Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 23 ~ Pembawa Maut


__ADS_3

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris


Bab 23 ~ Pembawa Maut


Karya R.D. Villam


---


Rahzad!


Semua orang terpaku begitu mengetahui sang panglima Akkadia ada di tengah-tengah mereka. Naia diam tak bergerak; otak dan darahnya serasa membeku. Sosok jangkung dan gagah yang sedang tersenyum di depannya itu bagaikan dewa pembawa maut.


Rahzad bukan manusia biasa. Dia legenda. Namanya tersohor ke seluruh penjuru negeri. Kedahsyatan, keganasan dan kematian adalah nama lainnya. Hanya nama dan perbuatannya yang pernah terdengar; tidak banyak yang mengetahui wajahnya. Ia dipuja sebagian orang, dan ditakuti sebagian yang lain. Di antara manusia, Rahzad bagaikan barion di antara hewan-hewan lain. Dialah sang pemangsa, dan manusia lainnya hanyalah sekumpulan buruan lezat. Bagaimanapun dibencinya ia oleh orang-orang yang bersumpah membalas dendam padanya, bertemu muka secara langsung dengan Rahzad biasanya tidak pernah mereka inginkan. Musuh yang bertemu dengannya seperti mendapat jaminan akan menemui ajal saat itu juga.


”Serang!” Teriakan Javad mengembalikan kesadaran Naia, dan juga semua yang lain. Raja Awan itu mengangkat tombak, langsung mengarahkannya lurus ke arah Rahzad.


Rahzad hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, menghindar. Para prajurit bergerak Awan mengepung, kemudian menyerang bersamaan dengan tombak. Rahzad melompat tinggi dan berputar di udara. Tangan kanannya mencabut pedang besar dari pinggangnya. Pedang itu terayun ke bawah, seperti hendak membelah tanah. Udara terbelah kencang, dan menyisakan lima mayat prajurit Awan dengan tubuh terpotong.


Naia mencabut pedangnya. Belum sempat ia bergerak lebih jauh, ketiga prajuritnya: Fares, Isfan dan Habik, menyerang dengan gada, pedang dan tombak. Rahzad berputar lagi dan seketika itu pula para pengeroyoknya terlempar. Fares yang paling kuat masih mampu berdiri tegak, walaupun gada di tangannya bergetar hebat, sementara yang lainnya terhempas. Habik tewas seketika dengan luka besar menganga di dada.


”Tidak!” Kemarahan Naia menutupi rasa takutnya. Ia berlari maju dengan pedang terhunus. Javad maju di sebelah kanannya, begitu pula para prajurit Awan serta Fares.


Tetapi Rahzad sudah siap. Seringainya justru semakin terlihat menakutkan.


Bayangan gelap berkelebat di atas mereka. Tinggal sedikit lagi pedang Naia beradu dengan pedang Rahzad, ketika sosok raksasa Davagni tiba-tiba muncul. Batu sebesar rumah disangga kedua tangan kekarnya di atas kepala, dan tanpa ampun dilesakkan ke arah Rahzad di depannya.


Suaranya keras menggetarkan bumi. Batu itu hancur berkeping-keping. Pecahan serta gelombang ledakannya menerpa semua orang di sekelilingnya. Tubuh kecil Naia terlempar ke belakang, menghantam tanah kering dengan punggungnya.


Kepala Naia sakit bukan kepalang. Pandangannya kabur, antara pening dan juga banyaknya debu yang beterbangan di sekitarnya. Amis darah di bibirnya terasa, bersamaan dengan pulihnya kesadarannya. Masih terlentang, Naia berusaha mengangkat kepalanya. Para prajurit bergelimpangan di sekelilingnya, sebagian terduduk sambil memegangi kepala dan senjata mereka, termasuk Fares, Javad dan Isfan, tetapi sebagian lagi sudah tak bernyawa. Lima tombak di depannya, Rahzad dan Davagni saling menatap.


Davagni sudah bersiap dengan kedua tangan terkepal. Namun pedang Rahzad yang terkenal, yang tadi mampu menghancurkan batu besar itu, sudah teracung pula ke depan.

__ADS_1


Rahzad berseru, ”Aku bisa menghancurkanmu, Davagni!”


”Pedangmu hebat tak tertandingi, Rahzad, tetapi aku sudah siap.” Kedua tangan Davagni terbuka ke bawah. Angin berhembus kencang. Bumi berguncang; tanah di sekitarnya merekah. Debu-debu hitam tertarik, lalu berkumpul dengan cepat di sepasang tangan Davagni. Begitu banyak, begitu padat debu-debu itu membentuk dua buah benda panjang. Dalam sesaat, dua pedang berwarna hitam tergenggam di tangannya.


Davagni menyeringai. ”Kau lihat? Bukan batu biasa, Rahzad.”


”Ya, mari kita lihat!” Rahzad mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke depan. Begitu cepat dan dahsyatnya tenaga Rahzad, sehingga Davagni sampai harus menahan serangan itu dengan kedua pedangnya.


Rahzad mengayun lagi, dan Davagni kembali hanya bisa menahan.


Tak jauh dari keduanya Naia berdiri dengan susah payah, diikuti oleh rekan-rekannya yang masih bernyawa. Ia memandangi mereka, dan tak mampu menahan getar di bibirnya. Begitu banyak yang mati! Kini hanya tinggal Fares, Isfan, Javad, dan empat prajurit Awan. Yang lainnya mati, hanya karena Rahzad seorang!


Dan ada lagi bahaya lainnya yang mendekat.


"Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh! Ow-ouuwgh!"


Kawanan barion. Mereka ada di balik bukit, mendaki dengan begitu cepat.


”Sebaiknya kita segera pergi,” kata Javad. ”Selagi mereka berdua bertempur.”


”Dia bisa membunuh kita dengan mudah, Tuan Putri!” seru Isfan. ”Kita tak mungkin punya kesempatan melawannya. Kita belum mampu!”


Naia menoleh. ”Fares, bagaimana menurutmu?”


Pemuda itu tak menjawab, dan tetap memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan. Ia seperti tak ingin memandang wajah Naia. Kekesalan Naia timbul, tetapi lalu menghilang, begitu ia bisa memahami raut wajah pemuda itu. Ada sakit hati, dan kesedihan. Sepertinya Fares belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah mendatangkan bencana ke tempat ini.


”Tuan Putri, pasukan barion semakin dekat!” seru Isfan semakin panik.


”Ayo.” Tak sabar, Javad memegang lengan kiri Naia, dan mengajaknya berlari.


Lari, dan lari lagi. Seperti beberapa hari yang lalu, seperti seminggu yang lalu. Bahkan, sebenarnya Naia sudah berlari sejak berbulan-bulan yang lalu. Itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Derap rekan-rekannya terdengar, juga dengus napas yang saling memburu. Denting pedang Rahzad dan Davagni yang beradu juga terus terdengar, anehnya, terasa indah jika didengar dari jauh, tak kalah dengan suara seruling para penggembala domba di Ebla.

__ADS_1


Yang mengerikan adalah suara itu: lolongan barion. Naia tak perlu menengok untuk tahu bahwa hewan-hewan buas itu sudah ada di belakangnya. Tinggal sedikit lagi bagi mereka untuk datang dan membuat terkaman mematikan.


Lari? Naia menggeram. Kemarahannya kembali datang. Kenapa ia harus terus berlari?


Terkutuk! Naia tahu ia punya senjata pamungkas. Tidak bisa tidak, inilah waktu yang paling tepat. Tidak perlu lagi ragu dan menunda-nunda. Ia melepaskan tangan kirinya dari genggaman Javad, dan menyarungkan pedang di tangan kanannya.


Javad menoleh. Seribu pertanyaan tergambar di wajahnya. Naia hanya tersenyum tipis. Kedua telapak tangannya mengatup di depan wajah. Tiupan angin dari mulutnya menembus celah tipis di antaranya. Sambil berlari, Naia memejamkan matanya.


”Datanglah, Nergal.”


Sesaat tak terjadi apa-apa.


Kemudian, dunia bagaikan membeku. Semua diam. Manusia. Alam. Waktu.


Kecuali satu. Mata Naia.


Dan bayangan putih yang berkelebat di depannya, menyapu kulit dan rambutnya.


Rasanya dingin. Jantung Naia bagaikan berhenti berdetak saat sesuatu itu melewatinya.


Seketika itu pula matanya berkedip, dan semuanya kembali normal. Javad masih menoleh di depannya, dan semua rekannya masih berlari di sekitarnya. Begitu pula dengan pasukan barion di belakangnya. Sesuatu yang terjadi tadi itu hanya sesaat, tetapi Naia bisa merasakan dan melihatnya, seperti memandang butir-butir pasir yang datang tertiup ke depan wajahnya.


Angin kencang bertiup beberapa saat kemudian.


“Hoaaaahhhh!” Jerit kematian menyusul.


Naia dan seluruh rekannya berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Seorang laki-laki jangkung berjubah putih berdiri menghadang pasukan barion. Pedang panjangnya berkelebat ke kiri dan kanan, memotong apa pun yang tersambar olehnya. Tubuh-tubuh perkasa para barion tercerai-berai. Demikian pula para prajurit Akkadia penunggangnya.


Naia terpana.


Itukah makhluk yang bernama Nergal itu?

__ADS_1


 


 


__ADS_2