Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 84 ~ Dalam Mimpi


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 84 ~ Dalam Mimpi


Karya R.D. Villam


 


---


 


Naia memejamkan mata dan berusaha menciptakan gelapnya sendiri. Ia sudah memilih pojok dipan yang gelap, yang pastinya adalah tempat paling nyaman untuk tidur. Namun sampai malam semakin larut ternyata ia tetap tak mampu menandingi kemampuan tidur Rifa.


Ia membuka matanya. Si gadis Elam itu berbaring memunggungi di sampingnya, dan seperti biasa … dia mendengkur. Betapa nikmatnya, Rifa selalu punya cara untuk bisa tidur bahkan di tempat yang paling asing sekalipun. Mungkin karena dia adalah seorang yang santai, yang biasanya tak mau membebani pikirannya dengan terlalu banyak hal. Atau mungkin, mampu lebih cepat melupakan kesedihan akibat ditinggalkan orang yang dicintainya.


Tanpa sadar Naia melirik ke arah pintu. Di ruang sebelah itu Fares tidur.


Tidak, Naia yakin bukan sosok pemuda itu yang paling mengganggu benaknya saat ini, melainkan Ramir, si ahli waris Gerbang Sungai Tigris. Tadi sore Parvez bercerita, sebenarnya sudah satu hari Ramir berada di dalam gua suci. Entah ada di mana gua itu tepatnya, tetapi sepertinya ada di dalam gua raksasa juga. Karena bocah itu tidak muncul-muncul lagi, Parvez lalu memerintahkan para prajurit untuk masuk ke dalam gua dan mencari. Ternyata Ramir sudah menghilang entah ke mana, padahal di gua itu sama sekali tak ada jalan keluar lain.


Parvez tidak bercerita lebih banyak soal kepergian Ramir ke dalam gua. Sepertinya ada sesuatu yang masih disembunyikan oleh laki-laki itu dan ia belum sepenuhnya percaya pada Naia. Namun dari reaksi orang tua itu tampaknya ia jujur saat mengatakan bahwa Ramir telah menghilang dan orang-orang Kubah Putih belum tahu bocah itu pergi ke mana. Aneh juga, karena tak mungkin seseorang menghilang begitu saja di dalam ruangan tertutup.


Kecuali, jika itu tidak benar-benar tertutup. Misalnya ada jalan rahasia di sana. Atau, ada semacam kekuatan sangat besar yang mampu membuat Ramir menghilang secara tiba-tiba. Tanpa sadar Naia merinding, seolah ada roh yang lewat dan membelai tengkuknya. Sebaiknya ia segera tidur. Parvez dan para prajuritnya berencana mencari lebih jauh besok pagi, dan mungkin Naia bisa membantu mereka. Ia berusaha memejamkan lagi matanya. Lama.


Kemudian, tiba-tiba suara itu terdengar.


“Tuan Putri Naia …”


Naia tersentak, terduduk di dipannya. Ia menoleh ke arah jendela di samping kanannya. Tirai yang biasa menutupi jendela itu kini terbuka. Di bingkainya seseorang duduk dengan sambil tersenyum lebar.


“Ramir …!” teriakan Naia tertahan.


Sang bocah menaruh jari telunjuk di bibirnya sambil melirik ke arah Rifa yang masih tertidur, dan Naia pun mengerti maksudnya.


Gadis itu bergegas bangkit dari dipannya lalu mendekati Ramir, semuanya tanpa suara. Ia tersenyum pula. “Kau dari mana? Parvez bilang kau menghilang dari ruangan suci.”


Ramir termangu. Pemuda itu masih tetap duduk di bingkai jendela. “Sebenarnya … aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu aku ada di mana sekarang.”


“Apa maksudmu? Kau ada di sini sekarang!”


“Tidak.” Ramir menggeleng. “Maksudku, ini hanya mimpi. Kau sedang bermimpi, dan aku masuk ke dalam mimpimu.”


“Apa?!”


“Maaf …”


Naia memandang berkeliling tak percaya. “Ini mimpi? Aku sedang bermimpi?”


“Ya … Maaf …”


“Kenapa kau yakin ini mimpi? Dan kenapa kau minta maaf?”


“Karena aku masuk ke dalam mimpi orang lain. Kau mungkin akan menganggap itu tidak baik. Dan ya, ini mimpi, aku tahu.” Ramir menjawab sopan layaknya seorang rakyat jelata bicara pada tuannya, namun sekaligus pula berani tanpa terasa ragu.


Naia memandanginya. Betapapun anehnya, sepertinya bocah ini jujur. Dia bisa masuk ke dalam mimpi orang lain! Jika mengingat bahwa dia adalah cucu Haladir, mungkin itu sesuatu yang wajar.

__ADS_1


“Jadi … ini mimpiku.” Naia termangu. “Apakah ada orang lain yang tahu, Ramir, mengenai kemampuanmu ini?”


“Hanya kucingku. Toulip.” Ramir menggeleng sedih. “Tapi aku tak tahu ada di mana dia sekarang. Semoga dia selamat. Dia kucing yang pintar.”


Naia tersenyum. “Ramir, walaupun hanya dalam mimpi, aku senang bertemu denganmu. Aku senang kau baik-baik saja.”


“Ya.” Ramir tersenyum pula, kelihatannya lega melihat Naia tidak marah karena mimpinya dimasuki orang lain. Naia memang hanya merasa malu, sedikit, itu saja. Dan takut, karena jangan-jangan Ramir bisa tahu lebih banyak tentang dirinya, tentang pikiran-pikirannya … misalnya mengenai kerinduannya terhadap Fares tadi. Mungkinkah?


“Oh ya, kalau ini mimpi, kenapa kau tadi menyuruhku untuk tidak bersuara keras?” tanya Naia. Ia tak bisa menahan rasa ingin tahunya dan terus bertanya. “Supaya Rifa tidak bangun? Ini mimpiku, dia tidak mungkin bisa masuk, kan? Kalaupun Rifa bangun dalam mimpiku, itu bukan Rifa yang asli, itu Rifa dalam mimpiku. Betul begitu? Atau aku salah?”


“Betul. Kau tidak salah, ini bukan Rifa yang asli. Itu hanya kebiasaanku saja, takut membangunkannya.” Ramir meringis. “Atau, kau ingin Rifa palsu ini bangun?”


“Tidak!” Naia tertawa kecil. “Ini mimpiku, karenanya aku tak ingin ada orang lain yang mengganggu. Cukup kita berdua saja. Benar?”


“Ya.” Ramir menyengir lebar.


“Tetapi … kenapa kau masuk ke mimpiku? Tadi kau bilang tak ada orang lain yang tahu, berarti selama ini kau selalu diam-diam melakukan ini. Lalu kenapa kau sekarang menampakkan diri? ... Memilihku? Kau memang ingin bicara denganku?”


“Ya.” Ramir tampak masih ragu. “Aku … ingin bicara.”


“Apa yang terjadi?” tanya Naia khawatir.


“Aku tidak tahu. Saat aku mencari jalan di dalam ruangan itu, entah bagaimana, aku merasa diriku hilang tersapu kabut. Atau mungkin tertelan kabut. Seolah aku berpindah ke tempat lain. Aku tak mampu menemukan dinding, apalagi jalan keluar. Aku tak tahu apakah aku masih sadar atau tidak. Dan aku tidak tahu sudah berapa lama aku seperti ini.”


“Parvez bilang, kau sudah masuk ke dalam gua suci sejak dua malam yang lalu.”


Wajah Ramir memucat. “Dua malam?”


Selama beberapa saat ia terdiam. Kegelisahan tampak di wajah dan gerak tubuh bocah itu, tetapi ia lalu mengangguk. “Jadi itu … kenapa aku tidak merasa lapar. Aku tidak sadar. Atau mungkin … hanya tidur. Karena aku bisa bermimpi, dan masuk ke dalam mimpi kalian.”


“Uh … ya.” Ramir menggaruk kepalanya. “Sebelum aku masuk ke dalam mimpimu, aku masuk lebih dulu ke mimpi Rifa.”


“Mimpi Rifa?” Naia kaget, lalu tersenyum lebar, meringis. “Mimpi apa dia? Apa yang sedang dia lakukan?”


“Dia … sedang berdua, bersama seorang lelaki.”


“Oh.” Napas Naia tertahan. “Mehrdad?”


“Ya. Dia.”


“Sedang apa mereka?”


“Hmm …” Wajah Ramir memerah, tersipu. “Begitulah …”


“Oh …” Naia termangu. Wajahnya pasti ikut memerah juga. Rifa dan Mehrdad bercinta dalam mimpi? Indah sekali …


“Salahku.” Kali ini Ramir menggetok kepalanya. “Benar-benar salahku, seharusnya aku tidak boleh masuk dan melihatnya. Tetapi, kuharap kau percaya, Tuan Putri, aku tidak bisa mengendalikan datangnya mimpiku, dan ke mana aku masuk mimpi orang lain!”


“Hei, tenanglah. Itu cuma mimpi, kan?”


“Mmm … ya. Untunglah Rifa tidak melihatku. Jika tidak …” Ramir bergidik. “Tetapi, sepertinya ada yang aneh. Rifa sepertinya menangis di sana. Aku tidak tahu, dia melakukan … itu, tetapi kelihatannya dia sedih sekali.”


Naia mengangguk. “Mehrdad sudah mati.”


“Oh … Dia …” Ramir langsung berubah muram.

__ADS_1


“Ya.” Tiba-tiba Naia bingung hendak berkata apa lagi.


Keduanya terdiam beberapa saat.


“Jadi begitulah,” Ramir lalu berkata. “Sebenarnya aku senang bisa melihat Rifa. Karena berarti dia dekat dengan tempat tubuhku berada sekarang. Jika aku masih berada di dalam gua, berarti mungkin dia ada di Kubah Putih. Tetapi aku tak mungkin mengajaknya bicara, dan mengganggu dia saat itu, bukan? Jadi terpaksa aku pergi. Namun semangatku membaik. Kalau ada Rifa, berarti mungkin saja ada kau, Tuan Putri, atau mungkin Fares. Perkiraanku benar, karena ternyata aku kemudian masuk ke dalam mimpimu.”


“Menarik.” Naia mengangguk-angguk.


“Tetapi dibandingkan dengan mimpi Rifa,” Ramir mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, lalu menyengir lebar, “bisa kubilang, mimpimu ini sangat tidak menarik.”


Naia tertawa. “Ya, memang.” Ia lalu menggenggam jemari Ramir. “Hei, kami akan segera menemukanmu. Jangan khawatir.”


“Mau mencari ke mana?” Senyum Ramir menghilang.


“Tentunya seperti kaubilang, tubuhmu seharusnya berada dalam gua, atau tempat lain yang tak  jauh dari kami, di Kubah Putih. Kau bisa ceritakan keadaan di sekelilingmu, sebelum kau masuk mimpi kami?”


“Hanya kabut putih tebal. Dan … suara itu.”


“Suara apa?”


Ramir menatap Naia beberapa lama. “Suara yang kata Tuan Parvez pernah kau dengar juga dulu, saat kau masih kecil. Saat kau datang ke Kubah Putih bersama ayahmu.”


“Oh.” Naia tertegun. “Suara itu?”


“Kau masih ingat?”


“Mmm … tidak. Aku sudah lupa.”


Ramir tersenyum. “Itu suara yang sangat indah, berputar-putar di sekelilingku bersama kabut. Tuan Parvez menyebutnya Nyanyian Malaikat, dan sepertinya memang malaikat, entah siapa dan seperti apa mereka, yang menyanyikan itu. Sayang aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka ucapkan.”


“Seperti apa kata-kata mereka?”


“Mereka menggunakan bahasa yang asing.”


“Kau bisa mengingat beberapa kata?”


Ramir menggeleng, sepertinya tak yakin, namun kemudian ia termenung. “Sepertinya … aneh, sepertinya aku memang pernah mendengar beberapa kata, entah kapan … sebelum ini. Sebentar …”


Naia menunggu, sementara Ramir tampak berusaha mengingat-ingat.


Bocah itu menggeleng lagi. “Aku belum ingat, kapan aku mendengarnya.”


“Apa kata-kata itu, Ramir?” tanya Naia lagi.


“Satu kata yang terdengar berulang-ulang ... Arante.”


“Arante?”


“Ya, Arante.”


Naia tersenyum. “Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2