
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 48 ~ Puncak Tbing
Karya R.D. Villam
---
Mati! Aku mati!
Napas Ramir memburu, menderu, menandingi bunyi jantungnya yang berdetak kencang, begitu keras seolah semuanya bakal meledak. Kepalanya berdenyut bagai dihantam martil. Otot-otot paha dan betisnya tertarik sementara lengannya justru melemah, setiap kali ia berusaha mengangkat tubuhnya ke atas di dinding tebing yang curam. Buku-buku jarinya yang tersayat goresan batu-batu tajam sudah tak ia pedulikan lagi.
“Naik terus, Ramir!” Lengkingan Rifa terdengar dari atas. “Jangan cengeng!”
Ramir menggeram mendengar ejekan Rifa yang datang bertubi-tubi bahkan sejak awal pendakian. Ia mendongak. Di atasnya, si gadis Elam merayapi dinding tebing dengan mudah seperti seekor cicak. Mungkin latihan seperti ini sudah biasa dilakukan setiap prajurit di Elam. Kedua kaki Rifa menjejak ujung-ujung bebatuan dengan mantap, dan jari-jari tangannya mampu menyusup ke celah-celah batu dan mencengkeramnya dengan begitu kuat. Di atas gadis Elam itu, ada satu lagi makhluk yang memanjat lebih lincah, yang kini dengan santainya menyeringai ke arah Ramir. Toulip.
“Kau masih kuat, Ramir?” Suara lain yang lebih lembut namun tegas terdengar.
Ramir melihat ke bawah. Elanna mendongak, rambut emasnya berkibar tertiup angin. Perempuan itu masih sempat tersenyum di tengah-tengah pendakian.
Mau tak mau Ramir membalas senyumannya. “Ya, Elanna.”
“Bagus. Sebentar lagi kita sampai di puncak.”
Ramir tak dapat menutupi rasa kagumnya setiap kali melihat Elanna. Wanita dari utara ini tak sepanas Rifa, yang selalu penuh energi dan meledak-ledak. Elanna lebih tenang, matang, penuh perhitungan. Dan sudah jelas—Ramir yakin—Elanna memiliki tenaga dan keterampilan berpedang yang lebih baik dibanding Rifa, hanya saja wanita itu tak pernah mempertontonkannya. Hm … apakah dia mirip dengan … Teeza?
Ramir menggeleng, berusaha mengembalikan konsentrasi. Konyol jika setelah ia memanjat setinggi ratusan tombak, kemudian harus jatuh hanya karena memikirkan perempuan. Ia harus fokus. Ramir memompa semangatnya. Sebentar lagi mereka sampai di puncak, dan dari sana mereka akan menyusuri punggung bukit ke selatan. Pendakian berbahaya dan menghabiskan tenaga ini terpaksa dilakukan demi menghindari pasukan Akkadia yang ternyata sudah banyak bermunculan di kaki bukit di bawah mereka
Rifalah yang mengusulkan agar mereka melalui jalan tebing ini, begitu melihat seratus prajurit Akkadia tersebar di sepanjang celah antara kaki bukit dan tepi sungai. Tampaknya keberadaan mereka sudah tercium pasukan kerajaan. Rifa bersikeras mereka harus secepatnya melewati perbukitan menuju ke selatan. Elanna setuju, walaupun tampaknya ia masih belum jelas betul dengan rencana di kepala Rifa dan ingin mengatakan sesuatu yang penting lainnya. Demikian pula Toulip, yang langsung naik tanpa ragu-ragu.
Sementara Ramir tak bisa menolak, walaupun rasa takutnya membuncah. Bagaimana mungkin ia bisa memanjat tebing? Sebelum ini ia sudah pernah menaiki bukit bersama Rifa, tetapi lewat jalan setapak yang relatif landai. Tak bisa dibandingkan dengan tebing curam ini. Untung saja matahari sudah condong di barat, di balik bukit. Kalau masih berada di puncak dan membakar bebatuan, bahkan prajurit setangguh Rifa pun rasanya takkan sanggup memanjatnya.
Sekarang, setelah beratus kaki Ramir memanjat hampir mencapai puncak, perasaan bangga dan puas mendatanginya. Ia telah mengalahkan rasa ragu dan lelahnya, dan lebih dari itu, menaklukkan rasa takutnya. Satu langkah lagi, satu lagi, dan satu lagi. Akhirnya ia sampai di puncak. Di atas batu besar ia berbaring telentang, mengirimkan senyum puasnya ke langit. Rifa dan Toulip tersenyum lebar di sampingnya, dan tak lama Elanna menyusul datang.
“Berhasil!” seru Ramir dengan napas terengah. “Aku berhasil!”
“Lihat, tak sesulit yang kau kira sebelumnya, kan?” komentar Toulip si kucing, yang tentu saja ucapannya tak dimengerti oleh Rifa maupun Elanna.
“Menyenangkan, kan?” Rifa tertawa sambil meluruskan kedua kakinya. “Kau ternyata hebat juga.”
Pujian Rifa terdengar tulus, dan Ramir senang mendengarnya.
“Kau rasakan sendiri nanti,” lanjut Rifa. “Setelah kau menaklukkan tebing, kau akan semakin percaya diri jika nanti berhadapan dengan situasi sulit lainnya. Kau akan berkata: ‘aku sudah menaklukkan tebing, aku bisa menaklukkan apa saja’. Tetapi tetap, jangan jadi besar kepala ya.”
Ramir mengangguk-angguk. “Terima kasih.”
Elanna tersenyum mendengar nasihat Rifa. Namun sesuai sifatnya—yang coba dipelajari Ramir dalam waktu hanya beberapa hari—wanita berambut pirang itu selalu tak berlebihan bahkan pada saat yang paling menggembirakan seperti sekarang. Setelah menepuk bahu Rifa dan Ramir, ia berdiri tegak memandang jauh ke selatan, ke sepanjang punggung bukit yang akan mereka lewati nanti. Dadanya naik turun dengan teratur. Sudah jelas Elanna adalah manusia yang terbugar di sini. Toulip tentu saja tidak dihitung sebagai manusia.
“Kalian berdua beristirahatlah,” kata Elanna. “Saat matahari terbenam, dan semoga purnama tak tertutup awan malam ini, kita bergerak lagi. Kita belum benar-benar aman jika belum menjauhi rombongan pasukan Akkadia di bawah.”
Ramir menggeser tubuhnya sedikit, mendekat, dan melirik ke dasar tebing. “Apa mereka bisa melihat, jika kita bergerak sekarang?”
“Jika mereka waspada, mereka bisa melihat,” Rifa menjawab. “Aku tak yakin mereka bisa, tetapi Elanna benar, lebih baik kita beristirahat sebentar.”
__ADS_1
“Sebenarnya …” Elanna berpaling ke arah punggung bukit di utara. “Aku curiga pasukan Akkadia juga akan naik kemari.”
Ramir ikut memandang ke utara. Batu-batu besar maupun kecil tertanam dan terserak di atas permukaan tanah tandus yang naik turun curam dan juga landai. Jika disusuri ke utara, perbukitan ini akan menyambung ke Pegunungan Zagros dan sampai ke kota Turkar yang beberapa hari lalu disinggahi Ramir dan Rifa. Bisa jadi Elanna benar, pasukan Akkadia akan menyisir perbukitan untuk mencari mereka. Ramir merinding, membayangkan bahwa dirinyalah yang kini sedang dicari oleh orang-orang Akkadia itu.
“Mungkinkah mereka bisa menemukan jalan lain naik kemari?” Rifa bergumam, seperti bertanya pada dirinya sendiri.
“Begitulah. Kita harus waspada. Lebih baik …” Elanna memandangi Ramir dan Rifa. “Kalian istirahat dulu saja. Aku akan coba menyusuri punggung bukit ini sebentar ke utara, memeriksa apakah mereka benar-benar ada.”
“Kau juga butuh istirahat, Elanna,” tukas Ramir.
Rifa, juga Elanna menoleh ke arah pemuda itu, tampak terkejut mendengar suara Ramir yang tegas.
Elanna membuka mulut. “Tetapi—“
Yang langsung dipotong Ramir. “Kau butuh istirahat. Lebih baik Toulip saja yang pergi.”
“Toulip?” Elanna dan Rifa heran bersamaan.
“Ya.” Ramir menatap kucingnya. Ia senang berhasil mendapat ide untuk membalas seringai mengejek Toulip saat memanjat tadi.
“Toulip?” Sang kucing menyeringai, menunjukkan taring kecilnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. Kau,” tegas Ramir. “Jangan malas! Kau belum capek. Sudah waktunya kau membuat dirimu berguna. Ayolah, kau yang paling cocok untuk tugas ini. Kau bisa berlari kencang di atas bebatuan. Kau bisa memeriksa apakah ada musuh di utara, dan kembali lagi kemari dengan cepat. Ingat, saat matahari terbenam kau sudah harus kembali. Kau keberatan?”
“Tidak. Kalau itu maumu, Toulip pergi.”
“Terima kasih. Kau kucing terhebat.”
“Mrrraaawwrr.” Toulip selalu senang dipuji. Ia berdiri, memamerkan taringnya sekali lagi, lalu meloncat di atas bebatuan berlari ke arah utara.
“Nah.” Ramir tersenyum kepada Elanna dan Rifa. “Sekarang kita tinggal menunggu kabar darinya, dan bisa beristirahat.”
“Pujian biasa untuk membangkitkan motivasi seekor kucing.” Ramir nyengir, lalu merebahkan tubuhnya di atas batu, di balik sebuah batu besar lainnya sehingga bisa berlindung dari cahaya matahari. Rifa dan Elanna mengikutinya, berbaring di kiri dan kanannya, rapat.
“Berbicara dengan kucing,” Elanna menggumam dengan mata setengah terpejam. “Kau tak berhenti mengejutkan aku, Ramir.”
“Ah, Rifa juga aneh,” balas Ramir. “Coba saja kau tanyakan padanya, apa yang ia katakan kemarin pada burung elangnya itu?”
“Ya, Rifa,” Elanna menyahut. “Apa yang kau bicarakan, entah bagaimana kau melakukannya, dengan altrosmu kemarin?”
“Informasi biasa aja,” kata Rifa. “Bahwa akan ada pasukan dari negeriku yang menjemput kita di selatan. Mereka sudah dekat. Itulah mengapa tadi aku bersikeras memanjat tebing ini. Supaya kita tak kehilangan waktu dan segera bertemu mereka di titik aman. Setelah itu kita berangkat bersama ke Gerbang Sungai Tigris.”
“Itulah yang ingin kutanyakan sejak tadi.” Elanna membuka matanya dan menoleh. “Gerbang di selatan yang kaumaksud, apakah gerbang yang ada di dekat Kota Akshak?”
Rifa balik menatapnya dengan kening berkerut. “Memangnya ada gerbang yang lain?” Belum sempat Elanna menjawab, mata si gadis Elam sudah membesar penuh semangat, seolah seluruh rasa kantuknya menghilang. “Ada yang lain, ya?”
“Ada, di selatan juga, tapi tak jauh dari sini. Jadi sebenarnya kalian tak perlu pergi sampai berhari-hari ke Akshak. Hanya saja ...” Elanna termenung. “... mestinya itu rahasia.”
“Apa maksudnya?” tanya Ramir curiga.
“Gerbang di dekat Akshak adalah gerbang lama, yang pertama kali dibuat kakekmu. Tentu saja itu rahasia juga, tetapi dalam perkembangannya kemudian, untuk kepentingan mata-mata dan yang lain, gerbang itu jadi diketahui lebih banyak orang. Jalan itu masih aman dan belum diketahui oleh orang-orang Akkadia, namun kakekmu tetap khawatir. Itulah kenapa ia lalu membuat gerbang kedua di utara, untuk berjaga-jaga. Gerbang yang keberadaannya, mestinya, hanya diketahui kami berlima: Haladir, Maravi, Talbrim, Kirvash dan aku. Aku tak tahu, apakah Talbrim dan Kirvash ... kemudian memberitahukannya pada anak-anaknya.” Elanna menatap Rifa dengan tajam.
“Kakakku Javad tidak tahu ...” Rifa tercenung. “Dan kurasa Naia juga tidak. Waktu ia membawa rakyatnya pindah ke Elam ia juga memakai gerbang selatan. Tapi ... aku tidak tahu ...”
“Berarti mungkin masih aman.” Elanna tersenyum. “Maksudku, bukan berarti kalian tidak boleh tahu. Putra-putri Kirvash dan Talbrim justru harus tahu. Kau juga, Ramir, sebagai cucu Haladir. Tetapi orang banyak sebaiknya tidak. Kalau seandainya di antara mereka ada mata-mata, atau pengkhianat, akan sangat berbahaya ...”
“Jadi, kalau hanya kita bertiga, sebenarnya kita bisa langsung menyeberang lewat gerbang utara?” tanya Ramir.
__ADS_1
“Ya, tapi Rifa tadi bilang akan ada pasukan Elam yang menjemput kita di selatan. Kalau kita pergi lebih dulu lewat utara, mereka akan menunggu dengan khawatir di selatan.”
“Mungkin itu bukan masalah besar. Tetapi kenapa kau tidak bilang soal ini dari awal?” tanya Rifa sedikit kesal. “Kan aku bisa memberitahukan ini ke kakakku lewat Faruk.”
“Kau sendiri, kenapa tidak bilang soal tujuanmu lebih awal?” balas Elanna tenang. “Saat kau bicara pada elangmu, kau bisa bicarakan dulu dengan kami, tidak perlu terburu-buru.”
Wajah Rifa memerah dan mulutnya merengut.
“Tapi sudahlah, seperti katamu, ini bukan masalah besar, kan?” kata Elanna. “Kita istirahat saja dulu. Saat sedang lelah, kita lebih sulit menahan emosi.”
Hening beberapa lama, Ramir lalu melirik ke kanan. Mata wanita berambut emas itu ternyata sudah terpejam. Kedua telapak tangannya terlipat di atas perut. Di pojokan, Rifa yang sempat kesal juga sudah meringkuk, memunggungi mereka. Melihat semuanya sepertinya sudah kembali tenang Ramir pun ikut memejamkan mata. Tanpa usaha keras ia terlelap.
Untungnya, ia tak masuk mimpi seseorang saat ini, tidak seperti malam sebelumnya, yang terasa mengerikan, saat ia melihat makhluk menyeramkan berkepala botak. Sore ini baik Elanna maupun Rifa cukup lelah hingga tak sempat bermimpi.
Ramir terbangun saat malam menjelang, oleh jilatan Toulip di wajahnya. Ketika ia membuka mata, ternyata Elanna sudah duduk tak jauh di depannya, bersandar di batu dengan tatapan menerawang ke arah purnama. Rifa masih tergolek di samping, membelakangi mereka, mendengkur. Walaupun tadi meminta Rifa dan Ramir untuk berangkat segera setelah matahari terbenam, tampaknya Elanna kini memilih membiarkan keduanya tidur lebih lama.
“Mrraawwrrr.” Toulip tersenyum lebar begitu dekat. Ramir belum ingin bergerak. Ia masih menikmati paras menarik Elanna yang tersiram cahaya rembulan. Dari samping, bulu mata lentik dan hidung mancung wanita utara itu terlihat jelas keindahannya.
“Mrraawwrr!” Toulip mengeong keras, tertawa dengan caranya sendiri. “Bangunlah, bocah! Dasar pemuja manusia perempuan!”
“Apa?” Ramir merasakan darah memenuhi wajahnya begitu cepat kala rasa malunya datang. Elanna menoleh dan memandanginya beberapa lama, dan sadarlah Ramir ia tak perlu merasa malu. Toh Elanna takkan mengerti kata-kata yang diucapkan Toulip.
“Sudah bangun, Ramir?” tanya perempuan itu.
“Mmm … iya.” Ramir beringsut. Badannya pegal di segala penjuru, tetapi tidur beberapa jam cukup memulihkan tenaganya.
“Kalau begitu, bangunkan Rifa juga,” kata Elanna. “Kita harus segera mendengarkan laporan kucingmu, lalu berangkat lagi.”
Ramir mengguncang perlahan bahu Rifa. Dengkur gadis Elam itu terhenti. Gadis itu tetap diam beberapa lama, baru kemudian berbalik dengan mata separuh terbuka. Setelah melirik ke arah Ramir, Toulip dan Elanna, ia pun duduk.
Ramir nyengir. “Rifa, kau yang terkuat memanjat tadi. Tak disangka, ternyata tidurmu sama saja, dengkuranmu juga tetap yang terkuat.”
“Hah! Kau pikir kau tidak mendengkur?”
“Aku?” Alis Ramir terangkat. “Tidak.”
“Oh ya? Coba tanya Elanna, kau mendengkur atau tidak.”
“Dia tidak tahu. Dia tidur duluan tadi.”
“Tetapi dia pasti yang bangun duluan,” balas Rifa. “Iya, kan?”
“Ya.” Elanna tertawa. “Tapi betul, Ramir. Kau mendengkur.”
“Hah!” Mata Rifa membesar saking senangnya. “Benar, kan?”
“Tetapi dengkurmu lebih keras, Rifa.”
Ramir tertawa keras, sementara Rifa merengut.
Tawa Ramir terhenti begitu Elanna mendesis menyuruhnya diam. Elanna melongok ke balik batu besar, mengintip ke arah lembah gelap di kaki tebing.
Jantung Ramir berdetak kencang. Ia dan Rifa ikut melongok. Ternyata lembah itu tak segelap yang dibayangkannya semula. Ada tiga titik cahaya di bawah sana, tetapi para prajurit Akkadia di sekitarnya tak tampak. Ramir ragu, apa benar suaranya bisa terdengar sampai ke bawah. Tetapi barangkali, saat malam hening begini, teguran Elanna bisa jadi benar. Berkat pengalaman hidupnya selama berpuluh-puluh tahun, wanita itu patut dipercaya.
“Sekarang,” ujar Elanna. sambil menoleh “Lebih baik kita dengarkan laporan Toulip.”
__ADS_1