
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Epilog (4) ~ Dalam Cahaya
Karya R.D. Villam
---
Hati Teeza berbunga. Gairahnya meluap. Kerinduan memenuhi seluruh relung hatinya.
Danau Es tak lagi dingin untuknya. Tak lagi gelap. Tak lagi menakutkan bahkan sampai jauh di dalam sana. Tak lagi seperti yang ia kenal sebelum ini. Teeza bahkan seperti merasakan napasnya tetap teratur di dalam air hingga ... entah sudah berapa lama.
Namun anehnya, tempat yang dilaluinya ini sama sekali tidak terasa asing. Ia meluncur, berenang bersama tawa riang seluruh teman dan keluarganya. Suara mereka terus menyertainya.Ia meluncur dalam air danau yang jernih mengikuti cahaya putih benderang yang menariknya untuk terus mendekat. Ia berenang menikmati kedamaiannya. Lama.
Lalu di dasar danau, pasti di sana, ia menemukan apa yang sepertinya telah disediakan untuknya. Sesuatu, seberkas cahaya dalam wujud yang belum diketahuinya menyeruak dari dalam celah batu karang. Bulan, matahari, seolah ada di balik batu itu, menunggu.
Teeza mendekat, melayang di samping batu karang. Tubuhnya bergerak, kakinya mengayuh, kedua tangannya terangkat, seluruhnya dikendalikan hatinya. Ia membelai permukaan batu yang hangat dan lembut, lalu memeluknya. Dan mereka seolah balas memeluknya. Ayahnya, ibunya, abangnya, teman-temannya. Mereka semua.
Ia menangis, bahagia, merelakan kembali seluruh rasa masuk ke hatinya.
Kemudian mereka pelan-pelan melepaskannya satu demi satu. Ayahnya menggandeng tangannya. Suara lembutnya terdengar di telinga Teeza. “Kemarilah. Ini untukmu.”
Teeza mengulurkan tangan kanannya, menyambut panggilan itu, masuk ke dalam lubang cahaya.
Dalam sekejap semuanya memutih.
Saat semua tiada.
Tiada menjadi ada.
Setiap yang lahir.
Yang lahir dan yang mati.
Ketika bumi bernyanyi.
Air berseru memecah pantai.
Angin bersiul melewati pegunungan.
Dedaunan di setiap pucuk melambai, perlahan.
Berbisik.
“Bacalah.”
Langit biru berhias awan putih memberi salam.
Hembusan angin datang menyapu lembah. Di tepi danau Teeza duduk memandang permukaan air yang berpendar memantulkan cahaya matahari pagi.
Suara indah mengalun ke telinganya.
Kalimat-kalimat lama.
Doa.
Datang dari orang itu, yang duduk bersila membelakanginya di atas sebuah batu besar di tepi danau tak jauh di utara. Dia laki-laki, sepertinya, jika dilihat dari lebar bahu dan punggungnya yang bidang. Rambutnya berwarna kelabu, lurus panjang sampai sedikit di bawah tengkuknya. Pakaiannya terbuat dari kain cokelat yang dipotong sederhana.
Teeza berdiri, tubuhnya merinding dan bibirnya bergetar. Batu itu adalah tempat ayahnya dulu biasa duduk dan mengajarkan doa-doa pada dirinya dan juga kakak-kakaknya. Sesaat tadi Teeza pun sempat mengira bahwa laki-laki ini pasti ayahnya, sebelum kemudian membantahnya sendiri. Orang baru ini bukan ayahnya.
Ragu-ragu, Teeza berjalan mendekat. Jantungnya berdebar kencang, dan lantunan itu terdengar semakin jelas. Napasnya tertahan, begitu melihat bahwa di balik batu besar yang diduduki laki-laki itu ternyata ada beberapa orang lainnya. Seluruhnya masih anak-anak atau remaja, laki-laki ataupun perempuan. Teeza menghitung, ada sembilan orang yang tengah mendengarkan lantunan si laki-laki berambut kelabu. Ah, tidak, mereka tak hanya mendengarkan. Mereka mengikutinya. Membaca bersama-sama.
Teeza berdiri di samping seorang anak. Si laki-laki berambut kelabu menoleh, dan menatap ke arahnya. Laki-laki itu berusia separuh baya, tatapannya teduh, kumis dan janggutnya pun berwarna kelabu, namun sedikit lebih gelap.
Laki-laki itu tersenyum padanya dan berkata, “Bacalah.”
Teeza merasa aneh. Ada nada dalam kalimat tadi yang membuatnya yakin bahwa laki-laki itu sangat mengenali dirinya, dan karenanya mengajak Teeza melakukan sesuatu yang sepertinya sering ia lakukan bersama-sama dengan laki-laki itu, entah kapan.
Seperti ayahnya dulu. Walaupun bukan.
Teeza menatap mata laki-laki itu dalam-dalam, kemudian membalas senyumannya.
Ia duduk, dan ikut membaca.
Membaca.
Semuanya.
Yang lahir dan yang mati.
Yang lalu dan yang nanti.
Yang ada dan yang tiada.
Matanya terpejam.
__ADS_1
Ia melihatnya.
Cahaya, dalam dirinya.
Kemudian cahaya itu terbuka.
Dalam gelap.
Teeza tersentak.
Ia memberontak panik. Sekejap ia merasakan dingin yang menggigit seluruh tubuhnya. Ketakutan teramat sangat mencengkeramnya. Seluruh tubuhnya kaku, tak mampu digerakkan sama sekali.
Seolah sudah mati.
Seolah tidak ada lagi.
Tuhan! Tolong aku!
Tuhan!
TUHAAAN!
Tuhan ...
Lalu ia mengerti.
Mungkin ... ia memang sudah mati.
Air berseru memecah pantai.
Angin bersiul melewati pegunungan.
Dedaunan di setiap pucuk melambai, perlahan.
Mereka yang berbisik padanya.
“Lihatlah.”
Gemetar, Teeza mengangkat wajahnya.
Secercah cahaya itu datang dari atas sana. Benderang menembus bergelombang-gelombang air.
Cahaya ... masih adakah?
Ya. Ada. Itu masih ada!
Sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan jemari di kedua tangannya. Otot-otot di seluruh tubuhnya. Jantung berdetak cepat. Darahnya bergejolak kencang. Tangan dan kakinya menyambut panggilannya.
Dadanya penuh. Sesak.
Tetapi ia masih memiliki napasnya.
Tanpa menunggu pertanda lainnya ia bergerak cepat. Kedua kakinya melenting di dasar danau. Tubuhnya meluncur ke atas. Ia kembali merasa hidup, dan karenanya rasa takutnya kembali, dan ia pun berusaha menahan tangisnya.
Tuhan, jika memang belum saatnya aku mati, kumohon, bawa aku secepatnya!
Ia berenang sekuat yang ia bisa, secepat yang ia bisa. Yang mungkin, lebih cepat daripada siapa pun yang pernah melakukan ini. Dinginnya air danau yang menggigit tulang berusaha ia lawan kuat-kuat. Tubuhnya yang letih terus ia pacu hingga melebihi batas yang sebelumnya hanya bisa ia bayangkan. Lama, jauh, seolah tanpa akhir.
Dan sepertinya memang tanpa akhir. Cahaya itu semakin terang, tetapi permukaan air danau yang ia tuju tak kunjung ia raih.
Pada akhirnya, ia sampai di batas kemampuannya. Tenaganya sudah habis. Tangan dan kakinya tak mampu lagi mengikuti keinginannya. Jantung dan paru-parunya seolah menjerit kesakitan ingin meledak, dan kepalanya pening bukan buatan, serasa tertusuk-tusuk jarum.
Menjelang maut, seluruh kenangannya kembali datang.
Masa kecilnya.
Orang-orang terkasihnya.
Mereka yang lahir.
Mereka yang mati.
Mati.
Apakah aku memang sudah sampai di sana?
Tuhan? Benarkah?
Tidak ...
Mungkin tidak ...
Cahaya itu masih ada.
Masih ada ...
Ia menjerit kencang, atau mungkin hanya dalam hatinya. Ia tidak tahu.
“Tolong! TOLOOONG!”
__ADS_1
Tangannya meraih-raih ke arah cahaya.
“Arante rei kui tanara. Arante rei eis tadira. Uis kisa ren entara, kuiva. Uis tera din eidara, eista. Arante, rei,” ia memohon dengan sepenuh hati.
Kemudian menyerahkan seluruh dirinya.
Hidup dan mati tidak lagi di tanganku.
Pandangannya mengabur.
Dalam cahaya ...
... Tuhan, ambillah aku.
Tangan itu datang.
Teeza merasakan sepasang tangan itu menggenggam kedua lengannya kuat-kuat, menariknya keluar dari dalam air. Seseorang baru saja menolongnya, kemudian membaringkannya di tepi danau, dan memeluk tubuhnya.
Samar-samar Teeza melihat wajah orang yang menolongnya itu. Menatap mata gelap dan lembutnya dalam-dalam.
Wajah itu ... tampak sedikit lebih tua daripada yang terakhir kali dilihat Teeza. Tetapi tidak mungkin ia lupakan. Kulit orang itu gelap kecokelatan terbakar matahari, matanya sehitam malam, sementara rambutnya ... aneh, kini sedikit berbeda. Berwarna kelabu.
Ramir ... bagaimana mungkin? Kau ada di sini?
Ini ... seperti mimpi itu, dulu ...
Apakah berarti ini mimpi juga?
Hangat, rasa nikmat menjalar di sekujur tubuhnya.
Tidak, ini bukan mimpi. Ini terlalu nyata ...
Tapi bukan di saat aku sebelumnya berada.
Musim dingin telah berlalu. Masa demi masa mungkin telah lama berlalu. Satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, ratusan tahun, ribuan tahun; Teeza tak tahu. Angin bertiup lambat-lambat. Air memecah di tepian danau. Burung-burung bernyanyi merdu, sepertinya dari beberapa ekor yang kini hinggap di atas pohon berdaun rindang di tepi danau, menyambutnya.
Teeza melepaskan senyumannya, dan orang itu membalas, dengan pelukan. Bersamanya kebahagiaan Teeza meluap tak terkira ... sebelum akhirnya pandangannya kembali kabur.
Mengambilnya ... dalam cahaya.
---
Aku belum mati, itu yang kemudian kutahu.
Aku hanya pergi sebentar, ke masa depan, untuk menemuinya.
Membiarkan ia menolongku, lewat mimpi.
Dalam tempat dan waktu yang hanya diperuntukkan bagi kami.
Setelah itu aku akan kembali, ke masaku.
Aku akan mencarinya, dan berbagi semua ilmu ini dengannya.
Semua yang kutahu, semua yang ia tahu.
Untuk, pada akhirnya, kami bisa hidup bersama, dalam cahaya.
Tapi, itu adalah kisah panjang yang lain.
- tamat -
Hai,
Terimakasih saya ucapkan kepada semua yang telah membaca kisah Akkadia: Gerbang Sungai Tigris. Semoga ceritanya bisa menghibur. Mohon dukungannya dengan memberikan bintang, tanda cinta dan jempol di setiap bab cerita ini, supaya tidak tenggelam dan nantinya tetap bisa dinikmati oleh mereka yang belum sempat membacanya.
Bagi Teman-teman yang ingin membaca cerita-cerita saya lainnya, sila berkunjung ke tautan ini:
Novel terbaru saya, The Emperor, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, juga sudah bisa didapatkan di toko-toko buku dengan harga Rp. 75.000. Bisa juga kalau mau beli lewat saya. Hubungi saya melalui Whatsapp di nomor 087880274851 (ada diskon 10% plus tanda tangan, tetapi belum termasuk ongkos kirim).
Review The Emperor dari pembaca-pembaca lainnya bisa dilihat di: .
Terima kasih sekali lagi dan salam hangat.
Villam
Twitter: @rdvillam
Facebook: @rdvillam
Instagram: @rdvillam2
__ADS_1