
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 38 ~ Pemakan Batu
Karya R.D. Villam
---
”Aku masih tetap penasaran, Davagni, apa yang biasanya kau makan?” celoteh Fares sambil mengunyah buah apel terakhirnya. “Daging tidak, ikan tidak, buah-buahan juga tidak.”
Saat itu ia tengah bersandar ke cekungan di dinding tebing, menikmati pemandangan lembah hijau hutan lebat yang terhampar luas di depannya, dan juga siraman cahaya matahari jingga yang mulai tergelincir di cakrawala barat.
“Batu.” Terdengar jawaban dari arah belakang.
Fares menoleh, menyeringai ke arah Davagni yang tengah bertengger di bibir tebing dengan mata terpejam. “Batu? Begitu ya? Lahir dari batu, hidup dengan batu, dan nanti ... mati karena batu juga?”
Mata Davagni terbuka, senyumnya tipis. “Jangan menyiksa otak lemahmu yang terbatas, Tuan Fares. Sudah terlalu banyak manusia sok pintar sebelum ini yang berpikir tentang hal-hal yang sebetulnya tak mampu dan tak perlu mereka pikirkan, hanya karena ingin menunjukkan bahwa mereka lebih tinggi derajatnya dibanding golongan lain, padahal pada kenyataannya otak mereka takkan sanggup mencapainya. Hasilnya, hanya serentetan kebodohan yang terpelihara.”
“Hah? Omong kosong apa, kau?” Fares menggeleng kesal. “Aku bertanya padamu karena ingin membalas kebaikanmu. Kau sudah membantuku dengan memberikan semua daging dan apel ini, berarti sekarang giliranku. Dasar makhluk batu aneh keras kepala, tak bakalan mengerti dengan canda dan ketulusan hati manusia!”
Davagni tertawa. “Hamba sudah menjawab pertanyaan awalmu, kau sendiri yang lalu melanjutkan dengan pertanyaan bodoh soal hidup dan mati. Dan tak perlu menyombong soal ketulusan hati. Biar hamba yang menilai.”
“Aku? Sombong?” Fares mendengus.
“Tak perlu gundah.” Davagni menyeringai. “Kesombongan sudah menjadi ciri khas manusia sejak awal masa. Itu sudah biasa.”
“Gila.” Fares menggeleng-geleng lagi, menyadari belum punya cukup amunisi untuk berdebat dengan Davagni. Namun tetap, ia punya keusilan yang tak tertahankan. “Aku cuma membayangkan, kau takkan mungkin kehabisan makanan sampai akhir masa. Lihat semua gunung ini, isinya batu semua! Kau bisa hidup kenyang sampai kapan pun, sampai tiba waktunya para dewa bosan melihat wajah jelekmu mengotori indahnya dunia ni, dan akhirnya memutuskan untuk mengembalikanmu ke dunia kegelapan.”
Davagni terkekeh. “Pintar, Tuan Fares. Kali ini pintar sekali omonganmu.”
Fares memanfaatkan momentumnya. “Dan aku mengerti sekarang kenapa selama berhari-hari kau membawaku ke utara lewat bukit berbatu. Supaya kau tidak kekurangan makanan!”
“Kau lebih suka pergi lewat jalan bawah, Tuan Fares? Supaya dapat bertegur sapa dan bermain-main dengan prajurit Akkadia?”
Fares meringis, lalu menggeleng. “Tidak. Setelah dipikir-pikir, justru tubuh besarmu yang tak manusiawi ini yang nanti bakal menarik perhatian mereka. Kalau aku sih gampang, tinggal menutup muka dengan selimut, dan tak akan ada yang mengenaliku!”
__ADS_1
“Jadi, kau lebih suka berjalan sendiri ke utara?”
Fares terbahak. “Hei, aku bercanda. Tentu saja aku memilih bersamamu, makhluk besar terkutuk. Aku senang, bisa ikut terbang di atas gunung. Luar biasa, Davagni, kita bisa secepat ini sampai ke utara. Terima kasih.”
“Terima kasih juga, Tuan Fares. Manusia memang paling hebat dalam hal puji-memuji, sebanding dengan canda kasar dan kata-kata tajam mereka.” Davagni ikut tertawa, senang dengan wajah Fares yang kembali kesal. “Dan tentang perjalanan kita, hamba hanya mengikuti perintah Tuan Putri Naia.”
“Ya.” Fares tersenyum kecut. “Aku juga sama.”
“Kau tidak begitu suka melakukan ini, Tuan?”
“Apa maksudmu?”
Davagni menggoyang kepala hingga tanduk tunggalnya berkilat sesaat. “Hamba cuma berpikir, mana yang lebih membuatmu kecewa: tidak berhasil menjalankan tugasmu, atau tidak bisa menemani lagi Tuan Putri Naia.”
Fares mendengus. “Tentu saja aku lebih kecewa jika gagal menjalankan tugas! Aku ini prajurit!”
“Hamba tahu kau prajurit terbaik, tetapi sekali lagi—“
“Diam!” sergah Fares. Ia mengayunkan tangan melempar biji apelnya. Biji itu berputar-putar dan akhirnya lenyap ditelan hamparan pepohonan. Ia mengomel dalam hati; pertanyaan Davagni sungguh menyebalkan. Tentu saja lebih mengecewakan jika ia gagal menjalankan tugas, sekecil apa pun itu. Bagaimana mungkin ia masih berani menyandang nama Faradan, jika tak bisa menjadi pengabdi yang baik untuk tuannya? Memalukan.
Tetapi … sialan, Davagni benar juga. Memang mengesalkan, tak bisa dipungkiri, karena Fares tak bisa lagi berada di samping Naia, setelah berbulan-bulan melakukan perjalanan hidup mati bersama. Dan kini Naia memintanya untuk pergi sendiri ke utara?!
“Tuan Putri Naia …” Davagni berkata lagi, “adalah seorang gadis yang baik, berani, dan … menarik.”
Fares menghela napas perlahan, akhirnya memutuskan untuk tidak membantah ucapan Davagni. Toh apa yang dikatakan mahkluk itu benar. Naia memang gadis yang menarik. “Ya, dia cantik, kan?”
Tiba-tiba ide cemerlang muncul di kepala Fares. Ia membalas tatapan licik Davagni. Jika memang makhluk itu sedang bermain-main, atau coba memancing emosi Fares entah untuk tujuan apa, maka lebih baik Fares mengikuti permainannya. “Gadis cantik tak tertandingi di seluruh empat penjuru mata angin. Makanya, tak mengherankan, bahkan makhluk batu sepertimu saja tertarik, dan tunduk kepadanya.”
Davagni tertegun. “Hamba tunduk? Memang betul. Tapi karena kecantikannya?” Ia tertawa sekeras-kerasnya. “Bagus. Bagus sekali, Tuan Fares. Tetapi tolong akui sajalah, candamu kali ini tidak bermutu dan malah makin merendahkan kadar intelektualmu yang memang sudah sangat terbatas.”
Fares menyeringai. “Canda jenis itulah yang biasanya disukai manusia, bukan jenis canda keringmu. Suatu hari nanti akan jadi hiburan populer di seluruh dunia, lihat saja, kalau kau diijinkan hidup hingga akhir jaman.” Ia meluruskan kaki, menghilangkan kakunya. Ia tahu begitu malam tiba Davagni biasanya akan mengajaknya kembali meneruskan perjalanan, sampai tengah malam, dan barulah mereka beristirahat sampai pagi. Malam ini tak akan berbeda. Mungkin tinggal satu malam ini saja, karena besok mereka sudah akan tiba di kota Turkar, di kaki Pegunungan Zagros di utara.
Sebuah batu berukuran sekepala tanpa sengaja tertendang oleh kaki Fares hingga bergulir ke bibir tebing. Suara benturan keras terdengar di bawah, disusul desisan kemarahan dari balik kegelapan.
Fares dan Davagni tertegun, saling memandang.
“Suara apa itu?” Perlahan Fares melongok, coba melihat ke bawah tebing.
Sesosok makhluk berwarna hitam berkelebat kencang di sela-sela pepohonan, lalu langsung menghilang dalam sekejap.
__ADS_1
“Heh, apa itu?” Fares langsung teringat. “Gharoul? Itu gharoul?”
“Tampaknya.” Davagni termangu.
“Apa yang mereka lakukan di sini?” gumam Fares, yang kemudian teringat sesuatu. Ia menatap tajam si makhluk kelabu di sebelahnya. “Kau … kau tahu soal ini! Naia telah memintamu untuk menyelidiki keberadaan gharoul, apa yang mereka lakukan, dan kenapa mereka bisa keluar dari duniamu. Kau tahu!”
Davagni tampaknya kaget mendengar Fares tahu tentang hal itu. “Ya, mereka memang keluar, tetapi hamba tak tahu mengapa!”
“Mereka punya sarang di dekat sini?”
“Mungkin.” Davagni berpaling, tampaknya sadar bahwa ia tak mungkin menyembunyikan hal ini dari Fares. “Akan hamba selidiki lagi.”
“Nanti saja. Ada yang lebih penting. Lihat!” Fares menunjuk kepulan asap yang muncul dari ujung-ujung cerobong rumah penduduk di balik pepohonan lebat, di sebelah timur lembah. “Ada desa kecil di sana. Kita harus memperingatkan orang-orangnya, sebelum para gharoul ini menyerang.”
“Tuan Fares, mungkin saja tadi itu bukan gharoul, dan cuma kucing hutan biasa. Atau anjing hutan.”
“Ha? Apa-apaan kau ini?” Fares melotot, terkejut melihat ketidakpedulian Davagni, walaupun sebenarnya ia juga tahu kalau makhluk itu terkenal bebal. “Cepat bawa aku ke desa itu! Aku perintahkan, atas nama Tuan Putri Naia!”
Davagni tak membantah. Ia turun dari bibir tebing dan berjongkok di samping Fares. Fares segera melompat ke atas punggungnya dan berpegangan erat pada bahu makhluk raksasa itu. Angin kencang langsung menerpa wajah Fares begitu kaki-kaki kokoh si mahkluk kelabu menjejak dinding batu dan melenting, terbang tinggi ke udara. Kedua sayap makhluk itu mengepak kuat di kiri dan kanan. Keduanya meluncur deras dari atas tebing menuju lembah. Deretan pepohonan lebat terlewat cepat di bawah mereka.
Hanya butuh waktu singkat bagi Davagni untuk mencapai tepi desa kecil yang tadi mereka lihat dari atas tebing. Lebih menyerupai dusun, karena hanya ada sekitar sepuluh rumah mungil yang terbuat dari kayu di sana, tersebar tak beraturan mengelilingi tanah lapang. Sungai kecil mengalir lambat di barat, membatasi dusun itu dengan hutan. Sebuah jembatan dari kayu selebar satu tombak melintang di atas sungai. Hening dan damai tempat itu. Hanya ada seorang lelaki tua yang berada di luar rumah, sedang menyalakan obor, sementara seluruh penduduk lainnya tampaknya sudah beristirahat.
“Kau tak mungkin setuju hamba turun di tengah-tengah mereka, bukan?”
“Ya.” Fares mengangguk. “Lebih baik kita turun di hutan dan kau sembunyi di sana. Biar aku saja yang ke desa. Aku harus memperingatkan mereka, tetapi juga jangan sampai membuat panik.”
“Mungkin tadi bukan gharoul, Tuan,” sekali lagi Davagni berkata. “Seandainya benar pun, gharoul tak akan berani menyerang jika jumlah mereka sedikit.”
“Omong kosong, Davagni. Aku sudah melihat sendiri gerombolan makhluk terkutuk itu saat di celah tebing dulu. Mereka ini berbahaya, walaupun jumlahnya cuma satu! Cepat, turunlah di sini! Dan jangan sampai dirimu terlihat oleh para penduduk itu, atau mereka akn pingsan ketakutan. Bersembunyilah, atau menyamar jadi batu sungai, terserah.”
“Silakan bersenang-senang, Tuan. Habiskan waktu berhargamu di sini.”
Fares menggeram, semakin kesal. Sayap Davagni mengembang kala meluncur turun di tepi sungai. Suara berdebam lembut terdengar saat kedua telapak kaki lebarnya menjejak tanah. Fares tak membuang waktu, ia melompat dan berlari ke arah jembatan, sambil mengibaskan tangan meminta Davagni untuk bersembunyi di balik pohon dan belukar.
Namun baru dua langkah, terdengar jerit memilukan memecah kesunyian.
“Haaahhh! Tolooong! Tolooong!”
__ADS_1