Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 69 ~ Keinginan Raja-Raja


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 69 ~ Keinginan Raja-Raja


Karya R.D. Villam


 


---


 


Ramir memperhatikan Faruk yang bertengger di tangan kanannya. Elang gunung itu menatap tajam, seperti yang biasa dilakukannya pada Javad atau Rifa. Sayangnya Ramir tidak bisa mengerti sedikit pun pesan yang diucapkan oleh hewan itu.


“Kau masih harus banyak belajar,” tukas Toulip yang duduk di sebelah Ramir, di atas batu sungai. Seperti biasa kucing itu bicara sok tahu.


Ramir melirik tajam. “Lalu kenapa tidak kau saja yang menerjemahkan kata-katanya?”


“Toulip bisa, tetapi tak sebanyak yang disampaikan melalui mata elang itu. Toulip hanya mendengar, bahwa banyak pertempuran terjadi di barat. Hanya manusia yang bisa saling membunuh seperti itu. Sungguh kesia-siaan belaka.”


“Kita menang?”


“Menang, kalah, Toulip tak bisa menjelaskan lebih jauh.” Kucing itu menatap Ramir yang termenung.


“Aku harap kita menang,” kata Ramir. “Tetapi aku juga berharap … semoga tidak terjadi sesuatu pada Teeza. Semoga dia bisa sembuh dari hilang ingatannya, dan kembali ke sini.”


“Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padanya nanti, seandainya bertemu?”


“Ya .... Ada. Mungkin tidak penting, tetapi …”


“Toulip yakin itu pasti penting.” Kucing itu tersenyum usil. “Kalau begitu tunggu saja. Kau akan tahu semuanya sebentar lagi.”


Toulip benar. Tak lama terdengar suara terompet mengalun panjang.


Ramir bangkit dan menatap jauh ke arah barat. Dua puluh pengawal Awan yang diperintahkan Javad untuk menjaganya ikut berdiri. Dari balik bukit muncul ribuan prajurit, yang lalu turun menyeberangi padang rumput. Mereka para prajurit Elam.


Ramir lega melihatnya, tetapi kemudian dua orang lelaki datang menghampirinya sambil berlari. Isfan dan seorang prajurit Ebla lainnya yang bernama Zandi. Keduanya tampak khawatir.


“Kami sudah melihat dari atas bukit,” kata Isfan. “Sepertinya aku tidak melihat Putri Naia. Juga Fares, atau Raja Javad ....”


“Apa yang terjadi?” tanya Ramir. “Siapa yang memimpin pasukan ini?”

__ADS_1


“Kelihatannya raja dari Susa dan Anshan. Naram dan Kudur.” Isfan menghela napas. “Aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkin pasukan Awan tertinggal di belakang. Semoga mereka selamat.”


“Kita akan tahu,” sahut Zandi sambil menatap curiga pada pasukan yang mendekat itu. “Mereka datang.”


Ribuan prajurit Elam sampai di tepi Sungai Tigris. Mereka duduk beristirahat menghabiskan air minum. Tanpa diminta, Faruk tiba-tiba melenting tinggi ke angkasa, pergi menjauh. Tampaknya elang itu hendak menemui kembali tuannya.


Beberapa raja lalu naik ke atas bukti menghampiri Ramir dan para pengawalnya. Ramir tak mengenali mereka, kecuali Naram yang sosoknya telah ditunjukkan Isfan sebelumnya.


Raja berjenggot panjang dari negeri Susa itu berkata angkuh, “Kau yang bernama Ramir, ahli waris Gerbang Sungai Tigris?”


Ketakutan menyelimuti Ramir seketika. “Y—ya, aku Ramir.”


“Buka gerbang itu sekarang,” kata Naram. “Pasukan kami akan menyeberang.”


“Tetapi, Tuanku,” Isfan menyela seraya menunduk hormat. “Mungkin Anda bisa jelaskan dulu pada kami, apa yang terjadi di barat? Anda tahu Ramir hanya akan membuka gerbang jika ada perintah dari Yang Mulia Javad.”


Naram balik melempar tatapan tajam. “Yang kutahu bocah ini bisa membuka tanpa perlu perintah siapa pun. Dia adalah sang ahli waris, dan karenanya keputusannya harus didasarkan atas pertimbangannya sendiri, bukan orang lain. Tetapi, baik, akan kuceritakan apa yang terjadi, singkat saja. Kita memenangkan pertempuran pertama. Pasukan Akkadia mundur ke barat, lalu Tuanku Javad memaksa seluruh prajurit mengejar mereka. Itu keputusan yang keliru, karena kemudian Akkadia balik menyerang dengan pasukan yang lebih besar. Tuanku Javad kemudian membuat keputusan lagi. Sebagian pasukan, dipimpin langsung olehnya, akan berusaha menahan serangan tersebut, dan sebagian lagi, kembali ke Sungai Tigris.”


“Putri Naia ikut bersama Tuanku Javad?”


“Ya, dia ada di sana.”


“Beraninya kau berkata itu pada kami?!” Seorang raja lainnya, yang lebih muda daripada Naram dan bercambang tebal, melotot.


“Tuanku Kudur,” Naram menenangkannya, lalu beralih lagi. “Letnan Isfan, lebih baik kita dengarkan dulu pendapat bocah ini. Aku percaya dia tahu mana yang terbaik.”


Bocah? “Tuanku, namaku Ramir.” Ramir berusaha menahan kesal.


“Baik. Ramir, apa pendapatmu?”


Ramir menoleh, ia memandangi Isfan beberapa saat, lalu menatap Naram. “Yang Mulia, aku belum bisa membukanya sekarang.”


“Dan kenapa kau belum bisa?”


“Aku … aku harus menunggu Yang Mulia Javad dan Tuan Putri Naia.”


Naram mendekat dengan gaya sedikit mengancam. “Begini, Nak, kami masih bersabar, tetapi mungkin tak bisa lebih lama. Kau lihat ribuan prajurit yang kelelahan dan kelaparan itu? Kau bisa bayangkan ribuan anak dan istri yang menunggu kedatangan mereka di rumah? Apakah menurutmu orang-orang ini belum waktunya pulang ke Elam?”


“Aku …” Ramir semakin kebingungan. “Tetapi kita tak mungkin meninggalkan Yang Mulia Javad dan para prajuritnya begitu saja! Bagaimana jika mereka membutuhkan bantuan? Bukankah kalian seharusnya membantu? Mengapa kalian meninggalkan mereka?”


“Tak akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka,” kata Naram. “Ini bukan hal yang salah untuk dilakukan, Ramir. Bukalah.”

__ADS_1


“Kita membuang-buang waktu!” seru Kudur. Suara kerasnya membuat semua orang tegang. “Bocah, aku tak ingin berbasa-basi. Sepertinya kau tidak mengerti situasi yang tengah kau hadapi. Buka gerbang itu sekarang, atau kau akan menyesal!”


Sang raja Anshan tidak mengeluarkan senjata, tetapi ini jelas sebuah ancaman nyata.


Ramir mundur gemetar, takut bercampur bingung. Isfan yang berdiri di sebelahnya terdiam. Demikian pula Zandi.


“Isfan, Bagaimana menurutmu?” tanya Ramir.


Letnan itu termangu. Ia berbisik sambil menahan kesal, “Mungkin sebaiknya dituruti, Ramir. Yang Mulia Javad dan Putri Naia tak akan suka jika terjadi apa-apa denganmu.”


“Tetapi bagaimana dengan perintah Yang Mulia Javad? Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan dia dan yang lain?”


“Dia akan mengerti nanti, dan semoga tidak terjadi apa-apa.”


Ramir menimbang-nimbang. Ini jelas sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Namun jika melihat ancaman dari raja-raja di depannya ini, tak mungkin ia melawannya.


Akhirnya, selewat tengah hari ia terpaksa membuka Gerbang Sungai Tigris. Ribuan prajurit membentuk barisan panjang, kemudian satu per satu memasuki jembatan ajaib itu untuk menyeberangi Sungai Tigris kembali ke tanah Elam. Seluruh prosesnya memakan waktu cukup lama, hingga matahari hampir jatuh ke kaki langit, tetapi itu masih lebih singkat dibandingkan saat keberangkatan dulu di mana jumlah pasukan yang menyeberang berkali-kali lipat.


Selama ribuan prajurit itu menyeberang Ramir hanya berdiri di tepi sungai, ditemani oleh Isfan, Zandi, dua puluh pengawal dari negeri Awan, dan juga Toulip. Ramir menghela napas dan bergumam, “Setelah mereka semua pergi nanti, apa yang akan kita lakukan?”


“Menunggu lagi.” Isfan tampak ragu.


“Bagaimana kalau kita menyusul ke barat?” usul Zandi. “Mencari Putri Naia.”


“Dan membawa Ramir dalam perjalanan yang berbahaya? Tidak,” tukas Isfan. “Resikonya terlalu besar. Di sini tetap lebih aman buat Ramir.”


“Maksudku, kita berdua yang pergi,” balas Zandi. “Sementara Ramir tetap di sini bersama para pengawal yang lain, bersembunyi di suatu tempat.”


“Tugas kita di sini adalah menjaga Ramir,” tukas Isfan.


Ramir termenung mendengarnya, dan tiba-tiba terdengar suara lain dari belakang.


“Soal itu, Tuan-tuan, aku punya pemecahan yang lebih baik.”


Ramir dan kedua rekannya terperanjat dan langsung berbalik. Kudur sang raja Anshan mendekati mereka diikuti oleh seratus prajuritnya. Seringai yang tampak di wajah sang raja membuat Ramir merinding.


Lelaki itu berkata, “Menurutku, kalian berdua memang harus mencari junjungan kalian. Sudah waktunya kalian bertemu dia, bukan? Tetapi khusus untuk Ramir, betul, supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya, ia harus tinggal bersama orang yang memang mampu melindunginya dengan baik. Aku.” Kudur menyeringai. “Benar, Tuan-tuan, aku akan membawa anak ini sekarang, ke negeriku.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2