
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 88 ~ Pelayan Setia
Karya R.D. Villam
---
Ramir membiarkan kegembiraan semua orang menyelimuti dirinya. Bagaimanapun ia senang bisa kembali bertemu dengan Naia, Fares, Rifa dan yang lainnya. Namun hanya sejenak. Begitu mendapat kesempatan ia lalu cepat-cepat bercerita tentang apa yang baru saja dialaminya. Dalam mimpinya yang terakhir ia bertemu dengan Elanna, dan bahwa wanita itu dalam bahaya. Tentu saja, ia sama sekali belum menyebut-nyebut soal Haladir.
Rifa segera bereaksi. “Kalau begitu kita harus pergi sekarang!”
“Setuju. Tetapi mestinya tempat Elanna berada itu cukup jauh dari sini. Benar?” Fares menoleh ke arah Nahim.
Nahim menjawab, “Betul. Sekitar tiga hari perjalanan.”
Naia menggeleng khawatir. “Begitu kita tiba di sana, orang-orang berbaju hitam ini pasti sudah membawa Elanna entah ke mana. Kita bisa melacak jejak mereka, tetapi mungkin sulit, dan sudah terlalu jauh.”
“Kita tahu dengan apa kita bisa cepat sampai di sana,” tukas Fares. Ia memandangi seluruh rekan-rekannya, lalu melirik ke arah Parvez dan Jarraf.
“Ya, betul!” Naia menoleh, dan memandangi Parvez, sang pemimpin Kubah Putih. “Kita butuh Davagni. Dia bisa terbang secepat angin. Hanya dia yang bisa membantu kita.”
“Apa maksudmu? Kau ingin kami membebaskannya pergi? Itu tidak mungkin!” seru Jarraf. “Dia terlalu berbahaya. Tuan Parvez sudah menjelaskan soal ini kepadamu kemarin. Tak mungkin kami melepaskannya!”
“Elanna teman kami!” Naia membalas. “Aku memang belum pernah bertemu dengannya, tetapi aku tahu ia teman kami. Ia butuh bantuan!”
“Sekali lagi kutegaskan, Tuan Putri,” Parvez berkata. “Davagni tidak akan meninggalkan tempat ini. Dan juga dirimu, ingat itu. Kau sudah berjanji untuk tinggal di Kubah Putih sampai dirimu disembuhkan sepenuhnya. Tetapi kalian yang lain, boleh pergi.”
Wajah Naia merah padam. “Kalian benar-benar tidak punya hati! Apa kalian tidak peduli pada nasib Elanna?”
“Itu mungkin hanya soal kecil, Tuan Putri. Soal pribadi.”
“Apa kau bilang—?!”
“Tuan dan Nona, tenanglah!”
__ADS_1
Teguran keras terdengar, yang lalu disusul oleh suara batuk-batuk. Dari belakang Parvez dan Jarraf, muncullah lelaki paling tua. Iradrin.
Ramir tersenyum melihatnya. “Kakek Iradrin! Ternyata kau ada di sini.”
Iradrin balas tersenyum, lalu memandang berkeliling, menatap semua orang di dalam ruangan. Ia berkata dengan suara jernih, “Ramir adalah Sang Terpilih. Dengan suatu cara tertentu ia telah diberi petunjuk lewat mimpinya untuk mengunjungi wanita bernama Elanna ini. Ada alasan penting di balik peristiwa itu, yang kita belum tahu, dan menurutku, cukuplah bagi kita untuk mempercayainya. Aku sarankan, sebaiknya kita sekarang mendengar pendapat Ramir, dan biar dia yang memutuskan mana yang terbaik untuk kita semua.”
Ramir tertegun, mendapati semua orang kini melihat ke arahnya.
Mereka menunggunya berbicara.
Tetapi apa yang harus ia katakan? Ramir yakin Davagni memang sosok yang dibutuhkannya. Makhluk itu bisa terbang dengan cepat dan memotong waktu perjalanan lebih dari separuh. Begitu pula soal Naia; putri itu juga harus ikut dengannya. Seperti kata Haladir, perjalanan hidupnya baru saja dimulai, dan Ramir merasa Naia adalah salah satu kuncinya.
Ya, ia yakin, itulah alasan kenapa Ramir bisa sering masuk ke dalam mimpi gadis itu. Pasti ada sesuatu di baliknya. Bukan hanya karena kebetulan!
Iradrin berkata lagi, “Ramir, bagaimana menurutmu?”
“Aku …” Ramir termenung. Ia menunduk beberapa saat, lalu mengangkat wajahnya, setelah yakin. “Aku ingin Davagni dan Putri Naia ikut denganku, juga Fares dan Rifa. Aku percaya ... Davagni tidak akan mencelakai kami.”
“Ramir, Davagni tak akan berani menyerang kalian, begitu dia tahu bahwa kau adalah Sang Terpilih.” Parvez menatapnya tajam. “Tetapi mengertikah kau resikonya jika kami membebaskannya? Tentang apa yang bisa dilakukannya? Apalagi situasinya lebih gawat sekarang. Nergal sudah mengkhianati Tuan Putri, dan kita tidak bisa membayangkan apa yang bakalan terjadi jika ternyata Davagni kabur dan bergabung dengan Nergal.”
“Aku percaya … Davagni tidaklah sejahat yang Tuan katakan.”
“Bagaimana kau bisa percaya padanya?” Parvez bertanya dengan nada tinggi. “Kau hanya mengenalnya sebentar!”
Fares dan Rifa mengangguk. “Kami percaya.”
“Aku pun percaya,” Naia menjawab, lalu menoleh. “Maaf, Tuan Parvez, aku percaya, walaupun menurut kalian itu bodoh. Mungkin aku percaya karena di sana aku melihat sebuah harapan. Harapan itulah yang membuatku yakin bisa melakukan sesuatu, dan memperbaiki kesalahanku. Aku percaya kalian juga punya harapan itu. Kita akan menyesal nanti, Tuan, jika tidak berusaha percaya pada harapan kita.”
“Kita juga akan menyesal,” Parvez menjawab, kali ini dengan suara lebih lembut, “jika ternyata kepercayaan kita itu salah.”
Naia mengangguk. “Tetapi kita akan lebih menyesal jika kita sama sekali tak berbuat sesuatu dan hanya berdiam diri menunggu.”
Desahan Iradrin terdengar. Lelaki tua itu terbatuk-batuk lalu kembali bertanya, “Ramir?”
“Aku setuju dengan Putri Naia,” jawab Ramir, bangga karena kali ini suaranya terdengar cukup tegas. “Maksudku, di balik nasib buruk yang telah kita alami, kita harus percaya bahwa ada sesuatu yang baik menunggu kita di sana.”
Iradrin tersenyum, tampak senang mendengar ucapan Ramir. “Kau sudah berkata, dan aku setuju.”
Parvez terdiam. Setelah beberapa lama, akhirnya ia mengangguk pula. “Maka aku pun setuju. Davagni dan Putri Naia boleh pergi, dan kami akan bersiap. Tetapi jika keadaannya berubah menjadi buruk lagi nanti, kami akan bekerja lagi.”
__ADS_1
“Aku siap,” tukas Nahim. “Aku sudah pernah menangkap Davagni satu kali. Pasukanku bisa menangkapnya satu kali lagi nanti.”
“Baik.” Jarraf akhirnya ikut setuju. “Kami akan membebaskannya.”
Naia mengangguk hormat pada para pemimpin Kubah Putih. “Terima kasih, Tuan-tuan. Mengenai diriku, jangan khawatir, aku pasti datang lagi kemari. Itu janjiku. Sementara mengenai Davagni …” Ia menghembuskan napas perlahan. “Semoga Tuhan melindungi kita.”
Ramir merinding; tiba-tiba kegelisahan datang menghampiri. Sebentar lagi ia akan pergi bersama Davagni. Makhluk terkutuk itu tak akan berani berbuat macam-macam jika masih berada di tanah Elam, tetapi jika dia sudah menyeberangi sungai dan jauh dari orang-orang Kubah Putih, jika memang makhluk itu memiliki niat jahat, maka bencana tak terbayangkan mungkin bakalan terjadi. Ramir mengeraskan hati. Keputusan sudah diambil, dan ia harus tetap percaya. Kata-kata Naia benar, semoga Tuhan melindungi mereka.
Mereka pergi ke halaman depan dan menunggu Davagni dibawa keluar oleh Jarraf. Faruk belum datang dan berbicara pada Rifa, jadi Parvez mengirim satu orang untuk memberikan kabar terakhir kepada Javad di Awan. Sementara itu Nahim pergi untuk mengumpulkan seratus prajuritnya. Bersama Isfan dan Zandi, pasukan itu akan menunggu Javad di Gerbang Sungai Tigris, dan menyeberangi sungai jika memang tenaga mereka dibutuhkan.
Davagni kemudian muncul dengan tangan terikat. Jarraf berjalan di sampingnya, diikuti oleh empat orang pengawal. Tali suci di tangan makhluk terkutuk itu hanya akan dibuka jika ada izin dari satu orang. Davagni berhenti di depan Ramir, memandanginya.
“Jadi ternyata kau, Tuan Ramir ... Sang Terpilih,” Davagni berkata dengan suara beratnya. “Mengejutkan, terus terang bagiku, karena ternyata orang-orang Kubah Putih ini pun bisa salah. Semoga pilihan mereka kali ini benar.” Ia tersenyum tipis sambil melirik ke arah Parvez dan Jarraf, sebelum kembali menatap Ramir. “Apakah kau tahu, sebelum ini Tuan Putri Naia menggunakan Medali Putih untuk mengendalikan hamba agar tidak berbuat macam-macam, sekarang dengan cara apa kau hendak melakukan hal yang sama padaku?”
“Dengan dirimu sendiri,” jawab Ramir.
Makhluk raksasa itu termangu. “Maksudmu?”
“Aku tidak menggunakan alat apa pun. Kurasa ... aku hanya bisa percaya padamu.”
Davagni tersenyum tipis. “Kepercayaan bisa berakibat fatal, Tuan Ramir.”
“Aku tahu.” Ramir mengangguk sambil menelan ludah, merasakan gugupnya kembali datang. “Karenanya, bisakah aku percaya kepadamu?”
“Kau ingin percaya?”
Ramir menguatkan dirinya. “Bisakah aku percaya kepadamu?!”
Davagni tertegun mendengar suara Ramir yang mengeras, lalu tersenyum. Ia menyodorkan kedua tangannya yang terikat. “Buka dulu tali suci ini, Tuan Ramir, baru hamba jawab pertanyaanmu.”
Ramir menguatkan hatinya dan menoleh. “Tolong buka talinya, Tuan Jarraf.”
Jarraf melirik ke arah Parvez, masih tampak sedikit ragu, dan sang pemimpin mengangguk. Jarraf mengeraskan rahang seraya berjalan maju. Ia komat-kamit membaca doa, lalu menarik tali suci, menguraikannya hingga terlepas dari pergelangan tangan Davagni.
Makhluk itu menyeringai seram, membuat napas semua orang tertahan. Tetapi ia lalu menunduk hormat di depan Ramir seraya berkata, “Maka kau bisa mempercayai hamba, Tuan Ramir. Terima kasih atas kemurahan hatimu. Hamba kini adalah pelayan setiamu.”
__ADS_1