Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 49 ~ Serbuan Barion


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 49 ~ Serbuan Barion


Karya R.D. Villam


 


---


 


Ramir mengangguk. Ia memanggil Toulip agar mendekat. Kucing kecil bertelinga panjang dan berbulu warna hitam dan cokelat gelap itu duduk di depannya. Elanna dan Rifa duduk di samping Ramir.


“Apa yang kau temui di utara?” Ramir bertanya.


“Pertama, yang perlu kau tahu lebih dulu, Ramir, Toulip sudah berlari cukup jauh ke utara.” Kucing itu mengangkat kepalanya angkuh. “Agar kau bisa lebih menghargai apa yang Toulip lakukan.”


“Ya, ya, tentu saja.” Ramir mengangguk tidak sabar. “Jadi?”


“Toulip tidak melihat pasukan Akkadia yang kalian takutkan itu.”


“Tidak ada?”


“Sama sekali, sejauh yang Toulip lihat.”


Ramir tersenyum lega. Elanna dan Rifa ikut tersenyum. Mereka langsung tahu bahwa tidak ada ancaman yang mendekat.


Namun begitu deretan senyum itu tampak, Toulip melanjutkan dengan gaya dramatis, “Tetapi Toulip bertemu seekor kadal bersayap. Entah dia mendapat kabar dari siapa, katanya ada serombongan prajurit bergerak dari utara kemari. Belasan prajurit Akkadia, masing-masing mengendarai barion.”


“Barion?” Ramir tertegun. “Aku belum pernah melihat hewan itu .... Seperti apa mereka?”


“Separuh macan, separuh badak, separuh serigala,” jawab Toulip. Matanya lalu berputar, seperti bingung dengan kata-katanya sendiri. “Hm… berarti bukan separuh-separuh ya? Ah, kau juga tak pernah melihat macan, badak atau serigala, jadi buat apa Toulip ceritakan? Yang jelas, mereka makhluk-makhluk yang berbahaya! Kucing besar yang berbahaya!”


Ramir langsung menyampaikannya pada Elanna dan Rifa.


Elanna cepat bertanya, “Berapa jauh mereka dari sini?”


“Toulip bilang, jika jarak yang ditempuhnya dijumlahkan dengan perkiraan kadal itu, maka pasukan barion bisa sampai di sini saat dini hari. Itu kalau kita tetap berdiam diri.”


“Tadi kucing, sekarang kadal. Perkiraan yang meragukan,” kata Rifa ketus.


“Bisa lebih cepat jika barion-barion itu berlari.” Elanna menegakkan tubuhnya gelisah. Ia memandang ke utara, dan mendesah. “Barion. Aku tak menyangka, mereka menggunakan hewan itu ....”


Ia tak melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba perhatiannya tertuju pada langit tinggi jauh di utara. Langit itu tak lagi gelap. Berpadu dengan sinar rembulan, segaris cahaya merah meluncur dari punggung bukit jauh ke atas, dan akhirnya berpendar. Titik-titik api terlontar bagai bintang pecah. Dentuman terdengar sayup-sayup.


“Panah berapi?” Suara Rifa tertahan.


“Mungkin.” Elanna mengangguk. “Lalu meledak di udara. Kurasa itu tanda yang diluncurkan pasukan barion di utara sana, agar dapat dilihat oleh rekan-rekan mereka di bawah tebing ini.”


“Tanda apa?” Ramir menahan rasa takutnya agar tak keluar. “Mereka tahu keberadaan kita?”


“Mungkin belum.” Elanna berdiri, yang segera disusul kedua rekannya. “Tapi yang jelas tanda mereka membantu kita juga untuk mengetahui posisi mereka sekarang. Perkiraan kucingmu keliru, Ramir. Mereka bisa sampai di sini sebentar lagi.”


“Aku tahu ...” Ramir menatap kesal ke arah Toulip, yang masih terbengong-bengong tak mengerti kehebohan apa yang tengah terjadi.

__ADS_1


“Seharusnya aku sendiri yang memeriksa tadi. Salahku ...”


“Bukan salahmu, Elanna!” seru Ramir.


“Hei, kita berangkat sekarang?” tanya Rifa.


“Ya,” Elanna mengencangkan ikatan sarung pedang di punggungnya. Tanpa berkata-kata ia berlari menjejaki jalan tanah sempit yang diseraki bebatuan tajam kecil maupun besar, ke arah selatan.


Ramir mengencangkan tas kulit di pinggangnya, lalu cepat-cepat mengikuti Elanna. Toulip di sampingnya—yang lalu menyusulnya dan lari di depan—sementara Rifa berlari paling belakang. Suara besi berdentang terdengar, dari bawah tebing.


Sambil berlari Ramir menoleh. “Suara apa itu?”


“Lonceng?” desis Rifa. “Mereka tahu kita ada di sini?”


“Mungkin,” jawab Elanna, tetap tenang. “Tetapi kurasa mereka tak akan coba memanjat tebing. Terlalu lama, mereka tak akan mampu mengejar kita. Yang kutakutkan mereka akan coba mencegat kita nanti di sekitar sungai.”


“Berarti kita harus lari lebih cepat. Dan sampai di sungai lebih dulu!” Ramir memompa keberaniannya, tak mau kalah. “Ayo!”


Tetapi berlari di atas bukit berbatu-batu tajam benar-benar berbahaya. Ramir tahu, salah sedikit menjejakkan kaki ia bisa tergelincir hingga jatuh dengan kepala remuk dan badan tercabik di bawah tebing. Untungnya ada Elanna yang menjadi pembuka jalan. Asal Ramir selalu berkonsentrasi dan berlari tanpa kenal lelah, ia akan selamat sampai di tujuan. Tidak perlu memikirkan pasukan yang mengejar di belakang, juga pasukan yang berniat mencegat di bawah. Tetapi, tak mungkin ia tidak mengkhawatirkan pasukan Akkadia di kedua arah itu. Ini bukan perasaannya saja, pasukan pengejar di belakang memang semakin dekat!


“Barion!” seruan Rifa terdengar aneh. Sepertinya rasa takut pun mulai menghinggapinya. “Aku dengar suara barion di belakang!”


Elanna tak menjawab dan terus berlari. Ramir tak berani menoleh. Ia harus tetap fokus berlari, tak boleh berhenti. Namun telinganya coba menangkap suara yang dimaksud oleh Rifa.


“Ouwgh! Ouwgh!”


Kecil sekali. Itukah suara barion?


‘Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh!”


Benar! Itu pasti mereka! Suara lolongannya! Dekat sekali!


Seperti Toulip! Tetapi jelas jauh lebih besar daripada kucing mungil itu!


“Ramir!” Wajah kesal Rifa menutupi pandangannya. “Cepat, lari saja! Kau mau jadi santapan mereka?!”


Gugup, Ramir menoleh lagi ke depan.


Toulip menggigil di atas batu. “Ramir, lari!”


Di samping kucing itu Elanna ternyata juga sudah berhenti berlari, dan bahkan sudah menghunuskan pedangnya. Wajah wanita itu tampak begitu keras sekarang, kala ia berjalan mendekati Ramir dan Rifa lalu melewati keduanya. Ia berdiri tegak membelakangi mereka, menatap kawanan barion yang semakin mendekat. “Kalian berdua, larilah. Aku akan menghadang mereka di sini.”


“Tidak! Tidak mungkin bisa!” Rifa menarik lengan Elanna hingga wanita Kaspia itu menoleh. Keduanya saling menatap. “Kau ikut kami!”


“Kita pasti terkejar,” jawab Elanna tenang. Yang Ramir tidak bisa percaya, bagaimana ia bisa setenang itu? “Kecuali aku coba menghentikan mereka. Kau, Rifa, tugasmu membawa Ramir ke Elam. Jangan coba-coba berpikir untuk menemaniku di sini.”


“Kau tak mungkin melawan barion itu semua! Kau mau mati?!”


“Mungkin,” jawab Elanna dingin.


Rifa tertegun.


Ramir menyela, “Tapi, Elanna, bagaimana dengan Teeza? Bukankah kau ingin bertemu dengannya?”


Wajah Elanna menggelap, tampaknya amarahnya tersulut. “Bodoh! Pergi kalian sekarang, cepat!”

__ADS_1


Elanna mengibaskan tangan Rifa. Wanita berambut emas itu menarik napas panjang, lalu berlari ke utara, menyambut kawanan barion yang mulai berdatangan. Ramir tertegun. Hewan-hewan itu telah menunjukkan dengan jelas sosoknya sekarang: kulit tebalnya yang berkilat tertimpa sinar rembulan, sorot matanya yang memerah, dan taring tajamnya yang sepanjang belati. Jarak mereka tak lebih dari dua ratus langkah, dan jumlah mereka lima ekor. Dan mungkin ada beberapa lagi di belakang beserta para prajurit Akkadia, tuan-tuan mereka. Demi semua dewa! Itu hewan paling mengerikan yang pernah dilihat Ramir sepanjang hidupnya.


“Ayo, Ramir!” Rifa menarik lengannya.


Ramir mengikuti ayunan langkah Rifa yang semakin cepat, sementara Toulip sudah lari lebih kencang di depan mereka. Untuk sesaat Ramir lupa pada Elanna. Ia baru teringat ketika kemudian terdengar jeritan wanita itu jauh di belakangnya.


Ramir, juga Rifa, berhenti berlari dan menoleh. Di kejauhan tubuh Elanna melenting tinggi di udara, seperti hendak menerkam rembulan. Rambut panjangnya berkilat dan berkibar. Begitu ia turun pedangnya terayun dahsyat, dan langsung menghantam telak batok kepala seekor barion, hingga membuatnya terbelah. Darah hewan itu menyembur kencang, tetapi hanya untuk memancing dua ekor lainnya di sisi kiri dan kanannya untuk menyerang.


Kedua hewan itu menerkam bersamaan. Elanna mengelak, melompat tinggi lagi, sehingga kepala kedua hewan saling bertabrakan. Begitu mendarat, wanita itu mengayunkan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Hanya satu leher barion yang berhasil ditebasnya. Ayunan yang satu lagi hanya mampu menyentuh kulit tebal di punggung barion, dan kulit itu sungguh tebal hingga pedang Elanna tak mampu menembusnya.


Barion itu mengibaskan satu kakinya. Untunglah Elanna masih sempat melompat. Namun tak urung kibasan hewan itu mampu mendorongnya hingga ia terhuyung. Tubuh Elanna menghantam sebuah batu besar. Ia meringis, sementara sang barion mempertontonkan taringnya. Dua barion sudah tewas, dan kini tiga ekor lagi siap untuk menerjang wanita itu.


Namun Elanna sungguh petarung hebat. Baru pertama kali Ramir melihat pertarungan semacam ini, dan ia tak yakin ada orang lain yang mampu memainkan pedang selihai wanita itu, dan juga bergerak selincah dia. Sayangnya, barion juga bukan hewan sembarangan. Elanna kini dalam bahaya besar.


Dan rupanya kekhawatiran serupa dirasakan oleh Rifa. Gadis Elam itu menatap cemas, kemudian memandang bingung ke arah Ramir. Ramir tahu gadis itu tengah bimbang, apakah harus terus lari ke selatan, atau justru kembali untuk menolong Elanna.


“Aku …” Wajah Rifa mengeras. Rupanya ia telah mengambil keputusan. “Aku akan membantu Elanna! Heaaa!” Ramir tak mampu mencegah. Gadis itu mencabut belati dari pinggangnya, kini berlari kencang mendekati pertarungan. Seekor barion menyadari kedatangannya, menoleh dan meraung garang. Hewan itu berbalik, lalu berlari menyambut Rifa.


Rifa segera mengayunkan belatinya. Belati Rifa hanya berhasil menggores tengkuk tebal hewan itu, dan kini si barion mengibaskan kakinya untuk menghantam tubuh Rifa. Beruntung bukan cakar tajamnya yang mengenai tubuh gadis itu. Namun ayunannya cukup untuk membuat tubuh Rifa terlontar jauh, dan menghempaskannya ke tanah. Gadis itu telentang diam di atas bebatuan, tak bergerak.


“Rifaaa!” Ramir menjerit ketakutan.


Buruk. Jeritannya itu malah menarik perhatian barion yang tadi berhasil menjatuhkan Rifa. Hewan itu menoleh, sorot mata tajamnya lurus terarah ke Ramir. Seruan Elanna terdengar di kejauhan, tampaknya ia panik melihat Rifa yang tak sadarkan diri, atau mungkin ia hendak mengalihkan perhatian para barion kembali pada dirinya.


Jika yang dimaksud adalah yang kedua, siasatnya itu tak berhasil. Barion penakluk Rifa mendekati Ramir. Kepala hewan itu menunduk namun matanya mendelik. Kedua ekor barion lainnya menghadang supaya Elanna tidak bisa lepas dari posisinya yang tersudut. Elanna mengayun-ayunkan pedangnya, tetapi kedua barion berhasil mengelak dan berbalik mengancam dengan kibasan cakar mereka. Tak ada yang ingin membuat langkah ceroboh.


“Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh!”


Apa lagi itu? Lolongan lainnya?


Ramir semakin panik. Sedemikian takutnya ia pada sosok barion yang mulai mendekat, ia tak berani untuk menoleh untuk mencari-cari asal suara baru tersebut.


“Ramir!” jeritan Toulip melengking di sampingnya. “Pasukan Akkadia dari utara! Mereka datang!”


Barisan obor menerangi punggung bukit. Bagai seekor ular raksasa pasukan itu merayap perlahan. Belum begitu jelas sosok mereka, tetapi kelihatannya ada dua atau tiga ekor barion lagi, di antara puluhan prajurit bertombak yang berjalan kaki.


Ramir sudah hilang akal sepenuhnya. Ia tak mungkin bisa lari lagi. Mereka bertiga akan mati dan jadi mangsa barion!


Mungkin ... hanya Toulip yang akan selamat, karena apa mungkin para barion doyan memakan kucing kecil aneh itu?


Barion terdekat tinggal berjarak dua puluh langkah darinya. Kedua taring belatinya tampak semakin jelas, bahkan dengusan panasnya mulai terasa. Ramir sudah pasrah, ketika tiba-tiba angin berhembus kencang dari belakang kepalanya, dan langit gelap berubah warna menjadi merah.


“Ghaaakkk! Ghaaakkk!”


Seekor burung bersayap lebar melayang di atas kepala Ramir. Sesaat kemudian sesosok pemuda jangkung mendarat tepat di hadapan barion. Suara benturan dahsyat terdengar, dan seketika barion itu terkapar dengan kepala remuk redam. Di atasnya tampak sebuah bola besar bersinar warna merah, dengan gagang panjang sampai ke genggaman pemuda jangkung tersebut. Senjata apa itu? Gada?


Ramir pernah melihat sebuah gada dibawa prajurit Akkadia di desanya, tetapi jelas tak sebesar gada ini, dan juga tak menyinarkan cahaya seperti ini.


Kejutan belum selesai. Di belakang kedua barion yang mengepung Elanna mendarat sosok lainnya, yang bertubuh jauh lebih besar dan memiliki dua sayap di punggung, dengan suara berdebam keras. Kedua ekor barion hanya bisa menoleh dan terperangah. Kepalan tangan makhluk raksasa itu terangkat, lalu turun begitu cepatnya bagai godam, menghantam telak batok kepala kedua barion. Hancur seketika. Ramir ternganga. Ada makhluk yang lebih mengerikan daripada barion! Semua yang mengerikan berkumpul di sini malam ini!


Kelima barion  tewas, tetapi Ramir tak bisa lega begitu melihat Rifa yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ia segera berlari ke arah gadis itu. Pemuda yang tadi menolongnya ikut berlari di sebelahnya. Pemuda itu berjongkok di samping Rifa dan menyentuhkan jarinya ke hidung, kemudian leher gadis itu. Pemuda itu tersenyum kecil, tampak sedikit lega.


Ramir memandanginya.


Pemuda jangkung ini … di mana aku pernah melihatnya?

__ADS_1


 


 


__ADS_2