Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 24 ~ Jubah Putih


__ADS_3

Akkadia: Gerbang Sungai Tigris


Bab 24 ~ Jubah Putih


Karya R.D. Villam


 


---


 


Nergal. Dia seperti manusia biasa, tidak seperti Davagni.


Tetapi ... dia hebat!


”Naia.” Javad kembali menarik lengan Naia. ”Kita harus tetap menjauh. Ayo!”


Naia setuju. Mereka tak boleh terlena. Mereka harus berlari semakin dalam ke perbukitan, menerobos hutan, dan menyelinap ke sela-sela batu besar. Dan seterusnya, dan seterusnya. Naia membiarkan dirinya ditarik. Rekan-rekannya mengikuti. Mereka cukup jauh berlari hingga tiba di celah tebing. Tak terdengar lagi riuh pertempuran. Naia dan rekan-rekannya melambatkan lari. Napas tersengal, namun kelegaan menyelimuti.


Mendadak sebuah tombak meluncur deras dan menancap tepat di depan Javad dan Naia. Tertegun, keduanya mendongak. Di atas tebing di depan mereka, berjajar sebarisan orang bertombak. Matahari bersinar di belakang orang-orang itu, membuat sosok mereka gelap oleh bayangan mereka sendiri. Salah seorang melompat, dan menjejak tanah di depan Naia. Seorang gadis, dengan rambut perak. Pedang panjang tergenggam di tangan kanannya.


Naia tersenyum lebar. ”Teeza!”


Fares dan Isfan berteriak di belakang, ”Kapten!”


Naia berlari tanpa ragu dan memeluk Teeza untuk menumpahkan kegembiraannya. Ia membenamkan wajahnya di dada gadis jangkung itu, sebelum lalu heran, karena merasakan gadis berambut perak itu tak menunjukkan reaksi sama sekali. Ada sesuatu yang berbeda.


Naia mendongak, mundur selangkah. ”Teeza?”


”Kau. Putri Naia.”


Naia tertegun. Suara Teeza begitu ... dingin?


”Kau harus ikut denganku,” kata Teeza lagi.


”De—denganmu?” Naia tergagap. ”Ke mana?”


Teeza menatap tajam. ”Kau akan tahu nanti.”


”Tunggu.” Javad menarik tubuh Naia perlahan hingga menjauh dari Teeza. Matanya melirik curiga ke atas tebing. ”Apakah itu prajurit Akkadia?”


Teeza tak menjawab.


Javad bertanya lebih tajam, ”Apa yang kau lakukan bersama orang-orang Akkadia?”


Naia dan seluruh rekannya terdiam. Tak ada yang berani bicara, bahkan berpikir, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

__ADS_1


Ekspresi wajah Teeza tak berubah, tetap dingin. ”Sebaiknya kalian menjatuhkan senjata. Pasukanku sudah mengepung tempat ini, kalian tak mungkin bisa kabur. Menyerahlah, ikut denganku, dan kalian tidak akan mati di tempat ini.”


”Apa?” Naia terbelalak. ”Teeza, apa yang—”


”Aku bukan Teeza!” Suara gadis berambut perak itu menggeledek. ”Cukup! Kau tak perlu lagi memanggilku dengan nama itu!”


Naia makin terguncang. ”Apa maksudmu—?”


Teeza bertambah garang. ”Jatuhkan senjata kalian! Sekarang! Ya, tombak kalian! Dan juga benda di pinggangmu itu!” Ia menunjuk Fares dengan pedangnya. ”Angkat tanganmu!”


”Teeza!” Fares mencoba memanggilnya lagi.


”Diam!” Wajah Teeza memerah marah.


”Kapten ...” Kali ini Isfan yang berbicara.


”Aku bukan kaptenmu!” Gadis itu seperti hendak mengangkat pedangnya untuk menghajar Fares atau Isfan, tetapi kemudian tampak ragu. ”Jatuhkan senjata kalian! Atau para prajuritku akan menghabisi kalian sekarang juga!”


”Omong kosong, Teeza!” Javad mengacungkan tombaknya. ”Aku tak percaya kau—”


Teeza menggeram. ”Tombak ini. Kau yang dulu melukaiku?”


”Apa? Apa maksudmu?” tanya Javad bingung.


”Apa maksudku? Kurang ajar! Kalian menganggap remeh? Biar kuberi pelajaran!" Gadis itu mengayunkan pedangnya, membuat tombak terlempar dari tangan kekar Javad.


Javad menggeram dan hendak menerjang. Namun dengan gerakan yang lebih cepat dan lincah kaki kanan Teeza mendarat telak di dadanya, membuat tubuh kokoh raja Awan mundur tiga langkah. Sebuah tendangan yang bisa membuat orang lain terlempar jauh tak sadarkan diri. Jelas, gadis berambut perak itu telah menunjukkan keseriusannya sekarang.


”Bagus. Berarti kau telah mengerti maksudku.” Teeza tampak lebih tenang sekarang. Ia mengacungkan pedangnya ke wajah Naia. ”Turuti kata-kataku, dan kalian tidak akan mati secepat ini.”


”Tidaaaakkk!” Naia menjerit. Ia tidak marah. Ia sakit hati, dan sedih. Orang yang paling ia percayai dan ia kagumi selama bertahun-tahun—melebihi siapa pun di dunia; Naia bahkan mengagumi Teeza melebihi ayah, ibu maupun kakaknya—kini telah berpaling darinya, mengkhianatinya. Kehancuran hatinya saat ini melebihi kehancuran saat melihat seluruh keluarganya tewas. Ini adalah saat dirinya merasa sama sekali tak berharga.


”Lebih baik aku mati!” Ia mengangkat pedangnya.


Dan ia tak memberi Teeza pilihan. Pedang gadis berambut perak itu berkelebat, berkelit dari pedang Naia dan mendekat cepat ke arah dada Naia.


Jeritan Fares dan rekan-rekannya memekakkan telinga saat gadis itu menyambut maut. ”Tuan Putri!”


Saat itulah Naia merasa tubuhnya tertarik ke belakang. Angin berhembus kencang dari belakang, meniup sorban putihnya hingga melambai-lambai di depan wajahnya.


Apa yang terjadi? Kakiku ... tak lagi menjejak tanah?


Wajah-wajah terperangah seluruh rekannya, dan juga Teeza, menjauh di bawah Naia. Jantung Naia berdetak cepat. Sesuatu membawanya. Tangan kekar berbalut lengan baju warna putih melingkari pinggangnya. Kain halus berwarna putih juga menyapu wajahnya sesaat. Naia menoleh. Matanya beradu dengan mata makhluk yang membawanya pergi. Mata hitam laki-laki berwajah halus, dengan kulit putih bersih dan rambut hitam bergelombang; pastilah laki-laki tertampan yang pernah dilihat Naia. Nergal?


”Tuan.” Bibir Naia bergetar, berkata setelah ia mulai bisa menguasai dirinya. ”Terima kasih telah menyelamatkan aku. Tetapi bagaimana teman-temanku di bawah?”


Makhluk itu tersenyum. ”Beberapa prajurit hamba akan membawa mereka. Kau tak usah khawatir.”

__ADS_1


Naia kembali melihat ke bawah. Ada empat sosok lainnya, yang entah muncul dari mana, mendekati Javad, Fares dan seluruh rekannya yang lain. Keempat sosok tersebut berwujud seperti manusia pula, hanya saja mereka mengenakan pakaian berwarna kelabu. Seperti halnya makhluk yang membawa Naia, mereka memiliki pedang yang tergantung di punggung. Makhluk-makhluk tersebut mengambil Fares dan yang lain begitu cepat. Dalam sesaat mereka semua sudah terbang di belakang Naia.


”Tetapi, Tuan, apakah kau juga bisa membawa Teeza?” Naia memohon.


Kali ini lelaki tampan di sebelahnya menggeleng. ”Tidak. Dia sudah bukan lagi Teeza yang kau kenal.”


”Apa maksudmu?”


”Tuan Putri, dia sudah jadi milik Rahzad. Biarkan dia pergi.”


Naia tersentak mendengarnya, kemudian menangis sejadi-jadinya. Ucapan sang makhluk benar-benar menghancurkan hatinya. Teeza sudah bukan lagi miliknya? Bukan lagi orang terdekatnya, dan malahan telah menjadi musuhnya?


Naia berharap semua itu tidak benar, tetapi ia tahu tak bisa menolaknya lagi sekarang.


”Tuan Putri, hamba ikut sedih, tetapi kau tahu hidup harus terus berjalan. Lupakan dia.”


”Teeza penting bagiku! Aku minta kau menolongnya nanti!”


”Kau tahu ada hal lain yang lebih penting untuk kaulakukan. Fokuslah pada tujuanmu, dan jangan korbankan itu. Kau mengerti?”


Naia mengangguk, menguatkan hati. ”Ya, Tuan.”


”Hamba akan membawamu ke Gerbang Sungai Tigris. Itu rencanamu, bukan?” Lelaki itu memandangi Naia beberapa lama, lalu mengangguk. ”Kau bisa melanjutkan rencanamu di sana. Dan, panggil saja hamba Nergal.”


Naia memejam, berusaha menenangkan dirinya kembali. Kata-kata makhluk ini benar. Naia tidak boleh mati sekarang. Ia tak bisa membiarkan Rahzad terus mengancam dirinya, dan rakyatnya, dan juga rakyat Elam. Ia sudah memanggil Nergal. Dan ia harus memastikan makhluk tersebut memang bisa membantunya menghancurkan Rahzad.


Naia membuka mata, begitu merasakan hembusan angin lain menyapu wajahnya. Davagni kini sudah terbang di sampingnya. Sayap di punggungnya terkembang lebar.


Naia lega. ”Davagni, bagaimana Rahzad?”


Makhluk kelabu itu tersenyum. “Seperti biasa, ia terlalu kuat untuk hamba. Tetapi hamba masih bisa kabur darinya. Kalau Tuan Putri ingin melihatnya, ia di bawah sana.”


Naia memandang ke bawah lagi. Jauh di bawah-nya tampak sosok sang panglima Akkadia, dengan pedang besar berkilat-kilat di tangan kanannya. Rambut tebal emasnya berkibar-kibar, dan mata birunya menatap rombongan Naia tanpa berkedip.


”Kini Rahzad tahu siapa yang harus ia hadapi,” kata Davagni.


”Dia akan takut?” tanya Naia.


”Rahzad akan waspada, tetapi dia tak pernah takut.”


Naia menggeram. ”Kalau begitu, kita akan membuat dia takut! Bukan begitu, Nergal?”


”Akan hamba laksanakan apa pun perintahmu, Tuan Putri.”


”Kita akan menghancurkan Rahzad!” Naia mengangguk. ”Tetapi, Nergal, kudengar kau memiliki empat puluh prajurit. Kenapa aku hanya melihat empat sekarang?”


”Mereka belum bisa datang, Tuan Putri. Tetapi semua akan datang dengan senang hati, begitu kau menyetujui persyaratan dari hamba.”

__ADS_1


”Syarat?” Dahi Naia berkerut. ”Syarat apa?”


”Kau harus menghancurkan benda itu dulu. Medali Putih di lehermu.”


__ADS_2