Akkadia : Gerbang Sungai Tigris

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris
Bab 44 ~ Taring Barion


__ADS_3

Akkadia : Gerbang Sungai Tigris


Bab 44 ~ Taring Barion


Karya R.D. Villam


 


---


 


Taring barion, harimau berkulit hitam tebal itu berkilat-kilat. Sepasang di kiri dan kanan, mencuat dari rahang atas ke bawah bagaikan belati. Mata merah hewan itu menyorot tajam, mendelik, sementara tubuhnya membungkuk, siap menerkam. Yang lebih mengerikan, di sana tidak hanya ada satu barion, melainkan dua ekor. Bagusnya, keduanya tidak sedang mengincar satu mangsa yang sama, mereka justru sedang berhadapan untuk saling membunuh.


Kedua makhluk ganas itu berada di tengah arena berbentuk lingkaran dengan lebar tujuh puluh langkah. Di sekelilingnya berdiri ratusan tombak panjang yang berjejer rapat membentuk dinding besi. Di bagian luar, di atas panggung yang berjarak dua tombak lebih tinggi dibanding permukaan arena, ribuan orang yang menonton pertarungan terus berteriak-teriak.


Ini adalah tontonan favorit di Akkad, tetapi Zylia tetap tak bisa mengikuti gairah semua orang yang bersorak-sorak itu, yang terus memaki dan menyemangati kedua barion itu untuk cepat bertarung dan saling menghabisi. Ia hanya menatap, mengamati gerak-gerik kedua hewan yang makin mendekat dan akhirnya saling menerkam. Cakar-cakar terayun, bumi bergetar kala seekor barion terhempas ke lantai arena. Si penyerang melompat hendak menghabisi musuhnya, tetapi barion yang terlempar tadi berhasil menghindar kemudian balas menampar. Pertarungan penuh darah berlanjut, cocok untuk memuaskan nafsu para penonton.


Barion. Zylia berusaha mengingat-ingat. Ia yakin pernah berada sangat dekat dengan makhluk itu, bahkan mungkin saling berhadapan. Ia bisa mengingat taring mereka, tetapi tak bisa ingat selebihnya! Menggeram kesal, Zylia membuang muka dan berbalik.


“Kau mau pergi, Zylia?” Ibbsin yang berdiri di sampingnya bertanya. “Kenapa? Justru sekarang saat yang paling mengasyikkan. Sebentar lagi akan terlihat barion mana yang paling kuat.”


Zylia mendengus. “Aku sudah tahu mana yang lebih kuat.”


Ia melirik. Seekor barion berhasil melesakkan sepasang taring tajamnya ke leher barion lainnya. Tubuhnya menindih, lalu dengan sepenuh tenaga hewan itu menggigit leher lawannya semakin dalam. Moncongnya penuh darah, dan potongan daging leher tercabik-cabik di sekelilingnya. Dengan cepat lawannya tuntas terbantai.


“Yang terkuat menang.” Ibbsin tersenyum lebar.


“Bagus,” sindir Zylia datar. “Nafsu kalian terpuaskan dengan tontonan ini, dan pelajaran penting telah kalian dapatkan. Selamat.”

__ADS_1


“Dengan barion ...” Ibbsin menoleh, menatap Zylia tajam, “… pasukan Akkadia tak akan terkalahkan. Itu pelajaran pentingnya. Apakah kau bisa mengingatnya, Zylia, dari mana dan kenapa hewan-hewan ini bisa berada di negeri ini?”


“Tidak.”


“Barion berasal dari pulau terpencil di Lautan Barat. Konon mereka diciptakan para dewa memang sebagai hewan aduan. Selama ratusan tahun tak ada yang berani mendekati mereka. Tetapi seorang asing lalu datang, dan menaklukkan salah satu hewan itu, yang paling kuat. Kau tahu siapa orang itu? Rahzad, yang saat itu masih sangat muda. Para lalu dewa menawarkan hadiah atas kemenangannya, dan menjanjikan kekuatan dan kemasyhuran. Tetapi Rahzad berkata, dia akan datang dan meminta hadiahnya saat waktunya tepat. Dan itulah yang dilakukannya. Setelah menjadi panglima dia datang dan meminta sepasukan barion ikut bersamanya. Para dewa mengijinkan, dan kini, kita bisa melihat barion-barion itu ada di sini. Hewan buas perkasa ciptaan para dewa. Jaminan kemenangan pasukan Akkadia.”


“Menarik,” jawab Zylia singkat, malas menanggapi.


Ibbsin tertawa. “Ah, kelihatannya kau tidak begitu tertarik.”


Zylia mengangkat bahu. Ia mengangkat tudung yang menggantung di tengkuknya, menutupi kepala hingga kini hanya wajahnya yang tampak.


“Kau mau ke mana?” tanya Ibbsin lagi.


“Kurasa aku bakal lebih menikmati berjalan-jalan di kota, daripada menonton hewan kesayangan kalian saling membunuh di sini.”


“Kau yakin? Setelah ini akan ada pertempuran barion melawan budak, lalu dilanjutkan pertarungan antar sesama budak. Akan ada banyak—“


“Biar prajuritmu menemanimu.”


“Tidak perlu.” Zylia tak mempedulikan tatapan curiga Ibbsin, dan menerobos kerumunan penonton. Sebagian orang berteriak-teriak, sebagian lagi menatap takjub ke arena, menyaksikan bagaimana sang barion pemenang sedang mencabik-cabik musuhnya. Barion bukan kanibal bagaimanapun, jadi ia takkan memangsa saudaranya sendiri. Si penyelenggara tahu betul soal ini. Rasa lapar sang barion dibutuhkan nanti saat ia menghadapi para budak, dan akan terpuaskan begitu ia bisa membantai mereka semua.


Zylia tetap tak bisa mengerti kenapa ia belum bisa menikmati pesta berdarah itu sebagaimana orang-orang pada umumnya di Akkad. Jika itu adalah satu budaya di negeri ini, mestinya tak ada yang salah. Kesalahan ada pada dirinya. Atau mungkin ini hanya gara-gara ia masih belum pulih dari hilang ingatannya? Nanti, jika ia sudah pulih, ia pasti bakal bisa berpikir normal seperti layaknya prajurit Akkadia.


Apa pun, lebih baik ia menghindar dari semua ini terlebih dulu. Zylia menarik napas lega begitu berhasil keluar dari arena, dan kini sampai di tepi jalan yang lebih lengang dibandingkan arena yang sesak dan pengap. Tak jauh di seberang berjejer para pedagang tengah menjajakan berbagai macam barang. Roti, daging dan buah-buahan, juga tembikar, selimut serta pakaian. Para pembeli sedang tawar-menawar dengan pedagang dengan suara keras.


Zylia menarik turun tudungnya hingga menutupi wajahnya semakin dalam. Ia tak ingin kejadian seperti kemarin terulang, saat ia memasuki kota wajah asingnya menarik perhatian para penduduk hingga mereka saling berbisik. Walau ia berusaha tak mempedulikan hal remeh seperti itu, kenyataannya ia terganggu. Zylia tak ingin dilihat sebagai orang aneh.


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menimbang-nimbang ke mana sebaiknya ia melangkah. Kuil Ishtar menjulang tinggi di kejauhan, tampak di balik beberapa bangunan di sebelah kiri. Matahari yang telah condong ke barat menyembul dari balik puncak kuil, sementara tembok tinggi kota tampak jauh di sebelah kanan.

__ADS_1


Zylia berjalan menyusuri jalan utama ke arah timur, menjauhi Istana Akkad dan juga Kuil Ishtar. Di sebuah perempatan ia berhenti lagi. Perhatiannya tertuju pada seorang pria yang terhuyung-huyung di jalan. Orang biasa tak mungkin mengenalinya, tetapi Zylia tak perlu memicing untuk tahu siapa orang itu. Teimush, musuhnya kemarin di Kuil Ishtar.


Lelaki itu tak lagi mengenakan seragam pasukan Akkadia. Mungkin karena tidak sedang bertugas. Tangannya bertumpu pada gerobak penjual sayuran yang tengah berhenti di sudut jalan. Karena tak mampu mengontrol tubuhnya ia terpeleset, membuat gerobak itu terbalik dan seluruh barang dagangan terlempar ke udara.


Si pedagang menjerit-jerit marah, dan memaki-maki Teimush sambil mengacungkan golok. Para pedagang lainnya pun berkerumun, dan entah siapa yang memulai, tendangan dan pukulan mulai mendarat ke tubuh si lelaki botak yang tertelungkup di tanah.


Sesuatu mendorong Zylia untuk bertindak. Mungkin kasihan, atau hanya solidaritas sesama prajurit. Ia berlari kencang. Dalam sekejap ia telah berada di tengah-tengah kerumunan orang kalap itu. Ia mendorong tubuh mereka semua agar menjauh dari Teimush yang babak belur. “Hentikan!” serunya. “Hentikan! Orang ini prajurit kerajaan!”


Seketika semua orang terdiam, takut. Mereka tak bisa mengenali Zylia yang belum membuka tudungnya, dan karenanya mereka masih tampak ragu. Tetapi mestinya mereka tahu, jika ucapan Zylia tadi benar, mereka semua bakal mendapat kesulitan.


“Bubar,” kata Zylia dengan suara pelan namun berwibawa. Tangan kirinya menyingkap sedikit jubah yang menjuntai di pinggangnya, menunjukkan pedangnya.


Beberapa orang tertegun dan sebagian saling memandang. Kekesalan dan kemarahan masih tampak di antara mereka, terutama di wajah si pedagang sayur dan rekan-rekannya. Tetapi mereka cepat menuruti perintah Zylia. Mereka berpencar, membereskan sayuran yang tercecer di segala penjuru, dan tak mempedulikan lagi Zylia dan Teimush.


Zylia memandangi lelaki kekar yang masih tergolek di tanah. Ada memar biru di kepala plontosnya. Darah yang mengucur dari bibirnya memberi hiasan merah di cambangnya. Lelaki yang kemarin begitu garang, sekarang tampak sangat menyedihkan.


“Bangun,” kata Zylia dingin sambil menyepak kaki orang itu.


Teimush tak menjawab. Matanya terbuka sejenak, tetapi lalu tertutup lagi dengan malasnya. Zylia paham sekarang, lelaki ini sudah mabuk, dan tak bakalan sadar sepenuhnya dalam waktu singkat. Zylia menggeram, berpikir kenapa ia harus berurusan dengan lelaki itu. Tetapi rasanya tak mungkin ia membiarkan Teimush seperti ini. Sekarang sudah menjelang petang, dan jika Teimush tetap dalam posisi begini lalu ditemukan oleh patroli malam pasukan Akkadia, lelaki itu bakal mendapat hukuman setimpal yang mengerikan.


Zylia membungkuk, mencengkeram tubuh Teimush dan memaksanya berdiri. Sebelah tangan Teimush dilingkarkan ke bahunya, lalu Zylia menuntun lelaki itu berjalan di sisinya. Sambil menyusuri jalan kecil yang diapit rumah-rumah penduduk Zylia berusaha agar aroma tengik yang keluar dari hidung dan mulut Teimush tak sampai terhirup olehnya.


Sesampainya di perempatan Zylia mendongak. Teimush masih lemas di sampingnya. Matahari sudah hampir terbenam. Ke mana ia harus membawa laki-laki ini?


“Ke pojok,” tiba-tiba Teimush bersuara, seolah paham kekesalan Zylia. Ia menunjuk bangunan kecil di seberang jalan yang pintu kayu dan sepasang jendelanya terbuka lebar. Sebuah kedai sepi, tak seperti kedai-kedai lainnya di jalan utama. “Ke sana saja.”


Zylia mendengus. “Tempat langgananmu?”


“Aku di sana tadi …” Cegukan Teimush terdengar. “… seharian.”

__ADS_1


“Bagus,” tukas Zylia. “Semalaman saja sekarang. Ayo, sebelum patroli menemukanmu dan melemparkanmu ke mulut barion.”


__ADS_2