Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 51 ~ Panglima Elam


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 51 ~ Panglima Elam


Karya R.D. Villam


 


---


 


Naia menyeka peluh yang turun di dahinya. Tatapannya kini terarah lurus ke depan. Sambil melompat ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. “Heaaa!”


Isfan, yang menjadi lawannya, sudah siap mnghadapi serangannya. Pedang laki-laki itu berputar dari belakang dan kini beradu dengan pedang Naia. Denting nyaring terdengar, berlanjut cepat dengan rentetan suara serupa, sahut-menyahut bagai alunan musik khas rakyat Ebla. Di tepi danau keduanya telah berlatih sejak selesai sarapan. Saat ini matahari sudah merambat tinggi dan menyembul dari balik pegunungan. Jauh di barat sekumpulan domba merumput, lebih jauh lagi juntaian pucuk-pucuk tenda para penduduk melambai tertiup angin.


Di kiri Naia, terpisah lima belas langkah darinya, Mehrdad berdiri menunggu dengan sikap siaga. Lelaki jangkung itu tak pernah melepaskan pandangannya dari Naia, mungkin takut jika Naia terluka. Karena Naia tak kunjung mau menghentikan latihan, akhirnya Mehrdad memanggil, “Tuan Putri.”


Naia mundur selangkah. “Apa?” serunya kesal di sela sengalnya.


“Tuan Putri tidak ingin istirahat?”


“Nanti! Ayo, Isfan!”


Isfan berkata, “Mungkin Mehrdad benar. Tuan Putri sudah berlatih cukup lama pagi ini, sekarang waktunya beristirahat.”


“Aku masih kuat! Ayo lanjutkan!”


“Tuan Putri,” sela Mehrdad lebih tegas. “Kemarin Anda bilang hendak berangkat ke selatan hari ini. Kalau memang jadi, beristirahatlah sejenak.”


“Menurutmu begitu?” Naia menyarungkan pedang seraya menatap tajam pengawal barunya itu. “Kau tahu, Raja Javad belum juga datang, padahal ia bilang akan datang paling lambat kemarin malam. Menurutmu lebih baik kita tinggalkan saja dia? Kalau memang harus begitu, aku tidak masalah.”


Mehrdad menunduk hormat, “Kita bisa menunggu dan istirahat sebentar. Aku yakin Yang Mulia akan datang sebelum tengah hari.”


Naia mengangkat bahu. “Aku akan menunggu hingga tengah hari. Jika dia tetap belum datang juga, aku berangkat! Kau ikut?”


Tentu saja Mehrdad akan ikut, tetapi atas pertanyaan pancingan dari Naia, ia tetap menjawab dengan sopan. “Ya, Tuan Putri.”


“Aku dan sepuluh orang prajurit juga sudah siap,” sahut Isfan.


Naia menoleh. Apakah mereka juga harus ikut? Tidak. Satu hal sudah jelas baginya, setelah kehilangan hampir seratus prajuritnya, Naia tak ingin menambah lagi jumlah korban.


“Aku baru saja berpikir, Isfan, sebaiknya aku dan Mehrdad saja yang pergi. Kalian tetap di sini.”

__ADS_1


“Apa?!” Isfan terlonjak. “Tapi—“


TOOOTTT!!!


Suara melengking terompet menghentikan pembicaraan mereka. Dari arah selatan beberapa titik hitam muncul dari balik bukit menuruni lereng. Cukup banyak prajurit yang muncul, dan mereka datang dengan suara langkah berderap.


Mehrdad menoleh ke arah Naia sambil tersenyum simpul. “Tuan Putri, Yang Mulia datang sebelum tengah hari.”


“Tetap saja terlambat,” tukas Naia. Antara kesal dan gembira ia berlari menuju ke pemukiman. Mehrdad dan Isfan mengikutinya.


Javad datang bersama kereta perangnya yang ditarik dua ekor kuda jangkung berwarna hitam. Ia berdiri di samping seorang kusir. Jubah sang raja berwarna biru dan helmet bersayap terpasang di kepalanya. Kereta yang dinaikinya beroda dua, dindingnya berlapis emas serta berhiaskan ukiran rajawali. Tiga puluh kereta mengikutinya, masing-masing diisi dua orang pengawal; satu menjadi kusir, dan satu lagi mendampingi dengan senjata lengkap: busur, tombak dan pedang. Masing-masing kereta ditarik oleh dua ekor kuda. Dengan kilau emasnya, rombongan Javad tampak begitu menakjubkan, tetapi rasanya Naia pernah melihat bagaimana gaya-gaya raja Elam lainnya jika mendatangi suatu tempat. Mereka akan dikawal lima ratus kereta kuda yang membawa seribu pengawal bersenjata lengkap, semata-mata untuk menunjukkan kebesaran negeri mereka masing-masing.


Naia dan seluruh penduduk dari Ebla menyambut kedatangan Javad di lapangan rumput luas di depan tenda. Mereka memberi hormat; duduk berlutut dan kedua tangan mendekap dada.


“Yang Mulia,” Naia mengucap salam dengan kepala masih tertunduk. “Selamat datang di tempat kami yang sederhana.”


Javad melangkah turun dari keretanya dan menarik lengan Naia agar ia berdiri. Senyuman laki-laki itu melebar kala ia memandang berkeliling. “Kuharap rakyatmu betah di tanah Elam, Naia.”


Entah itu hanya basa-basi atau bukan. Javad selalu bisa berkata-kata dengan lembut, dan terdengar tulus. Naia menjawab, “Sangat betah, Javad. Ini tanah yang subur. Kami berterima kasih karena kau mau memberikannya pada kami.”


Javad mengajak Naia menjauh dari tenda; tampaknya ia punya kabar penting yang tak boleh tersebar ke orang lain. Mehrdad dan beberapa pengawal mengikuti dua puluh langkah di belakang. Tetapi Naia bertanya lebih dulu. “Javad, bukankah rencanamu akan datang paling lambat kemarin malam?”


“Rencananya memang begitu, Naia. Tetapi maaf, kemarin malam tiba-tiba Faruk datang dari utara.”


“Rifa dan Fares telah menyeberangi Gerbang Sungai Tigris.”


Naia terperanjat. “Mereka berhasil menyeberang? Tanpa kita sebagai pembuka gerbang? Berarti …”


“Sang ahli waris ada bersama mereka!”


Naia tersenyum lebar. “Berarti kita harus berangkat sekarang! Tapi ... sebentar … tadi kau bilang dari utara? Bukan selatan?”


“Mereka menemukan gerbang utara.” Javad menatap Naia tanpa berkedip. “Kau tahu soal ini?”


Naia menggeleng. “Sepertinya ... ayahku pernah menyebutkan soal gerbang itu dulu pada kakakku, tetapi aku tidak yakin ...”


“Ayahku pernah memberitahukannya padaku. Hanya padaku. Dan aku tidak pernah memberitahukannya pada orang lain,” kata Javad hati-hati. “Gerbang utara seharusnya lebih rahasia daripada gerbang selatan. Seharusnya hanya kita berdua yang tahu.”


Naia membalas tatapan Javad, bertanya-tanya dalam hati apakah tadi Javad mencurigai dirinya yang membocorkan soal rahasia ini. Namun kemudian Javad tersenyum, menenangkannya.


“Jangan khawatir, bukan kita yang membocorkannya,” laki-laki itu berkata. “Memang ada orang lain yang tahu. Si ahli waris itu.”


“Ah, betul ...” Naia menjadi lebih tenang. Ia mengangguk dan tersenyum lagi makin lebar. “Tapi menurutku ini benar-benar bagus! Akhirnya kita yang berhasil menemukan sang ahli waris! Dan juga gerbang utara tetap aman bersama kita!”

__ADS_1


“Para dewa ada di pihak kita,” kata Javad.


“Pencipta Langit dan Bumi mendengar doaku,” balas Naia.


Mereka pun berangkat ke utara. Dengan menggunakan kereta kuda perjalanan menembus padang rumput hingga sampai ke lembah Sungai Tigris dapat ditempuh tiga kali lebih cepat, melewati jalan tanah yang telah diratakan dan dipadatkan. Menjelang petang, aliran sungai deras itu sudah terlihat dari perbukitan. Naia dan rombongannya bergerak hingga ke tepi sungai, kemudian menyusurinya ke utara. Berhubung medan mulai menjadi sulit bagi kereta berkuda—penuh bukit dan batu—akhirnya Naia, Javad, Mehrdad, Isfan beserta sepuluh prajurit melanjutkan dengan berjalan kaki. Di samping air terjun mereka mendaki lereng berbukit yang curam.


Saat itulah tiba-tiba terdengar seruan, “Kakak!”


Naia mendongak. Sosok gadis jangkung terlihat di atas sebuah batu besar, sedang berkacak pinggang sambil tersenyum lebar.


“Rifa!” Javad berseru gembira.


Naia berjalan lebih cepat, sementara Isfan berjaga di belakang. Kegembiraan dan kelegaan meluap dalam diri Naia begitu melihat Fares, yang menyambutnya dengan uluran tangan. Pemuda itu tersenyum lebar. “Tuan Putri, senang bisa melihatmu lagi.”


“Fares ...” Sebenarnya ingin sekali Naia melompat dan memeluk pemuda itu. Tetapi ia tahu, di depan Javad dan banyak orang lainnya dari Elam ia tidak bisa sebebas dulu lagi. Naia pun hanya mengangguk, serta memberi senyuman lebar. “Aku senang juga, Fares. Aku … aku ingin mendengar ceritamu.”


“Akan kuceritakan semuanya nanti. Tetapi sebelum itu biar Rifa menjelaskan lebih dulu.”


Rifa tersenyum lebar. Memandangi semua orang, gadis itu berkata bangga, “Kakak, Tuan Putri Naia, dan semua rekan-rekan, aku takkan bercerita banyak. Cukup satu saja yang mau kutunjukkan kali ini.” Gadis itu menoleh ke belakang, memanggil, “Ramir!”


Seorang bocah lelaki, tampaknya berumur lima belas tahun, muncul dari balik pohon. Rupanya sejak tadi ia duduk di sana. Ia tidak langsung muncul begitu melihat kedatangan Javad dan Naia, mungkin karena disuruh Rifa. Seekor kucing bertengger di bahunya, yang lalu melompat turun. Dengan wajah gugup pemuda bernama Ramir itu mendekat.


Rifa berkata lantang, “Inilah Ramir, ahli waris Gerbang Sungai Tigris. Dialah yang membawaku dan Fares kembali ke tanah Elam!”


Javad maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan Ramir. Selama beberapa saat raja Awan itu memandanginya, kemudian mengangguk-angguk puas dan menepuk hangat kedua bahu pemuda itu. “Ya ... aku bisa merasakannya. Sang Ahli Waris. Ya, betul! Ah, selamat datang, Ramir cucu Haladir!”


Ramir mengangguk gugup. Lalu giliran Naia yang menyambutnya. Ia menepuk-nepuk punggung tangan Ramir dan berkata lembut, “Terima kasih. Demikian pula almarhum ayahku, jika masih hidup pasti akan memberimu hormat, karena kau bersedia datang menemui kami. Aku senang kau datang.”


Wajah Ramir berubah cerah. “Terima kasih, ehm ... Tuan Putri, mmm ... Yang Mulia.”


“Kalau begitu, kita bisa kembali ke Awan!” seru Javad. “Memang sudah gelap, tetapi kurasa kita tidak perlu menginap. Dengan kereta kita bisa mencapai Elam sebelum tengah malam.”


“Sebentar, Kakak,” Rifa menyela, lalu menoleh ke arah pepohonan di belakangnya. “Davagni ... ada juga di belakang kita.”


“Ah.” Javad mengangguk-angguk. Ekspresi wajahnya sulit ditebak. Mungkin sedikit curiga. “Mana dia? Kenapa tidak muncul?”


“Dia menunggu Putri Naia,” kata Rifa.


Naia mengangguk mengerti. Ia memperhatikan pepohonan dan semak belukar lebat di utara, di dekat aliran sungai, lalu menjawab, “Baik. Biar kutemui dia dulu.” Ia berjalan melewati Rifa. Namun begitu melihat Mehrdad mengikutinya, Naia berhenti. “Tidak, Mehrdad. Kau tetap di sini. Buat menjagaku saat ini,” ia melirik ke arah Fares, “biar Fares saja.”


Senyum lebar tersungging di wajah si pemuda bertubuh besar. Ia bergegas menghampiri Naia. Sementara Mehrdad masih tampak ragu. Sang pengawal dari Awan itu memandang ke arah Javad, menunggu perintah. Javad mengangguk, memberikan persetujuan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2