Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 65 ~ Bukit Kematian


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 65 ~ Bukit Kematian


Karya R.D. Villam


 


---


 


Keputusan Naia untuk ikut bertahan bersama pasukan Elam sudah bulat, dan Javad tak bisa membantahnya lagi. Mereka telah tiba di bukit selanjutnya, dan segera seribu lima ratus prajurit Elam menyebar. Mereka bersembunyi di balik bebatuan dengan tombak teracung. Busur dan anak panah pun disiapkan, lalu semuanya menunggu dengan gelisah.


Dari arah barat ribuan prajurit Akkadia datang mendekat.


“Para dewa mungkin masih mau melindungi kita,” gumaman Rifa terdengar tak jauh di samping Fares. “Atau seperti katamu, Tuan Putri, Tuhan kalian. Bulan purnama telah bersembunyi di balik awan. Mari kita berharap orang-orang Akkad terkutuk itu tidak bisa melihat kita di sini, dan terus berjalan melewati kita.”


“Mereka akan menemukan kita setelah beberapa lama ...” sahut Javad. “Tetapi kita punya kesempatan buat mengejutkan mereka dan membunuh lebih banyak. Semuanya, bersiaplah.” Ia mengayunkan tangannyaq, mengirim pesan berantai ke seluruh prajuritnya.


“Rifa,” Mehrdad, yang terbaring lemah tak jauh dari mereka, memanggil. “Beri aku tombak.”


Rifa menoleh, lalu berkata lirih, “Kau tidak bisa bertempur.”


“Tentu saja aku bisa,” tukas Kapten Elam itu sambil berusaha duduk tegak. “Jangan khawatir. Aku masih tetap bisa bertempur lebih baik dibanding kebanyakan orang.”


Fares dan Naia saling memandang dengan perasaan campur aduk.


“Tetap di dekatku.” Fares tak bisa menemukan kalimat lain untuk diucapkan.


“Ya.” Naia mengangguk, tersenyum. “Dengan senang hati, Fares. Jika memang aku ditakdirkan mati malam ini, aku harap aku mati di sampingmu.”

__ADS_1


Fares tersenyum getir. Segumpal perasaan aneh kembali memenuhi hatinya. Walaupun rasanya menyedihkan, tetapi ternyata ia merasa sedikit gembira juga karena Naia mengatakan itu. Fares terpikir sesuatu, dan ia ingin bertanya, tetapi lalu mengurungkan niatnya. Mungkin ia tidak perlu lagi bertanya.


Pasukan Akkadia sampai di kaki bukit. Jumlah mereka tiga kali lipat pasukan Elam. Seluruhnya membawa tombak panjang dan barisan depannya membawa obor. Sepertinya Rifa benar, mereka berjalan terus di kaki bukit sebelah selatan, tampaknya belum menyadari keberadaan orang-orang Elam yang bersembunyi di puncak bukit. Fares menanti dengan jantung berdebar. Javad masih menahan diri, tidak menyuruh pasukannya untuk menyerang, padahal musuh sudah masuk dalam jarak tembak pemanah. Seluruh prajurit Elam gelisah.


Lalu awan gelap perlahan menyingkir, menampakkan bundar utuh sang rembulan. Javad merentangkan busurnya, melontarkan panah, yang langsung disusul ratusan panah lainnya. Mendesing di angkasa, logam-logam tajam itu menyambar pasukan musuh di kaki bukit.


Jerit kematian memecah keheningan malam. Teriakan, hunjaman besi tajam di tubuh.


Untuk sesaat pasukan Akkadia panik dan kebingungan mencari-mencari letak musuh mereka, sehingga gelombang serangan kedua dari Elam sempat datang pula. Namun setelah itu orang-orang Akkadia tersadar. Sambil melolong mereka pun berlari mendaki bukit.


“Tombak! Siap!” seruan lantang Javad terdengar.


Begitu barisan pertama pasukan Akkadia mencapai puncak bukit.


Teriakan Javad berikutnya menyusul, “Bunuh! Dewa bersama kita!”


Seluruh prajurit Elam bangkit, keluar dari persembunyian masing-masing menyambut serangan. Tombak beradu, saling menghunjam, mengoyak tubuh ribuan prajurit. Pertempuran brutal kembali terjadi. Fares mengayun-ayunkan gadanya. Naia menebas dan menusuk dengan pedang. Demikian pula Javad, Rifa dan Mehrdad. Seolah tak mempedulikan luka di perutnya yang kembali terbuka sang kapten Elam itu memutar-mutarkan tombaknya dengan ganas.


Pasukan Elam mampu bertahan dengan solid, tapi pasukan Akkadia pada akhirnya menemukan jalan untuk mengurung mereka dari sisi-sisi bukit lainnya. Separuh prajurit Elam tumbang, sisanya terkepung di puncak, dan akhirnya tewas pula satu demi satu. Darah, peluh dan air mata membanjir. Jerit kematian serta luap kemarahan dan kesedihan terlontar.


Akhirnya saat ini datang juga, tiba-tiba rasa itu terlintas di benak Fares.


Tidak! Ia membantah, ia tidak takut mati. Ia lebih takut jika harus melihat kematian Naia di sisinya. Gadis itu masih bertarung dengan hebat, dan dalam lelahnya masih mampu menghindar dari tombak musuh dan menghunjamkan pedangnya ke perut lawan.


Tetapi mungkin aksinya tak akan bertahan lama.


Tanpa tertahan Fares menjerit. “Naia! Awas!”


Ia tak lagi memanggil gadis itu dengan sebutan ‘Tuan Putri’. Tiga buah tombak terarah berbarengan ke tubuh Naia. Cepat Fares mengayunkan gadanya dan mematahkan tiga tombak tersebut. Sebuah tombak lain kemudian menyerempet pundaknya sendiri, membuat sobekan lebar. Fares tak peduli. Ia membalas menghancurkan kepala musuhnya lalu memutar gadanya membunuh para penyerang Naia.


Jerit kesakitan lain terdengar, suara yang tak asing. Fares menoleh. Bulu kuduknya berdiri saat ia melihat Rifa tumbang dengan tombak menancap di dada. Sebentar lagi musuh akan menghabisi nyawa gadis itu. Namun di saat terakhir tombak Mehrdad menghadang, dan juga tubuh jangkung lelaki itu. Luka di perut Mehrdad membuatnya tak bisa bergerak selincah biasanya. Kali ini ia tak bisa menghindar dari serangan musuh yang tanpa henti. Satu, dua, tiga tombak menghantam dada, perut dan punggungnya. Lelaki itu roboh di samping Rifa, memandang gadis itu sambil tersenyum, yang langsung dibalas dengan jerit memilukan.

__ADS_1


Kematian hendak menjemput Rifa pula, tetapi Javad datang menahan serangan. Sang Raja Awan bertempur seorang diri di samping tubuh adiknya. Memang hanya ia, dan puluhan prajurit Elam yang tersisa, selain Fares dan Naia. Ribuan lainnya sudah tewas bertumpuk-tumpuk di sekeliling mereka dan diinjak para prajurit Akkadia yang semakin mendekat.


Ini waktunya …. Fares mendesah pahit. Tepat tengah malam, di bawah purnama di puncak bukit.


Kematian.


“AAAHHH!”


Raungan kencang menggelegar. Begitu dekat.


Fares menoleh. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu Naia.


Gadis itu berlutut dengan kedua tangan mencengkeram tanah. Dari dalam tubuhnya memancar cahaya merah yang jauh lebih terang dan menyilaukan daripada cahaya merah Gada Geledek, keluar menembus lapisan-lapisan tebal baju putihnya yang berlumuran darah. Kepalanya mendongak. Tak sampai sedetik kemudian sinar merah terpancar dari sepasang bola matanya, menyambar lurus ke depan.


Seluruh prajurit Akkadia yang berada pada lintasan garis lurus dari puncak bukit hingga ke ujung lembah terbelah seketika. Potongan-potongan tubuh mereka hangus dalam jilatan api. Naia menoleh, dan kedua sinar merah itu menyambar ratusan prajurit Akkadia berikutnya. Lalu ia menyapukan pandangannya hingga membinasakan ratusan lainnya.


Jerit kematian tak sempat terdengar karena maut datang begitu cepat. Hanya teriakan-teriakan ngeri yang kemudian terlontar. Tanpa aba-aba seluruh prajurit Akkadia yang masih hidup melompat dan berusaha lari sejauh mungkin dari puncak bukit, dalam kekacauan besar yang hanya mungkin ditimbulkan oleh bencana yang paling mengerikan.


Fares terpana. Para prajurit Elam menelungkup, berjaga-jaga agar tak terkena sambaran maut sinar mata Naia. Kengerian melanda, tak ada jaminan Naia tak akan menoleh dan membantai mereka pula dalam sekejap. Ada kegelapan dalam diri gadis itu, sesuatu yang sangat jahat, yang walau telah menyelamatkan mereka tapi jelas juga tak bisa dikendalikan.


Ribuan prajurit Akkadia, yang telah berkurang separuh kini kabur ke arah barat dalam gelap. Awan gelap sudah kembali menutup purnama, dan tak seorang pun mau repot-repot membawa obor. Di balik kekejaman orang-orang Akkadia itu, terbukti mereka tetaplah manusia biasa. Mereka masih berani beradu nyawa di medan tempur, tetapi itu jika lawannya adalah manusia biasa. Yang tadi itu bukan.


Derap lari ribuan orang itu semakin jauh, dan akhirnya menghilang. Begitu ribuan prajurit musuh itu lenyap dari pandangan, geraman yang keluar dari mulut Naia kembali terdengar. Kali ini rasa sakit, berbeda dengan raungan sebelumnya yang penuh amarah.


Lalu hening menyelimuti bukit.


Angin malam bertiup pelan, menyapu kain putih yang melilit kepala Naia. Gadis itu satu-satunya sosok yang masih duduk tegak di puncak bukit. Sinar merah matanya sudah menghilang, tetapi belum satu pun orang di sekitarnya yang berani bangkit mendekat.


Sesaat kemudian kepala gadis itu tertunduk, jatuh terkulai.


Lalu tubuhnya roboh ke tanah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2