang harus kuselidiki di tempat lain. Tak usah khawatir. Aku bisa menemukan kalian nanti.” Ya, itu lebih baik. Semakin lama Zylia bersama orang-orang ini, mereka akan semakin curiga kenapa sedikit sekali hal-hal yang bisa diingat olehnya. Lebih baik ia menghindar dulu. Lagipula, ini sesuai rencana Ibbsin.
”Tetapi, Kapten, seandainya nanti kami bertemu Putri Naia, kami harus bisa menjelaskan padanya apa yang menimpamu malam itu. Apakah malam itu kau benar-benar bertempur dengan barion dan prajurit Akkadia?”
Dahi Zylia berkerut. ”Aku? Bertempur?”
Si letnan mengangguk. ”Malam itu di gunung. Kau memancing pasukan Akkadia untuk menyelamatkan kami. Apakah akhirnya kau bertempur?”
Zylia kebingungan. ”Ya, tentu saja. Kalian tidak tahu apa yang terjadi denganku?”
”Bagaimana bisa, Kapten? Kami semua terpisah denganmu.”
”Oh ... ya, tentu saja. Mmm ... maksudku, aku bertempur, tetapi berhasil lolos.” Zylia mendapatkan jawaban yang tepat. ”Lalu apa yang terjadi dengan kalian?”
”Kami disergap gerombolan gharoul,” jawab si kumis tipis. ”Lima rekan kita mati di sana, tetapi kita berhasil lolos ke sungai. Kapten, Putri Naia sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Kabarmu sekarang pasti sangat menggembirakan hatinya.”
Zylia termangu. Putri Naia, musuhnya itu, benar-benar mengkhawatirkan dirinya?
__ADS_1
”Ya ... Aku senang.” Zylia akhirnya mengangguk. ”Kalau kalian bertemu dengannya, katakan aku akan segera menemuinya.”
”Baik, Kapten. Kami pergi dulu.”
Ketiga orang itu menghilang dalam gelap, meninggalkan Zylia yang berdiri diam di tengah jalanan sepi. Awan gelap menutupi rembulan sesaat.
Ketika kegelapan tersingkap, suara langkah kaki terdengar di belakang Zylia. Zylia tidak menengok; ia tahu siapa yang datang.
”Sesuai rencanamu, Ibbsin,” katanya datar.
”Ya,” lelaki di belakangnya itu menjawab. ”Prajuritku akan mengikuti mereka bertiga. Sekarang kita tinggal menunggu kabar.”
”Bagus.”
”Ada yang mengganggumu, Zylia?”
Zylia menoleh. ”Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku, Ibbsin?”
Wajah lelaki di hadapannya langsung berubah tegang. ”Apa ... apa maksudmu? Apa yang kusembunyikan darimu?”
Zylia menatap tajam. ”Salah satunya, siapa yang membuat aku terluka. Orang itu tadi bilang aku bertempur dengan prajurit Akkadia. Apa maksudnya?”
”Tetapi saat itu kau memang sedang menyamar. Dalam penyamaran, wajar kau bertempur melawan pasukan kita sendiri.”
”Maksudmu pura-pura bertempur? Tetapi kenapa aku sampai terluka?”
Wajah Ibbsin memucat. ”Mungkin ... ada sedikit kesalahan.”
”Kesalahan? Lukaku cukup parah, Ibbsin! Aku hampir mati!”
”Pasti ada kesalahan!” ulang Ibbsin yang wajahnya makin memucat.
”Kau tidak tahu soal ini?”
”Kejadian sebenarnya, jujur, sebenarnya aku ... aku juga tidak terlalu paham,” Ibbsin menjawab terbata-bata.
”Apa?” Zylia melotot. ”Kau bilang tadi—”
”Zylia, aku hanya menyampaikan kabar-kabar yang kuterima. Aku tak bisa menjelaskan semuanya. Hanya ada satu orang yang bisa menjelaskan semua ini padamu.”
”Siapa?”
”Jenderal Rahzad.”
__ADS_1