
Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 57 ~ Srangan Balik
Karya R.D. Villam
---
Sepuluh ribu prajurit Elam semakin dalam memasuki wilayah Akkadia. Di padang tandus dan terik yang mereka lewati terdapat jejak ribuan kaki yang mengarah ke barat, dan sambil berjalan mereka bersiap-siap untuk bertempur. Namun sepanjang perjalanan sama sekali tidak tampak pasukan musuh, maka mereka pun terus berjalan, hingga saat petang akhirnya sampai di sebuah desa kosong. Para prajurit Elam mendirikan tenda dan beristirahat. Javad, Rifa, Naia dan Fares berkumpul di rumah di tengah desa, sementara raja-raja dan panglima-panglima Elam lainnya berdiam di rumah-rumah di sekitarnya.
Rifa berkata, “Sepertinya penduduk desa ikut kabur ke barat bersama pasukan Akkadia.”
Javad mengangguk. “Padahal kita tidak akan melukai mereka. Tetapi wajar jika mereka takut, apalagi setelah mendengar cerita pertempuran dari mulut para prajurit Akkadia.”
“Dalam pertempuran apa pun bisa terjadi,” sahut Naia dengan wajah muram. “Termasuk rakyat, ... yang akhirnya selalu jadi korbang, walau tak ada yang menginginkannya.”
Javad tersenyum pahit. “Mudah-mudahan para penduduk ini selamat nanti. Kau belum ingin beristirahat, Naia?”
Sebelum Naia menjawab, Mehrdad masuk dan Javad langsung mengizinkannya bicara.
“Yang Mulia, pasukan Akkadia berada sekitar setengah hari dari kita. Jika kita terus mengejar, kita bisa mengejutkan mereka saat fajar.”
Javad mengangguk. “Faruk sudah memberitahuku tentang keberadaan mereka. Tetapi walaupun usulmu itu menarik, berbahaya jika kita bergerak saat malam. Ini daerah musuh, mereka bisa saja menjebak kita di suatu tempat. Aku tak mau mengambil resiko. Lebih baik kita semua bersabar. Kita beristirahat penuh malam ini. Simpan tenaga untuk berlari besok.”
“Ya, Yang Mulia. Perjalanan besok mestinya akan lebih mudah. Menurut informasi, saat tengah hari kita akan sampai di tepi padang, di desa berikutnya. Di sana mulai terdapat ladang-ladang dan ujung terakhir saluran-saluran irigasi dari Sungai Eufrat, tempat para prajurit bisa melepas dahaga.”
“Saluran itu akan kering jika Akkadia memutus aliran airnya di barat. Tetapi aku percaya, itulah titik pertahanan mereka selanjutnya. Akkadia takkan melepaskan tempat strategis itu.” Javad mengedarkan pandangan. “Kita akan bertempur besok, di sana.”
“Kupikir,” Fares memberanikan diri, “mengapa kita tidak lebih dulu membangun kubu yang kuat di timur, di tepi barat Sungai Tigris? Kita kumpulkan kekuatan, seberangkan lebih banyak pasukan, baru kemudian menyerang Akkad. Mestinya lebih aman.”
“Kita sudah sering membahas ini, Fares.” Javad menatapnya tajam. “Kita punya banyak pilihan, tetapi dalam perang kita harus memilih apa yang terbaik dan mengambil tindakan secepatnya, yang kadang bertolak belakang dengan pilihan-pilihan kita sebelumnya. Kita punya kesempatan memenangkan perang saat ini, sehingga inilah yang kita lakukan. Pendapatmu bagus, tetapi kita tetap harus fokus pada tujuan kita.”
“Ya, aku mengerti,” tukas Fares.
“Sudahlah.” Javad tersenyum. “Kurasa cukup malam ini. Kita sudah lelah, mari kita beristirahat.”
__ADS_1
Fares masih sedikit kesal saat berbaring di dipan. Mungkin itu yang membuatnya tak bisa tidur secepat yang lain. Namun setelah beberapa lama ia setuju. Pendapat Javad sepertinya benar. Mereka punya kesempatan menang sekarang, dan mungkin tidak akan muncul dua kali. Jadi ksempatan itu harus diambil. Toh Javad sudah menghitung peluang dan resikonya.
Ia melirik raja Awan yang terlelap di sampingnya, lalu memandangi Naia di ujung ruangan. Wajah gadis itu menghadap ke langit-langit. Dalam gelap tak tampak apakah ia sudah tertidur atau belum. Sementara Rifa, sudah pasti, dengkurnya sudah terdengar jelas. Fares mengalihkan pandangan ke langit yang sebenarnya di luar jendela. Bulan bersinar terang dari balik awan. Hei, apakah itu purnama?
Tiba-tiba ia teringat. Jika ini malam bulan purnama, bukankah saat tengah malam nanti seharusnya muncul sinar putih menyilaukan yang biasa dikeluarkan oleh Naia?
Kalau itu bakal terjadi, bukankah seharusnya Naia menyuruh semua orang keluar dari rumah? Seperti yang dulu biasa dia lakukan? Fares kembali menatap gadis itu, tegang. Bakal terjadi sesuatu malam ini, tetapi apakah hanya ia sendiri yang menyadarinya? Yang jelas, ia semakin tidak bisa tidur!
Angin berhembus melewati jendela, tipis, tetapi dinginnya terasa di wajah Fares. Membawa bau … busuk? Apa ini?!
Dan suara apa itu?
Fares memiliki pendengaran tajam, melebihi indera penglihatan maupun penciumannya. Di sela keheningan malam, ada sesuatu yang terbawa oleh angin. Suara geraman, dan Fares mengenalinya.
Ia melompat dari dipan lalu berlari ke luar. Di sana ia berdiri tegak, menatap kegelapan di utara. Ada banyak tenda prajurit di sana, di balik beberapa rumah penduduk. Tak tampak apa pun, tetapi Fares yakin. Ia bergegas kembali ke dalam rumah.
Javad yang waspada rupanya sudah terbangun akibat gerakan kejut Fares sebelumnya. Raja itu duduk di dipan dan bertanya, “Ada apa? Kau tampak seperti baru melihat hantu!”
“Gharoul!” Fares berbisik. Lalu, karena tak yakin Javad langsung paham maksudnya, ia mendekat dan mengeraskan suaranya, “Ada gharoul di sini!”
Terdengar desah napas tertahan dari sudut ruangan. Naia terbangun dengan cepat. Jangan-jangan gadis itu tidak tidur sejak tadi!
Fares terdiam. Tiba-tiba ia ragu, benarkah ia mendengar suara gharoul tadi? “Mungkin … aku harus memastikannya.”
Javad melewati Fares dan melangkah keluar terlebih dulu. Fares dan Naia mengikuti tanpa kata.
Suara malas Rifa kemudian terdengar, “Hei, hei, ke mana kalian? Ada masalah? … Yeah … tampaknya ada masalah …”
Mereka berjalan cepat melewati beberapa rumah penduduk. Beberapa orang pengawal menyertai dengan membawa obor. Dari salah satu rumah muncul Mehrdad, yang sepertinya juga belum tidur.
“Ada apa, Yang Mulia?” ia bertanya.
“Fares sepertinya mendengar sesuatu di utara.”
“Aku tak mendengar apa pun. Kecuali jika—”
“Haaahhh!” Jeritan panjang menyayat keheningan malam, yang segera diikuti suara lonceng berdentang-dentang, dari arah utara.
“Mereka menyergap kita!” Mehrdad menyambung ucapannya. Ia berlari kencang.
__ADS_1
Fares dan ketiga rekannya mengikuti.
Dentang lonceng terdengar makin keras, dan semakin banyak, kini datang dari segala penjuru. Seluruh prajurit langsung terbangun, keluar dari dalam tenda dan meraih tombak atau busur. Namun mereka tidak langsung berlari, masih menunggu perintah dari komandan masing-masing.
Fares melihat kebingungan dan kekhawatiran di wajah mereka. Tetapi mungkin mereka tidak perlu terlalu khawatir. Jika benar yang datang adalah gharoul, mestinya jumlahnya tidak akan terlalu banyak. Pasukan di sayap kanan pasti bisa mengatasi.
Namun kekhawatiran Fares bertambah begitu mendengar teriakan-teriakan dan jerit kesakitan para prajurit yang semakin kencang. Di sela-sela suara itu terdengar geraman-geraman yang mendirikan bulu kuduk. Itu benar gharoul! Tetapi ada berapa banyak?
Fares dan rekan-rekannya berlari ke dataran yang meninggi. Sebarisan prajurit sudah menunggu mereka di sana, siap dengan tombak dan busur, dalam gelap.
Seorang komandan menyambut. Wajahnya memucat, napasnya memburu. “Ada serangan, Yang Mulia! Beberapa unit pasukan kita masih bertempur di bawah sana, dan kami disuruh menunggu.”
“Siapa yang menyerang?” tanya Javad dengan suara keras. “Dan kenapa menunggu?”
“Mereka … kami …” Komandan itu tampak bingung.
Tanpa menunggu jawaban Javad bergegas berlari ke puncak bukit. Fares dan yang lain mengikutinya. Di balik bukit terdapat ratusan tenda yang sebelumnya rapi dan tenang didiami para prajurit, kini telah porak poranda. Sebagian sudah hancur tercabik-cabik, dan para prajurit itu, sebagian yang masih selamat, kini tengah bertempur. Lawannya … memang gharoul!
Dan yang menyerang ternyata bukan sekadar gerombolan, melainkan sepasukan gharoul!
Fares terpana. Namun dibanding rekannya, berkat pengalamannya menghadapi monster-monster itu, ia bisa berpikir lebih cepat. Ia memperkirakan jumlah mereka. Ada sekitar lima ratus. Jauh lebih banyak daripada seratus gharoul yang dulu disebut Torek!
Makhluk-makhluk itu telah membunuh ratusan prajurit. Sebagian saat orang-orang ini masih tertidur. Dan kini mereka dihadapi lagi oleh seribu prajurit. Pertempuran brutal dan mematikan terjadi, dalam ruang sempit di antara tenda-tenda. Tanpa menunggu perintah Javad, Fares berlari. Teriakannya lantang bersamaan dengan benderangnya malam berkat cahaya merah yang terpancar dari bola besi gadanya.
“Serang!” Javad berseru di belakangnya.
Ratusan orang berderap menuruni bukit. Fares menerobos kerumunan prajurit yang panik, menghantam dengan akurat dua kepala gharoul, langsung masuk ke jantung pertempuran. Ia memutar-mutarkan gadanya, yang bahkan mungkin membuat ngeri para prajurit Elam, tetapi paling tidak ia berhasil membunuh beberapa ekor lagi.
Kehadiran Fares beserta ratusan prajurit membuat situasi pertarungan berbalik. Ratusan gharoul tewas dengan kepala remuk, badan terkoyak maupun terburai isi perutnya. Bau darahnya yang busuk menye-ngat ke mana-mana. Tinggal sebagian kecil makhluk ganas itu yang tersisa, terpukul mundur hingga ke semak belukar di utara.
Namun saat itulah, terdengar lengkingan tipis yang datang entah dari mana, seperti sebuah siulan panjang. Setiap gharoul mendadak berbalik dan berlari menjauh ke hamparan semak belukar. Para prajurit langsung mengejar sambil membawa tombak dan obor.
“Tampaknya itu perintah mundur untuk mereka!” seru Javad.
Alat pengendali gharoul?
Tiba-tiba Fares teringat. Ia mengeluarkan benda putih dari balik bajunya. Peluit karquri. Apakah benda serupa juga dipegang orang yang memimpin pasukan gharoul ini? Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia meniup peluitnya, kuat-kuat. Suaranya melengking tinggi.
__ADS_1