Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 16 ~ Permaisuri Awan


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 16 ~ Permaisuri Awan


Karya R.D. Villam




---




Esoknya, ketika Javad datang menemui Naia dan duduk di samping tempat tidurnya, Naia berkata dengan lirih, ”Javad, mungkin … aku memang telah membuat kesalahan.”



”Minum dulu.” Javad mendekatkan cawan berisi air hangat ke bibir Naia. Tangan kokoh laki-laki itu tetap memegang cawan dengan hati-hati kala Naia menghabiskan isinya.



”Javad, aku—”



”Kesalahan, kau bilang?” Laki-laki itu tersenyum. ”Inilah kehidupan, dan juga kematian. Semua sudah digariskan, dan itu bukan kesalahan.”



”Aku terus membuat keputusan yang salah dan mengakibatkan kematian banyak orang,” kata Naia. ”Aku membawa kematian bersamaku. Itulah kesalahanku.”



”Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri,” Javad balik berkata dengan keras. ”Ya, kau memang terlalu berani saat keluar meninggalkan Elam untuk mencari orang itu. Tapi jika mencari-cari kesalahan, aku pun salah karena membiarkanmu pergi. Lagi pula kau memang mempunyai tujuan. Yang sudah terjadi, terjadilah. Lebih baik kita melihat ke depan.”



”Semuanya aman, sampai Rahzad kemudian tahu segalanya tentang aku, entah bagaimana. Kini ia mengejarku untuk mendapatkan tangan ini.” Naia menunjukkan telapak tangan kanannya. Bibirnya bergetar. ”Hanya demi tangan terkutuk ini, ia bersedia membunuh siapa saja! Dan karena benda terkutuk lainnya di leherku, aku tidak bisa lari darinya!”



”Hei, aku juga punya tangan yang sama!” balas Javad. ”Dan aku tak pernah menganggap ini sebagai kutukan. Ini tanggung jawab kita, yang diturunkan oleh ayah-ayah kita! Dengan tangan ini kita bisa membuka Gerbang Sungai Tigris, dan juga menutupnya, untuk melindungi seluruh rakyat kita dari serangan Rahzad. Dari Sargon. Hanya kita berdua, Naia!”



”Bukan hanya kita berdua, kau tahu itu,” sahut Naia. ”Masih ada pemegang kunci yang asli, ahli waris Gerbang Sungai Tigris yang sesungguhnya. Dialah yang bisa membebaskan kita dari semua ini. Mungkin menutup gerbang untuk selamanya, jika perlu, dan selamanya kita semua tidak akan hidup lagi dalam kekhawatiran! Andai saja dia benar-benar ada.”



”Kita belum tahu apakah benar kemampuannya bisa sampai sejauh itu, tetapi ya, aku setuju, semoga dia benar-benar ada.” Javad mengangguk, tetapi lalu menggeleng sedih. ”Kau sudah berusaha mencari, demikian pula aku. Dan sejauh ini kita belum berhasil. Tapi Rahzad pun sama gagalnya dengan kita. Jadi sementara orang ini belum ditemukan, Gerbang Sungai Tigris tetap jadi tanggung jawab kita berdua. Kita tidak boleh menyerah. Kau tahu itu.”



Naia menggeleng kecil. ”Sebenarnya, kau bisa mengemban tanggung jawab ini sendirian. Tidak perlu aku.”



”Naia, tanggung jawab ini dulu diberikan kepada dua orang bukannya tanpa alasan! Ini dibuat untuk berjaga-jaga, seandainya ada satu orang di antara kita yang ternyata berubah menjadi jahat.”



Naia menatap pemuda di hadapannya tanpa ber-kedip. ”Kau akan menjadi raja yang baik dan dicintai rakyat, Javad. Dan aku percaya, rakyatku akan selalu aman dalam perlindunganmu.”



Dari Javad berkerut. ”Apa maksudmu?”



”Mungkin ... kalian semua akan lebih aman ... jika aku mati ...”



Javad langsung terperanjat. ”Bicara apa kau? Jangan sembarangan bicara!”



”Dengar dulu,” sahut Naia. Tiba-tiba ia merasa lebih tenang, justru begitu menemukan ide baru yang mungkin akan dianggap gila oleh Javad. ”Jika aku mati, walaupun Rahzad bisa menemukan aku, tanganku takkan berguna lagi untuknya. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kau bisa pulang ke Elam, dan kalian semua bisa hidup tenang.”

__ADS_1



”Hentikan!” Javad melotot marah. ”Aku tak percaya kau bicara seperti ini! Di mana Naia yang dulu, yang selalu bicara penuh semangat? Yang tidak pernah sudi menyerah? Apa yang membuatmu berubah?”



”Tiga bulan yang melelahkan ini ...” Naia membuang muka. ”Satu minggu terakhir, ketika aku kehilangan semuanya.”



Javad menggenggam jemarinya erat. ”Naia, dengar, sekarang memang saat yang buruk. Tetapi semuanya belum berakhir. Kau masih hidup, masih banyak yang bisa kaulakukan. Aku tidak pandai berkata-kata, tetapi kupikir ... apa pun bisa terjadi. Jangan kaukira hanya hal buruk saja yang terjadi, mungkin saja ada sesuatu yang baik juga nanti.”



“Javad, kalau menurutmu ideku tadi buruk, tidak apa. Aku tidak akan menyerah, aku mengerti. Aku akan tetap pergi mencari—”



“Tidak, Naia. Sudah cukup,” Javad menjawab tegas. “Kau dulu menolak permintaanku untuk tetap tinggal di Awan, tetapi sekarang, aku minta jangan lagi. Kembalilah ke Elam bersamaku, dan biar para prajuritku yang mencari pemegang kunci yang asli.”



“Beberapa hari yang lalu aku pun berpikir begitu. Aku tidak ingin kehilangan para prajuritku yang tersisa. Jadi kupikir lebih baik kubawa mereka pulang ke Elam, dan mereka bisa tinggal di sana. Tetapi sekarang, semua sudah mati. Jadi buat apa lagi—?”



“Demi para dewa, tidak bisakah kau memikirkan dirimu sendiri sekarang?” Javad mencengkeram kedua bahu Naia. ”Dirimulah yang penting! Kenapa belum mengerti juga? Aku ingin kau kembali ke Awan, karena aku ingin kau hidup damai di sana!”



”Tetapi ... Rahzad, dia bisa—”



”Lupakan dia, Naia! Kau aman bersamaku!”



”Kau belum mengenal Rahzad dengan baik ...”



”Ya. Mungkin. Tapi apa itu penting? Baiklah, kuyakinkan saja kau, Rahzad tidak akan berhasil mendapatkan kunci Gerbang Sungai Tigris. Kitalah yang nanti akan memegangnya. Tidak akan ada perang di tanah Elam, dan kita bisa hidup damai selamanya.”




”Ya.” Javad mengangguk. ”Kita berdua.”



Napas Naia tertahan. Darahnya serasa membeku.



”Kalau kau masih ingat, Naia, aku dulu telah memintamu.”



”Memintaku?”



”Ya, memintamu,” Javad menatapnya lembut, ”menjadi istriku. Permaisuriku.”



Naia terdiam.



Ya, ia ingat itu, Javad pernah melamarnya, dan Naia belum menjawab. Sebagian karena ia tak ingin membahayakan kehidupan Javad, dan sebagian lagi karena saat itu diam-diam Naia mulai memendam ketertarikan pada pemuda lain. Putra pengawal ayahnya itu, yang bodoh tetapi jujur dan periang, yang sayangnya sudah menyerahkan nyawa kemarin.



”Naia, aku mencintaimu.”



Naia dan Javad saling menatap. Berbagai macam hal memenuhi kepala Naia, terpecah-pecah, tak satu pun yang menyatu. Ia tak bisa berpikir sama sekali. Ia tak bisa bicara.

__ADS_1



Seolah tersadar Javad sendiri yang lalu menggeleng, dan menunduk. ”Maaf, tak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu di saat seperti ini. Lupakan saja dulu.”



”Javad ...”



”Keputusan ada di tanganmu, Naia. Aku tak akan memaksa. Aku hanya bisa meminta, saat ini pulanglah dulu bersamaku ke Awan. Itu lebih aman untukmu.”



Naia termenung. ”Pulang, kemudian melupakan semuanya?”



”Ya.” Javad tersenyum. ”Lupakan semua yang ada di sini.”



Naia menunduk dengan perasaan campur aduk.



Melupakan? Bagaimana ia bisa melupakan ini semua? Melupakan negerinya yang musnah dibakar Rahzad? Melupakan kematian ayah dan ibunya? Melupakan kematian Aria, Teeza, Fares, dan keseratus prajurit setia yang telah melindunginya selama tiga bulan ini?



Terkutuklah Sargon, Rahzad, dan seluruh prajurit Akkadia!



Bagaimana mungkin Naia bisa melupakan mereka semua? Orang-orang tercintanya, maupun orang-orang yang dibencinya?



Dendam membakar jiwanya. Dendam yang sama yang dulu telah mengubahnya menjadi manusia terkutuk, sebelum ia diselamatkan para tetua Kubah Putih yang memberinya medali itu. Juga dendam yang sama, yang telah membuatnya berani menentang Rahzad. Menjadikannya seorang yang tak kenal menyerah. Ia tak mungkin melupakan semua ini. Ia tak mungkin berhenti sekarang. Ia harus menemukan jalan, untuk membalaskan dendamnya.



Davagni. Tiba-tiba Naia teringat. Ya, ia masih punya Davagni.



Dan satu lagi ... Nergal.



Naia mengangkat wajah. Kali ini suaranya tegas. “Kau benar.”



Javad tersenyum. “Kau mau ikut denganku?”



“Bukan itu. Kau benar, aku tidak boleh menyerah sekarang.”



Javad ternganga.



”Javad, aku berjanji akan pulang bersamamu. Kau bisa percaya kata-kataku. Tetapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kulakukan. Sesuatu yang bisa membantu kita memenangkan perang melawan orang-orang Akkadia.”



”Naia, kalau untuk menghadapi mereka, percayalah, aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Aku sudah membangun pasukan perangku sedemikian rupa. Aku sudah siap. Apalagi yang hendak kaulakukan?”



”Aku akan memanggil pasukan lainnya. Pasukan yang lebih dahsyat daripada seluruh pasukan kita dikumpulkan menjadi satu.”



”Apa ...?” Suara Javad melirih. Matanya menatap tak percaya.


__ADS_1


Naia berkata mantap, ”Kau tunggu sajalah, dan lihat nanti.”


__ADS_2