
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 25 ~ Penyembuh
Karya R.D. Villam
---
”Aku hanya bisa mengantar sampai di sini, Ramir.”
Ramir tak langsung menjawab ucapan lelaki di sebelahnya. Ia harus memejamkan mata karena angin bertiup sekali lagi, turun dari perbukitan barat, menyeberangi padang rumput menuju sungai di timur. Wajahnya disembunyikan di balik leher keledai yang ia tunggangi. Toulip yang duduk di depannya melakukan hal sama. Setelah angin mereda barulah Ramir mengangkat kembali wajahnya dan menjawab, "Ya, Paman."
Lelaki berjanggut yang sedang duduk di atas keledai itu menggeleng. “Maaf, aku tak bisa membawamu terus sampai ke Turkar.”
"Tidak apa, Paman. Aku berterima kasih diijinkan menumpang keledaimu selama dua hari. Jika berjalan kaki mungkin aku baru sampai di desa ini dalam tiga hari atau lebih."
Lelaki yang dipanggilnya ‘paman’ itu tentu saja bukan paman Ramir yang sebenarnya, melainkan hanya seorang lelaki baik dari kampungnya di selatan yang kebetulan hendak bepergian pula ke utara. Ia bernama Younis.
"Kau pernah melihat kuda, Ramir?"
"Kuda? Belum pernah. Kudengar mirip keledai?”
"Mereka lebih besar, dan bisa membawamu sehari lebih cepat."
"Luar biasa." Ramir memandang berkeliling. Sebuah rumah makan kecil terlihat tak jauh di depan, di tepi sungai yang mengalir di sebelah kanan. Beberapa orang duduk di sana, makan. Sementara di tepi padang rumput di sebelah kiri, di kaki bukit di kejauhan, tampak beberapa buah rumah sederhana berdinding lumpur.
"Kuda memang hewan yang luar biasa." Younis mengangguk. "Aku baru melihatnya sekali, di Turkar. Tetapi kota itu pun bukan tempat asal hewan ini. Itu lebih jauh lagi, di negeri-negeri utara."
"Kaukasia?" gumam Ramir.
"Ya." Younis menoleh heran. "Dari mana kau tahu Kaukasia?”
"Oh." Ramir mengusap kepalanya sambil melirik Toulip yang menatapnya tajam. Walaupun Younis seorang yang baik, Ramir tahu ia tidak boleh sembarangan bicara. Ia tetap harus hati-hati. "Aku pernah mendengarnya dari kakekku."
"Kau betul, kuda memang kendaraan orang-orang utara. Kabarnya di sana ada padang rumput yang luasnya tak terbayangkan. Tempat terbaik untuk hewan-hewan ini."
"Padang rumput? Di balik gunung dan danau?"
Cakar kecil Toulip mencengkeram tangan Ramir, membuat ia meringis kesakitan.
"Gunung? Ya, mungkin. Tetapi danau? Aku tak mengerti ..." Younis menggeleng. "Mungkin lautan utara yang kau maksud?”
"Oh ... mungkin. Lupakan saja, Paman."
"Nah, sebelum kita berpisah, sebaiknya kita makan di sini." Younis turun dari keledai, menuntunnya ke sebuah pohon, dan mengikatkan tali kendalinya di sana. Ramir membiarkan Toulip melompat ke bahunya. Ia mengikatkan keledainya pula, kemudian berjalan mengikuti Younis. Mereka duduk di balik meja kecil di luar.
__ADS_1
Sementara Younis memesan makanan, Ramir memperhatikan orang-orang di dekatnya. Ada lima meja makan di luar, dan tiga di antaranya terisi. Meja tengah diisi Ramir dan Younis. Meja terdekat dengan sungai diisi dua orang yang tampaknya baru saja mencari ikan. Meja terjauh diisi tiga pria bertubuh kekar. Ramir mengepal. Ketiga orang itu prajurit Akkadia.
"Tenang, Ramir," Toulip yang duduk di sebelahnya berkata. "Biasakan dirimu. Jangan tunjukkan ketidaksukaanmu pada mereka."
Sebenarnya Ramir bingung kalau ditanya mengapa ia tidak menyukai para prajurit Akkadia. Ia belum pernah melihat langsung bagaimana mereka membunuh orang. Hanya kabar dari mulut ke mulut saja yang didengarnya, dan belum tentu itu benar. Kakeknya bilang pasukan Akkadia tidak lebih buruk daripada pasukan Akshak yang dulu berkuasa di desanya. Mungkin Ramir hanya tidak suka melihat penampilan mereka yang sombong, dan tingkah laku mereka yang kasar dan sering melecehkan orang lain.
Seperti saat ini. Ketika si pelayan rumah makan—seorang gadis kecil—tersandung saat mengantarkan makanan hingga makanan itu tumpah di meja mereka, seorang prajurit langsung saja mendorong wajah gadis kecil itu sambil berteriak, “Anak tolol!”
Gadis itu terjengkang. Kepalanya membentur kaki meja di belakangnya—meja Ramir.
Amarah Ramir tersulut. Ia berdiri seketika. "Hei, apa yang kalian lakukan?!"
Ia merasa aneh setelah itu, karena biasanya ia tak pernah berani memulai pembicaraan, apalagi berkata-kata keras pada orang yang belum dikenalnya.
"Miaawwrr!" Toulip berusaha mengingatkan Ramir agar tidak bertindak gegabah.
"Kurang ajar!" Prajurit yang mendorong tadi ikut berdiri.
Demikian pula Younis. Kedua tangannya terkatup di depan wajahnya seraya memohon, "Ampuni keponakanku, Tuan, ampun ..."
Ramir sadar, ia tak boleh mencari masalah dan menyulitkan Younis di sini. Walau masih kesal, ia membungkuk hormat pada para prajurit Akkadia. “Maafkan aku.”
"Sudahlah," prajurit lain berkata. "Mereka masih anak-anak."
Ya, masih anak-anak, Ramir menggerutu dalam hati. Ia berjongkok, mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis kecil. "Kau tidak apa-apa?"
Gadis yang tampaknya berusia tiga belas tahun itu mengangkat wajah. Ia meringis kala meraba bagian belakang kepalanya. "Tidak apa-apa ..."
Suara berat mendekat dari dalam rumah makan, tampaknya ditujukan pada para prajurit Akkadia, "Ada masalah apa, Tuan?"
Ramir mengintip dari balik meja. Orang itu bertubuh gemuk dengan kumis besar melintang. Si pemilik rumah makan.
"Pelayanmu menumpahkan makanan kami!" jawab si prajurit.
"Oh, maaf, Tuan, maaf. Akan kuganti." Pemilik itu membung-kuk. Ia menoleh ke arah sang gadis kecil, "Kau baik-baik saja, Airi?"
Gadis itu mengangguk, berdiri dengan limbung. “Ya, Paman.”
"Kepalanya berdarah," kata Ramir. "Terkena kaki meja ini."
"Biar kulihat." Paman gemuk itu menatap Ramir curiga, lalu menggamit lengan si gadis dan segera menariknya. "Masuklah, Airi."
"Tuan," Ramir menahan. "Biar kuobati dia. Aku penyembuh."
"Kau?" Paman gemuk itu menatap tak percaya.
"Itu benar," dukung Younis. "Walau masih remaja, dia penyembuh yang baik. Anda mungkin pernah mendengar nama kakeknya, Abdar Rahtari.”
"Abdar Rahtari sang penyembuh?" Si paman gemuk kini tersenyum. "Aku pernah dengar. Kalau begitu masuklah, dan coba obati keponakanku ini. Aku Fawaz. Siapa namamu?"
__ADS_1
"Ramir."
Fawaz mengajak Ramir masuk ke dalam rumah makan. Ada beberapa buah meja dan lemari di sana, dan sebuah kursi besar di ujungnya. Airi duduk, dan Ramir berdiri di sebelahnya. Sementara Fawaz, Younis dan Toulip berdiri di dekat pintu.
Ramir membersihkan luka di kepala Airi dengan sehelai kain, kemudian mengambil sejumput daun hijau dari dalam tas kulit yang tergantung di pinggangnya, dan meletakkannya di meja. Ia mengisi sebuah mangkok dengan air minum, satu demi satu membasahi daun hijaunya dengan air, lalu menempelkannya menutupi luka di kepala Airi. Setelah seluruh luka tertutup oleh daun, Ramir menutupinya dengan telapak tangan kanan.
Ramir memejamkan mata dan menghembuskan napas. Asap putih mengepul keluar dari sela-sela jarinya. Ramir menunggu sampai hangat di telapak tangannya menghilang sepenuhnya, baru melepaskannya dari kepala Airi. Daun yang tadi berwarna hijau kini berubah cokelat. Mengering. Ramir meniupnya perlahan, menerbangkan dedaunan itu. Luka di kepala Airi kini sudah tertutup sepenuhnya, tak meninggalkan bekas sedikit pun.
Ramir menatap mata besar yang menghiasi wajah bundar di depannya, yang terus menatapnya tanpa berkedip. “Sudah sembuh.”
"Terima kasih, Kak." Airi tersenyum lebar sambil meraba kepalanya dengan hati-hati.
"Terima kasih, Nak!" Fawaz juga tersenyum. "Hebat, Ramir! Kau memang penyembuh yang hebat, seperti kakekmu!"
"Ah, Tuan berlebihan." Ramir melirik ke luar, melalui sela-sela tubuh Fawaz dan Younis. Para prajurit Akkadia tampak sedang memperhatikannya.
"Kau dan pamanmu makan di dalam sini saja, ya?" kata gadis itu pada Ramir, yang lalu menoleh ke arah Fawaz. "Boleh, kan, Paman?"
"Tentu saja.” Fawaz mempersilakan Younis, lalu berkata lagi pada Airi, "Biar aku yang membawa makanan untuk para prajurit itu."
Ramir, Younis dan Toulip duduk di dalam. Airi membawakan makanan lalu duduk bersama mereka tanpa berkata-kata. Matanya yang bundar tak pernah lepas dari wajah Ramir. Ramir belum tahu apa yang harus dibicarakan dengan gadis itu, maka ia hanya tersenyum. Setelah beberapa lama Younis memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Namun saat ia hendak membayar dengan kepingan uang perunggunya, Fawaz menggeleng.
"Tidak perlu, Tuan," kata Fawaz. "Keponakanmu sudah menolong keponakanku. Kalian sudah seperti keluargaku sendiri."
"Terima kasih." Younis mengangguk, lalu menoleh ke arah Ramir. "Aku harus terus ke barat. Kau akan ke utara sekarang?"
"Kalian berpisah?" Fawaz bertanya heran.
Younis mengangguk. "Kami berdua punya urusan penting di dua arah yang berbeda."
"Oh." Fawaz mengusap kumisnya. "Kukira—"
"Tuan!" Seorang prajurit Akkadia berteriak mengejutkan Fawaz. “Kemari!”
"Ya!" Fawaz cepat-cepat berlari keluar ruangan.
Ramir bertanya-tanya dalam hati, ada apa lagi sekarang?
Tetapi Younis berkata, “Kurasa ini waktunya kita pergi.”
"Kakak," Airi berkata ragu pada Ramir, "mau pergi sekarang?"
Ramir menatapnya. “Kenapa, Airi?”
"Ada sesuatu ..." kata gadis itu pelan. Ia tampak berusaha memberanikan diri. "... yang ingin kutunjukkan.”
"Boleh." Ramir mengangguk. Pikirnya, sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh gadis itu mestinya bukan sesuatu yang benar-benar penting. "Tetapi biar kuantar pamanku dulu."
__ADS_1