
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 53 ~ Menuju Pertempuran
Karya R.D. Villam
---
Suara itu samar-samar terdengar. Awalnya tidak jelas, apalagi karna Zylia masih setengah terbuai di tempat tidur. Hingga akhirnya suara itu mengeras. “Kapten!”
Naluri Zylia bekerja cepat. Matanya terbuka. Ia meraih belati di samping bantalnya, lalu melompat mengacungkan senjatanya ke leher orang yang membangunkannya.
Cherib, laki-laki itu, si letnan pasukan, tak mampu bereaksi secepat Zylia. Dalam remang tampak wajah pucatnya. “Kap … kap—“
“Apa?!” potong Zylia ketus. Ia menarik belatinya dan menaruhnya lagi di meja, lalu berbalik. Ia tadi tidur dengan pakaian yang menutup rapat hampir seluruh tubuhnya; seharusnya ia tak perlu merasa malu jika ada seorang laki-laki yang melihatnya. Walau demikian, tetap saja ia merasa risih. Ia meraih jubah hitamnya dan menyandangnya menutupi bahu dan punggungnya. Sambil mengikatkan jubah di leher, ia bertanya lagi, “Ada apa?”
“Jendral Rahzad. Dia memanggil semua kaptennya ke markas.”
Zylia melirik celah di atas jendela. Langit masih gelap, sepertinya masih dini hari. Pasti ada informasi penting yang membuat Rahzad memanggilnya saat ini.
Dari kamarnya di menara utara Zylia berjalan menyusuri koridor panjang di sisi dalam dinding benteng. Sederetan obor terpasang menerangi sepanjang jalan. Di ujung, Zylia berbelok ke kiri dan melewati beberapa ruangan gelap, sebelum akhirnya tiba di ruangan paling ujung yang terletak satu lantai lebih tinggi. Ia membalas penghormatan dua pengawal bertombak yang berjaga mengapit tangga sebelum naik ke atas. Ia sampai di markas Rahzad. Selain Rahzad yang tengah duduk juga sudah hadir Ibbsin dan delapan kapten lainnya.
Rahzad mengangguk begitu melihat kehadiran Zylia, lalu langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap satu per satu para kapten yang berbaris di hadapannya. Matanya berbinar penuh gairah. “Aku tak akan bicara banyak. Laporan dari timur sudah datang. Prajurit Elam telah menyeberangi Sungai Tigris, siap menyerang Akkadia!”
Seluruh kapten terkejut, dan saling memandang.
Setelah beberapa saat Ibbsin berkata, “Mereka berani menyerang kita?”
“Mengapa tidak?” Rahzad tersenyum tipis. “Javad tampaknya berhasil mengumpulkan pasukan dari negeri-negeri lain di sekitarnya. Jumlah mereka sepuluh ribu, lebih besar dibanding delapan ribu prajuritku yang ada di Akkad. Jadi langkah mereka ini, walaupun sedikit tak diduga, sebenarnya adalah hal yang wajar.”
“Yang Mulia Sargon punya ribuan prajurit cadangan sendiri di barat,” kata Ibbsin. “Apakah mereka akan menyusul kita nanti?”
“Saat ini tidak perlu. Pasukan kita di wilayah timur cukup untuk menang,” tukas Rahzad. “Lagi pula kita harus bergerak cepat.”
“Kapan kita berangkat?” tanya Zylia datar, tanpa ekspresi.
Rahzad menatapnya beberapa saat dan menyeringai. “Aku suka tanggapanmu, Zylia. Tak sabar untuk membantai mereka, bukan?” Ia tertawa keras. “Secepatnya. Itulah kenapa aku memanggil kalian. Siapkan pasukan. Kita berangkat saat matahari terbit.”
Angkatan perang disiapkan. Seluruh prajurit dibangunkan dan diminta mengambil setiap senjata. Perbekalan yang sudah disiapkan berhari-hari sebelumnya di gerobak-gerobak juga disiagakan. Hiruk-pikuk menyebar ke seluruh penjuru kota, membangunkan setiap orang yang masih terlelap. Dalam sekejap berita mengenai kedatangan pasukan Elam, dan juga rencana keberangkatan pasukan Akkadia, diketahui oleh hampir setiap penduduk.
Ketika delapan ribu prajurit bergerak saat matahari terbit, membelah kota Akkad, ribuan penduduk padat memenuhi kiri kanan jalan utama. Sebagian orang lagi menonton dari atap-atap rumah, menara kuil atau bangunan-bangunan lain yang lebih tinggi. Gempita tambur, lonceng dan lengkingan terompet di barisan depan berpadu dengan sorak penuh semangat para penduduk, dan juga geraman menakutkan barion yang menyusul di barisan belakang.
Ada lima ratus ekor barion. Empat puluh di antaranya menarik sepuluh kereta panjang beroda empat, yang beratap dan berdinding kain kelabu. Di dalamnya terdapat kaum Ishtaran yang misterius. Empat ratus lebih sisanya ditunggangi pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh Rahzad. Lima ratus prajurit pimpinan Zylia berjalan tepat di depan pasukan barion tersebut, dan itulah alasan kenapa ia sulit merasa nyaman di dalam perjalanannya.
Cherib berbisik, “Kapten, kau tidak berminat menunggangi barion, seperti para kapten lainnya?”
“Supaya aku terlihat lebih gagah?”
__ADS_1
“Bukan. Panglima memintamu, bukan?”
“Aku akan melakukan apa pun yang ia perintahkan, tetapi tidak termasuk menunggang barion,” tukas Zylia. “Dan juga … beberapa hal lainnya.”
“Tampaknya kau benar-benar membenci hewan-hewan itu. Ada alasan khusus?”
“Aku hanya tidak menyukai mereka, itu saja.”
“Ya ... mereka memang menakutkan, bagi yang baru pertama kali melihat.”
“Aku sudah pernah melihat mereka sebelum ini.”
“Mmm … ya.” Cherib meringis. “Maksudku … orang lain. Kau sendiri pasti akan terbiasa lagi nanti.”
“Aku terbiasa seperti dulu?” Zylia menoleh, menatap letnannya tajam. “Katakan, Cherib, seperti apa aku dulu.”
“Ehm ... seperti yang pernah kuceritakan, Kapten, aku tidak tahu banyak. Saat aku bergabung di pasukanmu setahun yang lalu, kau sudah ditugaskan ke wilayah barat, jadi aku tak sempat mengenalmu. Aku hanya mendengar dari cerita prajurit lain, bahwa kau adalah seorang kapten yang baik. Itu saja, yang aku tahu.”
Zylia memandangi wajah tanpa ekspresi Cherib, menimbang-nimbang apakah ia bisa mempercayai ucapan lelaki itu. Mungkin Cherib benar, karena jika dia berbohong, apa tujuannya? Apakah hanya untuk menjilat. Namun yang jelas, menjelang pertempuran penting seperti sekarang, tidaklah bijak untuk menyangsikan kejujuran anak buahnya sendiri. Ataukah, justru seharusnya ia mempertanyakannya?
“Kapten, supaya kembali terbiasa, barangkali kau mau mencoba menunggangi barion sekarang?” Cherib melanjutkan, yang bagi Zylia lebih terasa sebagai pembelokan arah pembicaraan.
“Tidak, terima kasih,” jawab Zylia ketus. “Aku lebih suka berjalan kaki.”
Ia memilih melupakan masalah itu dan mengikuti gerak seluruh pasukan Akkadia. Menyeberangi Sungai Eufrat yang tenang, melintasi ladang gandum dan kurma beratus-ratus tombak ke timur, melewati beberapa desa berdinding lumpur dan beratap jerami. Setelah dua hari mereka sampai di padang tandus terik. Tinggal dua hari sebelum tiba di tepian Sungai Tigris.
Zylia beristirahat di dekat api unggun, di tengah-tengah kumpulan tenda pasukannya. Seorang prajurit lalu datang membawa pesan dari Rahzad. Zylia bergegas pergi. Ia mengira Rahzad hendak mengadakan pertemuan terakhir.
Namun di depan tenda sang panglima ternyata tidak ada kapten lainnya. Seorang pengawal masuk dan memberitahu kedatangannya pada Rahzad. Zylia menunggu di luar ditemani dinginnya semilir angin malam, bercampur dengan kehangatan yang ditebarkan oleh sepasang obor di kiri kanan tenda.
Namun sang panglima ternyata tidak berkata apa-apa, dan kemudian berjalan ke arah timur. Zylia mengikutinya. Mereka melewati ratusan tenda prajurit lalu mendaki dataran yang meninggi. Keduanya sempat melewati tenda-tenda tertutup yang dihuni para Ishtaran. Asap merah tipis membubung keluar dari corong salah satu tenda. Mistis. Rahzad tidak menoleh saat melewatinya, jadi Zylia pun mencoba tidak mempedulikannya.
Di puncak bukit, hening jauh dari ribuan prajurit yang tengah beristirahat di lembah, Rahzad berhenti dan menatap jauh ke depan. Zylia mengikuti arah pandangannya. Awan gelap menutupi rembulan. Gelap tampak mendominasi di cakrawala, tetapi ada titik-titik cahaya yang tersebar memanjang bagai kain selendang hitam berhias emas dari utara sampai ke selatan.
“Kaulihat apa yang kulihat, Zylia? Itu sepuluh ribu prajurit bangsa Elam, dari Awan, Susa, dan negeri-negeri lain di timur. Mereka akhirnya sampai di tanah kita.”
“Karena kau membiarkan mereka datang.”
“Ya, aku membiarkan mereka datang.” Rahzad tertawa kecil. Ia menoleh, matanya berkilat-kilat. “Aku membiarkan pasukanku di tepian Sungai Tigris terlindas, aku membiarkan diriku kalah di sana. Aku membiarkan orang-orang Elam itu mengira bahwa mereka bisa mengalahkanku dengan mudah di sini.”
“Tetapi mereka memang kuat. Jumlah mereka lebih banyak dibanding pasukan kita.”
“Kita lebih kuat, Zylia. Lebih kuat. Kau tahu.”
Kata-kata Rahzad tidak menunjukkan rasa takut. Zylia paham, sejauh yang ia tahu, dari segi persenjataan dan keterampilan pasukan Akkadia memang tak terkalahkan, ditambah lagi mereka punya ratusan barion yang mematikan. Namun tampaknya bukan itu yang dimaksud oleh Rahzad. Ada sesuatu yang lain, yang membuat lelaki itu tampak begitu percaya diri.
Atau, mungkin justru kepercayaan diri itu yang paling penting? Yang telah membuat Rahzad menjadi seperti sekarang, yang membuat Sargon mempercayakan posisi panglima, dan membuat banyak orang segan bahkan takut kepadanya. Dan mungkin pula, berpuluh tahun sebelumnya di utar, yang belum bisa diingat oleh Zylia, Rahzad pun telah memanfaatkan itu untuk mendapatkan sesuatu.
“Zylia,” tegur Rahzad. “Kau punya keraguan?”
Zylia terdiam sesaat, sebelum menjawab, “Jika kau percaya kita bisa memenangkan pertempuran dengan mudah, maka aku percaya.”
__ADS_1
“Sekalipun kau harus berhadapan lagi dengan orang-orang yang dulu pernah dekat denganmu?”
Rahang Zylia mengatup keras. “Ya.”
Rahzad menggeleng. “Keraguanmu masih ada, Zylia. Kau bisa menutupinya di depan orang lain, tetapi tidak di depanku.” Laki-laki itu menatap Zylia dalam-dalam. Auranya seakan menghisap jiwa gadis itu tanpa tertahan. “Dan aku tahu kenapa. Ingatanmu yang belum pulihlah penyebabnya. Kau ragu padaku, bahkan ragu pada dirimu sendiri. Tetapi mestinya kau lihat buktinya saat kau bertanding di Kuil Ishtar. Kau hebat melebihi musuh yang paling tangguh. Di saat terdesak kau menemukan siapa sebenarnya dirimu. Orang-orang kini segan, dan takut. Ada sesuatu yang hebat di dalam dirimu. Percayai itu, Zylia. Dan percayai aku. Maka kau akan percaya bahwa kita bisa melakukan apa pun. Kita berdua bisa, dan pantas mendapatkannya.”
Seluruh ucapan Rahzad terasa benar. Namun tetap saja tak menjawab kegelisahan yang terus menyusup di hati Zylia. Ini bukan soal apakah dia yakin pada kemampuannya sendiri atau tidak, tetapi lebih dari itu, yaitu keraguan seperti apakah sosok dirinya, dan apa yang telah diperbuatnya, di masa lalu.
Sebenarnya Zylia bisa saja mencoba mengorek hal itu dari Rahzad, atau dari rekan-rekannya yang lain, tetapi sekarang mungkin bukan waktu yang tepat. Lagipula, apakah Zylia sudah siap dengan jawabannya jika ia bertanya?
Rahzad masih memandanginya, lalu perlahan menarik diri. Tatapannya kembali jauh ke depan. Rambut emasnya yang kini tampak gelap berkibar tertiup angin. “Mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu ke sini dan mengatakan ini. Kau tidak ingin tahu?”
“Apa?” tanya Zylia.
“Karena aku peduli padamu,” Rahzad menoleh, “dan aku juga ingin kau peduli padaku.”
Sesuatu yang aneh berdesir di hati Zylia. Ia memandangi lelaki itu. Tetapi mungkin reaksinya terlalu lama. Karena saat mulutnya siap terbuka, mencoba menjawab dengan apa pun yang terlintas di benaknya, ternyata Rahzad lebih dulu berkata.
“Aku membutuhkanmu dalam pertempuran besok.” Wajah Rahzad, demikian pula suaranya, berubah keras saat mengatakan itu.
Zylia terkejut dengan perubahan Rahzad yang sedemikian mendadak. “Apa …?” ia bertanya gugup. “Apa maksudmu?”
“Seperti itulah maksudku. Aku membutuhkan yang terbaik darimu besok. Tombakmu, belatimu, panahmu. Ingat itu baik-baik.” Rahzad tertawa kering. “Terima kasih, Zylia, sudah menemaniku. Kembalilah ke pasukanmu, dan siapkan dirimu.”
Zylia terpana dan merasa sedikit kesal. Perasaannya campur aduk, tetapi ia mencoba mengendalikan diri dan menunduk hormat. “Ya, … aku mengerti. Aku pergi dulu, Jendral.”
Ia berbalik dan berjalan menuruni bukit. Di bawah bukit ia sempat menoleh ke belakang. Rahzad berdiri di puncak, tangan kirinya menggenggam gagang pedang yang tergantung di pinggangnya. Lelaki itu memandangi Zylia saat gadis itu menatapnya, kemudian kembali berpaling ke timur, ke arah musuhnya. Zylia pun berpaling pula dan melanjutkan langkahnya.
Ia kembali berjalan melewati deretan ratusan tenda, termasuk tenda milik para Ishtaran. Asap merah mereka tak lagi tampak, tetapi Zylia justru semakin tidak peduli. Malam telah larut, sunyi dan dingin. Zylia masuk dan beristirahat di tendanya yang hanya beratapkan kain tipis. Ia menutup erat tubuhnya dengan selimut dan berbaring di atas pasir, berusaha untuk terlelap.
Hening.
Namun tiba-tiba sepanjang malam itu ia merasa seolah pasir berkata banyak hal, lembut dalam bisikannya. Zylia yakin ia pasti sedang bermimpi. Ada angin yang datang, seperti hendak memberitahukan sesuatu padanya. Sesuatu yang berbahayakah itu?
Atau sesuatu mengenai dirinya di masa lampau?
“Teeza …” suara itu terdengar.
Wajah seorang wanita berparas cantik muncul lamat-lamat dari balik tirai pasir. Rambutnya panjang berwarna emas. Matanya biru. Senyumnya menawan. Zylia yakin ia mengenal wajah itu. Ia merasa dekat dengannya. Itu pasti wajah seseorang dari masa lalunya!
Sayang kemunculan wajah itu hanya sebentar. Angin kemudian meniupnya pergi bersama gulungan pasir.
Kerinduan menghampiri Zylia. Ia menunggu wajah itu datang lagi, atau mungkin wajah lain dari masa lalunya. Tiba-tiba dari balik tirai pasir muncul wajah itu. Pemuda berkulit gelap dan bermata hitam, tersenyum lebar ke arahnya. Kali ini Zylia mengenalnya. Ramir.
Kenapa dia datang?
Zylia merinding, merasakan sesuatu yang aneh membelai hatinya. Ia membuka mulut untuk memanggil, namun sekali lagi wajah itu hilang tersapu angin sedemikian cepatnya.
Zylia menggeram. Angin tengah bersekongkol dengan pasir rupanya! Hanya berusaha menggoda dan mengganggu tidurnya. Saat angin datang, pasir mengikuti tariannya. Saat angin pergi, pasir ikut terlelap. Kemudian angin datang lagi, dan kembali pasir menari. Kedua makhluk itu berulang kali melakukannya, sepanjang malam, tanpa lagi membawa suara dan wajah. Apa maksud mereka? Benarkah hendak memberitahu Zylia apa yang seharusnya ia tahu?
Marah dan kesal, bingung dan letih, pada akhirnya Zylia terlelap.
__ADS_1