
Akkadia: Gerbang Sungai Tigris
Bab 26 ~ Gadis Bertombak
Karya R.D. Villam
---
Toulip melompat lagi ke bahu Ramir. Ramir dan Airi mengikuti Younis menuju pohon tempat mereka menambatkan keledai. Ramir melirik ke arah rombongan pasukan Akkadia. Ketiga orang itu tengah berbincang dengan Fawaz, kelihatannya membicarakan sesuatu yang penting. Setelah mengucap salam Younis melambai lalu berjalan menarik kedua ekor keledainya, pergi ke arah barat. Saat itulah suara keras mengagetkan Ramir, dan juga Airi.
"Kau benar-benar tidak tahu? Jangan bohong!” seorang prajurit Akkadia berteriak pada Fawaz. Prajurit itu berdiri dan kedua tangannya berkacak pinggang.
"Ampun, Tuan." Fawaz menggigil, kedua tangan terangkat di depan dadanya. "Aku belum pernah melihat orang-orang yang kalian maksud. Aku berani bersumpah."
Prajurit lain menyeringai. “Kami akan berada di sini beberapa hari. Kalau ternyata kau berbuat sesuatu yang mencurigakan, kau akan menyesal karena telah berbohong.”
Ketiga prajurit itu pergi dari rumah makan, meninggalkan Fawaz yang terduduk lemas. Tampaknya orang-orang itu juga tidak membayar makanan mereka. Ramir menoleh ke arah Airi di sampingnya. Wajah gadis itu memucat.
"Kasihan paman ..."
"Ya." Ramir mengangguk sambil mengamati ketiga prajurit Akkadia yang berjalan ke arah rumah-rumah penduduk di kaki bukit. Mungkin mereka juga akan menanyai penduduk di sana. "Mereka memang kurang ajar. Beraninya cuma mengancam."
"Ini salahku ." Airi terisak.
"Salahmu?" Ramir menggengam bahunya. "Apa maksudmu?”
"Aku tahu siapa yang mereka cari." Selama beberapa saat Airi membalas tatapan Ramir, lalu menggamit lengannya. "Ayo, ikut aku. Memang ini yang ingin kutunjukkan tadi."
Airi mengajak Ramir berjalan menerobos pepohonan, dan menaiki perbukitan utara yang berdampingan dengan Sungai Tigris. Mereka melewati jalan sempit berbatu dengan tebing tinggi di sebelah kiri, berkelok-kelok hingga memasuki celah bukit yang berbatu besar.
"Dua hari yang lalu aku bertemu seseorang di tepi sungai," kata Airi. "Ia bersembunyi dari kejaran prajurit Akkadia. Aku kasihan, jadi kubawa ia bersembunyi di sini."
"Kau baik, Airi." Ramir tersenyum. "Benar."
"Tetapi aku takut prajurit Akkadia itu nanti mencelakai kami!"
"Asal tidak ketahuan, semua akan baik-baik saja." Ramir meyakinkan. "Kurasa bukit yang gelap ini bagus untuk tempat persembunyian. Kau pintar sudah memilih tempat ini. Kalau kau menyembunyikan di rumahmu misalnya, akan langsung ketahuan."
"Ramir," bisik Toulip. “Menurut Toulip, sebaiknya kita tidak ikut campur. Berbahaya! Lebih baik kita segera ke Turkar. Kita harus cepat.”
"Coba kita lihat dulu, Toulip!" tukas Ramir.
"Eh?" Airi menatap Ramir bingung. "Kakak bicara sesuatu?"
Ramir nyengir, lalu mengalihkan topik pembicaraan. "Jadi apa yang bisa aku bantu?"
"Kakak yang bersembunyi ini terluka. Ia pincang, tak bisa berjalan. Aku pikir ... Kakak bisa menyembuhkannya. Seperti menyembuhkan aku tadi. Setelah itu dia bisa segera pergi."
"Akan kucoba." Ramir meraba dinding batu besar di sebelah kiri dan kanannya. "Tetapi kalau ia terluka, hebat juga dia bisa berjalan sampai ke sini."
__ADS_1
"Dia seorang yang kuat. Ah, itu dia lubangnya." Airi menunjuk ke depan.
Ramir mengikuti Airi, berjalan menunduk di bawah batu besar melintang di atas kepalanya. Gelap. Bau. Mestinya hanya ular yang betah tinggal di sini. Aneh juga Airi bisa tahu tempat ini. Apa di sini adalah tempat bermainnya? Setelah berjalan menunduk di lorong gelap selama beberapa saat, mereka tiba di sebuah tempat terbuka yang cukup terang, walaupun tersembunyi di balik dinding-dinding batu tinggi di sekelilingnya.
Di sudut tempat itu duduk seseorang bertubuh langsing, dengan kaki kanan terluka yang diluruskan ke depan. Pakaiannya sederhana. Sebuah belati panjang yang tergantung di pinggang kirinya menunjukkan bahwa ia mungkin seorang prajurit. Tentu saja, kalau senjata itu disembunyikan, ia lebih mirip penduduk biasa. Ramir dan Airi mendekatinya. Kini Ramir dapat melihat lebih jelas. Kulit orang itu berwarna cokelat, dan rambut hitamnya dipotong pendek. Ramir tidak mungkin salah lihat, dia ternyata adalah seorang perempuan!
Ramir langsung teringat pada Elanna. Tentu saja, antara dia dan perempuan ini tidak mirip. Wajahnya, warna kulitnya, rambutnya, semua berbeda. Hanya tingginya yang mungkin sama. Kenyataan bahwa ia perempuan bersenjata yang membuat Ramir teringat pada Elanna. Perempuan itu meraih tombak yang tersandar di sampingnya, dan mengacungkannya.
“Kakak, ini aku!” Airi buru-buru berkata. “Jangan khawatir. Yang datang ini temanku.”
Perempuan itu hanya menatap tajam ke arah Ramir. Tombaknya masih siaga.
"Kakak, bagaimana kabarmu?” Airi berkata lagi.
"Sudah kubilang panggil saja aku Rifa. Siapa bocah yang kaubawa ini?”
"Dia ..." Airi menoleh. "Namanya Ramir. Dia penyembuh."
"Penyembuh?" Rifa memicingkan matanya.
Airi tersenyum lebar. “Tadi kepalaku terluka, dan Ramir menyembuhkannya dengan cepat, tak berbekas.”
"Begitu, ya?" Rifa meletakkan tombaknya. Dari nada suaranya, kelihatannya ia belum percaya. "Baik. Lihatlah kakiku, Ramir. Kau bisa menyembuhkannya?"
"Akan kucoba, Nona." Ramir berjongkok, sementara Toulip melompat turun.
"Panggil aku Rifa!"
Ramir tak mau ambil pusing. Lebih cepat ia bisa mengobati Rifa, lebih cepat pula ia bisa pergi. Ia mengeluarkan perangkat penyembuhan dari dalam kantongnya: kain pembersih, mangkuk kayu, kantong air, dan beberapa lembar daun hijau. Banyak lembar daun hijau. Untuk menyembuhkan luka sebesar ini ia membutuhkan lebih banyak daun daripada biasanya. Melihat sisa daun di dalam kantongnya, Ramir tahu ia harus mencarinya lagi nanti.
Ia melirik ke arah paha gadis itu. "Ehm, Rifa, boleh kubuka kain penutup ini?"
"Lakukan. Cobalah." Rifa menatapnya tajam, lalu menyeringai. "Kenapa? Tidak berani? Kalau begitu aku sendiri yang membukanya."
Gadis aneh. Ramir melirik Toulip yang tampak menyeringai. Ia menjalankan metode penyembuhannya seperti biasa. Membersihkan luka, menempelkannya dengan daun basah, dan menutupnya dengan telapak tangan hingga memanas dan mengeluarkan asap putih. Karena lukanya yang memanjang Ramir harus melakukannya tiga kali. Selesai melakukannya Ramir merasakan tubuhnya memanas. Keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Ini pertama kali ia menyembuhkan luka sebesar itu.
Inilah yang membedakan Ramir dengan kakeknya. Kakeknya lebih banyak menggunakan ramuan dan obat-obatan untuk mengobati pasien, sementara Ramir menggabungkannya dengan kemampuan tenaga dalam unik untuk mempercepat penyembuhan. Keahlian ini muncul saat Ramir berusia tiga belas tahun. Saat itu kakeknya sebenarnya hendak mengajarkan penyembuhan dengan cara biasa. Ternyata tanpa disengaja Ramir mengeluarkan tenaga dalam. Sadar bahwa Ramir berbeda, kakeknya lalu mencoba mengajar dengan cara lain—pengetahuan yang dulu pernah didapatnya dari para penyihir di negeri asing—dan ternyata cara itu cocok. Untuk luka-luka kecil, metode Ramir sempurna. Tetapi ia tak mungkin melakukannya untuk luka-luka besar—seperti yang dulu dialami Elanna—atau Ramir bisa pingsan kehabisan tenaga.
Ramir melirik ke arah Airi yang matanya berbinar-binar, kemudian kembali ke Rifa yang mulutnya ternganga lebar memandangi pahanya yang bersih tak berbekas luka.
"Kau luar biasa,” kata Rifa. “Aku pernah melihat penyembuh di negeriku, yang memiliki cara sepertimu, tetapi tak satu pun yang masih bocah seperti kau.”
"Sepertinya kau senang memanggilku ‘bocah’," tukas Ramir.
"Apa?" Rifa tampak kaget. "Oh, maaf. Aku tidak akan memanggilmu begitu lagi."
"Ah, tidak masalah. Itu bukan masalah buatku.”
Gadis itu kini tersenyum manis. “Terima kasih.”
Benar, sekarang kelihatan bahwa Rifa memang gadis yang cukup cantik. Ramir membalas dengan senyuman gugup. Buru-buru ia membereskan peralatannya, memasukkan ke dalam kantong di pinggangnya, lalu berdiri. "Kalau begitu, sekarang aku harus pergi."
"Kau pergi sekarang?" Airi menatap sedih.
__ADS_1
"Ya, Airi. Kau sudah tahu. Kau tidak usah khawatir lagi. Rifa sudah sembuh sekarang, dan bisa pergi dari desa ini. Pamanmu bisa aman sekarang.”
"Tetapi ..." Airi menunduk, tak melanjutkan kata-katanya.
Ramir menepuk pipi gadis kecil itu. "Airi, kupikir ... Begini, setelah urusanku di utara selesai, aku akan datang ke sini lagi. Bagaimana?”
"Benarkah?" Wajah Airi kembali cerah.
Ramir mengangguk mantap. “Tentu saja.”
"Kau hendak ke mana, Ramir?" tanya Rifa yang masih duduk.
"Ke utara."
"Untuk apa?"
"Ada sesuatu yang harus kulakukan."
"Boleh aku tahu?" Rifa terus mendesak.
Ramir menggeleng. “Tidak.”
"Berarti aku tidak boleh ikut denganmu?"
Dahi Ramir berkerut. "Untuk apa?"
"Aku juga hendak ke utara. Ada urusan. Selain itu, keterampilanku mungkin berguna untukmu, jika ada orang yang berani mengganggumu." Rifa menepuk belati di pinggangnya.
"Bukannya belati itu malah mendatangkan bahaya?"
Rifa mendengus kesal. “Aku hanya tidak beruntung kemarin! Di hari biasa, aku bisa mengalahkan ketiga penyerangku itu dengan mudah!”
Ramir melirik ke arah Toulip yang duduk di tanah, meminta pendapat. Tetapi kucing itu tak memberi tanda apa pun. Akhirnya ia mengangguk. “Baik. Kita bisa pergi bersama.”
"Bagus!" Rifa berdiri. Benar, dia memang hampir sejangkung Elanna. Ramir harus mendongak untuk melihat wajahnya. "Tetapi, Ramir, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa lagi?" tanya Ramir tak sabar.
"Kau berasal dari mana sebenarnya?" tanya Rifa. "Maksudku, ada sesuatu yang—"
"Aku orang Sumer!" jawab Ramir cepat.
"Hei, hei, baiklah." Rifa mundur. "Kau tidak usah marah."
"Aku tidak marah. Kau sendiri, dari mana?"
Belum sempat Rifa menjawab, bayangan hitam meluncur deras dari atas tebing ke arah mereka sambil mengeluarkan suara keras yang memekakkan telinga.
“Ghaaakkk!”
__ADS_1