
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 81 ~ Pertaruhan Terakhir
Karya R.D. Villam
---
Fares berjalan paling depan sambil memegang obor dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bersiaga pada gada di pinggangnya. Naia dan Rifa mengapit, sedikit di belakang. Mereka melewati lorong panjang yang hanya dipasangi satu dua obor di dindingnya.
Tak lama, cahaya yang lebih terang tampak di ujung lorong. Fares berusaha mematikan rasa takutnya dan terus berjalan. Perlahan, ia sampai di ujung, sebuah ruangan lain yang dindingnya dipasangi obor lebih banyak. Ada banyak batu, besar ataupun kecil, terserak di dasarnya, semua berwarna gelap atau kecokelatan. Namun ada satu yang berwarna kelabu.
Napas Fares tertahan.
Itu Davagni. Makhluk bertubuh besar itu duduk, membelakangi mereka dengan kepala tertunduk dan sayap tertutup rapat. Tetapi apa yang sebenarnya ia lakukan? Ia seperti tertidur, tetapi ‘tidur’ mungkin bukan kata yang tepat untuk Davagni. Ia membatu.
Atau jangan-jangan itu hanya siasat, dan Davagni sebenarnya sudah tahu mereka datang?
Fares saling berpandangan dengan Naia dan Rifa.
Naia akhirnya maju, beberapa langkah, lalu memanggil, “Davagni.”
Mereka menunggu beberapa saat, dan barulah makhluk kelabu itu mengangkat kepalanya, lalu berbalik perlahan. Tanduk runcingnya berkilat. Matanya menyorot tajam, memandangi Naia, Fares dan Rifa satu per satu. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Akhirnya ada juga yang mengunjungi hamba. Tadinya hamba pikir selama beratus tahun lagi hamba akan berada di sini tanpa teman. Tetapi hamba tahu kau berbeda, Tuan Putri. Hamba tahu kau akan mengunjungi hamba suatu waktu.”
“Ya, kau pasti tahu aku akan datang,” tukas Naia.
“Kau hendak membebaskan hamba dari tempat ini, bukan? Lakukanlah.”
“Maaf, sayangnya bukan.”
“Ah ... ya, wajah Tuan Putri tegang seperti itu, tentunya karena hal penting, lebih penting daripada pembebasan hamba. Ini soal gharoul lagi? Kau lihat, hamba terus menghabiskan waktu di sini, bagaimana hamba bisa mencari tahu lagi soal mereka?”
“Cukup, Davagni.” Suara Naia meninggi. “Ini tentang Nergal. Dia telah mengkhianatiku, dan sekarang aku ingin tahu, apakah kau bersekongkol dengannya!”
Davagni terdiam, tanpa ekspresi licik yang biasa tampak di wajahnya.
Ia mencodongkan badan raksasanya ke depan, dan bertanya, “Apa maksudmu, Tuan Putri? Dia mengkhianatimu? Maaf, di tempat ini hamba benar-benar terkurung, jadi tak bisa tahu apa yang terjadi di luar sana, di duniamu, dan juga di dunia hamba.”
“Nergal bersekutu dengan orang-orang Akkadia. Dia hanya berpura-pura membantuku! Selama ini dia ternyata punya tujuan jahat, dan kau …” Naia menunjuk Davagni, “mungkin adalah bagian dari rencana jahat itu!”
“Rencana jahat apa?”
“Aku tidak tahu! Tetapi aku yakin pasti sesuatu yang berbahaya bagi banyak manusia. Kau mungkin lebih tahu!”
__ADS_1
“Tuan Putri,” Davagni menggeleng. “Hamba tidak tahu-menahu soal rencana jahat Nergal. Hamba mengajaknya datang semata-mata karena hamba ingin membantumu. Lagipula kaulah yang memanggilnya, Tuan Putri, bukan hamba; hamba tidak bisa.”
“Justru itu, kalian berdua memanfaatkan aku! Kau membujukku untuk memanggil Nergal, kau sengaja melakukannya!”
“Tuan Putri, kau percaya hamba melakukan tindakan keji ini? Bersekongkol, demi melawanmu? Buat apa?” Davagni menunggu. Tak menemukan jawab dari Naia, makhluk itu ganti menatap Fares dan Rifa. “Kalian, juga percaya hamba melakukan ini?”
Rifa menjawab tanpa takut, “Jika melihat sejarah yang dituturkan orangtua kami, kau pernah berbuat hal yang lebih licik daripada ini. Jadi mungkin saja itu benar.”
“Kau, Gada Geledek?”
Fares termenung beberapa saat, sebeelum menjawab, “Aku, dan aku yakin Putri Naia dan Rifa juga, ingin percaya bahwa kau tak bersalah. Tetapi tanpa bukti yang bisa menunjukkan bahwa kau tidak tahu rencana Nergal ini, sayang, aku belum bisa mempercayaimu.”
Davagni menggeram. Sesuatu yang menakutkan seolah menyorot dari wajahnya. Namun Fares meyakinkan diri, Davagni tak akan bisa mencelakai mereka berkat belenggu sihir Kubah Putih. Paling tidak begitulah kata Parvez.
“Kalau begitu beri hamba kesempatan!”
“Kesempatan?” Dahi Fares berkerut. “Maksudmu?”
“Keluarkan hamba dari tempat ini, dan akan hamba buktikan kalau hamba sama sekali tidak bersalah!”
“Bagaimana caranya kau membuktikan?” tanya Rifa, sedikit curiga.
“Hamba akan bicara pada Nergal, dan jika perlu, melawannya.”
“Untuk apa kau melawannya?” Fares tetap belum bisa percaya. “Kau dan dia sama-sama makhluk terkutuk. Bisa jadi tujuan kalian sama. Kau tak punya alasan untuk melawannya.”
Davagni menggeleng. “Hamba punya alasan. Dan jika Nergal ternyata menipu hamba juga, berarti tujuan kami berbeda.”
“Dulu kau bisa percaya, kenapa sekarang tidak? Kau ingat kata-kata hamba dulu, bahwa hamba ingin nama hamba dibersihkan?”
“Aku ingat.”
“Nah, itu alasan hamba.”
“Apa pun katamu, Putri Naia tak bisa memutuskan,” kata Fares. “Hanya kelompok Kubah Putih yang bisa melepaskanmu.”
“Dia bisa.” Davagni menatap putri itu tajam. “Itulah kenapa dia berani menemuiku, dan menyerahkan dirinya pada Kubah Putih.”
“Naia menemuimu karena ingin bicara denganmu!” sahut Rifa.
“Biar Tuan Putri yang bicara. Kalian,” tukas Davagni dengan nada meremehkan, “cukup mendengar saja.”
Fares menoleh dan memandangi Naia. Gadis itu balik menatapnya. Hati-hati Fares bertanya, “Benarkah … kau hendak membebaskan dia?”
Naia terdiam sesaat, lalu menjawab, “Untuk menghadapi Nergal dibutuhkan lawan yang setanding. Hanya Davagni yang bisa kita harapkan.”
“Dari yang pernah kita lihat, Davagni takkan bisa mengalahkan Nergal.” Fares menatap si makhluk kelabu dengan sorot mata mengejek. “Lagipula ada musuh yang lebih kuat. Rahzad. Kita biarkan saja dia dan Nergal saling membunuh.”
“Bisa juga seperti itu. Tetapi jika salah satu dari keduanya menang, siapa pun dia, kurasa adalah pilihan yang buruk buat kita.”
__ADS_1
“Dan Davagni bukan termasuk pilihan yang buruk?” tanya Rifa.
“Aku …” Naia memandangi Davagni, “akan mempercayainya.”
Semua terdiam. Di depan, makhluk kelabu itu tersenyum, entah memuji keputusan sang putri, atau justru mengejek.
Akhirnya Fares mengangguk. “Baik, apa pun keputusanmu, aku selalu mendukungmu. Jadi kau akan berbicara dengan Parvez dan meminta Davagni dibebaskan? Aku tak yakin Parvez akan mau.”
“Kita coba,” kata Naia singkat.
Fares dan kedua gadis keluar dari gua Davagni, kembali menemui Parvez dan orang-orang lain yang tetap menunggu di ujung lorong.
Di sana Fares dan Rifa diam saja, membiarkan Naia yang bercerita dan mengungkapkan rencananya. Keduanya paham bahwa Naia mungkin tidak ingin menceritakan semua hal.
Namun saat berbicara sang putri pun ternyata hanya bercerita singkat, “Davagni bilang dia tidak tahu mengenai rencana jahat Nergal, dan karenanya ia minta diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia ingin dibebaskan.”
“Tidak mungkin,” Parvez langsung menjawab tanpa ragu. “Kami tak mungkin mengambil resiko sebesar itu. Dan lagi, kau salah jika menganggap Davagni adalah satu-satunya yang bisa mengalahkan Nergal.” Lelaki tua itu mendekat, lalu berkata pelan dengan mata berbinar. “Kami punya Sang Terpilih.”
Naia memandangi laki-laki tua itu dengan tatapan aneh, lalu menggeleng. “Aku sudah kembali menjadi Sang Terkutuk, kau sendiri yang dulu menyebutku seperti itu.”
“Ah, Tuan Putri, maafkan aku.” Parvez menunduk hormat. “Aku dulu terlalu emosi, dan bahkan sampai pagi tadi pun aku masih marah, sampai akhirnya aku sadar bahwa kau sebenarnya juga tak menginginkan hal buruk itu terjadi padamu. Ucapan itu pasti menyakiti hatimu. Maafkan aku. Kuharap setelah kau bersama kami nanti, kau akan bisa lepas dari itu semua.”
Naia mengangguk. “Terima kasih.”
Gadis itu tersenyum, mungkin campuran antara sedih dan gembira. Fares berharap ucapan Parvez memang tulus, karena ketulusan dan dukungan semacam itulah yang memang dibutuhkan oleh Naia. Namun hal itu ternyata juga membuat Fares terganggu. Naia hendak tinggal di Kubah Putih. Untuk apa dan berapa lama? Dan apakah Fares boleh menemaninya? Sayangnya, Fares belum bisa bertanya sekarang; ada soal yang lebih penting.
Parvez lalu berkata lagi, “Dan, Tuan Putri, sebenarnya yang tadi kumaksud dengan Sang Terpilih, bukanlah dirimu.”
Naia tertegun. “Bukan aku? Ada orang lain?”
Entah perasaan Fares saja atau bukan, sepertinya malah ada sedikit kelegaan yang keluar dari mulut gadis itu.
“Ya,” jawab Parvez. “Dan kalian mengenalnya.”
“Ramir?” tanya Rifa cepat. Tampaknya ia sudah tak sabar, dan sangat yakin. “Dia hilang dari tenda Kudur di selatan, dan menurut Naia kalianlah yang menculiknya. Benar begitu?”
“Benar. Ramir,” Parvez menjawab. “Anak itu tiba dua malam yang lalu, dan sekarang masih menjalani ujian, untuk menentukan apakah memang benar dialah Sang Terpilih.”
“Ah, ini berita gembira!” Naia tersenyum lebar. “Berarti dia baik-baik saja! Kami sudah khawatir terjadi apa-apa dengannya. Tetapi ...” Gadis itu kemudian tampak ragu. “... dengan ujian ini, berarti kalian masih belum yakin?”
“Waktunya sudah mendesak. Kami harap memang benar dia.” Parvez tercenung. “Kita akan segera mendapat kabarnya. Ah, itu dia.”
Pemimpin Kubah Putih itu menunjuk ke utara. Seorang prajurit muncul dari balik batu-batu tinggi, berlari menghampiri, lalu berbisik pada Parvez dan Jarraf.
Kedua lelaki tua itu saling memandang, wajah mereka tegang, dan tiba-tiba kegembiraan Fares dan kawan-kawannya menyurut.
“Apa? Apa yang terjadi?” tanya Fares.
Parvez menggeleng bingung. “Kami tidak tahu ini berita baik atau buruk. Mungkin buruk. Ramir ... dia menghilang.”
__ADS_1